PROFIL LENGKAP PETUALANGAN DAN KEMATIAN PENDAKI GUNUNG ANATOLI BOUKREEV

“Gunung-gunung besar adalah dunia yang benar-benar berbeda; salju, es, batu, langit dan udara yang tipis. Anda tidak dapat menaklukkan mereka, hanya naik ke puncak mereka untuk beberapa saat, dan untuk itu mereka menuntut banyak hal. Pertarungan bukanlah seperti melawan musuh, atau bersaing seperti dalam olahraga, tetapi melawan diri sendiri, dengan perasaan lemah dan tidak mampu. Perjuangan seperti itu menarik bagi saya, itu sebabnya saya menjadi pendaki gunung”

Anatoli Boukreev
Description: 8769044961_95ab9931a8_k.jpg
View Puncak Everest dan Lhotse dilihat dari Lobuche. Everest menjadi gunung paling kuat yang mempopulerkan nama seorang Anatoli Boukreev terkait musibah tahun 1996, namun prestasi terbesar Anatoli sebenarnya tidaklah terjadi ditempat itu. Sumber foto: wikipedia

Profil Anatoli Boukreev dan Serangan Pada Dirinya Pasca Tragedi di Gunung Everest Tahun 1996

Tahun 1996 menjadi tahun yang penting untuk diingat dalam sejarah mountaineering, terutama di Everest. Tahun itu, sebuah pristiwa besar terjadi yang imbasnya tak pernah usai bahkan puluhan tahun setelahnya. Pristiwa ini adalah sebuah tragedi yang menjadi salah satu musibah paling kontroversial dalam sejarah pendakian gunung tinggi dunia.

Lima pendaki tewas dalam satu hari pada bulan Mei tahun itu, diamuk badai paling mematikan sepanjang catatan pendakian gunung Everest. Turut menjadi korban dalam pristiwa maut ini adalah Rob Hall, Yasuko Namba, Andi Harris dan Doug Hansen, mereka semua adalah kru dari Adventure Colsultant, sebuah agen pendakian gunung Everest yang diketuai oleh Rob Hall. Sementara Scott Fischers yang juga menjadi korban memimpin ekspedisinya sendiri saat itu dibawah bendera agen pendakian yang ia beri label; Mountain Madness.

Ikut serta dalam kelompok Scott Fischers adalah para pendaki berpengalaman dengan jam terbang gunung tinggi yang signifikan. Selain Scott Fischers sendiri yang bertindak sebagai pemandu, dalam Mountain Madness diisi juga oleh salah satu nama besar alpinis paling kuat masa itu, Anatoli Boukreev, seorang pendaki Kazakhstan dengan reputasi mountaineering yang mengagumkan.

Nama lain yang memperkokoh tim Mountain Madness sebagai pemandu adalah Neil Beidleman, sementara yang bertindak sebagai sirdar adalah Lopsang Jangbu Sherpa, salah satu sherpa terkuat yang ada di Everest masa itu.Sementara dari pihak Adventure Consultant pimpinan Rob Hall, bertindak sebagai pemandu antara lain adalah Andy Harris, Guy Cotter dan juga Mike Groom.

Seperti yang telah banyak diceritakan dalam berbagai literatur dan media, pada akhirnya perjalanan dari dua agen pendakian ini berakhir tragis, pemimpin ekspedisi masing-masing agen tewas dengan sangat dramatis. Kelompok Rob Hall lebih mengenaskan saat itu, selain kematian Rob sendiri, seorang guide dan dua orang klien mereka juga ikut meregang nyawa pada pristiwa mematikan di hari tersebut.

Pasca pristiwa yang mengguncang dunia mountaineering global tersebut, muncul sebuah perdebatan, opini, dan argumentasi saling serang yang tak berkesudahan. Perdebatan dan upaya mencari siapa yang salah dalam musibah ini dimulai dari buku yang ditulis oleh Jon Krakauer berjudul Into Thin Air.

Tim Mountain Madness. source: pinterest

Krakauer yang merupakan salah satu pendaki sekaligus berprofesi sebagai wartawan Outside Magazine yang lolos dari badai saat itu, adalah klien yang tergabung dalam kelompok Rob Hall. Kehadiran Krakauer dalam Adventure Consultant pada beberapa pendapat diindikasikan juga sebagai bentuk persaingan sengit antara Adventure Consultant dan Mountain Madness dalam hal popularitas. Sebelum bergabung dalam kelompok Rob, Krakauer diagendakan untuk bergabung dalam kelompoknya Scott Fischer, namun entah karena discount, garansi, bonus atau hal lainnya yang ditawarkan oleh Rob hingga kemudian membuat Krakauer berpindah ke Adventure Consultant.

Ditinggalkan oleh Krakauer membuat tim pimpinan Scott Fischers-pun harus memutar otak guna menemukan siapa sosok yang dapat digunakan untuk mendongkrak popularitas mereka, atau setidaknya mengimbangi kepopuleran yang akan akan dihadirkan Krakauer untuk Adventure Consultant melalui tulisannya.

Pada akhirnya seorang pendaki gunung, sosialita, sekaligus editor desainer ternama dari New York berhasil ditarik masuk dalam tim Scott Fischer. Orang itu adalah Sandy Hill Pittman. Sandra atau Sandy yang berprofesi sebagai fashion auditor, penulis, sekaligus sosialita yang cukup ternama, secara signifikan mampu meningkatkan atensi dan popularitas bagi tim Mountain Madness. Apalagi Sandy Hill juga telah mendapat kesepakatan dengan NBC Interactive Media untuk menyiarkan perjalanan pendakian mereka di saluran televisi tersebut.

Kehadiran sosok-sosok seperti Jon Krakauer dan Sandra Hill Pittman dalam dua agen ekspedisi yang berteman sekaligus bersaing pada tahun 1996 saat itu, dinilai oleh sebagian pihak sebagai indikasi nyata dari obsesi dan ambisi yang besar pada dunia mountaineering, khususnya pendakian Everest.

Serangan Serta Tuduhan Jon Krakauer Terhadap Anatoli Boukreev, Sandy Hill Pittman dan, Lopsang Jangbu Sherpa

Jon Krakauer (source: google image)

Dalam laporannya kepada Outside Magazine yang kemudian dibukukan dalam Into Thin Air, Krakauer menuliskan serangkaian analisa dan hipotesanya yang cenderung tendensius. Krakauer dengan jelas-jelas menyematkan kesalahan kepada sosok seperti Anatoli Boukreev, Sandy Hill Pittman dan juga Lopsang Jangbu Sherpa.

Menurut opini Krakauer, ketiga orang yang ada dalam tim Mountain Madness tersebut telah menunjukkan sikap-sikap yang tidak relevan dan cakap dalam pendakian mereka di Everest. Lebih jauh Krakauer juga menyulut sebuah perdebatan sengit mengenai hal tersebut, membawa tragedi Everest dalam sebuah penyataan saling tuding yang kian menjauhi nilai-nilai persaudaraan.

Dalam argumentasinya, Krakauer menyerang Anatoli dengan istilah ‘sebagai pendaki gunung ulung yang tidak cakap menjadi pemandu’. Hal ini ia dasarkan pada pendapatnya atas tindakan Anatoli yang mendaki tanpa membawa tabung oksigen, tanpa membawa perlengkapan P3K, bahkan tanpa membawa sebuah ransel.

Menurut Krakauer Anatoli memang pendaki besar yang tangguh, namun ia bukanlah pemandu pendakian yang cakap, bayaran sebesar $25.000 yang ia terima dari Mountain Madness1.1 adalah sesuatu yang ironis. Keputusan Anatoli untuk tidak membawa tabung oksigen, bahkan tidak membawa ransel yang berisi peralatan cadangan untuk membantu para kliennya pada proses pemuncakan dinilai oleh Krakauer sebagai sebuah tindakan egois yang ingin menang sendiri. Dalam berbagai uraiannya, Krakauer juga menyinggung keputusan Anatoli1.2 untuk turun ke Camp IV lebih dulu, bukannya membantu para pendaki yang mengalami kesusahan untuk turun dari puncak.

Lopsang Jangbu Sherpa yang bertindak sebagai sirdar dalam ekspedisi berujung petaka tersebut juga dituding dalam tulisan Krakauer sebagai sherpa yang enggan melakukan pekerjaan mereka. Argumentasi Krakauer ini didasarkan pada kenyataan tentang beberapa tali yang belum terpasang secara sempurna pada waktu summit day. Juga pada ketidaksiapan fisik Lopsang Jangbu yang sempat muntah pada hari yang sama.

Description: 96689faf6992430d32c2a6b83d3e0e4d.jpg
Anatoli Boukreev, Mike Groom, Jon Krakauer, Andy Harris dan beberapa pendaki lain yang berbaris menuju puncak Everest pada tanggal 10 Mei 1996, beberapa jam sebelum pristiwa tragis itu terjadi. Sumber foto: Pinterest

Pembelaan Reinhold Messner & Ralf Dujmovits Untuk Anatoli Boukreev

Sementara tudingan Krakauer pada Sandy Hill Pittman lebih brutal lagi, ia menganggap kehadiran sosok pendaki seperti Sandy adalah manifestasi dari laju komersialisasi Everest yang kebablasan. Sandy Pittman dalam uraian Krakauer dianggap sebagai pendaki dengan uang banyak namun tidak memiliki pengalaman, sebuah subjek yang berbahaya jika ditempatkan di gunung seperti Everest.

Berbagai tudingan Krakauer dalam bukunya ini tentu mendapat reaksi keras dari berbagai pihak. Sikap menyalahkan orang lain yang diarahkan Krakauer kepada Anatoli Boukreev mendapat banyak reaksi yang beragam, tak terkecuali dari legenda-legenda pendaki besar dunia seperti Reinhold Messner dan Ralf Dujmovits.

Sebagai sesama pendaki gunung yang seringkali mendaki tanpa tabung oksigen, Messner dengan lantang mengungkapkan pembelaannya terhadap Anatoli. Selain Messner dan Dujmovits, Ang Jangbu Sherpa, Sandy Hill Pittman dan Neil Beidleman juga mempertahankan pendapat mereka membela Anatoli Boukreev.

Ralf Dujmovits (Valandre)

Di sisi yang lain, ucapan Krakauer yang mengatakan bahwa Sandy Pittman tidak berpengalaman juga tidak dapat diterima. Sandy seperti yang diketahui banyak orang, adalah pendaki perempuan Amerika pertama yang memegang tahta seven summit1.3. Sandy juga telah ikut dua kali ekspedisi Everest sebelum tahun 1996, yakni tahun 1994 dan 1995. Jadi sangat tidak relevan bagi Krakauer menyebut Sandy Pittman sebagai sosok yang minim pengalaman. Catatan pendakian Sandy Pittman menunjukkan bahwa ia bukan sosok baru dalam mountaineering.

Namun bagaimana pun juga, tulisan Krakauer tak urung telah menggiring sebuah bola panas untuk dimainkan berbagai pihak. Dan Anatoli Boukreev adalah sosok yang paling merasa dirugikan atas pernyataan dan opini-opini yang disampaikan Krakauer dalam bukunya.

Saat ini sudah banyak yang menilai bahwa pernyataan Krakauer dalam Into Thin Air tak lebih dari sebuah ketajaman pena seorang jurnalis untuk membangkitkan rasa kebencian kepada seseorang karena sebuah pristiwa yang terjadi. Mark Horrell dalam satu tulisan di blognya mengistilahkan Krakauer Syndrome, untuk pengertian penggiringan sebuah opini yang bertujuan untuk membangkitkan kebencian yang terlahir dari ketidaktahuan di antara para pembaca yang mudah dipengaruhi.

Pendek kata, saat ini dapat disimpulkan bahwa tudingan-tudingan yang disampaikan oleh Jon Krakauer kepada Anatoli Boukreev terkait musibah Everest 1996 adalah sebuah tudingan yang tidak dapat dipertahankan eksistensinya. Selain itu, meski sempat dihujat dan didebat sedemikian rupa, pada akhirnya Anatoli Boukreev tak pernah kehilangan reputasinya sebagai salah satu alpinis dan pendaki gunung paling handal dan berprestasi di dunia.


Laman: 1 2 3 4 5

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: