KISAH TERBUNUHNYA PENDAKI GUNUNG TERBAIK DUNIA DI WAJAH SELATAN LHOTSE

Ketika engkau tiba di atas puncak gunung, tidak akan ada ledakan kegembiraan. Kegembiraan dan kebahagiaan adalah ketika kamu mengerti bahwa segala sesuatu masih tersisa di hadapanmu, bahwa engkau masih memiliki ratusan tujuan lagi untuk dicapai, bahwa masih ada belasan meter lagi langkah yang ada di depanmu. Dan pada saat inilah waktu untuk merasa berbahagia dan gembira yang sesungguhnya.

Jerzy Kukuczka
Description: shishapangma.jpg
Salah satu potret Jerzy Kukuczka yang populer saat ia berdiri di puncak Shishapangma tahun 1987. Shishapangma menjadi gunung terakhir dalam tur empat belas puncak delapan ribu meter yang dijalani Kukuczka, Jurek (panggilan akrab Kukuczka) turun dengan ski dari puncak tersebut untuk meluapkan kegembiraannya. Sumber foto: Demotywatory

Siapa Pendaki Gunung Terbaik Dunia; Reinhold Messner atau Jerzy Kukuczka?

Tanggal 18 September 1987, seorang pendaki gunung asal Polandia turun menggunakan ski dari dekat puncak Shishapangma hingga ke base camp utama. Wajahnya demikian gembira, jenggot dan kumisnya yang memutih karena dilapisi salju nampak tak dapat menutupi wajahnya yang sumringah dilanda rasa senang dan girang.

Pendaki gunung itu adalah Jerzy Kukuczka, atau yang lebih akrab disapa dengan sebutan Jurek, atau kadang Jarek. Puncak Shishapangma adalah gunung terakhir yang menjadi target dalam tur pendakian empat belas puncak delapan ribu meter yang sedang dilakukan oleh Jurek. Dengan tercapainya puncak tersebut olehnya pada tanggal 18 September 1987, maka secara resmi pula Jurek berhasil meraih tropi fourteen eight thousanders, tropi tertinggi dalam grand slam aktivitas mountaineering.

Sebelum keberhasilan Jurek, sudah ada nama lain yang menjadi pionir meraih prestasi itu, dialah Reinhold Messner, pendaki Italia yang mendapat gelar sebagai ‘ sang dewa gunung’. Messner meraih trofi fourteen eight thousanders pada tahun 1986 di usianya yang ke-42 tahun. Sementara Jurek atau Kukuczka mencapai podium itu pada tahun 1987 di usianya yang ke-39 tahun.

Secara numerik, Kukuczka jelas berada pada posisi runner-up setelah Messner. Namun dilihat dari berbagai sudut pandang lain yang lebih eksplisit, publik mountaineering secara umum bersepakat, pencapaian Kukuczka jauh lebih baik dan bergaya dibanding Messner.

Pencapaian Jurek dinilai lebih berkelas dengan perhitungan durasi sebagai alasan yang pertama. Jurek atau Kukuczka menghabiskan waktu 7 tahun, 11 bulan dan 14 hari untuk menyelesaikan tour grand slam fourteen eight thousanders-nya. Dimulai dari gunung Lhotse di Nepal pada tahun 1979, dan berakhir di Shishapangma Tibet pada tahun 1987. Sementara Reinhold Messner membutuhkan waktu sekitar 16 tahun untuk dapat menyelesaikan challengge ini. Messner memulai debut fourteen eight thousanders-nya di Nanga Parbat tahun 1970, dan berakhir di Lhotse pada tahun 1986.

Alasan kedua yang menempatkan pencapaian Jurek lebih baik daripada Messner adalah gaya yang ia lakukan. Sebelas dari empat belas puncak delapan ribu meter yang didaki oleh Jurek, dilakukannya melalui rute baru. Jelmaan sebuah semangat originalitas alpinisme yang luar biasa dari seorang Jerzy Kukuczka. Dan belum ada yang dapat mengalahkannya hingga sekarang. Sementara Messner dengan pencapaian outstandingnya dalam pendakian puncak delapan ribu meter Himalaya, hanya membuat dua rute baru2.1 dari empat belas gunung delapan ribu meter yang ia capai.

Jerzy Kukuczka & Reinhold Messner (Allegro)

Untuk membuat kita lebih mudah memahami pendakian yang dilakukan Reinhold Messner dan Jerzy Kukuczka dalam tur fourteen eight thousanders, berikut adalah tabel perbandingan pendakian mereka. Perhatikan secara khusus yang membedakan klasifikasi pendakian keduanya, baik itu yang berupa rute baru, pendakian musim dingin, atau pun pendakian tanpa tabung oksigen.

NoNama GunungReinhold MessnerJerzy Kukuczka
1Lhotse, 8.516 meterTahun 1986, normal rute bersama Hans Kammerlander.Tahun 1979, melalui rute normal.
2Everest, 8.848 meterTahun 1978, bersama Peter Habeler, pendakian pertama di Everest tanpa menggunakan tabung oksigen. Everest juga didaki oleh Messner pada tahun 1980 secara solo, tanpa tabung oksigen, rute baru di North Face.Tahun 1980, rute baru melalui South Pillar. Pendakian di Everest tahun 1980 ini adalah satu-satunya pendakian Kukuczka yang menggunakan tabung oksigen.
3Makalu, 8,463 meterTahun 1986, bersama Hans Kammerlander dan Friedl Mutschlechner, rute normal.Tahun 1981, solo, rute baru, alpine style. Jurek membuat rute yang berawal dari Barun Glacier menuju North West Ridge. 
4Gasherbrum II, 8.035 meterTahun 1984, bersama Hans Kammerlander. Pendakian pertama traversing dari puncak Gasherbrum I ke Gasherbrum II tanpa kembali ke base camp terlebih dahulu.Tahun 1983, rute baru, Kukuczka membuat rute dari lereng tenggara hingga Virgin Peak 7.772 meter untuk mencapai Puncak Utama.
5Gasherbrum I, 8.068 meterTahun 1984, bersama Hans Kammerlander, normal rute, traversing ke Gasherbrum dalam single pushTahun 1983, rute baru melalui Dinding Barat Daya Hidden Peak.
6Broad Peak, 8.047 meterTahun 1982, rute normal, bersama Sher Khan dan Nazir Sabir.1984, rute baru, traversing melalui tiga puncak sekaligus2.2. Tahun 1982 Kukuczka sebenarnya telah berhasil mencapai puncak Broad Peak, hanya saja ia melakukannya melalui rute normal.
7Dhaulagiri, 8.167 meterTahun 1985, rute normal, bersama Hans Kammerlander.Tahun 1985, rute normal, musim dingin. First winter ascent di Dhaulagiri2.3.
8Cho Oyu, 8.201 meterTahun 1983, rute baru, bersama Hans Kammerlander dan Michael Dacher.Tahun 1985, rute baru melalui Pillar Tenggara. Tim Polandia kedua dari first winter ascent2.4
9Nanga Parbat, 8.125 meterTahun 1970. Pendakian pertama melalui Rupal Face yang tak terkalahkan sejak beberapa lama. Reinhold mencapai puncak bersama Gunther Messner, namun Gunther tewas saat perjalanan turun melalui Diamir Face.Tahun 1985, pendakian melalui rute tenggara Nanga Parbat, rute baru.
10Kangchenju-nga, 8.586 meterTahun 1982, membuat rute baru melali sisi North Face bersama Friedl Mutschlechner.Tahun 1986, rute normal, first winter ascent.
11K2, 8.611 meterTahun 1979, bersama Michael Dacher melalui rute Abruzzi Spur, alpine style.Tahun 1986, bersama Tadeuz Piotrowski, rute baru. Rute yang dibuat Jurek dan Tadeuz di K2 ini disebut Polish Line2.5
12Manaslu, 8.163 meterTahun 1972, Messner mendaki sisi barat daya yang telah dicoba banyak orang namun tidak tertaklukkan. Pada pendakian ini Messner juga meciptakan rekor sebagai pendakian pertama Manaslu tanpa tabung oksigen.Tahun 1986, rute baru melalui sisi timur laut.
13Annapurna I, 8.091 meterTahun 1985, bersama Hans Kammerlander melalui sisi Barat Laut yang tak terkalahkan selama beberapa tahun.Tahun 1987 melalui rute normal, pendakian musim dingin pertama di Annapurna. Tahun 1988 kemudian, Jerzy Kukuczka kembali ke Annapurna dan membuat rute baru melalui Tanggul bagian timur dan sisi selatan.
14Shishapangma, 8.027 meter.Tahun 1981, normal rute bersama Friedl Mutschlechner.Tahun 1987, Jurek membuat rute baru melalui West Ridge, ia turun menggunakan ski.

Tiga Pembanding Utama Pencapaian Jerzy Kukuczka dan Reinhold Messner; Pendakian Musim Dingin, Pendakian Rute Baru dan, Pendakian Tanpa Tabung Oksigen

Dari data tersebut dapat kita lihat dengan jelas bahwa pendakian fourteen eight thousanders yang dilakukan oleh Kukuczka memang dapat dikatakan memiliki derajat orisinalitas dan kesulitan yang lebih baik dibandingkan Messner.

Namun hal ini bukan berarti pencapaian Messner tidak hebat, Messner pada banyak gunung seringkali berhasil tampil sebagai solusi bagi rute-rute yang tidak tertaklukkan sebelumnya, seperti di Rupal Face Nanga Parbat, sisi Barat Daya Manaslu, sisi Barat Laut Annapurna dan lain sebagainya. Dalam aksinya Messner juga sering tampil sebagai pendaki pertama yang mencapai puncak gunung delapan ribu meter tanpa tabung oksigen, seperti di Everest, Manaslu dan juga Gasherbrum I atau Hidden Peak.

Selain itu, pendakian musim dingin adalah salah satu kemampuan tak tertandingi dari Jerzy Kukuczka, sesuatu yang tidak dimiliki oleh Reinhold Messner. Dari empat belas puncak delapan ribu meter yang dicapainya, Kukuczka membukukan empat pendakian musim dingin pertama2.6. Di Cho Oyu, ia dan tiga pendaki Polandia lainnya bahkan berhasil membuat pendakian musim dingin pertama sekaligus juga menciptakan rute baru.

Hal lain yang mungkin membuat sedikit kesenjangan antara Reinhold Messner dan Jerzy Kukuczka adalah penggunaan tabung oksigen pada pendakian Everest. Messner sama sekali tak menyentuh tabung oksigen dalam dua kali pendakiannya di Everest2.7, sementara Jurek menggunakan benda itu pada pendakian rute barunya di tahun 1980. Meskipun Jerzy Kukuczka menggunakan tabung oksigen hanya pada South Summit, namun ini bagi beberapa daftar fourteen eight thousanders telah menempatkan setitik ‘noktah’ bagi pencapaian mountaineeringnya yang sangat luar biasa.

Description: Untitled-1.jpg
Tak terhindarkan bagi setiap pemerhati dunia mountaineering internasional untuk memyandingkan dua legenda pendakian gunung delapan ribu meter Himalaya ini. Messner dan Kukuczka adalah rival dalam satu sisi, pada sisi yang lain mereka juga saling memuji dan menghormati. Sumber foto: wirtualnemuzeumjerzegokukuczki

Salah satu ambisi dari seorang Jerzy Kukuczka dalam tour Crown Of Himalaya2.8 adalah dengan mendaki semua puncak itu melalui rute yang original, yang baru, yang belum pernah dicoba dan dijamah oleh pendaki lain. Hal ini dapat dilihat dengan pengulangan yang dilakukan oleh Jerzy untuk pendakiannya di Broad Peak dan Annapurna.

Tahun 1987 Jurek sudah berhasil mencapai puncak Annapurna melalui rute normal, dan ia kemudian memperbaiki prestasi itu dengan membuat rute baru pada tahun 1988. Sementara di Broad Peak Jurek berhasil mendaki jalur normal pada tahun 1982, untuk kemudian diperbaikinya melalui rute perawan pada tahun 1984.

Dari tabel ini dapat disimpulkan pula bahwa hanya tersisa tiga puncak delapan ribu meter lagi yang harus didaki oleh Jurek untuk menyempurnakan prestasi alpinismenya. Dhaulagiri, Lhotse dan Kangchenjunga adalah gunung-gunung yang dicapai puncaknya oleh Jurek melalui rute normal. Karena itu telah menjadi sebuah rencana bagi Jurek untuk memperbaikinya di suatu hari nanti dengan kembali mencapai tiga puncak gunung ini melalui rute yang sepenuhnya orisinil dan belum tersentuh.

“Pendakian gunung adalah upaya keras yang sangat menyiksa, tetapi sekaligus juga sebuah kesenangan yang amat luar biasa”

Jerzy ‘Jurek’ Kukuczka

Obsesi Jurek Untuk 14 Puncak 8000 Meter Himalaya Melalui Rute Baru

Jerzy Kukuczka duduk di depan rumahnya di kota Katowice, Polandia. Secangkir teh hangat yang baru dibuatkan oleh Cecylia, isteri Kukuczka, masih mengepulkan asap dengan aromanya yang wangi.

“Kita telah memiliki dua orang anak sekarang, mimpimu untuk mendaki empat belas puncak delapan ribu meter sudah tercapai, aku rasa sudah saatnya kau pulang ke rumah”

Cecylia membuka obrolan di pagi musim semi itu dengan dengan sebuah kalimat yang sudah lama ingin ia ucapkan kepada Jurek. Cecylia, layaknya isteri-isteri yang lain, juga mendambakan seorang suami yang lebih sering di rumah, lebih sering menghabiskan waktu bersama dirinya dan juga anak-anak.

Percakapan pagi itu terjadi pada tahun 1987, beberapa bulan setelah Jurek pulang dari ekspedisinya di Shishapangma sebagai puncak delapan ribu meter terakhir yang ia butuhkan untuk menjadi seorang pendaki fourteen eight thousanders kedua setelah Reinhold Messner.

Kukuczka berpaling ke arah isterinya, perempuan yang dinikahinya beberapa tahun itu lalu masih cantik, sederhana dan selalu mempesona di mata Kukuczka.

“Iya, mungkin benar yang kau katakan, Cecyl. Namun ada hal lain yang menghantuiku selama proses ini berlangsung”

“Apa maksudmu?”

Jurek menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan isterinya.

“Sepuluh dari gunung-gunung itu telah aku lakukan dengan caraku sendiri, namun empat lainnya aku hanya mengikuti cara orang lain Cecyl, aku tidak dapat berdamai dengan kenyataan itu”

“Tapi engkau telah mencapai puncaknya, Jurek, tidakkah itu cukup bagimu?” suara Cecylia meninggi.

“Engkau tahu aku, Cecyl, aku mendaki gunung sebelum kita bertemu, aku memanjat cerobong asap dan mengecatnya untuk membiayai ekspedisi dan pendakianku, aku melakukan semua itu untuk mengejar mimpiku, menjadi seorang alpinis yang berbeda dari yang lain”

“Tapi kau sudah terlalu lama pergi dari anak dan isterimu?”

Cecylia menekan kalimatnya dengan perlahan, ia tahu persis siapa Kukuczka, lelaki yang telah dinikahinya selama beberapa tahun lalu itu.

Jerzy Kukuczka dan Cecyllia Kukuczka (wielikizlowiek)

Sebelum menikah dengan Cecylia, Jurek telah menunjukkan antusiasme yang demikian tinggi terhadap mountaineering. Ia melatih dirinya dengan disiplin, mengasah kemampuan alpinisme dengan baik dan terukur. Bahkan seperti yang ia katakan barusan, Jurek juga rela menjadi tukang cat cerobong asap pabrik dan rumah-rumah orang kaya untuk mendapatkan uang sebagai biaya ekspedisi yang ia lakukan.

Memang setelah prestasi mountaineeringnya sudah terlihat, bersinar paling terang di antara para pendekar es Polandia yang lain, ia tak perlu lagi memegang kuas untuk biaya ekspedisinya, pemerintah komunis Polandia sendiri yang dengan senang hati membiayai pendakiannya. Meskipun pada dasarnya keputusan pemerintah untuk membiayai pendakian semacam itu adalah murni sebagai kepentingan politik, murni kepentingan paham komunis yang ingin mendompleng ketenaran dalam paggung dunia di atas pencapaian luar biasa dari para pendaki gunung terbaik mereka, termasuk juga Kukuczka.

Cecylia telah memahami dengan baik risiko yang akan ia hadapi saat mengambil keputusan untuk menikah dengan seorang pria seperti Jurek. Ia tak mungkin bisa menggantikan arti gunung dan puncak-puncak dunia dari dalam hati Jurek. Cecylia sehebat apa pun cintanya kepada Kukuczka, tidak akan pernah mampu membuat Jurek berpaling dari gunung-gunung tinggi yang telah menjadi obsesinya sejak lama.

Namun ketika Kukuczka sudah menyelesaikan tur empat belas puncak delapan ribu meternya, sesuatu yang telah ia kejar dalam perlombaan bersama Messner, tidakkah itu cukup bagi Kukuczka?

Cecylia tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi, hatinya ingin Jurek menyudahi ekspedisinya di Himalaya dan lebih banyak di rumah untuk menghabiskan waktu layaknya suami lain bersama isteri dan anak-anak mereka.

Akan tetapi, Cecylia juga ingin Jurek mengejar mimpi-mimpinya, membiarkan sang suami tampil sebagai yang terbaik dalam kancah alpinisme dunia. Ia tidak mau menjadi sosok pendamping yang tidak men-support Jurek. Cecylia takut Jurek akan menganggapnya sebagai isteri yang tidak mendukung suaminya sendiri.

“Aku mengerti perasaamu Cecyl…”

Jurek menggenggam jemari isterinya di pagi yang masih agak dingin itu

“Semua ini akan usai ketika aku telah membayar lunas hutang-hutangku di empat puncak itu lagi. Setelah itu aku akan lebih banyak bersamamu dan anak-anak. Hanya empat puncak lagi dan semuanya akan berakhir penuh kebahagiaan Cecyl”

Cecyl tak bersuara lagi, ia tak membalas ucapan Jurek untuk menjawabnya, dan ia juga tak perlu bertanya empat puncak yang dimaksud Jurek sebagai hutang, Cecyl sudah tahu itu sejak lama.

Empat gunung yang dimaksud oleh Jurek tentu saja adalah Lhotse, Kangchenjunga, Dhaulagiri dan Annapurna I. Keempat gunung tersebut telah berhasil dicapai oleh Jurek puncaknya. Namun karena ia melakukan pendakian menggapai puncaknya melalui rute normal, maka itu tak membuat Jurek merasa puas dan bahagia. Kukuczka ingin mencapai empat puncak Himalaya itu melalui sebuah rute yang sepenuhnya original, yang sepenuhnya perawan, dan yang sepenuhnya belum tersentuh oleh pendaki mana pun.

Polish Line di Gunung K2, Rute Pendakian Gunung Tersulit di Atas Gunung Paling Sulit di Dunia

Mencapai puncak dengan me-repeat rute orang lain bagi Jurek adalah sesuatu yang tidak benar-benar bisa dianggap sebagai sebuah kemenangan. Orang bisa saja memiliki pandangan dan standar yang berbeda dalam mountaineering dan alpinisme, namun bagi Jurek mencapai empat belas puncak delapan ribu meter melalui rute orisinil adalah sebuah hutang yang harus ia bayar dengan tuntas. Dan prinsip itu sama sekali tak bisa diganggu gugat.

Sepuluh gunung telah ia selesaikan dengan baik, pendakian ulangan untuk rute baru hanya perlu ia lakukan di Broad Peak dari kesepuluh gunung itu, dan itupun telah ia selesaikan pada tahun 1984 dengan alpine style dan melibas tiga puncak sekaligus dari gunung berpuncak luas di Himalaya itu. Jadi target dan keinginan dari seorang Jurek selanjutnya setelah berdiri di podium pemegang trofi fourteen eight thousanders, adalah mendaki empat gunung tersisa melalu rute yang baru dan totally never touch.

Ia ingin mendaki Annapurna dari sisi West Buttress South Face, bukan dari rute normal yang telah ia selesaikan pada tahun 1985 kemarin. Jurek ingin pula mendaki Dhaulagiri, Lhotse dan Kangchenjunga dengan cara demikian. Benar-benar dari sebuah rute yang belum pernah disentuh oleh para pendaki lain sebelumnya.

Memahami jiwa seorang petualang sejati seperti Kukuczka adalah tidak mudah, mendampingi orang seperti Kukuczka dalam perjalanan hidupnya tentu lebih tidak mudah lagi. Namun itu adalah risiko yang telah diambil oleh Cecylia, dan ia ingin konsisten menjalaninya.

Description: jerzy_kukuczka_23_20161022_1757156472.jpg
Jurek muda pada salah satu pendakiannya di Pegunungan Tatras. Tidak ada satupun para pendaki besar yang terlahir dari proses komersialisasi, mereka menempa diri, belajar secara konsisten, memiliki rasa hormat kepada gunung, dan senantiasa memaknai pendakian mereka dalam sebuah jalan hidup yang penuh nilai mulia filosofis. Sumber foto: winterclimb.com

Kadang timbul pertanyaan dalam benak banyak orang, apa sih sebenarnya yang dikejar oleh pendaki-pendaki gunung seperti Jurek ini? Ia telah bertengger di atas dahan tertinggi tahta mountaineering dunia, ia adalah runner-up pemegang rekor fourteen eight thousanders  yang melakukan pendakiannya dengan cara yang lebih bergaya. Ia telah berhasil ‘menaklukkan’ tantangan-tantangan maut paling berbahaya di gunung-gunung raksasa dunia. Lalu apa lagi yang ia cari? apa lagi yang diinginkan oleh Jurek sebagai pendaki gunung?

Kita hanya akan berhenti pada rasa kagum jika menilai hal ini dari sudut pandang keberhasilannya saja. Akan tetapi jika kita menelusuri lebih jauh, berupaya menyelami alasan-alasan dan motivasi seorang Jurek melakukan semua itu, kita mungkin akan menemukan diri kita tidak hanya terpaku pada rasa kagum dan kata ‘wow’ semata. Namun bisa jadi pula kita akan mengangguk-angguk tanpa suara, dan perlahan mulai paham mengapa Jurek melalukan ini semua.

Bagi seorang pendaki gunung dengan jiwa orisinil tak tertandingi seperti Jurek, mendaki gunung bukanlah persoalan mencapai puncaknya, namun juga bagaimana ia melakukannya. Gunung dan segala sesuatu yang ada di atasnya, tak ubahnya seperti sebuah canvas bagi Kukuczka, dimana ia dapat membuat sebuah mahakarya dan lukisan yang terbaik.

Semangat yang ditunjukkan Kukuczka ini adalah sebuah konfrontasi yang sangat jelas antara jiwa alpinisme pioneering yang murni, dengan jiwa pendaki yang terlahir dari sebuah proses komersialisasi. Bagi para pendaki komersialis, puncak adalah segalanya, dengan cara apa pun dan darimana pun ia mencapainya.

Sementara bagi para alpinis dan pendaki gunung yang terbentuk dari rasa cinta akan mountaineering, rasa kagum akan alpinisme, rasa penasaran akan pencapaian, dan mungkin juga rasa ego untuk menaklukkan diri sendiri, maka mountaineering is not just about a top, bukan hanya sekedar puncak, bukan hanya sekedar summit, dan bukan hanya sekedar mencapai titik tertinggi dari sebuah tempat yang disebut gunung.

Namun lebih daripada itu, bagaimana cara mencapai, teknik apa yang digunakan, pelajaran apa yang didapatkan dalam prosesnya, jauh lebih penting bagi seorang dengan jiwa pioneering yang membara. Dan Kukuczka sudah pasti ada di antara orang-orang seperti itu.

Route Polish Line di Gunung K2 (Climbing Magazines)

Polish line yang dibuat Jerzy Kukuczka dan Tadeuz Piotrowski di dinding K2 mungkin adalah puncak dari mahakaryanya di gunung Himalaya. Polish Line adalah sebuah jalur yang dapat dibilang nyaris mustahil mengingat tingkat kesulitan dan tantangan yang disediakan rute itu, dan itu terbukti dengan jelas hingga sekarang. Sejak dibuat oleh Kukuczka dan Tadeuz pada tahun 1986, 33 tahun yang lalu, belum ada satu pun alpinis dunia yang bisa menyusurinya kembali, bahkan pendaki Polandia sendiri sekali pun.

Apa yang dilakukan oleh Kukuczka ini senada pula dengan pencapaian para legenda mountaineering yang lain. Seperti bagaimana Pillar Bonatti diciptakan oleh Walter Bonatti di Petit Dru, atau seperti bagaimana Metanoia Route tercipta di lintasan wajah utara Eiger oleh Jeff Lowe, atau bagaimana Mobitel Route diukir oleh Tomaz Humar di wajah selatan gunung Dhaulagiri.

Pada perkembangannya, Polish Line yang dibuat oleh Kukuczka dan Tadeuz dapat dikatakan memiliki derajat alpinisme yang setingkat lebih tinggi daripada Pillar Bonatti atau pun Metanoia. Karena selain belum bisa direpeat hingga detik ini, Polish Line juga dibuat di gunung paling sulit di dunia dengan ketinggian peringkat kedua setelah puncak tertinggi bumi.

Pendakian Annapurna Timur Oleh Jerzy Kukuczka dan Arthur Hajzer

Tiga ksatria gunung Polandia; Arthur Hajzer, Wanda Rutkiewicz dan Jerzy Kukuczka (Himalman Blog)

Pada tahun 1988, Kukuczka mulai melunasi ‘hutang-hutangnya’. Hutang pertama yang ia datangi adalah Annapurna I. Bersama dengan Arthur Hajzer, Kukuczka berangkat ke Himalaya. Target kedua pendaki besar Polandia itu adalah Puncak Timur Annapurna I yang berdiri pada ketinggian 8.010 meter.

Hajzer dan Kukuczka berencana akan mendaki Annapurna I dari sisi South Face, salah satu sisi gunung Annapurna yang dianggap paling tidak mudah untuk ditaklukkan. Percobaan pertama yang berhasil dari sisi selatan Annapurna adalah ekspedisi Inggris tahun 1970 yang dipimpin oleh Chris Bonington. Meskipun mencapai puncak, tim Inggris itu harus kehilangan salah satu mountaineer terbaiknya di sisi selatan Annapurna, Ian Clough tewas dihantam serac pada perjalanan turun mereka saat itu.

Pendakian Kukuczka dan Hajzer di Annapurna berjalan dengan lancar, mereka berdua berhasil mencapai East Summit (Puncak Timur) setelah beberapa hari pendakian. Namun di sana Kukuczka memutuskan untuk berbalik turun, tidak melanjutkan ke Main Summit (Puncak Utama) yang memiliki perbedaan elevasi sekitar 81 meter dari East Summit.

“Apakah kita akan melanjutkan ke puncak utama, Jurek?”

Suara Hajzer terdengar pelan di atas puncak Annapurna East, angin yang berhembus membuat suaranya cepat menghilang.

“No, I dont think so..”

“No?”

“Ya saya pikir kita akan turun dari sini, Hajek, aku tak begitu bersemangat untuk mendaki ke Main Summit”

Bagi Hajzer, Kukuczka adalah mentornya, gurunya, pelatihnya, partnernya, sekaligus juga sahabat dekatnya. Agak heran juga dalam hati Hajzer sebenarnya mengapa Kukuczka memilih mundur setelah mencapai East Summit, menyerah adalah hal yang tidak pernah dilakukan Jurek selama karir pendakiannya.

“Why, kita hanya sedikit lagi mencapai puncak, aku pikir kita dapat melakukannya dengan cepat untuk sampai ke sana”

“Tidak, saya kira sudah cukup. Kita telah berhasil membuka rute baru di gunung ini. South Face Annapurna dari pendaki Polandia telah kita persembahkan hingga ke Annapurna East, aku kira itu sudah cukup”

Tidak ada keinginan sama sekali dari Hajzer untuk menginterupsi keputusan Jurek. Ia sendiri juga sudah pernah mencapai puncak Annapurna I pada 3 Januari 1987 lalu, dan bersama Kukuczka juga. Jadi jika Kukuczka menganggap pendakian mereka cukup hanya sampai di East Summit saja, maka bagi Hajzer itu sama sekali bukan masalah yang perlu diperdebatkan.

Hajzer telah mendaki banyak rute murni dan orisinil bersama Kukuczka. Sebelum mereka mendaki South Face tahun 1988, ia dan Kukuczka telah melanglang buana di rute timur laut Makalu pada tahun 1986, merayapi East Ridge Shishapangma pada tahun 1987, semuanya melalui rute yang sama sekali perawan, belum tersentuh oleh pendaki mana pun.

Description: jerzy_kukuczka_45_20161022_1122626126.jpg
Arthur Hajzer (kiri) dan Jerzy Kukuczka dalam salah satu pendakian mereka di Himalaya. Diantara begitu banyak pendaki terbaik Polandia, Hajzer adalah yang paling sering diajak berpartner dengan sang legenda. Sumber foto: winterclimb.com

Setelah Annapurna East berhasil dicapai pada tahun 1988 melalui rute baru sisi selatan, maka secara umum Jurek menganggap hutangnya kepada puncak delapan ribu meter Annapurna sudah dibayar.

Akan tetapi setelah Annapurna, masih tersisa tiga puncak 8.000 meter lain yang harus ia hadapi sebagai sebuah pemenuhan atas hutang yang harus ia bayar dengan membuat sebuah rute baru dan sama sekali original.

Setelah pulang dari Annapurna, Kukuczka telah menetapkan Lhotse sebagai puncak yang akan ia kunjungi pada tahun berikutnya. Tahun 1989 Kukuczka berniat untuk membayar hutangnya di Lhotse melalui sisi selatan, sebuah sisi iblis paling mematikan yang dianggap paling mustahil untuk didaki pada gunung tertinggi keempat di dunia tersebut.

Detik-Detik Tewasnya Jerzy Kukuczka Dalam Pendakiannya di Lhotse South Face

Lhotse South Face (Karakorum Climber News)

Bulan Oktober 1989 telah ditetapkan oleh Kukuczka sebagai waktu pendakiannya ke Dinding Selatan Lhotse. Di tebing itu, Kukuczka menyadari tidak mungkin dapat melakukannya seorang diri, ia membutuhkan seorang rekan untuk mendakinya. Namun entah mengapa semua rekan-rekan yang biasa menjadi partner ekspedisinya tidak ada yang bersedia untuk menemaninya ke Lhotse. Arthur Hajzer, Krzyztof Wielicki dan yang lainnya, tidak ada yang berminat untuk menemaninya.

“Aku harus memiliki partner dalam ekspedisi kali ini. Pilihanku adalah memilih antara pendaki muda dengan semangat yang menggebu-gebu, atau pendaki veteran dengan pengalaman yang yang lebih baik, aku memilih opsi yang terakhir…”

Namun upaya Jurek untuk menemukan para veteran tua2.9 kandas. Tidak ada satu pun para veteran mountaineer Polandia yang bersedia ikut dengannya.

“Tiba-tiba semuanya berubah. Wajah-wajah para pendaki yang biasa menjadi partner saya, teman-teman saya, dan kolega yang lain seolah hanya lewat di depan mata saya sedemikian rupa. Perasaan aneh menguasai saya, seolah saya akan mundur selangkah ke belakang, membatalkan semuanya dengan perasaan bersalah dan irasional. Saya merasa ingin diam, bersembunyi dan sendirian sekarang”

Ketika tidak ada para veteran yang bersedia menemaninya ke Selatan Lhotse, maka pilihan Kukuczka terpaksa harus fleksibel dengan mempersilahkan darah muda Polandia untuk bergabung dengannya. Kemudian muncullah nama Ryszard Pawlowski, seorang pendaki muda Polandia dengan semangat membara. Satu-satunya gunung delapan ribu meter yang pernah didaki oleh Pawlowski sebelum setuju menemani Kukuczka di Lhotse adalah Broad Peak. Puncak itu berhasil dicapai Pawlowski pada 14 Juli 1984, lima tahun sebelum rencana pendakiannya ke Lhotse bersama Jurek.

Dinding Selatan Lhotse adalah sebuah rute yang sangat berbahaya untuk didaki, Reinhold Messner sendiri menyebut pendakian melalui sisi itu sebagai sebuah misi untuk bunuh diri. Namun bagi Jurek, di tempat inilah ia dapat mengukir namanya yang sebenarnya.

Kekalahannya dalam perlombaan empat belas puncak delapan ribu meter dengan Messner2.10 membuat Jurek sedikit kecewa. Meskipun pada akhirnya ia berhasil menduduki podium fourteen eight thousanders sebagai runner-up, namun pencapaian itu sama sekali belum cukup bagi Jurek, ia merasa harus membuktikan dirinya lagi bahwa bagaimana pun, ia dapat mengalahkan Messner dengan cara yang lebih baik.

Aktivitas mendaki gunung atau mountaineering kadang memang berkembang menjadi demikian egois. Risiko dan konsekuensi dari kegiatan ini dapat saja membuat seseorang membobol semua batasan-batasan yang selama ini ia tetapkan untuk dirinya sendiri. Dan itu pula yang tampaknya terjadi pada Kukuczka menurut pendapat beberapa orang. Resolusinya untuk kembali membayar ‘hutang’ di empat gunung tersisa2.11 setelah berhasil menjadi seorang fourteen eight thousanders, sudah menggiring Jurek untuk melakukan pendakian-pendakian yang lebih bersandarkan pada pemuasan hasrat dan dahaga alpinismenya semata.

Setelah mendapatkan Pawlowski sebagai rekan mendakinya, maka Kukuczka berangkat ke Lhotse. Sebelum menuju kaki Lhotse bagian selatan, Pawlowski dan Jurek menyempatkan diri berjalan-jalan di kota Kathmandu. Di tempat itu Jurek membeli seutas tali bekas diameter 6 milimeter dengan panjang sekitar 80 meteran.

Dari sisi pengalaman, Pawlowski tentu jauh dibawah Kukuczka. Maka layaknya seorang junior yang menemani senior, kesempatan itu dipergunakan secara maksimal oleh Pawlowski untuk belajar banyak hal dari Jurek. Jurek juga bukan orang yang sulit, ia meski bagaimana pun,  juga memiliki selera humor dan juga sosok yang menyenangkan.

Lhotse South Face yang menjadi pilihan Kukuczka dan Pawlowski saat itu adalah sebuah dinding gunung dengan sejarah yang belum pernah terkalahkan oleh ekspedisi dari mana pun. Dinding mematikan ini untuk pertama kalinya dicoba oleh ekspedisi Jepang pada tahun 1973 dibawah pimpinan Royei Uchida. Dan upaya ini berakhir dengan kegagalan. Selanjutnya upaya kedua di Lhotse South Face dicoba oleh dewa gunung Italia, Reinhold Messner. Sayangnya hasil ekspedisi Messner ini tidak jauh berbeda dengan ekspedisi Jepang dua tahun sebelumnya.

Enam tahun setelah kegagalan Messner di Dinding Selatan Lhotse, sebuah ekspedisi lain kembali mencoba keberuntungan di tempat ini pada tahun 1981. Ekspedisi ketiga ini datang dari Yugoslavia dengan para pendakinya antara lain Vanja Matijevec, Franček Knez dan pemimpin ekspedisi mereka, Aleš Kunaver.

Ales Kunaver, salah satu legenda mountaineering dari Yugoslavia (Rock and ice Magazines)

Ekspedisi Yugoslavia ini meski pun tidak berhasil mencapai puncak, namun berhasil membuat ketinggian yang yang signifikan2.12. Para pendaki Yugoslavia bahkan mampu menyelesaikan pendakian hingga punggungan utama menuju puncak Lhotse Main Summit. Meskipun itu artinya juga masih ada ratusan meter lagi yang dibutuhkan untuk mencapai puncak utama Lhotse.

Setelah tahun 1981, belum ada pendaki yang berani mencoba Lhotse South Face lagi. Reinhold Messner pada tahun 1986 memang kembali ke Lhotse, namun ia tak melirik South Face, ia melaju mencapai puncak melalui jalur normal tanpa tabung oksigen. Keberhasilan Messner di Lhotse tahun 1986 ini, sekaligus mengantarkan namanya sebagai orang pertama di dunia yang berhasil mendaki secara lengkap empat belas puncak delapan ribu meter yang menjadi mahkota himalaya.

Selain Messner, sahabat baik Kukuczka dan rekan satu negaranya juga mengunjungi Lhotse setelah tahun 1981. Krzyztof Wielicki pada tahun 1988 mencatatkan namanya di papan rekor dunia dengan memuncaki Lhotse sebagai pendakian musim dingin yang pertama (first winter ascent). Dan Wielicki melakukannya secara solo.

Tahun 1989, tahun ketika Jurek dan Pawlowski datang South Face Lhotse, Reinhold Messner juga mendatangi sisi gunung itu lebih dulu bersama ekspedisinya. Namun sekali lagi Messner harus menelan kenyataan pahit dengan dipaksa berbalik mundur sebelum mencapai puncak tertinggi.

Dari data sejarah ini dapat kita lihat dengan jelas bagaimana reputasi Dinding Selatan Lhotse di mata alpinis terbaik dunia. Bahkan Messner sendiri yang dianggap sebagai mountaineer terbesar di zamannya, dipecundangi dua kali oleh Lhotse South Face.

Description: Lhotse jurek.jpg
Jurek Kukuczka (kiri) dan Ryszard Pawlowski (kanan) di base camp Lhotse South Face tahun 1989, beberapa hari sebelum musibah yang memilukan itu terjadi. Sumber foto: goryonline.com

Kenyataan ini juga menyimpulkan hal lain terkait dengan antusias motivasi dan ambisi Jurek untuk mendakinya. Dalam fourteen eight thousanders, Jurek kalah cepat dengan Messner dan itu cukup membuatnya agak terpukul2.13. Kekalahan Kukuczka dalam hal kecepatan ini akan semakin dapat ditebus dengan sempurna jika ia berhasil menaklukkan tebing iblis Dinding Selatan Lhotse, tebing yang telah membuat ekspedisi Messner bertekuk lutut sebanyak dua kali.

Dalam diri Kukuczka, Lhotse South Face selain sebagai upayanya untuk membayar hutang pembuatan salah satu rute baru lagi di gunung delapan ribu meter, juga akan menjadi semacam obat atas kekecewaannya sebagai posisi runner-up dalam perlombaan mencapai podium fourteen eight thousanders  di bawah Messner.

Jika Kukuczka bisa mencapai Puncak Utama Lhotse melalui wajah selatan gunung itu, maka ia secara tak langsung telah berhasil mengalahkan Reinhold Messner  dalam perlombaan delapan ribu meter yang sesungguhnya. Dan nampaknya Kukuczka menginginkan hal tersebut untuk terwujud.

Putusnya Tali Jurek Kukuczka Menjelang Puncak Lhotse

Ryszard Pawlowski (Polskie Radio 24)

Wajah Jurek agak kesal siang itu, sudah beberapa hari ia dan Pawlowski ada di Dinding Selatan Lhotse, dan hanya sedikit upaya lagi mereka akan mencapai puncak yang telah diperebutkan sejak tahun 1973 itu. Namun cuaca dalam dua hari terakhir tidak memungkinkan bagi Jurek dan Pawlowski untuk melakukan summit push, sehingga hal tersebut telah membuat upaya putaran pertama mereka harus gagal.

Jurek dan Pawlowski menghabiskan malam mereka di ketinggian sekitar 8.200 meter, kurang sekitar 300 meter lagi dari garis finish yang mereka targetkan di puncak Lhotse. Pendakian yang dilakukan oleh Jurek dan Pawlowski ini berlomba dengan cuaca awal musim gugur yang mungkin akan segera menyapa. Dengan keterlambatan mereka pada jadwal, bisa-bisa puncak yang sudah hampir dalam genggaman itu akan menghilang dalam hembusan badai musim gugur yang mungkin akan mengamuk sepanjang hari.

“Bagaimana menurutmu, Ryszard, apakah kita akan menyerah di tempat ini?”

“Keputusanmu Jurek, kau memiliki lebih banyak pengalaman dariku, kau sudah pernah ke gunung ini sebelumnya, menurutmu apa yang terbaik..?”

Jawaban Ryszard terdengar merendah walau memang demikian keadaannya.

Kita akan menunggu badai ini berlalu, mencapai puncak Lhotse, lalu pulang..”

“Tidak masalah, aku rasa sebentar lagi badainya akan berlalu”

Atap tenda yang menjadi tempat berlindung Kukuczka dan Pawlowski kembali berkibar-kibar ditiup angin yang kencang. Secara umum pendakian kedua orang Polandia ini masih dapat dibilang berjalan dengan lancar. Kesulitan-kesulitan yang selama ini menjadi tembok penghalang ekspedisi Messner dan Yugoslavia telah berhasil mereka selesaikan. Hanya tersisa sedikit lagi kesulitan untuk dihadapi sebelum Kukuczka dan Pawlowski benar-benar dapat berdiri dalam kemenangan dan kegembiraan.

Jerzy Kukuczka bersama dua legenda mountaineering yang lain, Voytek Kurtyka dan Alex MacIntyre (Twitter)

Tanggal 24 Oktober 1989, cuaca berubah membaik. Meskipun sempat terganggu sebelumnya, namun rasa optimis akan meraih puncak tak pernah beranjak dari dalam hati Jurek dan Pawlowski. Bayangan keberhasilan bahwa mereka sebentar lagi akan memasukkan halaman-halaman mereka sendiri ke dalam buku sejarah mountaineering dunia sudah terbayang demikian lekat di pelupuk mata. Pawlowski yang sebelumnya tidak begitu yakin akan berhasil dan mampu meraih puncak mengingat banyak kegagalan di tebing ini, mulai merasakan bahwa pendakian ini nantinya akan berakhir dengan bahagia. Bahwa perjuangan dan kerja keras mereka akan menuai hasil yang diharapkan.

Jurek segera memimpin pendakian kembali di hari yang cerah itu. Dan dalam waktu yang tidak begitu lama mereka telah mencapai salah satu bagian paling teknis dari medan pendakian Lhotse South Face. Bagian yang sulit itu adalah sebuah lempengan batu granit yang nyaris berbentuk overhang, dengan beberapa lapisan es dan salju tipis yang menjadi jebakan sempurna untuk jatuh.

Dari semua tali yang dibawa oleh Jurek dan Pawlowski, hanya tersisa tali bekas ukuran tujuh milimeter sepanjang 80 meter yang dibeli Kukuczka di Kathmandu tempo hari. Tali itu dipilih secara sadar oleh Kukuczka mau pun Pawlowski, bahkan berkat bantuan tali itu juga mereka sebelumnya berhasil melewati beberapa bagian yang panjang dan lama, dengan cara yang lebih singkat.

Posisi leading2.14 jatuh kepada Jurek. Walau bagaimana pun ia memiliki lebih banyak pengalaman dalam hal tersebut dibanding Pawlowski. Menurut perkiraan keduanya, setelah melewati bagian paling sulit dari Lhotse South Face ini nanti, hanya berjarak kurang dari beberapa puluh meter lagi kemudian, sebelum keberhasilan benar-benar berhasil digenggam oleh mereka. Saat Jurek mulai merayapi bagian paling sulit itu selangkah demi selangkah, Pawlowski mengawasinya dengan seksama sembari membuat pijakan yang lebih baik bagi posisinya sebagai belayer.

Seperti biasanya, Kukuczka melakukan bagiannya dengan sangat gemilang sehingga dalam waktu yang mungkin tidak lama lagi bagian paling sulit dari Dinding Selatan Lhotse itu akan berhasil ia atasi. Dan kemenangan sudah terasa nyata di depan mata. Akan tetapi beberapa meter lagi sebelum semua itu berakhir, pijakan yang digunakan oleh Kukuczka tiba-tiba goyah dan lepas!

“Hati-hati Jurek!”

Pawlowski berteriak dari bawah.

Jurek mulai melorot, berat badannya segera menyentak tali bekas yang ia beli di Kathmandu itu menjadi kencang seketika. Pawlowski yang berada di ujung belay menarik ujung tali yang lain, berusaha memberi pengereman pada gerakan jatuh Kukuczka.

Tress!

Bunyi tali terputus tiba-tiba terdengar, tali tua itu ternyata tak mampu menahan bobot badan Kukuczka!

“Jurek awas!”

Pawlowski berteriak lagi

Tak ada suara jawaban dari Kukuczka, ia hanya memukul kapak esnya berkali-kali berupaya untuk menghentikan gerakan jatuh!

Namun gerakan Jurek sia-sia, badannya melorot semakin cepat, semakin cepat, dan semakin cepat, hingga akhirnya seperti terbang dengan cepat ke arah jurang Lhotse Face yang kelaparan!

Pawlowski terkesiap, sesuatu yang serasa mimpi buruk telah terjadi di depan matanya. Untuk beberapa saat ia tak mampu melakukan apa pun, kecuali meringkuk di  tebing batu itu sendirian, terguncang dilanda ketakutan dan kengerian.

Waktu seakan berhenti berjalan, keheningan tiba-tiba seolah menutupi semuanya, angin berhenti bertiup, semua seolah terhenti pada sebuah scene film yang sedang ditekan tombol pause.

“Oh my God, oh my God!”

Pawlowski bergunam beberapa kali dalam keadaan masih meringkuk, ia benar-benar terguncang, pikirannya berkecamuk dengan hebat!

“Benarkah ini, benarkah Jurek telah terjatuh, benarkan pendaki terbesar Polandia yang tidak terkalahkan itu baru saja terjun bebas ke jurang Lhotse South Face di depan mataku?”

Pikiran Pawlowski meracau tidak jelas, ia merasa demikian kacau.

“Konsentrasi, konsentrasi, konsentrasi!”

Pawlowksi berkata beberapa kali kepada dirinya sendiri. Ia mengucapkan itu layaknya mantra untuk mengembalikan kesadarannya kembali.

Tidak ada pendakian lanjutan yang terlintas di benak Pawlowski, ia hanya ingin meninggalkan gunung itu dalam keadaan hidup. Kukuczka, sang pendekar es terbesar dari Polandia, entah dimana dan bagaimana kondisinya sekarang. Namun melihat ketinggian jatuhnya dan dalamnya jurang Lhotse South Face, Pawlowski berasumsi bahwa guru sekaligus seniornya itu kemungkinan besar telah tewas, telah terbang jauh ke nirwana Himalaya!

Pawlowski pun mulai bergerak turun, akan tetapi karena kondisi hari sudah hampir gelap, ia harus menemukan tempat untuk menghabiskan malam itu dengan aman. Ia pun menemukan sebuah celah batu yang cukup terlindung  dari angin, Pawlowski melewati malam sengsara dengan kecamuk pikiran tentang Kukuczka itu di sana

Gunung Lhotse (Gripped Magazines)

Esoknya ia kembali meneruskan perjalanan turun. Dan seratus meter ia melangkah, ia menemukan tenda yang ia dan Jurek gunakan pada malam sebelumnya. Pawlowski melewati tenda itu dalam perasaan jijik, bagaimana mungkin ia dapat menghabiskan malam penuh kesengsaraan di bivak batu 8.300 meter, sementara tenda nyamannya hanya berjarak 100 meter dari tempatnya meringkuk kedinginan sepanjang malam?

Kejadian tragis yang menimpa Jurek diceritakan Pawlowksi dengan teman-teman Polandia-nya yang berinisiatif mendaki hingga Camp 3 karena perasaan khawatir tidak mendengar kabar dari Jurek dan Pawlowksi dalam dua hari terakhir.

Para pendaki gunung Polandia itu demikian terpukul dan hancur mendengar musibah yang menimpa Jurek. Pahlawan mereka, ice warrior dari kelas paling elite dan tangguh di Polandia, baru saja menemui ajalnya di Lhotse South Face kemarin! Berita itu benar-benar suatu hal yang tidak bisa dipercaya!

Setelah membantu Pawlowki mencapai base camp pada keesokan harinya, pencarian terhadap jasad Kukuczka pun dimulai. Labirin batu yang rumit, celah es, tempat-tempat sulit yang mungkin menjadi tempat tubuh Kukuczka tersangkut, semuanya ditelili dan dicari dengan seksama. Namun hasilnya nihil, tubuh Kukuczka seolah menghilang ditelan bumi.

Gunung Lhotse Sebagai Awal dan Akhir Petualangan Jerzy Kukuczka

Jurek Kukuczka dan Krzysztof Wielicki (Polskie Radio 24)

Kepergian Kukuczka telah meninggalkan luka mendalam bagi banyak orang. Tidak hanya bagi Cecylia isterinya, tidak hanya para pendaki Polandia saja, namun semua komunitas mountaineering merasa telah kehilangan sosok alpinis dengan semangat ekplorasi yang tiada banding. Bahkan Reinhold Messner pun merasa demikian kehilangan Kukuczka, sahabat sekaligus rivalnya dalam kancah pendakian gunung elit dunia.

Sementara sahabat satu negara Kukuczka, Krzyztof Wielicki mengomentari kepergiannya dengan kalimat kurang lebih sebagai berikut;

“Jurek meninggal karena kematian pendaki gunung dengan alasan yang klasik; dinding yang sangat curam, terjatuh, tali yang putus, dan terjatuh ke dalam jurang yang dalam. Satu-satunya pertanyaan tentang hal ini adalah, mengapa itu dimulai di sini2.15, dan kemudian harus pula berakhir di sini? Jurek telah memulai dan mengakhiri petualangannya yang hebat di gunung yang hebat pula…”

Jasad Kukuczka tidak pernah ditemukan hingga sekarang. Sementara tantangan Lhotse South Face yang sedikit lagi berhasil dikalahkan Jurek, akhirnya memberi kesempatan pada ekspedisi Rusia2.16 untuk tampil sebagai pemenang perlombaan first ascent-nya beberapa tahun kemudian.

***

Description: Kukuczka dan Cecylia.jpg
Cecylia mengantar suaminya untuk menjalani salah satu ekspedisi di Himalaya, gambar ini diambil beberapa bulan setelah Jurek dan Cecylia menikah. Sumber foto : Winterclimb

Jerzy Kukuczka popular climb:

  • Runner-up pendaki yang mencapai empat belas puncak delapan ribu meter setelah Reinhold Messner
  • Pendakian Makalu North West Ridge secara solo dan alpine style tahun 1981
  • Pendakian Polish Line di gunung K2 pada tahun 1986
  • Fisrt winter ascent empat gunung delapan ribu meter (Dhaulagiri, Annapurna, Cho Oyu dan Kangchenjunga)
  • Membuat sebelas rute baru dari empat belas gunung delapan ribu meter Himalaya dan Karakoram

Tribute and legacy:

  • My Vertical World: Climbing the 8.000 Metre Peaks, ditulis oleh Jerzy Kukuczka, terbit tahun 1992.
  • Dwa Razy Everest ditulis oleh Piotr Wasikowsi, terbit tahun 1996.
  • Na Szczytzch Swiata, ditulis oleh Jerzy Kukuczka, diterbitkan tahun 1990.
Chorten Jerzy Kukuczka di Base Camp Lhotse (Cloud Ocean)

Footnote:

  1. Di Everest dan Cho Oyu
  2. 7.538 meter, 8.016 meter dan puncak utama 8.047 meter.
  3. Pendakian musim dingin pertama kalinya di Dhaulagiri.
  4. Maciej Berbeka dan Maciej Pawlikowski mencapai puncak pada 12 Februari 1985, disusul oleh Jerzy Kukuczka dan Andrzej Heinrich tiga hari setelahnya.
  5. Sebuah rute pendakian dari sisi selatan gunung K2. Polish Line menjadi pencapaian outstanding yang sangat luar biasa mengingat tingkat kesulitannya, belum ada yang berani dan berhasil merepeat rute ini sampai sekarang.
  6. Dhaulagiri, Cho Oyu, Kangchenjunga dan Annapurna I.
  7. Tahun 1978 dan 1980.
  8. Empat belas puncak delapan ribu meter Himalaya dan Karakoram.
  9. Pendaki yang lebih memiliki pengalaman di gunung Himalaya dan Karakoram, seperti ia sendiri.
  10. Dari sisi siapa yang menyelesaikan grand slam itu lebih dulu.
  11. Dhaulagiri, Annapurna, Lhotse dan Kangchenjunga.
  12. Lebih baik daripada ekspedisi Messner dan Jepang sebelumnya.
  13. Meskipun secara style, Kukuczka dianggap lebih unggul.
  14. Pendaki paling depan yang membuka jalur pendakian.
  15. Lhotse adalah gunung 8.000 meter pertama yang didaki Kukuczka.
  16. Sergey Bershov dan Gennadiy Karataev.

Artikel ini dikutip dari buku berjudul MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Anda juga bisa mendapatkan bukunya baik versi cetak mau pun versi ebook dengan mengklik tautan ini: Koleksi buku-buku mountaineering dan pendakian gunung populer

2 respons untuk ‘KISAH TERBUNUHNYA PENDAKI GUNUNG TERBAIK DUNIA DI WAJAH SELATAN LHOTSE

Add yours

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: