SEJARAH LENGKAP PENDAKIAN DAN HILANGNYA MALLORY-IRVINE DI GUNUNG EVEREST

“Jadi, jika anda tidak dapat memahami bahwa ada sesuatu dalam diri manusia yang merespon tantangan gunung ini dan keluar untuk menghadapinya, bahwa perjuangan adalah perjuangan hidup itu sendiri yang meningkat dan selamanya meningkat, maka anda tidak akan mengerti mengapa kita pergi (untuk mendaki gunung). Apa yang kita dapatkan dari petualangan ini hanyalah suka cita belaka. Dan suka cita adalah, setelah semuanya, merupakan akhir dari kehidupan. Kita tidak hidup hanya untuk makan dan mencari uang, namun kita makan dan mencari uang untuk dapat menikmati hidup. Itulah arti hidup dan untuk apa tujuan hidup itu sebenarnya..”

George Leigh Mallory
Description: leo conrad.jpg
Dengan menggunakan segala perlengkapan yang diupayakan semirip mungkin dengan yang digunakan oleh ekspedisi tahun 1924, Conrad Anker dan Leo Houlding melakukan upaya pemuncakan Everest dalam Mallory Irvine Research Expedition tahun 1999 untuk melihat kemungkinan apakah memang ada peluang bagi dua legenda itu (George Mallory dan Andrew Irvine) mencapai puncak sebelum mereka dinyatakan hilang. Sumber foto: National Geographic

Benarkah Gunung Everest Sudah Berhasil ‘Ditaklukkan’ Pada Tahun 1924 Oleh George Leigh Mallory dan Irvine Andrew?

Pada waktu Tenzing Norgay dan Sir Edmund Hillary mencapai puncak gunung Everest pada tahun 1953, keduanya dianggap telah menyelesaikan salah satu tantangan terbesar dalam kancah aktivitas penjelajahan dunia. Akan tetapi, pencapaian Tenzing dan Hillary, meski bagaimana pun juga tetap mendapat interupsi kecil dari sebuah pristiwa yang terjadi pada tahun 1924 di sekitar puncak gunung Chomolungma tersebut.

Pristiwa yang dimaksud adalah pendakian paling monumental yang melahirkan salah satu misteri terbesar dalam sejarah pendakian gunung Everest. Saat itu dua ksatria pendaki gunung dari kerajaan Inggris, menghilang dalam usaha mereka mencapai puncak. Melalui penglihatan salah satu anggota ekspedisi, kedua pendaki itu telah mencapai punggungan terakhir menuju puncak sebelum ditelan kabut yang tebal. Dan ketika kabut itu sirna, keduanya pun menghilang dan tidak pernah kembali lagi.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah; Apakah kedua pendaki Inggris itu telah mencapai puncak Everest sebelum mereka menghilang?

Jika kedua pendaki itu telah mencapai puncak maka status first ascent Everest oleh Tenzing Norgay dan Edmund Hillary pada tahun 1953 secara otomatis gugur. Publik mountaineering telah diributkan dengan perdebatan mengenai hal ini sejak hari hilangnya Mallory dan Inrvine di Everest. Dan hingga hari ini belum ada titik terang yang sebenarnya dari misteri tersebut.

Telah ada beberapa teori yang dikemukakan mengenai hal ini. Salah satu pendapat yang cukup berani mungkin disampaikan oleh Sir Martin Conway (pendaki populer Inggris yang lain pada era pioneering). Menurut Conway, adalah sebuah kepastian jika Mallory dan Andrew Irvine telah mencapai puncak Everest sebelum mereka benar-benar hilang. Akan tetapi ketika publik bertanya lebih jauh kepada Conway mengenai apa bukti yang dipunyainya, sayangnya Conway tidak memiliki apa pun kecuali hanya asumsi.

Meskipun bertabur perdebatan dan kontroversi, tak dapat disangkal juga bahwa sosok kedua pendaki Inggris yang hilang itu, khususnya George Mallory, adalah salah satu generasi emas dalam sejarah alpinisme dunia. Dibandingkan Andrew Irvine sendiri, George Mallory memiliki catatan yang cukup menarik dalam sejarah alpinisme Inggris. Keikutsertaan Mallory dalam tiga kali ekspedisi Everest tahun 1920-an, adalah masa puncak dari kejayaannya sebagai seorang pendaki gunung.

Profil Pendaki Gunung Legendaris George Leigh Mallory

Mallory memiliki nama lengkap George Herbert Eight Mallory, ia lahir di kota Mobberley, Cheshire, Inggris. Perkenalan pertama Mallory dengan mountaineering terjadi pada saat ia bersekolah di Glengorse, sebuah boarding school yang berlokasi di Eastbourne, wilayah South Coast. Seorang guru Mallory dalam sekolah tersebut yang bernama Robert Lock Graham Irving adalah seorang penulis sekaligus pendaki gunung Inggris yang tergabung juga dalam Alpine Club.

Guru Robert Irving mengagendakan untuk mendaki gunung Alpen setiap tahunnya. Dalam pendakian biasanya sang guru mengajak beberapa murid yang dipilihnya untuk mengikuti kegiatan pendakian tersebut. Pada tahun terakhir ia bersekolah di Glengorse, Mallory ikut dalam pendakian yang dilakukan oleh guru Robert Irving. Dan itu adalah moment pertama kalinya Mallory mengenal dunia mountaineering atau pendakian gunung.

Selain berprofesi sebagai sarjana matematika yang terdidik dengan baik, Mallory juga sempat menjadi seorang letnan dalam perang dunia pertama antara Inggris dan Jerman. Perang yang berkecamuk ini terjadi tepat enam hari setelah George Mallory menikahi seorang gadis cantik dari kota Godalming bernama Ruth Turner.

George Mallory (Daily Mail)

Setelah perang usai, Mallory mengundurkan diri dari dunia militer untuk bergabung dengan ekspedisi Inggris ke Gunung Everest pada tahun 1921. Selama periode antara ekspedisi yang satu dengan ekspedisi lainnya Mallory mengisi hari-harinya dengan menulis dan mengajar. Mallory tercatat pernah menjadi dosen di Departemen Luar Biasa Universitas Cambridge. Akan tetapi karir dan profesinya sebagai pengajar dan penulis tidak pernah lebih baik dari kemampuannya mendaki gunung tinggi, khususnya Everest.

Sebelum menjejaki Everest pada tahun 1921, Mallory telah melanglang buana di Pegunungan Alpen Eropa sejak tahun 1910. Setelah kegagalannya mendaki Mont Velan pada 1910, Mallory mendaki Mont Blanc pada tahun 1911 dengan kepala ekspedisi Robert Irving. Pendakian ini kemudian berlanjut juga ke Frontier Ridge di Mont Maudit dan berhasil mencatatkan pencapaian third ascent.

Sekitar tahun 1916, George Mallory nampaknya diminta untuk menulis artikel tentang pendakiannya di pegunungan Alpen, dalam artikel tersebut Mallory menulis sebuah kalimat pertanyaan yang populer hingga saat ini;

“Dengan mencapai puncaknya apakah kita telah menaklukan gunung (musuh)?”

Kemudian Mallory menjawab sendiri pertanyaan it u;

“Tidak ada yang kita taklukkan, kecuali diri kita sendiri”

Pandangan George Mallory Tentang Penggunaan Tabung Oksigen dalam Pendakian Gunung Everest

Selain Mont Blanc, Mont Maudit dan Mont Velan, Mallory juga pernah mengukir namanya di Pillar Rock di English Lake District. Di tempat ini Mallory menciptakan sebuah lintasan yang kemudian terkenal atas namanya sendiri, Mallory Route. Pendakian Mallory di Rock Pillar adalah mahakarya pertamanya dalam bidang pioneering sebagai independent climber. Mallory membuat lintasan itu tanpa bantuan guide atau pemandu, sesuatu yang saat itu masih banyak dikecam dalam dunia pendakian gunung di Eropa.

Mallory pertama kali mengunjungi Himalaya pada tahun 1921 dibawah ekspedisi yang dibiayai oleh Mount Everest Committee. Penjejalahan ini meskipun tidak mencapai puncak namun cukup berhasil mengekplorasi puncak-puncak dan pegunungan sekitar Everest. Mallory yang menjadi pemimpin dari ekspedisi ini berhasil mendaki beberapa puncak yang ada di dekat Everest.

Tim Mallory tahun ini juga berhasil memetakan rute melewati Gletser Rongbuk hingga mencapai bagian pangkal dari sisi utara Everest. Setelah mengitari bagian selatan gunung, Mallory dan ekspedisinya juga berhasil menemukan Gletser Rongbuk Timur, tempat yang kemudian hari digunakan oleh hampir semua pendaki gunung yang mendaki Everest melalui sisi Tibet.

Tahun 1922 Mallory kembali lagi ke Everest, kali ini sebagai salah satu pendaki utama dalam sebuah ekspedisi besar yang dipimpin oleh Brigadir Jendral Charless Granville Bruce3.1. Sebagai pemimpin pendakian dalam ekspedisi ini, Granville Bruce mengajak juga sosok pendaki Inggris yang lain bernama Edward Lislte Strutt3.2.

George Mallory, Edward Norton dan Howard Somervell berhasil mencapai ketinggian 8.225 meter pada percobaan pertama mereka sebelum harus mundur kembali karena dipukul olah cuaca buruk dan kehabisan suplai perbekalan. Tim kedua yang dikirim oleh Granville Bruce untuk puncak berhasil mencapai ketinggian 8.321 meter. Tim ini dipimpin oleh George Finch dan mereka menggunakan tabung oksigen baik untuk mendaki mau pun untuk tidur.

Kemampuan George Finch dan timnya untuk mencapai ketinggian lebih jauh daripada yang dicapai Mallory karena bantuan tabung oksigen telah membuat pertimbangan tersendiri dalam benak Mallory. Sebelumnya Mallory adalah sosok yang dengan terang-terangan menolak penggunaan tabung oksigen dalam aktivitas pendakian gunung. Menurut Mallory, penggunaan tabung oksigen dapat melukai semangat alpinisme sejati. Ada dugaan yang mengatakan bahwa prinsip Mallory ini awalnya merupakan pengaruh dari pemikiran Edward Lisle Strutt yang dikenal menentang banyak hal baru dalam mountaineering.

Seperti yang umumnya diketahui, Edward Lisle Strutt menentang penggunaan banyak hal dan alat dalam aktivitas pendakian gunung. Strutt menentang penggunaan crampon, strutt tidak sepakat dengan penggunaan skrup es, Strutt kadang tidak cocok dengan kapak es, dan Strutt juga menentang perlombaan first ascent dalam berbagai pernyataannya.

Bagi Strutt, gaya pendakian yang paling benar dalam mountaineering adalah seperti yang ia lakukan, konvensional, tanpa bantuan alat, tanpa teknologi tertentu, dan buruknya lagi tanpa prestasi yang benar-benar nyata. Atas semua pernyataan dan tindakannya yang begitu ponggah ini, tak heran mengapa Strutt kemudian nampaknya ‘dijauhi’ dalam komunitas mountaineering Inggris. Tulisannya di alpine journal saat itu juga membuat media mountaineering tertua di dunia itu nampak seperti media kaku, pengab dan penuh kebencian.

Description: 1999_CKS_06104_0095_000().jpg
George Leigh Mallory adalah pendaki gunung dengan aura kharismatik yang luar biasa. Disamping upaya luar biasanya pada tiga kali ekspedisi Everest, pemikirannya tentang nilai-nilai mulia dalam mountaineering juga sangat menginspirasi. Sumber foto: Chrstie’s

Dengan pertimbangan baru untuk menggunakan tabung oksigen, Mallory berusaha melakukan upaya ketiga mendaki ke puncak Everest pada ekspedisi tahun 1922 tersebut. Bersama sekelompok kecil sherpa dan porter, Mallory menuruni lereng bagian bawah North Col yang baru saja ditutupi salju segar tebal setinggi pinggang.

Entah bagaimana kemudian, atau mungkin juga karena dipicu oleh gerakan tim Mallory, tiba-tiba sebuah longsoran menyapu mereka, menewaskan tujuh orang sherpa diantaranya, sementara Mallory dan beberapa yang lainnya selamat. Kecelakaan yang buruk itu segera menjadi penyebab dihentikannya ekspedisi Everest tahun 1922. Dan tidak hanya itu, keputusan Mallory untuk membawa timnya menuruni lereng bawah North Col dinilai oleh salah satu anggota ekspedisi bernama Dr. Longstaff sebagai kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Meskipun tentu tidak adil menghakimi Mallory atas kejadian tersebut, namun Mallory sendiri juga merasa begitu terpukul dan bersalah atas tagedi itu. Dalam sebuah surat yang ia tulis untuk isterinya, Ruth Turner, di Inggris, Mallory mengatakan kurang lebih sebagai berikut;

“Bagaimana aku dapat melepaskan pikiran ini dengan cepat. Bagaimana orang-orang dengan tulus ikhlas mengikuti langkah kakiku untuk menemui kematian mereka, aku tidak dapat melepaskan diriku dari kejadian ini..”

Profil Pendaki Gunung Andrew Irvine, Si Manusia Super

Andrew Comyn Irvine atau Sandy Irvine lahir di Birkenhead, Cheshire, Inggris. Andrew Irvine merupakan satu dari enam bersaudara anak William Ferguson Irvine dan Lilian Davis Colley. Andew Irvine mewarisi darah Skotlandia dan Wales dari garis keturunan ayahnya, sementara ibunya adalah penduduk Cheshire asli.

Perkenalan Andrew Sandy Irvine dengan mountaineering terjadi pada saat ia kuliah di Oxford. Di universitas itu, Sandy Irvine bergabung dengan Oxford University Mountaineering Club. Dimasa sekolahnya, Irvine umumnya dikenal sebagai seorang anak dengan kemampuan mendayung yang sangat baik, ia bahkan pernah menjuarai lomba dayung bersama timnya saat itu. Selain mendayung, Sandy Irvine juga dikenal karena bakatnya yang luar biasa dalam bindang mekanis dan engineering.

Pada saat perang dunia pertama berlangsung, Sandy Irvine sempat membuat sedikit kehebohan kecil dengan mengirimi kantor perang Inggris sebuah desain senapan mesin yang ditembakkan dari helikopter menggunakan daya gerak baling-baling. Tanpa merusak dan mengganggu kinerja baling-balingnya sedikit pun. Meskipun tidak benar-benar diaplikasikan secara serius, namun desain Sandy Irvine ini cukup membuat namanya mencuat saat itu. Dan kemudian namanya benar-benar populer saat mengikuti ekspedisi Everest pada tahun 1924 dibawah pimpinan Charless Granville Bruce.

Description: irvine-2.jpg
Sandy Irvine adalah pemuda dengan fisik yang kuat serta menguasai pula berbagai kemampuan mekanik yang menonjol. Keberhasilannya memodifikasi tabung oksigen dalam aktivitas pendakian gunung adalah alasan utama mengapa George Mallory memilih dirinya sebagai rekan dalam upaya pemuncakan Everest pada tahun 1924. Sumber foto: Google

Tahun 1923 Sandy Irvine ikut serta dalam Merton College Arctic Expedition to Spitsbergen. Dalam ekspedisi ini Irvine selalu saja unggul dalam setiap lini depan, sesuatu yang kemudian menarik perhatian sang pemimpin ekspedisi, Noel Odell. Sebelum ekspedisi Arctic Merton College, Sandy Irvine dan Noel Odell sebelumnya pernah bertemu di Foel Grach, gunung di Wales yang memiliki ketinggian sekitar 915 meter.

Saat itu di puncak Foel Grach, Odell dan Mona, isterinya, dikagetkan oleh seorang anak muda yang mencapai puncak gunung dengan mengendarai sepeda motor. Sementara mereka sendiri harus berjalan kaki dengan susah payah.

Mempertimbangkan kemampuan super Sandy Irvine tersebutlah3.3, Noel Odell memutuskan untuk mengundangnya dalam ekspedisi ketiga Inggris ke Everest tahun 1924. Odell berpikir bahwa nampaknya tim Inggris membutuhkan seorang ‘manusia super’ dengan kemampuan teknisi mekanis dan fisik yang tangguh seperti Sandy Irvine dalam ekspedisi tersebut.

Pada tanggal 29 Februari 1924, Sandy Irvine telah berdiri dengan gagah di atas geladak kapal yang berangkat dari Liverpool menuju Himalaya. Selain Sandy Irvine, ada juga sosok George Mallory dalam kapal tersebut. Mengenai kehadiran Sandy Irvine, Mallory berkomentar dengan menulis surat kepada isterinya sebagai berikut;

“Ada Andrew Irvine dalam tim ini, ia seorang mahasiswa sarjana berusia 22 tahun. Ia dapat diandalkan untuk hal apa pun, kecuali untuk ngobrol”

Selama ekspedisi berlangsung, Sandy Irvine tampil menjadi sosok cekatan yang mampu melakukan inovasi secara signifikan pada penggunaan tabung oksigen. Dengan kemampuan teknisnya, Irvine membuat tabung oksigen meningkat secara drastis dari sisi fungsi, bobot dan kekuatannya.

Selain itu, Irvine juga memodifikasi tempat tidur di base camp, kamera ekspedisi, kompor primus dan banyak yang lainnya. sehingga tidak mengherankan atas semua dedikasinya ini, Sandy Irvine dihormati dan disegani meskipun usianya masih jauh lebih muda daripada anggota ekspedisi yang lainnya.

Beberapa Upaya Pencapaian Everest Sebelum George Mallory dan Andrew Irvine

George Finch (Daily Mail)

Tahun 1924 bulan Februari, Charless Granville Bruce kembali dipercaya oleh pemerintah kerajaan Inggris melalui Mount Everest Committee untuk memimpin ekspedisi upaya pendakian puncak tertinggi dunia.

Bagi Inggris mencapai Everest adalah sebuah keharusan. Everest adalah kutub dunia yang ketiga yang pencapaiannya adalah sebuah simbolik dan kepercayaan diri dan kebesaran sebuah bangsa. Inggris telah kehilangan salah satu petualang terbaiknya saat upaya mengekplorasi Kutub Selatan3.4. Dan rasa kehilangan itu tak mungkin dapat diobati kecuali mereka berhasil mengirim petualang mereka yang lain untuk mencapai kutub ketiga bumi. Dan kutub ketiga bumi itu adalah puncak tertinggi dari planet dunia yang bernama Mount Everest atau Chomolungma.

Seperti pada ekspedisi-ekspedisi sebelumnya, skenario upaya pemuncakan yang dilakukan oleh tim Charless Bruce pada tahun 1924 juga tidak jauh berbeda. Direncanakan upaya pemuncakan Everest akan dilakukan para pendaki secara berpasangan. Jika pasangan pertama gagal mencapai puncak, maka pasangan kedua akan melanjutkan upaya tersebut. Dan jika pasangan kedua juga gagal maka disambung lagi dengan pasangan ketiga. Begitu seterusnya hingga puncak tercapai atau upayanya dinilai telah mencapai batas yang dapat dilakukan.

Pasangan pertama yang terpilih untuk melakukan upaya pemuncakan adalah George Mallory dan Geoffrey Bruce3.5. Pada tanggal 1 Juni 1924 ketika Geoffrey dan Mallory baru saja keluar dari camp IV mereka di North Col, angin dingin beku bertiup kencang menghadang langkah mereka di sisi utara Everest.

Lantaran angin yang berkecepatan jet dan cuaca yang demikian keras ini, empat orang porter meninggalkan beban mereka dan berbalik turun sebelum Camp V berhasil didirikan. Meskipun demikian, Geoffrey, Mallory dan tiga orang porter yang masih tersisa masih terus berjuang. Sementara Mallory mempersiapkan Camp V, Geoffrey dan tiga orang porter tersisa mengambil barang yang ditinggalkan empat porter sebelumnya.

Tiga hari setelah Camp V berdiri, tiga orang porter yang tersisa juga keberatan untuk melanjutkan pendakian lebih tinggi, cuaca dan medan yang demikian berat membuat ketiganya memutuskan untuk mengundurkan diri. Camp VI yang direncanakan berdiri pada elevasi 8.170 meter tidak berhasil didirikan pada upaya yang pertama ini. Geoffrey dan Mallory memutuskan untuk mundur juga, mengikuti keputusan ketiga porter mereka.

Saat perjalanan turun menuju Camp IV, Geoffrey dan Mallory berpapasan dengan Edward Norton dan Howard Somervell, dua pendaki yang dipilih oleh Charless Bruce sebagai tim pemuncakan yang kedua setelah Geoffrey dan Mallory.

Upaya Pendakian Edward Norton dan Howard Somervell ke Puncak Everest

Norton dan Somervell seperti halnya Geoffrey dan Mallory juga melakukan pendakian tanpa tabung oksigen. Saat berpapasan dengan tim Mallory yang turun demikian cepat, Norton juga khawatir bahwa enam porter yang bersamanya juga akan menolak mendaki lebih tinggi dari Camp V. Kekhawatiran Norton ini pada akhirnya menjadi kenyataan ketika dua orang porter terpaksa dikirim turun ke Camp IV, menyisakan Norton, Somervell dan empat orang porter yang tersisa.

Enam orang dari tim kedua upaya pemuncakan Everest itu menghabiskan malam di Camp V. Dan pada keesokan harinya empat porter mendaki hingga sampai pada lokasi rencana Camp VI. Setelah meletakkan beban mereka di sebuah ceruk kecil yang terlindungi, keempatnya turun kembali dan terus hingga Camp IV di North Col.

Tanggal 4 Juni 1924, Norton dan Somervell memulai upaya percobaan summit attack mereka pada pukul 06:40 pagi. Pada dasarnya percobaan pemuncakan ini terlambat dari jadwal yang seharusnya. Dan penyebab keterlambatan ini adalah sesuatu yang sepele sekaligus krusial. Penyebab dari penundaan start pendakian pada saat itu adalah botol air minum yang tertumpah, sehingga membutuhkan waktu yang cukup banyak lagi untuk mencairkan es dan salju supaya dapat dibawa dalam botol air minum.

Meskipun sudah mencairkan es lagi untuk tambahan bekal menuju puncak, kenyataannya jumlah air minum tersebut tetaplah tidak memadai. Dan kondisi semakin kritis ketika mereka mendaki lebih jauh di North Ridge. Akan tetapi karena pada hari itu cuaca demikian cerah dan menyenangkan, maka Norton dan Somervell tetap memaksakan diri untuk mendaki lebih jauh lagi.

Description: norton somervell.JPG
Edward Norton & Howard Somervell bersama tiga orang porter mereka berpose sebelum upaya pemuncakan Everest pada ekspedisi tahun 1924. Sumber foto: google image

Pada jam 12 siang, Somervell mulai kehilangan kekuatannya. Keputusan keduanya untuk melintasi North Face bagian piramida Everest dengan pendakian diagonal telah membuat Somervell kehabisan semua tenaganya. Air yang telah habis juga membuat keadaan kian bertambah buruk. Dengan kondisi yang kian melelahkan dan semakin banyak waktu yang digunakan untuk istirahat, Somervell akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Edward Norton bagaimana pun juga masih lebih kuat dibandingkan dengan Somervell, ia memutuskan untuk terus melakukan upaya pendakian hingga ke puncak. Usaha Norton pada akhirnya mampu mencapai ketinggian 8.570 meter, dan di sanalah kemudian ia memutuskan untuk berhenti dan menyerah.

Hanya tersisa kurang lebih 280 meter lagi jarak antara Norton dan puncak tertinggi gunung Chomolungma. Namun karena kesulitan medan yang kian tinggi, waktu yang kian sempit, dan keraguan Norton akan persediaan tenaganya sendiri, Norton kemudian mengambil keputusan yang pahit namun juga bijaksana, ia mundur dari upaya mencapai puncak Everest.

Rekor Ketinggian Edward Norton di Gunung Everest

Edward Norton (Jake Norton)

Pencapaian Edward Norton merupakan rekor terbaru pendakian gunung tinggi yang terverifikasi dapat dilakukan dengan selamat oleh seorang mountaineer. Rekor sebelumnya dipegang oleh George Ingle Finch pada tahun 1922 dengan ketinggian 8.325 meter. Pencapaian Norton ini kemudian bertahan selama 28 tahun sampai kehadiran Tenzing Norgay dan Raymond Lambert dari Mount Everest Swiss Expedition yang mematahkannya pada tahun 1952 dengan elevasi pencapaian pada angka 8.611 meter.

Kita dapat mengatakan rekor Norton ini bertahan selama 28 tahun karena tidak menghitung pencapaian upaya ketiga oleh Mallory dan Irvine yang akan menjadi kisah utama dalam penulisan ini nantinya. Sudah umum diketahui bahwa ketinggian yang berhasil dicapai oleh Mallory dan Irvine melebihi rekor Edward Norton. Akan tetapi karena Mallory dan Irvine tidak pernah kembali lagi, maka tidak pula diketahui dengan pasti berapa ketinggian sebenarnya yang telah dicapai dua pendaki Inggris itu. Sehingga atas dasar tersebutlah, verifikasi pencapaian Edward Norton baru benar-benar dapat dikonfirmasi kekalahannya setelah Tenzing Norgay dan Raymond Lambert berhasil turun dengan selamat dan membuktikan pencapaian mereka pada ketinggian 8.611 meter, atau 41 meter lebih tinggi daripada yang dicapai Norton 28 tahun sebelumnya.

Edward Norton turun dan bergabung lagi dengan Somervell pada pukul dua siang, dan keduanya memulai perjalanan turun bersama menuju Camp VI. Dikarenakan dehidrasi yang cukup parah, dalam perjalanan turun Somervell yang berjalan agak jauh di belakang Norton secara tidak sengaja menjatuhkan kapak es miliknya.

Saat berupaya mengikuti Norton, Somervell mengalami masalah dengan tenggorokannya yang berada pada fase kritis. Didera oleh putus asa dan rasa lelah, dehidrasi, juga rasa sakit yang luar biasa, Somerverll terduduk dan menantikan ajal datang menjemputnya. Namun, pada saat itu ia secara tidak sengaja menekan paru-paru dengan lengannya yang entah bagaimana kemudian membuat sumbatan yang ada di tenggorokannya bisa terbongkar keluar.

Setelah agak pulih, Somervell kembali mengejar Norton yang jaraknya sudah setengah jam dari posisi sebelumnya. Norton sendiri terus berjalan tanpa tahu apa yang telah terjadi dengan rekannya yang hampir saja kehilangan nyawa.

Mengapa Anda Mendaki Gunung? Karena Gunungnya di Sana

Gunung Everest (Google Image)

“Bruce sedang sakit George, kondisinya tidak begitu baik, jika kau memang ingin melakukan upaya yang ketiga, itu keputusanmu”

Noel Odell memandang wajah Mallory dengan lekat, mereka ada di Camp III saat itu. Memang ketika Somervell dan Norton berangkat mendaki, Mallory dan Geoffrey Bruce turun ke Camp 3 untuk mengambil tabung oksigen.

“Namun siapa yang akan menemanimu kali ini?” suara Odell terdengar kembali.

“Aku pikir akan mengajak sarjana kimia muda dengan kekuatan seperti lembu itu untuk ikut bersamaku” Mallory menjawab mantap.

“Sandy maksudmu..?”

“Iya, Sandy Irvine”

“Apakah kau telah mempertimbangkan pilihanmu itu dengan matang, George? Irvine baru sekali ini ke Everest, ia belum memiliki pengalaman seperti Bentley Betham atau John Hazard, mengapa kau memilihnya?”

“Sandy pendaki yang kuat, meskipun ia belum berpengalaman seperti yang lain. Akan tetapi kemampuan praktisnya dalam urusan tabung oksigen aku kira akan banyak membantuku di atas sana”

Noel Odell menarik nafas panjang, jika itu yang menjadi alasan Mallory dalam memilih Sandy Irvine, maka memang tidak ada orang lain yang memiki kemampuan dan pengetahuan teknis tentang tabung oksigen sebaik Irvine. Akan tetapi, keinginan Mallory untuk menggunakan tabung oksigen juga merupakan fakta yang unik. Sebelumnya ia menjauhi benda itu dan mengatakan bahwa hal tersebut akan menciderai semangat alpinisme sejati.

“Jadi kau akan menggunakan tabung oksigen kali ini?” Odel bertanya lagi yang hanya dijawab anggukan oleh Mallory.

“Aku pikir ini adalah keputusan yang bijaksana, George”

“Ya, entah apakah Somervell dan Norton akan berhasil atau tidak. Namun jika mereka gagal aku akan kembali ke atas sana dengan cara yang baru. Aku mulai melihat benda itu (tabung oksigen) memiliki lebih banyak manfaat daripada yang aku bayangkan sebelumnya”

Kalimat Mallory adalah sebuah harapan baru yang nampak terbit dari balik sorot mata Noel Odell. Sebelumnya ia tahu persis bahwa Mallory menentang total penggunaan tabung oksigen dalam aktivitas pendakian gunung. Akan tetapi beberapa kejadian terakhir mungkin telah membuatnya berubah pikiran dan memutuskan untuk mencoba benda itu bersamanya.

Hal yang paling diingat Mallory mengenai kontribusi tabung oksigen adalah pada tahun 1922, tahun ketika George Finch berhasil mencapai ketinggian nyaris 8.400-an dengan benda itu di punggungnya. Dan bagi Mallory, penggunaan tabung oksigen dalam upaya ketiganya haruslah dilakukan dengan sangat maksimal. Dan untuk itu ia memilih Sandy Irvine, orang yang paling cakap dalam urusan mekanis yang telah terbukti membuat tabung oksigen menjadi lebih ringan, lebih kuat, dan juga lebih efisien untuk digunakan.

Beberapa anggota British Mount Everest Expedition tahun 2024 (Secret of the ice)

Pada tanggal 5 Juni 1924, George Mallory ditemani oleh Sandy Irvine telah mencapai Camp IV, dan di sana mereka bertemu dengan Edward Norton dan Somervell yang barusan turun dari upaya puncak. Setelah Charless Bruce menderita sakit, untuk sementara kepala ekspedisi diembankan kepada Norton. George Mallory sendiri dalam tim tersebut bertugas sebagai kepala pendakian.

Kondisi Norton sehabis turun juga tidak tampak baik, ia mengalami snowblind yang cukup parah dan dalam beberapa waktu sama sekali tidak mampu melihat lagi. Sedangkan Somervell juga tidak kalah menderita, meskipun sumbatan tenggorokannya telah keluar saat turun dari North Col tempo hari, penyakitnya belumlah benar-benar berakhir.

Karena bertindak sebagai ketua sementara ekspedisi, Edward Norton sebenarnya bisa saja menentang keputusan Mallory untuk memilih Irvine Andrew sebagai partner pendakiannya yang ketiga. Seperti halnya Odell dan semua anggota ekspedisi yang lain, mereka tahu bahwa Sandy Irvine adalah sosok yang masih hijau dalam mountaineering, ia baru saja melihat Everest dalam beberapa bulan terakhir. Dan meskipun ia kuat seperti seekor banteng (lembu dalam istilah Mallory) namun pengalaman, mental, psikologis dan semacamnya tentu saja belum dapat mengimbangi Mallory.

“Aku tak menentang keputusanmu untuk memilih Sandy dalam upaya ketiga ini, George, karena kutahu ia orang yang paling mumpuni dalam hal tabung oksigen di antara kita semua. Namun kau mungkin akan sendiri di atas sana dalam hal keterampilan memanjat di gunung tinggi, apa kau perlu tambahan personil untuk menemanimu?”

Dengan matanya yang masih terbalut kain, Norton berdiskusi dengan Mallory dalam sebuah tenda di Camp IV. Sandy Irvine tidak ada di sana saat itu, hanya ada Mallory, Norton, Odell dan juga Somervell yang masih cidera.

“No”

Mallory menggeleng.

 “Aku kira aku cukup bersama Sandy saja untuk upaya mencapai puncak, rekan-rekan yang lain cukup mensupport kami dari Camp V atau Camp VI saja” sambung Mallory kembali.

“Kita mungkin akan meraih kesuksesan melalui upayamu ini, George”

“Aku harap demikian, aku yakin akan berhasil pada upaya kali ini”

“Setelah ini selesai, kau mungkin tidak perlu meninggalkan Ruth lagi untuk mendaki ke Everest”

Kali ini Somervell yang bersuara, meskipun belum benar-benar sembuh ia masih memiliki selera humor yang lumayan.

“Ya, aku pikir demikian, Dokter”

Somervell adalah seorang Dokter, nama lengkapnya Dokter Theodore Howard Somervell, Mallory kadang-kadang sering memanggilnya dengan sebutan Howard saja, atau Dokter saja.

“Aku telah bertekad untuk meletakkan foto Ruth di atas puncak Everest itu, dan ini akan menjadi salah satu bentuk permintaan maafku kepada Ruth, sekaligus kedamaianku karena telah menaklukkan Everest.”

Dari dalam sakunya Mallory mengeluarkan sebuah bungkusan terikat kain. Bungkusan itu dibukanya dan selembar foto perempuan muda berwajah cantik muncul menyeruak dari sana, itulah Ruth Turner, isteri George Mallory.

“Kau akan berhasil kali ini, Kawan”

Noel Odell ikut bersuara, ia tahu betapa romantis kisah cinta antara Mallory dan Ruth. Dan Odell juga tahu jika Ruth begitu berat melepas kepergian Mallory yang ketiga ini ke Everest.

“Jika kali ini aku tak bisa mencapai puncak, maka tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Aku tidak akan kembali ke gunung ini untuk ke empat kalinya”

Description: cf736eb5c5d98ed06f9041b250c6a1a1.jpg
Dengan semangat eksplorasi dan penjelajahan yang demikian bergelora dalam dirinya, didorong pula oleh pemikiran matang dan tekad untuk menjadi manusia pertama di muka bumi yang berdiri diatas puncak Everest, dunia sama sekali tak keberatan bahwa istilah “because is there” yang sering dialamatkan pada nama Mallory, akan abadi bersama dirinya. Meskipun ada beberapa catatan yang mengatakan bahwa Mallory sendiri tidak pernah mengatakan hal tersebut. Sumber foto: The Dihedral

Edward Norton yang mengalami kebutaan salju ikut tersenyum mendengar percakapan yang demikian romantis itu. Sebuah cahaya optimis baru saja lahir dari ekspedisi Inggris tahun 1924 ini. Sebuah keyakinan untuk mencapai puncak tertinggi di dunia beberapa hari lagi nampaknya akan menjadi kenyataan.

Optimisme Mencapai Puncak Everest Pada Percobaan Terakhir

Source: Quotefancy

Ada banyak hal sebenarnya yang dapat dijadikan alasan untuk membuat harapan lebih tinggi pada upaya summit attack ketiga dari pasangan Mallory dan Sandy Irvine ini. Alasan pertama adalah karena Mallory merupakan pendaki paling berpengalaman dan paling mengetahui Everest dari keseluruhan anggota ekspedisi itu.

Lalu alasan kedua, Mallory telah membuka dirinya untuk menggunakan tabung oksigen juga, sehingga hal ini dapat memperbesar peluang mereka untuk bertahan lebih baik menuju puncak piramida Chomolungma. Kemudian alasan yang ketiga adalah Sandy Irvine merupakan seorang teknisi ulung yang memiliki kemampuan praktis sangat baik dalam masalah tabung oksigen, sehingga ketakutan akan disfungsi tabung oksigen tidak akan terjadi.

Selanjutnya alasan keempat yang membuat tim itu lebih optimis adalah akumulasi kemampuan mencapai ketinggian yang lebih baik dalam dua percobaan sebelumnya. Mallory dan Geoffrey mencapai Camp V, sementara Semervell dan Norton mencapai ketinggian VI, bahkan mampu menyeberangi sisi utara piramida puncak Everest dengan pendakian diagonal.

Sementara alasan yang kelima mengapa upaya ini terasa begitu optimistis adalah karena ini adalah peluru terakhir yang akan diberikan Mallory untuk ‘merobohkan’ Everest, pendakian pamungkas ini akan membuat Mallory siap melakukannya dengan habis-habisan dan totalitas.

George Mallory adalah orang yang paling berpengalaman di Everest. Di antara semua komunitas mountaineering Eropa dan Amerika, nama Mallory identik dengan Everest. Tahun 1923, setahun sebelum ia berangkat ke Himalaya lagi, Mallory sempat berlayar ke Amerika guna membicarakan ekspedisi ini.

Di Amerika ia disambut dengan gegap gempita, media mengerubungi Mallory layaknya semut mengerumuni gula. Para darah muda yang haus akan penjelajahan dan petualangan berkumpul untuk mendengarkan ceramahnya tentang angin beku yang bertiup setajam sembilu di Everest, atau tentang bagaimana gagah dan mengerikannya gletser Rongbuk yang siap menelan siapa saja yang jatuh ke dalamnya.

Dalam presentasi Everest di Amerika itu, seorang wartawan bertanya kepada Mallory.

“Tuan Mallory, tolong jelaskan kepada kami apa alasan anda mendaki gunung, mengapa anda melakukannya, mengapa anda mendaki gunung?”

Dan jawaban George Mallory kemudian adalah sesuatu yang terkenal dan sangat populer hingga hari ini, bahkan mungkin lebih populer daripada namanya sendiri.

“Because is there

Ini adalah salah satu yang populer dari catatan sejarah mengenai Mallory. Perkataan yang dinisbahkan kepadanya tentang alasan mendaki gunung yang dijawabnya dengan sangat sederhana namun memiliki pesan yang luar biasa dari seorang penjelajah sejati. Jawaban ini bukanlah jawaban asal-asalan yang tanpa makna dan pesan. Jawaban ini adalah sebuah manifestasi sejati dari jiwa pioneering dan petualangan yang sangat besar mempengaruhi gaya dan cara berpikir Mallory.

Karena gunungnya di sana kemudian ia didaki, karena gunungnya di sana dan puncaknya belum pernah dicapai, karena gunungnya di sana dan ia senantiasa menantang untuk ditaklukkan, karena gunungnya di sana dan belum ada satu orang pun yang mampu mengalahkannya. Karena gunungnya di sana dan dari puncaknya bumi terlihat begitu indah, karena gunungnya di sana dan kita harus mendaki supaya mengenalnya, karena gunungnya di sana dan itu adalah yang tertinggi di muka bumi.

Karena gunungnya di sana, karena di sana, dan di sana…, kalimatnya ini dapat disambung terus-menerus tanpa batas dan akhir. Apa pun makna inti dari ucapan Mallory dengan tiga kata sederhana ini, adalah sebuah perwujudan nyata jiwa seorang penjelajah yang sebenarnya.

Pada dasarnya ada pula yang berpendapat, bahwa ungkapan “Karena gunungnya di sana” adalah tidak benar-benar diucapkan oleh George Mallory. Ungkapan ini menurut pendapat tersebut hanyalah sebuah ungkapan yang dinisbahkan kepada Mallory karena melihat semangat dan tekad ambisiusnya untuk berdiri di puncak dunia sebagai yang pertama begitu besar. Ungkapan ini adalah kekaguman khalayak pada semangat petualangan Mallory. Yang pada kenyataan sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diucapkan oleh Mallory.

Akan tetapi walau bagaimana pun juga, baik ia diucapkan atau tidak oleh Mallory, namun kata “Karena gunungnya di sana” adalah sesuatu yang relevan dengan semangat dan jiwa seorang George Mallory. Dan karena itu ia layak melekat abadi bersamanya.

Langkah Terakhir George Mallory dan Irvine Andrew Menuju Nirwana Everest

Pukul 08:40 tanggal 6 Juni 1924, George Mallory diiringi oleh Sandy Irvine bergerak meninggalkan Camp IV. Di depan mereka berjalan lebih dulu delapan orang porter yang membawa tabung oksigen dan beberapa perbekalan logistik lainnya. Tujuan dari perjalanan pagi ini adalah Camp V, di sana nantinya tim Mallory akan bermalam untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju Camp VI keesokan harinya.

Sebelum Mallory dan Irvine berangkat menuju Camp V, Noel Odell sempat mengambil foto keduanya dari depan. Foto itu kemudian menjadi gambar terakhir dari Mallory dan Irvine secara close-up. Sesampainya di Camp V, empat orang porter turun kembali menuju Camp IV. Kepada salah satu porter Mallory menitipkan secarik kertas untuk diserahkan kepada Odell atau Norton.

“Tidak ada angin di sini, dan semuanya terlihat penuh dengan harapan”

Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, Noel Odell akan ikut mendaki guna mendukung tim puncak. Jadi pada pagi hari tanggal 7 Juni 1924, Noel Odell dan seorang sherpa bergerak menuju Camp V.

Tidak lama setelah tiba di Camp V, empat orang porter yang baru saja turun dari Camp VI tiba. Salah satu porter itu membawa pesan dari Mallory yang isinya mengabarkan cuaca bagus dan sempurna untuk melakukan pendakian. Meskipun dalam surat yang sama, Mallory juga menyampaikan permintaan maafnya kepada Odell karena telah meninggalkan Camp V dalam kondisi yang berantakan karena salah satu alat masak mereka terjatuh menggelinding ke jurang Rongbuk.

Description: Mallory close up.jpg
Foto terakhir dari George Mallory dan Sandy Irvine yang diambil oleh Noel Odell pada tanggal 6 Juni 1924. Foto ini diambil sesaat sebelum kedua pendaki itu berangkat meninggalkan Camp IV. Sumber foto: Gizmodo

Tanggal 8 Juni 1924, Noel Odell bangun dari tidurnya di Camp V pada pukul enam pagi. Malamnya angin tenang dan badai tak ada, sehingga ia bisa menghabiskan malam dengan tidur cukup nyenyak.

Pada pukul delapan pagi ia mulai mendaki menuju Camp VI, namun kabut tiba-tiba menutupi pandangan matanya sehingga ia tidak dapat melihat dengan jelas punggungan North East yang direncanakan sebagai rute pendakian Mallory dan Irvine. Pada ketinggian 7.900 meter, Odell memutuskan untuk memanjat sebuah undakan batu kecil yang cukup tinggi untuk melihat apakah ia bisa menemukan sosok Mallory dan Irvine dari atasnya.

Pukul 12:50 siang, kabut yang tebal itu tiba-tiba menghilang dari Everest. Dan dari balik kacamatanya Odell melihat dua titik kecil yang bergerak menuju Second Step yang merupakan bagian pangkal terakhir dari piramida puncak Everest. Dalam catatan lebih lanjut Odell bahkan mengatakan bahwa saat cuaca cerah, ia melihat dua titik hitam kecil yang bergerak di atas punggungan salju yang bergerak menuju bagian terakhir dari piramida Everest.

Setelah mendapatkan penglihatan ini, Odell meneruskan perjalanannya menuju Camp VI di mana ia menemukan kondisi tenda dalam keadaan berantakan.

Kesaksian Terakhir Noel Odell Tentang Mallory dan Irvine

Pukul dua siang, badai salju yang signifikan mulai mengamuk di sekitar puncak Everest. Noel Odell segera keluar tenda dan berharap dapat membantu Irvine dan Mallory yang ia yakini pasti dalam perjalanan turun.

Odell bersiul, berteriak, memukul-mukul alat masak, dengan  harapan suaranya bisa didengar oleh Mallory dan Irvine dan membantu keduanya untuk menemukan rute yang benar menuju tenda mereka di Camp VI. Akan tetapi tindakan Odell ini tidak dapat dilakukan dalam durasi yang lama karena angin dan hawa dingin yang demikian hebat membuat Odell kembali lagi berlindung di Camp VI.

Pada kisaran pukul empat sore, badai berhenti dan langit mulai cerah kembali. Odell kembali lagi keluar tenda untuk mengamati gunung dan piramida di sekitar Everest. Namun setelah sekian lama melihat dan mengamati, Odell tak melihat apa-apa kecuali punggungan dan batuan Everest yang dingin dan beku.

Sebelumnya, Mallory sempat mengatakan kepada Noel Odell bahwa Camp VI hanya mampu menampung dua orang, jadi jika nanti Mallory dan Irvine kembali maka Camp VI akan diisi oleh tiga orang, dan itu akan mempersulit semuanya. Lantaran sudah disepakati antara Odell dan Mallory bahwa ia akan turun ke Camp IV di North Col pada sore itu juga, maka sekitar pukul setengah lima sore Noel Odell meninggalkan Camp VI. Karena berjalan cukup cepat dan sudah beberapa kali bolak balik di area itu, Odell mencapai Camp IV pada pukul 06:45 sore yang kondisinya mulai temaram diliput senja. 

Hingga esok harinya belum ada tanda-tanda dari Mallory dan Irvine yang telah kembali. Karena itu sekitar pukul 03:30 sore, Odell kembali memutuskan untuk mendaki ke Camp V dengan ditemani oleh dua orang porter. Di Camp V Odell dan porternya menginap, sementara esoknya Odell kembali mendaki sendirian menuju Camp VI.

Sesampainya di Camp VI, Noel Odell menemukan kondisi camp tidak berubah sama sekali, persis seperti sebelum ia tinggalkan dua hari lalu untuk turun ke Camp IV. Dari Camp VI Odell memutuskan untuk mendaki lebih tinggi hingga ketinggian 8.200 meter guna mencari jejak Mallory dan juga Irvine. Namun setelah sekian lama mencari-cari, Noel Odell tak menemukan jejak apa pun di sekitar tempat tersebut.

Description: Noel Odell.jpg
Noel Odell adalah fotografer utama ekspedisi Inggris ke Everest tahun 1924. Selain menjadi juru foto ekspedisi, Odell pun menjadi saksi kunci dan orang terakhir yang melihat George Mallory serta Sandy Irvine dalam keadaan masih hidup. Sumber foto: National Geographic

Sebelum meninggalkan Camp VI, Odell membentangkan selimut membentuk tanda silang di atas salju, yang merupakan sinyal untuk dikirimkan ke Advance Base Camp yang berarti “Tidak ada jejak yang ditemukan, tidak ada harapan, dan menunggu perintah”.

Tanggal 11 Juni 1924, Odell dan beberapa porter yang masih ada di Camp IV bergerak turun meninggalkan North Col untuk mengakhiri ekspedisi. Kurang dari satu minggu kemudian, semua anggota ekspedisi Inggris itu berdiri di altar biara Rongbuk untuk berpamitan kepada Lama (biksu). Semua anggota ekspedisi seperti Noel Odell, Edward Norton, Howard Somervell, Granville Bruce, John Noel serta yang lainnya berdiri dengan khidmat di tempat itu.

Hanya ada dua anggota ekspedisi Inggris tahun 1924 tersebut yang tidak terlihat ikut berdiri di sana, ia adalah George Mallory dan Sandy Irvine. Keduanya telah hilang di nirwana Chomolungma, entah apa yang telah terjadi dengan mereka.

Berbagai Spekulasi Atas Hilangnya George Leigh Mallory dan Andrew Irvine di Everest Beserta Bukti-Buktinya

Conrad Anker saat menemukan jasad George Mallory pada tahun 1999 (Mpora)

Sudah menjadi sebuah misteri abadi hingga sekarang pertanyaan tentang apakah George Mallory dan Sandy Irvine telah berhasil mencapai puncak Everest atau tidak pada eksepedisi Inggris tahun 1924 tersebut. Meskipun ada lebih banyak spekulasi yang mengatakan bahwa tidak mungkin Mallory dan Irvine berhasil mencapai puncak Everest saat itu, namun beberapa bukti dan spekulasi yang kontradiktif3.6 juga layak untuk kita cermati bersama.

Penelitian, spekulasi, perhitungan ilmiah dan juga tidak adanya bukti akurat umumnya telah mendominasi keyakinan publik mountaineering bahwa George Mallory dan Irvine Andrew pada tahun 1924 tidak mungkin dapat melewati Second Step di piramida puncak Everest.

Pernyataan Noel Odell yang mengatakan keduanya berada di pangkal dari Second Step juga menjadi salah satu objek diskusi panjang tersendiri. Menurut beberapa pendaki terkemuka dunia, sehebat apapun Mallory pada saat itu, second step ada di luar jangkauannya. Selain itu perlengkapan kedua pendaki Inggris yang tak kenal menyerah itu masih sangat jauh untuk dapat mengatasi kesulitan memanjat second step pada tahun 1924.

Sebuah spekulasi lain yang mendukung opini bahwa Mallory dan Irvine sebenarnya telah mencapai puncak Everest dikuatkan dengan Mallory Irvine Research Exedition yang dilakukan pada tahun 1999. Tujuan utama dalam ekspedisi ini sebenarnya adalah menemukan kemungkinan jasad Sandy Irvine yang kapak esnya ditemukan oleh Percy Wyn Harris pada tahun 1933 dalam ekspedisi Inggris yang dipimpin oleh Hugh Rutledge.

Mallory Irvine Research Expedition merupakan sebuah ekspedisi yang diikuti oleh beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan juga Jerman. Conrad Anker, pendaki utama dari Amerika Serikat yang ikut berpartisipasi dalam ekspedisi in,i membelalakkan mata publik mountaineering internasional setelah ia menemukan sesosok mayat yang tinggal tulang3.7 di sisi North Face pada ketinggian 8.155 meter.

Yang menjadi perhatian kemudian adalah bahwa mayat tersebut bukanlah milik Sandy Irvine yang merupakan target utama dari ekspedisi, melainkan mayat George Mallory, legenda Everest dari Inggris yang merupakan tokoh utama dalam pendakian Inggris di Everest pada tahun 1921, 1922 dan juga 1924.

Dugaan Mallory Telah Mencapai Puncak Everest dan Selembar Foto yang Hilang

Jasad George Mallory saat ditemukan (Secret of the ice)

Jasad Mallory terawetkan dengan baik, barang-barangnya pun masih utuh meskipun sudah tidak berfungsi lagi. Ada altimeter, jam tangan, pisau saku, dan juga kacamata salju yang tersimpan  dengan baik dalam kantongnya. Kacamata yang disimpan dalam saku menunjukkan bahwa Mallory terjatuh menuju kematiannya saat malam, yang berarti kemungkinan besar saat itu ia dalam perjalanan turun.

Dari semua barang yang ditemukan pada jasad Mallory tersebut, satu benda berharga miliknya telah hilang, dan itu adalah foto Ruth Turner, isterinya. Foto itu seharusnya ada di saku Mallory, karena Mallory tidak pernah melepas foto itu di sakunya selama ekspedisi berlangsung.

Sebelum berangkat ke Everest untuk ketiga kalinya, Mallory telah berjanji kepada Ruth untuk meletakkan fotonya di puncak Everest. Hal itu ia sampaikan juga kepada Edward Norton dan Sandy Irvine sebelum mereka berangkat ke puncak.

Dan sekarang, 75 tahun sejak ia menghilang, semua benda yang dibawa Mallory tetap ada dalam sakunya, dan hanya foto itu yang menghilang. Maka hanya ada satu kemungkinan yang terjadi dengan melihat kenyataan ini; bahwa Mallory telah mencapai puncak Everest pada tahun 1924 dan menguburkan foto isteri tercintanya di sana.

Ruth Turner Mallory (find a grave)

Spekulasi yang mendukung first ascent Everest oleh Mallory dan Sandy Irvine kian membesar ketika Conrad Anker kembali lagi ke Everest pada tahun 2007 untuk menguji kemungkinan apakah Mallory dan Irvine dapat melalui second step pada tahun 1924. Conrad dan pendaki rekrutannya bernama Leo Houlding menggunakan perlengkapan sama persis seperti yang digunakan oleh Mallory dan Irvine pada tahun 1924, seperti baju, sepatu, tabung oksigen dan lain sebagainya.

Selain peralatan, waktu ekspedisi ini juga disesuaikan dengan waktu saat Mallory dan Irvine melakukan pendakian saat itu. Tangga baja ringan yang dipasang pada Second Step oleh ekspedisi China pada tahun 1975 juga dilepas. Lalu Conrad mencoba mendaki tebing itu dengan free seperti yang dilakukan oleh Mallory pada 83 tahun yang lalu. Hasilnya? Conrad berhasil melewati Second Step meskipun awalnya hampir terjatuh ke arah jurang Rongbuk sejauh ribuan kaki.

Selembar foto Ruth yang hilang ditambah dengan dugaan kemungkinan saat itu Mallory dapat memanjat second step telah menempatkan spekulasi first ascent Everest telah dicapai pada tahun 1924 sebagai sebuah argumentasi yang kuat.

Namun bagaimana pun juga, kurangnya bukti yang lebih konkret membuat dugaan ini tidak dapat dikembangkan lebih jauh. Satu-satunya bukti yang paling berpotensi meyakinkan adalah kamera Kodak yang dibawa oleh Sandy Irvine dalam ekspedisi itu, karena adalah sebuah kepastian bahwa Mallory dan Irvine akan mengambil foto puncak Everest jika mereka telah sampai di atasnya.

Dikarenakan tubuh Andrew Sandy Irvine tidak pernah ditemukan hingga sekarang, demikian juga dengan kamera Kodak yang ia bawa dalam sakunya. Maka pertanyaan apakah Mallory dan Irvine telah berhasil mencapai puncak Everest atau tidak pada ekspedisi tahun 1924 tersebut, tetap menjadi misteri hingga sekarang.

***

Sandy Irvine berusia 22 tahun saat ia menghilang di sekitar piramida Puncak Everest pada ekspedisi Inggris tahun 1924. Sementara antara Gunung Everest, Ruth Turner dan George Mallory seolah terlibat cinta segitiga. Saat bersama Ruth, pikiran Mallory selalu tertuju kepada pesona Everest, akan tetapi saat ia tertidur di pangkuan Everest, kecamuk kerinduan untuk kembali pada Ruth selalu menyiksanya untuk segera pulang ke rumah. Sumber foto: Google

George Mallory popular climb:

  • Ekspedisi Everest tahun 1921 dan tahun 1922
  • Ekspedisi Everest tahun 1924, dimana ia dan Sandy Irvine hilang menjelang puncak.

Tribute and legacy:

  • Mount Everest: The Reconnaissance, sebuah catatan yang ditulis George Mallory pada bulan Februari tahun 1922.
  • The First High Climb, ditulis George Mallory pada bulan Desember  tahun 1922.
  • Film dokumenter The Epic Of Everest yang dibuat oleh Noel Odell tahun 1924.
  • Film dokumenter The Conquest of Everest, diproduksi oleh George Lowe tahun 1953.
  • Film dokumenter tentang Mallory and Irvine Research Expedition berjudul Found on Everest, rilis tahun 2001 oleh Riley Morton.
  • Film dokumenter Galahad of Everest, pembaharuan dari film Found on Everest.
  • Novel Path of Glory yang ditulis Jeffrey Archer diterbitkan tahun 2009.
  • Film dokumenter The Wildest Dream yang merekonstruksi pendakian Mallory dan Irvine tahun 1924, dilakukan oleh Conrad Anker dan Leo Houlding.
  • Musik Mountain of Dream yang terinspirasi dari kehidupan Mallory, dibuat oleh Keith Thomas dan Glyn Bailey
  • Lagu Mallory’s Height yang dinyanyikan oleh sebuah band rock asal Belgia di Hawaii.

Footnote:

  1. Granville Bruce adalah orang yang menginisiasi kesatuan Gurkhas untuk dibekali kemampuan menjadi pemandu gunung tinggi yang berstandar.
  2. Edward Lisle Strutt dapat dikatakan sebagai tokoh kontroversi terkait dengan penentangan dan kecamannya terhadap perubahan gaya alpinisme pada masa pioneering, perlombaan di Eiger North Face menjadi objek yang paling banyak membuat Strutt mengeluarkan caci makinya di alpine journal.
  3. Baik yang ia tunjukkan selama Merton College Arctic Expedition maupun di Foel Grach.
  4. Kemungkinan besar yang dimaksud adalan Sir Ernest Shackleton, petualang Inggris yang menjadi manusia pertama di dunia yang menyeberangi Dataran Tinggi di Kutub Selatan. Shackleton tewas karena serangan jantung saat mengikuti Ekspedisi Laut Beaufort pada tahun 1921.
  5. Yang mengatakan bahwa keduanya berhasil mencapai puncak Everest.
  6. Barang-barangnya masih terawetkan dengan baik.

Artikel ini bersumber dari buku berjudul MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Anda juga bisa mendapatkan buku ini dan buku-buku mountaineering lain melalui tautan di bawah ini.

Klik disini untuk koleksi buku-buku mountaineering dan petualangan terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: