PETUALANGAN DAN KEMATIAN PENDAKI GUNUNG JEAN CHRISTOPHE LAFAILLE

“Pendaki gunung yang berpengalaman tidak terintimidasi oleh gunung, tetapi ia terinspirasi olehnya”

William Arthur Ward
Description: Annapurna.jpg
Beberapa orang trekker berdiri takjub di depan gunung Annapurna yang megah. Annapurna dengan segala keganasannya menjadi gunung delapan ribu meter yang paling banyak memakan tumbal dalam sejarah pendakiannya. Meskipun tidak tewas di gunung ini, nama Jean Christophe Lafaille memiliki ikatan yang erat dengan sang Dewi Panen dari gunung Annapurna. Sumber foto: Interpid Travel

Tebing Selatan Annapurna; Mata Pisau yang Merobek Langit

“Kita harus turun Jean, terlalu berbahaya!”

Teriakan Pierre Beghin yang keras dan lantang itu hanya mampir sebentar di telinga Jean Christophe Lafaille yang sedang berjibaku memegang kapak es dengan kedua tangannya. Angin bercampur salju yang bertiup sekitar lima menit yang lalu kini telah menjelma badai, mengamuk dengan dahsyatnya.

“Turun, turun, kita harus turun!” teriak Beghin kembali.

Lafaille yang merespon teriakan Beghin hanya dengan gerakan tangan dan anggukan nampaknya tidak memuaskan hati Beghin, jadi kemudian Lafaille balas berteriak menyahuti teriakan Beghin

“Ya, ya kita turun sekarang!”

Dua pendaki Perancis itu kemudian memulai perjalanan turun mereka di Dinding Selatan Annapurna, dinding gunung delapan ribu meter dengan predikat paling berbahaya di dunia.

South Face Annapurna adalah daya tarik lain dari pendakian gunung 8.000 meter yang masih tersisa di Himalaya. Sisi selatan dari gunung ini pertama kali dijajal oleh tim Inggris pimpinan Chris Bonington pada tahun 1970. Ekspedisi Inggris saat itu yang beranggotakan Chris Bonington, Ian Clough, Don Whillans dan Dougal Haston berhasil mencapai puncak menggunakan dukungan tabung oksigen. Namun sebuah musibah terjadi saat perjalanan turun mereka, Ian Clough ditimpa sebuah serac yang lepas, dan kemudian tewas.

Setelah pendakian Chris Bonington dan ekspedisi Inggris tahun 1970 tersebut, belum ada pendaki atau ekspedisi lain yang tertarik mengunjungi Wajah Selatan Annapurna yang mematikan itu. Hingga tahun 1992, Pierre Beghin yang merupakan bintang alpinis yang sedang bersinar dari Perancis mengajak rekan senegaranya8.1 untuk mengunjungi Tebing Selatan Annapurna, dan mencoba keberuntungan mereka juga di sana.

Jean Lafaille dan Pierre Beghin pada tahun-tahun itu8.2 adalah dua pendaki Perancis dengan torehan prestasi yang sangat gemilang. Di Pegunungan Alpen Eropa keduanya telah membuktikan kapabilitas dan keterampilan mendaki mereka yang luar biasa mengagumkan. Dan Himalaya yang merupakan kiblat utama aktivitas mountaineering dunia, merupakan arena di mana seorang mountaineer dan pendaki gunung sejati dapat menguji dan memperoleh pengakuan yang sebenarnya.

Description: 1971-ian-clough-annapurna.jpg
Ian Clough bergelantungan untuk melakukan traversing di dinding selatan Annapurna dalam eksepedisi tahun 1970. Tidak ada yang menyangka dalam perjalanan turun setelah mencapai puncak Ian akan tewas dihantam serac yang runtuh. Sumber foto: Pinterest

Jean Lafaille dan Pierre Beghin adalah layaknya para pendekar ketinggian yang lain, adalah orang-orang yang menganut ideologi mendaki gunung dengan cara pandang yang tradisional. Bagi mereka sebuah gunung adalah kanvas terbaik untuk mengukir lukisan prestasi. Dan lukisan terbaik tidak diciptakan dengan cara dan gaya yang biasa. Berbekal kemampuan mendaki yang telah terlatih, semangat alpinisme yang masih memuja nilai-nilai dan estetika, Beghin mengajak Lafaille untuk memanjat tebing selatan Annapurna yang mengagumkan, salah satu medan bagi alpinis sejati untuk membuktikan kualitas dan kemampuan terbaik mereka.

Annapurna South Face sendiri adalah sebuah tebing nyaris vertikal yang menjulang hingga puncak utama dengan ketinggian 8.091 meter. Dari sudut yang tepat, Annapurna South Face terlihat seperti mata pisau yang menengadah seolah merobek langit.

Tebing Selatan Annapurna sangat luas, dan sangat memenuhi syarat untuk menghilangkan dahaga petualangan seorang pendaki gunung dengan semangat alpinisme yang murni. Ada banyak rute yang dapat diambil di bagian selatan wajah gunung Annapurna ini. Dan semuanya tidak ada yang akan dengan mudah dapat dilalui.

Bagi para pendaki dengan semangat alpinisme dan pioneering yang tinggi seperti Pierre Beghin, Jean Christophe Lafaille, Chris Bonington, Ian Clough, Dougal Haston dan lainnya8.3, Annapurna South Face adalah sebuah canvas sempurna untuk membuat lukisan mereka sendiri. Jadi saat first ascent South Face Annapurna tercapai pada tahun 1970 oleh ekspedisi Bonington, itu sama sekali tidak mengurangi nilai tantangan yang sisi selatan gunung itu sediakan. Masih ada banyak tempat, dan juga banyak bahaya tentunya, bagi para alpinis yang ingin mencoba merayapinya.

Upaya Pendakian Alpine Style Pertama di Annapurna South Face Oleh Pierre Beghin dan Jean Christophe Lafaille

Tahun 1970 pendakian Wajah Selatan Annapurna sukses dilakukan8.4 dengan menempuh pendakian bergaya ekspedisi, sesuatu yang umum dilakukan di gunung-gunung besar Himalaya. Tahun 1992, Beghin dan Lafaille ingin memperbaiki pencapaian itu dengan melakukan pendakian yang lebih cepat dan ringan. Jean Lafaille dan Pierre Beghin datang ke kaki gunung Wajah Selatan Annapurna dengan semangat alpine style murni. Mereka akan mendaki tebing mematikan itu dengan peralatan yang seminimal mungkin, tanpa sherpa, tanpa porter, dan tanpa tali tetap atau fix rope8.5.

Jean Christophe Lafaille dan Pierre Beghin menjelang pendakian di Wajah Selatan Annapurna (Outside)

Dengan mengadopsi gaya alpine style, berarti tidak banyak peralatan pendakian yang dapat dibawa oleh kedua pendaki Perancis itu. Keduanya hanya memprioritaskan barang-barang yang sangat penting saja untuk dibawa, bahkan perlengkapan memanjat tebing pun keduanya membawa dalam jumlah yang terbatas. Karena keterbatasan jumlah peralatan yang dibawa8.6 maka Beghin dan Lafaille harus mengatur penggunaan peralatan mereka dengan seksama. Bahkan di tengah badai yang mengamuk seperti sekarang ini, keduanya pun harus menghemat penggunaan perlengkapan pendakian mereka.

Beghin menyisipkan sebuah anchor berbentuk camalot8.7 dan memulai rappeling dari ketinggian 7.400 meter. Setelah Beghin berada pada ujung tali, kemudian gantian Lafaille yang turun dan melakukan rappeling.

Dikarenakan perlengkapan yang terbatas, anchor yang dipasang oleh Beghin rata-rata adalah anchor tunggal. Atau tidak terdapat jangkar tambahan yang dapat mengantisipasi jatuh ketika anchor pertama gagal bekerja.

Angin masih bertiup dengan kencang membawa butiran-butiran salju yang berhamburan menutupi pandangan. Lafaille dan Beghin sebenarnya hanya butuh kurang lebih 700 meter lagi untuk mencapai puncak tertinggi Annapurna I, sayangnya badai dan cuaca yang memburuk dengan sangat drastis ini membuat keduanya terpaksa mundur sementara untuk mencari tempat berlindung di ketinggian yang lebih rendah.

Jangkar tunggal pertama yang disisipkan Beghin bekerja dengan sempurna, Lafaille dan dirinya dapat melakukan rappeling dan turun hingga ujung tali dengan aman. Jangkar kedua juga memberikan hasil yang sesuai dengan perhitungan Beghin, jangkar ketiga pun demikian. Dan jangkar tunggal keempat pun tak kalah baik dalam menahan tali yang dibebani bobot tubuh Beghin dan Lafaille yang menuruninya secara bergantian.

Tragedi Jatuhnya Pierre Beghin dan Awal Mula Penderitaan Untuk Jean Christophe Lafaille

Seperti sebelumnya, anchor yang digunakan Beghin pada pitch descending kelima ini juga berupa sebuah camp. Jangkar tunggal itu ia sisipkan di sebuah celah tebing yang menurut perhitungan Beghin sebelumnya, akan aman untuk dijadikan sebagai penahan mereka untuk melakukan rappeling.

“Ok, aku akan turun lebih dulu!

Lafaille hanya mengangguk sambil tetap berpegangan dengan kapak esnya, giginya bergemeletukan menahan hawa dingin dan badai salju yang berhembus dengan kencang di dinding telanjang tebing selatan Annapurna itu.

Beghin memulai rappeling dengan sedikit menendang dinding gunung untuk memperoleh sedikit gaya pegas dalam mempercepat proses rappelingnya. Semua berjalan lancar saat Beghin berhasil mencapai jarak lima meter, enam meter, tujuh meter, delapan dan sembilan meter.

Akan tetapi ketika Beghin yang sedang tergantung pada tali pada ketinggian 7.240 meter di tebing Annapurna South Face yang nyaris vertikal itu mencapai jarak kurang lebih sepuluh meter dari posisi jangkar tunggal yang dipasangnya, dengan Lafaille yang berdiri menempel ke dinding disamping anchor itu, sesuatu yang tak terduga kemudian terjadi.

Crakk!!!

Anchor tunggal itu tiba-tiba terlepas! Melesat terjun mengikuti bobot tubuh beghin yang membebaninya!

Tak ada teriakan atau suara yang keluar dari mulut Beghin yang sepersekian detik kemudian sudah menjauh ratusan meter dari posisi Lafaille. Lafaille sendiri yang terkesiap dengan kejadian yang barusan terjadi di depannya, memaku, menempel lebih erat ke dinding selatan Annapurna yang masih diamuk badai. Tak ada yang dapat ia lakukan. Jangankan menahan atau menangkap anchor itu supaya tidak melayang jatuh, pegangannya sendiri di kedua kapak es nyaris terlepas saking kagetnya.

“Oh my God, oh my God!

Ucap Lafaille berulang-ulang, ia memejamkan mata, menempelkan wajahnya di dinding es Annapurna South Face yang membeku. Beberapa saat kemudian baru ia berani melirik ke jurang di mana Pierre Beghin barusan terjun bebas. Tak ada apa-apa lagi di sana, hanya ruang kosong hampa dengan selimut badai yang masih melolong dengan ganas.

Description: pierre-noir-blanc-2.jpg
Pierre Beghin, bintang alpinis Perancis dengan segudang prestasi mountaineering yang mengagumkan. Beghin menjadi pendaki gunung kedua setelah Ian Clough yang tewas di dinding selatan Annapurna. Sumber foto: Pierrebeghin.com

Pierre Beghin sudah pasti tewas, tak diragukan lagi untuk hal itu. Jadi tidak ada perlunya bagi Lafaille untuk mengkhawatirkan temannya tersebut. Sekarang yang menjadi pokok kekhawatiran adalah dirinya sendiri, bagaimana ia menuruni tebing nyaris vertikal ini sendirian dan tanpa tali serta peralatan.

Tunggu, tanpa tali dan peralatan?

Ya, tanpa tali dan peralatan, karena semua perlengkapan teknis pendakian terutama tali, camp, carabiner, anchor dan lain sebagainya ada di ransel Beghin, dan ia sekarang telah hilang di dasar jurang sisi selatan Annapurna yang haus nyawa.

Cukup lama Lafaille terpaku di tebing itu, bingung dan shock dengan apa yang terjadi, sekaligus juga bimbang memikirkan langkah apa yang harus ia tempuh untuk meneruskan perjalanan turun.

“Konsentrasi, konsentrasi, konsentrasi!

Rapal Lafaille berulang-ulang, seolah sedang mengingatkan orang lain yang sedang kebingungan dalam dirinya sendiri.

Sekitar sepuluh menit setelah kejadian naas yang membuat jangkar tunggal Pierre Beghin tercabut berlalu, barulah perlahan-lahan Lafaille yang meringkuk di dinding selatan Annapurna itu berani menggerakkan kakinya kembali untuk memulai perjalanan turun secara tradisional yaitu dengan mengandalkan dua kapak es dan sepasang cakar crampon di sepatunya.

Medan kombinasi salju, batu dan es yang menjadi elemen-elemen dasar pembentuk Annapurna South Face membutuhkan sebuah konsentrasi tingkat tinggi dalam menuruninya. Apalagi tanpa bantuan perlengkapan seperti tali dan sebagainya, turun di tempat seperti itu tentu sangat berbahaya.

Kemiringan medan yang ditempuh oleh Lafaille berkisar pada angka 80°. Sebenarnya bukan sesuatu yang terlalu sulit bagi Lafaille untuk melewatinya dalam kondisi normal dan perlengkapan lengkap. Namun di tengah badai yang mengamuk dan sama sekali tanpa tali, perjalanan itu sungguh membuat lututnya gemetar.

Usaha Bertahan Hidup Jean Christophe Lafaille di Wajah Selatan Annapurna

Lafaille terus turun dengan sabar, membaca setapak demi setapak langkah kakinya, memastikan ujung lancip kapak esnya masuk ke permukaan es dengan baik dan mampu menahan bobot tubuhnya. Juga memastikan kuku crampon yang ada di ujung sepatunya tertancap dengan baik dan tidak lari tergelincir.

Description: lafaille-annapurna-300_34179.jpg
Sebuah sketsa yang menggambarkan detik-detik saat anchor tunggal yang disisipkan oleh Pierre Beghin terlepas di tebing selatan Annapurna. Kejadian di Annapurna ini membunuh salah satu pendaki terbaik Perancis, sekaligus pula melahirkan legenda alpinis dari Perancis selanjutnya.  Sumber foto: Climbing Magazine

Dengan semua ritme yang sabar dan tak mengurangi konsentrasi seperti itu, pada pukul sembilan malam akhirnya Lafaille berhasil mencapai bivak di mana ia dan Beghin menghabiskan kegelapan pada malam sebelumnya.

Keesokan harinya badai masih belum juga berhenti, dan Lafaille terpaksa harus menghabiskan satu malam lagi di bivak. Akan tetapi ketika ia menemukan seutas tali dengan panjang 20 meter dan diameter 6 milimeter tak jauh dari bivak, Lafaille memutuskan untuk meneruskan kembali perjalanan turunnya8.8.

Dengan berbekal tali cord sepanjang 20 meter, dua buah carabiner, dan keberanian yang dipompa dengan segenap konsentrasi, Lafaille memulai perjalanan turunnya kembali.

Untuk menggantikan pasak tebing sebagai jangkar, Jean Lafaille menggunakan pasak tenda, tiang tenda, bahkan menurut sebuah sumber yang lain, kadang-kadang menggunakan botol plastik yang ia modifikasi. Dalam proses rappeling yang menegangkan ini, Lafaille bahkan sempat menjatuhkan crampon pada salah satu sepatunya. Namun entah bagaimana benda itu kemudian ditemukannya lagi dua jam kemudian, tergeletak di atas salju dalam rute turun yang ia lalui. 

Setelah berkali-kali melewati medan-medan yang sulit dengan perlengkapan ala kadarnya, Lafaille akhirnya sampai pada tempat di mana ia dan Béghin telah memasang tali tetap atau fixed rope8.9. Akan tetapi sebuah musibah tambahan membuat kegembiraan Lafaille yang baru saja merasa senang karena sampai pada fix line tiba-tiba memudar. Dalam sebuah situasi yang tak terduga, sebongkah batu yang tidak begitu besar meluncur dengan deras, menabrak Lafaille dan mematahkan salah satu lengannya.

Didera oleh keletihan yang amat sangat juga rasa sakit karena lengan yang patah, membuat Lafaille memutuskan untuk beristirahat di sebuah lereng yang cukup aman. Lafaille menghabiskan waktu dua hari lamanya di lereng tersebut, berharap ada pendaki lain yang naik ke atas dan menyelamatkannya. Pada titik ini, kondisi Jean Lafaille benar-benar memprihatinkan, untuk menghidupkan kompor saja guna mencairkan salju, ia membutuhkan waktu satu jam dengan satu lengannya yang masih utuh.

Rute pendakian Annapurna South Face yang dibuat oleh Ueli Steck yang terinspirasi dari kisah survival Jean Christophe Lafaille di tebing yang sama. (Apinist Magazine)

Dua hari Lafaille menghabiskan waktu untuk beristirahat, sambil membangun harapan bahwa akan ada yang datang menolongnya. Namun sampai matahari hari kedua kembali tenggelam tak ada seorang pun yang naik untuk membantu Lafaille.

Sementara di bawah sana, sebenarnya ada sebuah tim pendaki lain dari Slovenia yang juga sedang mencoba melakukan pendakian Annapurna South Face. Namun karena garis rutenya berlainan dengan rute yang diambil Lafaille dan Beghin, mereka tidak dapat mengaksesnya.

Selain itu, rute yang diambil oleh dua pendaki Perancis tersebut juga secara teknis jauh lebih sulit dan berbahaya, sehingga walau pun para pendaki Slovenia itu tahu bahwa Lafaille terjebak di atasnya, belum tentu mereka memiliki keberanian dan mampu untuk mencoba melakukan upaya penyelamatan terhadap Lafaille. Tindakan penyelamatan di tempat seperti Annapurna South Face, tanpa dilandasi oleh keterampilan dan skill yang mumpuni, pada perkembangannya dapat saja berubah menjadi sebuah aksi bunuh diri. Alih-alih berhasil melakukan penyelamatan.

Lafaille masih terduduk di atas lereng, badai yang sudah reda membuat pandangannya cukup jelas ke bawah sana, di mana ia melihat melihat kerlap-kerlip lampu kamera para trekker yang sedang berfoto di rute Annapurna Circuit.

“Aku begitu dekat dengan kehidupan, namun aku juga sangat jauh daripadanya. Adakah orang-orang di bawah sana yang tahu jika aku sedang sekarat di sini?” gunam Lafaille dalam hati.

Tidak ada perasaan yang lebih menyiksa bagi Jean Christophe Lafaille selain mengetahui bahwa dirinya begitu dekat pada kehidupan dengan melihat lampu para trekker di Annapurna Circuit yang berkerlap kerlip. Namun di saat yang sama juga menyadari bahwa tak ada satu pun orang yang dapat menjangkaunya. Perasaan ini sangat menyiksa bagi Lafaille.

Dan pada dasarnya keputusannya untuk beristirahat dua hari dil ereng terbangun atas perasaan itu pula, bahwa mungkin saja akan ada sebuah tindakan heroik untuk menyelamatkannya. Akan tetapi setelah lama menunggu, harapan Lafaille untuk ditolong tampaknya sirna, jadi ia harus kembali menguatkan hatinya untuk meneruskan perjalanan turunnya secara mandiri. Tak ada gunanya berharap bantuan di tempat seperti itu, tidak akan ada hasilnya.

Lafaille membulatkan tekadnya untuk meneruskan perjalanan turun kembali. Dengan satu tangan yang patah proses itu akan semakin tidak mudah untuk dilakukan. Saat rappeling di fix rope melewati bagian yang paling curam, Lafaille menemukan dirinya sangat kesulitan mengendalikan laju jatuhnya jika hanya dengan satu tangan. Karena itu pada proses rappeling yang menyiksa itu, terkadang Lafaille harus menggunakan giginya untuk membantu memberi pengereman pada tali yang ia gunakan. Dan itu sungguh tidak mudah untuk dilakukan.

Melihat bahwa rappeling dengan kondisi demikian akan sangat berisiko, Lafaille kemudian berhenti sejenak untuk kemudian kembali mengubah teknik turunnya menjadi down climbing, melangkah dengan sangat hati-hati mencari pijakan untuk bisa turun dengan selamat dan tidak terluka lebih lebih parah.

“Rasanya lebih mudah bagiku untuk terjun dan bergabung bersama Pierre Beghin di bawah sana”

Sisi mengerikan hati Jean kadang-kadang menggodanya untuk melakukan tindakan bodoh dan cepat, namun semua perasaan itu dapat ia tekan untuk tidak berlanjut menjadi sebuah gerak refleks.

Sementara di bawah, isu sendiri berkembang dengan mudah. Tidak adanya komunikasi yang terjadi antara Jean Christophe Lafaille dan pihak base camp mau pun pendaki yang lain telah memunculkan sebuah kesimpulan lain. Para pendaki Slovenia dan pihak base camp Annapurna umumnya telah berasumsi bahwa Jean Lafaille dan Pierre Beghin tidak mampu menyelamatkan diri dari badai yang mengamuk di dinding selatan Annapurna beberapa hari sebelumnya.

Setelah ditunggu beberapa hari dan tidak juga ada kabar baik mengenai dua pendaki Perancis itu, sebuah berita duka cita telah dikirimkan pula kepada keluarga mereka di Perancis. Akan tetapi ketika beberapa saat kemudian sosok semampai Jean Christophe Lafaille8.10 tiba di base camp para pendaki Slovenia dengan tangan patah dan wajah seperti habis keluar dari neraka, situasi pun menjadi gempar!

Katia Lafaille memeluks suaminya yang barusan saja keluar dari pendakian yang hampir saja merenggut nyawanya (Amazon.com)

Tak ada yang menyangka Jean masih hidup dengan semua tantangan dan kesulitan yang ia hadapi di South Face Annapurna. Namun itulah kemudian yang terjadi.

Berita duka kematian Beghin yang telah beredar, diperkuat dengan data dan cerita yang disampaikan Lafaille setelahnya. Sementara berita duka kematian Lafaille sendiri, kemudian berubah menjadi salah satu kisah survival dan penyelamatan diri sendiri paling mengagumkan di Gunung Himalaya.

Profil Jean Christophe Lafaille dan Pendakiannya di Pegunungan Alpen

Jean Christophe Lafaille (Everest News)

Jean Christophe Lafaille dilahirkan pada 31 Maret 1965 di Gap, Hautes Alpes, sebuah kota yang terletak di bagian tenggara Perancis dan memiliki ketinggian sekitar 750 meter dari permukaan laut. Sebagai sosok yang dibesarkan dalam lingkup pegunungan Alpen yang akrab dengan aktivitas pendakian, Lafaille telah mengenal mountaineering dan rock climbing sejak ia masih kecil.

Sebagai seorang remaja yang tumbuh dengan minat besar pada bidang mountaineering dan rock climbing, Jean Lafaille banyak menghabiskan waktunya di Céüse, sebuah gunung setinggi 2.016 meter yang terletak dalam region wilayah Hautes Alpes. Céüse menjadi tempat yang begitu sering dikunjungi oleh Jean Lafaille saat remaja.

Tempat yang kemudian menjadi salah satu destinasi rock climbing kelas dunia ini memiliki hutang pula pada sosok Lafaille dalam mempopulerkan tempat itu. Di Céüse, Jean Christophe Lafaille mencatatkan dirinya sebagai orang Perancis pertama yang meraih peringkat 7C+ dalam bidang panjat tebing pada tahun 1989, dan juga menjadi salah satu orang pertama yang memanjat tebing dengan tingkat kesulitan 8C.

Tahun 1990 nama Jean Christophe Lafaille telah memenuhi kualifikasi untuk menjadi seorang pemandu atau guide profesional pada pendakian gunung-gunung di Alpen Eropa. Di pegunungan Alpen, Lafaille membuat banyak pendakian pada rute-rute sulit yang kian membuat namanya melambung. Salah satu pendakian Jean Lafaille yang cukup populer di Alpen adalah pendakian solonya pada Divine Providence di Grand Pilier d’Angle, salah satu rute paling sulit di Pegunungan Mont Blanc. Lafaille adalah orang pertama yang berani memanjat tebing itu secara solo dan berakhir dengan sukses.

Céüse menjadi salah satu lokasi panjat tebing favorit dunia yang kepopulerannya berhutang pada nama besar Lafaille (Vagabonds Verticale)

Setelah kejadian di Annapurna South Face yang hampir saja merenggut nyawa Jean Lafaille, ia sempat mengatakan akan berhenti secara totalitas dari pendakian gunung. Namun itu seperti janji seorang pencandu tembakau yang mengikrarkan akan berhenti merokok karena batuk, namun ketika batuknya sembuh, rokoknya tetap tak bisa lepas dari bibirnya, bahkan semakin parah.

Jean Lafaille pun demikian, ikrarnya untuk berhenti dari alpinisme sama sekali tak bisa ia tepati. Panggilan hatinya untuk tetap menjadi seorang pendaki gunung dan alpinis tak mampu ia lawan. Setelah selesai tahap pemulihan fisik dan psikologis yang cukup lama, Lafaille kembali lagi ke gunung-gunung. Dan layaknya pencandu rokok yang bertambah parah, ia juga kembali terjun dalam gaya pendakian ekstrim yang lebih dalam dan menantang.

Pendakian pertama yang dilakukan oleh Jean Christophe Lafaille pasca kesembuhannya setelah mendaki Annapurna adalah di Alpen. Pada tahun 1995, dalam waktu hanya 15 hari, Lafaille menyapu sepuluh tebing utara paling mematikan di Eropa secara solo. Termasuk di antaranya adalah Eiger North Face, Matterhorn, Petit Dru, Grandes Jorasses, Mont Blanc, Monte Rosa dan yang lainnya.

Gaya mendaki many climb (route) in single tour ini merupakan sebuah gaya pendakian yang dilakukan dalam sebuah hitungan yang pendek namun untuk banyak objek pendakian. Hal ini dimungkinkan dengan meningkatnya secara pesat alat-alat transportasi pada masa itu yang kemudian memudahkan untuk berpindah dari satu gunung ke gunung yang lain.

Gaya ini pada umumnya disebut sebagai Enchainment alias pendakian berantai. Enchainment yang dilakukan oleh Jean Lafaille merupakan salah satu enchainment awal dalam ranah dunia mountaineering. Lafaille melakukan pendakian di sebuah gunung, kemudian berpindah ke gunung lainnya menggunakan ski. Dan dalam waktu lima belas hari kurang lebih, Lafaille kemudian berhasil menyelesaikan pendakian sepuluh tebing utara yang paling sulit dan mematikan di pegunungan Alpen.

Sebelum aksi Lafaille, gaya pendakian enchainment sebelumnya pernah dipraktikkan oleh Jean Marc Boivin. Boivin pada tanggal 17 Maret 1986 pernah melakukan pendakian empat tebing utara Eropa dalam satu hari. Boivin mendaki Aiguille Verte, Les Droites, Les Courtes dan Grandes Jorasses dalam sebuah pendakian berantai yang mengagumkan. Dalam aksinya ini Jean Boivin menggunakan ski, paraglider dan hang glider untuk membantunya turun dengan cepat dan berpindah dari satu titik ke titik yang lain.

Jean Marc Boivin (AbeBooks)

Setelah Boivin, bulan Maret 1987 tepatnya dari tanggal 11 sampai 12, pendaki gunung Perancis yang lain bernama Christophe Profit menjadi orang pertama yang melakukan pendakian berantai di tiga tebing utara paling fenomenal di Eropa8.11. Prestasi Profit ini membuat namanya ditulis abadi sebagai alpinis pertama di dunia yang berhasil menaklukkan great north face of the Alps hanya dalam waktu kurang dari 48 jam.

Selama menyelesaikan pendakian enchainment sepuluh tebing utara Alpen dalam waktu lima belas hari, Jean Lafaille telah membuat sebuah rute legendaris di Les Drus8.12. Lafaille Route yang ada di Petit Dru adalah salah satu rute pendakian yang hingga saat ini, dianggap sebagai yang paling sulit di Alpen.

Meskipun telah membuat prestasi yang luar biasa di pegunungan Eropa, Lafaille tak bisa menghalau bayangan Himalaya dari dalam benaknya. Puncak-puncak delapan ribu meter Himalaya dengan tebing-tebing raksasanya tak bisa hilang dalam pikiran Lafaille.

Dan dari semua tebing yang mempesona itu, Annapurna South Face adalah yang paling membuatnya tidak dapat memejamkan mata. Tebing selatan gunung Annapurna yang hampir membunuhnya beberapa tahun sebelumnya itu seolah kembali memanggil namanya tanpa henti. Meskipun demikian, setelah kembali ke dunia alpinis profesional dan pendakian gunung Himalaya, Lafaille tidak serta merta menuju Annapurna.

Description: DruE.jpg
Garis Lafaille Route yang dibuat oleh Jean Christophe Lafaille di Gunung Dru. Sumber foto: Planetmountain.com

Kembali ke Himalaya dan Berbagai Pendakian Spektakuler Jean Lafaille di Gunung 8.000 Meter

Gunung 8.000 meter pertama di Himalaya yang dikunjungi Jean Christophe Lafaille setelah kecelakaannya di Annapurna adalah Cho Oyu. Jean Lafaille mendaki Cho Oyu tepat satu tahun sejak kematian Pierre Beghin.

Setelah Cho Oyu, tahun 1994 Lafaille mencetak prestasi di Shishapangma dengan membuat rute baru secara solo. Dan pendakian solo Lafaille di Shishapangma ini tercatat sebagai pendakian solo yang pertama untuk gunung dengan ketinggian 8.000 meter8.13.

Sukses di Shishapangma, Lafaille kembali menorehkan rekor dengan memuncaki puncak Gasherbrum II dan Gasherbrum I secara beruntun dalam waktu hanya empat hari pada tahun 1996, yang juga ia lakukan secara solo. Tahun 2001 giliran Manaslu yang dicapai oleh Jean Lafaille. Dan sekali lagi, itu juga dilakukannya secara solo.

Gunung Shishapangma (Snow Leopard Trek)

Sebelum ke Manaslu, tahun 1998 Lafaille pernah kembali ke Annapurna South Face secara solo dengan mengambil rute tim Inggris pimpinan Chris Bonington tahun 1970.

Akan tetapi gunung dengan nama yang memiliki arti Dewi Panen atau Dewi Kesuburan itu masih belum memberi ruang bagi sepasang kaki Jean Lafaille untuk dapat berdiri di puncak tertingginya.  Upaya Lafaille yang kedua di wajah selatan Annapurna ini kembali berbuah kegagalan, cuaca dan kondisi salju yang buruk memaksa Lafaille untuk mundur dari gunung tersebut.

Tahun 1998 Lafaille kembali mengunjungi Annapurna, kali ini dengan sebuah ekspedisi besar. Akan tetapi ekspedisi ini pun kandas di tengah jalan tak lama setelah pendakian berlangsung. Penyebabnya adalah salah satu anggota tim yang terbunuh diterjang avalanche, iblis paling rakus yang memangsa nyawa pendaki gunung di Annapurna.

Jean Lafaille telah menghitung tiga kali upayanya di Annapurna yang selalu berbuah kegagalan. Terbersit pula dalam hatinya jangan-jangan sang Dewi Panen memang tidak akan pernah membuka hati untuknya sekali pun. Namun sebagai seorang alpinis dengan jiwa tradisional yang masih kaya akan kesejatian nilai pendakian gunung, tiga kali kegagalan itu malah membuat motivasinya untuk kembali ke Annapurna kian kuat.

Lebih dari sekedar rasa penasaran karena belum berhasil mencapai puncak dan mengalahkan tantangan yang ada, Annapurna dalam hati Lafaille memiliki arti yang lebih luas daripada itu. Ia merasa jiwa dan hatinya demikian terpikat dengan Annapurna, pikiran dan fokusnya dalam mountaineering seolah telah tertawan oleh gunung indah yang megah tersebut. Dan satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dan hatinya dari ‘belenggu sang Dewi Panen’ adalah dengan mencapai puncaknya, menginjakkan kaki di titik tertinggi sejauh 8.091 meter Annapurna, tempat di mana sang dewi memiliki singgasana.

Melepaskan Belenggu Gunung Annapurna

Tahun 2002 Lafaille membulatkan tekadnya untuk kembali ke Annapurna sekali lagi. Dari pertimbangan Lafaille, Annapurna mungkin memang belum saatnya untuk dapat  ia daki secara solo, dan karena itu ia membutuhkan seorang teman.

Mendaki Annapurna yang sangat berbahaya membutuhkan sebuah keterampilan dan tingkat mental yang tidak hanya baik, namun harus benar-benar hebat. Dan atas dasar pertimbangan tersebut, kemudian Lafaille memilih untuk bergabung bersama Alberto Iñurrategi, seorang pendaki Spanyol yang di kemudian hari menjadi orang ke-10 yang berhasil mendaki fourteen eight thousanders.

Description: Alberto Iñurrategi.jpg
Alberto Iñurrategi, sosok yang kemudian menjadi rekan Jean Christophe Lafaille dalam pendakian ke puncak Annapurna I. Sumber foto: Basque team

Alberto sendiri adalah salah satu pendaki besar Spanyol yang sama ‘gilanya’ dengan Lafaille. Ia bersama dengan saudaranya, Felix Iñurrategi, selalu mendaki secara alpine style dan tanpa tabung oksigen. Bagi Alberto, gunung Annapurna adalah gunung terakhir yang harus ia daki untuk menjadi seorang peraih fourteen eight thousanders. Dan untuk maksud itu ia juga membutuhkan rekan yang sama kuat seperti dirinya. Dan Jean Chrisophe Lafaille tentu saja lebih daripada memenuhi syarat8.14.

Percobaan Lafaille di Annapurna yang keempat ini pada akhirnya berbuah keberhasilan. IA dan Alberto Iñurrategi yang mengambil rute panjang Punggungan Timur sebagai jalur pendakian yang kemudian akhirnya berhasil mengantarkan keduanya ke puncak tertinggi gunung Annapurna. Keberhasilan pendakian Annapurna ini memiliki arti yang sama besar dan penting, baik bagi Jean Christophe Lafaille mau pun bagi Alberto Iñurrategi.

Description: Jean lafaille Annapurna.jpg
Foto Jean Christophe Lafaille yang diambil oleh  Alberto Iñurrategi saat berjalan di punggungan puncak Annapurna tahun 2002.  Sumber foto: Superception

Annapurna menjadi gunung terakhir bagi Alberto Iñurrategi dalam tour pendakian empat belas puncak gunung di atas 8.000 meter yang dijalaninya. Dengan keberhasilannya mencapai puncak Annapurna pada tahun 2002 bersama Lafaille, Alberto secara resmi masuk dalam daftar para pendaki elit yang berhasil mendaki 14 puncak delapan ribu meter secara lengkap, bergabung bersama nama besar seperti Reinhold Messner, Jerzy Kukuczka, Juanito Oiarzabal, dan yang lainnya. Dalam list ini Alberto Iñurrategi menduduki urutan ke sepuluh secara keseluruhan, dan menduduki urutan keempat untuk pendaki yang melakukannya tanpa tabung oksigen. Sementara bagi Spanyol, ia adalah orang kedua setelah Juanito Oiarzabal yang mencapai tahta empat belas puncak delapan ribu meter Himalaya.

Bagi Jean Lafaille, keberhasilannya mencapai puncak Annapurna adalah keberhasilannya melepas belenggu-belenggu Dewi Panen yang selama sepuluh tahun telah membuatnya terjebak dalam lautan emosi dan obsesi. Hantu-hantu dari Annapurna yang sejak kematian Pierre Beghin pada tahun 1992 tak henti mengikutinya, akhirnya berhasil ia kalahkan dan ia kembalikan ke puncak Annapurna dengan damai. Keberhasilan Lafaille di Annapurna tahun 2002 seolah telah membuatnya menjadi manusia bebas kembali, terlepas dari tawanan Sang Dewi Panen yang mempesona.

Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa kemenangan Lafaille di Annapurna tahun 2002 adalah akumulasi dari kemenangannya tahun sebelumnya di puncak K2, gunung tertinggi kedua di dunia setelah Everest. Dan merupakan yang tersulit untuk ditaklukkan di antara semua gunung delapan ribu meter lainnya.

Rute Baru, Secara Solo, atau Dalam Pendakian Musim Dingin

Jean Christophe Lafaille (Outside)

Pasca berhasil menaklukkan Annapurna, Jean Christophe Lafaille pada tahun 2003 memutuskan untuk mencoba mendaki semua puncak delapan ribu meter di Himalaya, persis seperti yang dilakukan oleh Alberto Iñurrategi dan nama-nama besar lainnya.

Akan tetapi Lafaille merumuskan keinginannya dalam mendaki fourteen eight thousander dengan cara dan gayanya sendiri. Lafaille tidak ingin seperti para pendaki lain yang mencapai semua puncak delapan ribu meter ini melalui rute yang sudah ditentukan, atau dalam sebuah ekspedisi besar dengan tabung oksigen didalam ransel. Lafaille ingin melakukan pendakian delapan ribu meternya dengan cara yang lebih baik. Ia ingin melakukannya secara solo, dari rute yang sama sekali baru, tanpa dukungan tabung oksigen, atau juga dalam sebuah pendakian musim dingin yang jauh lebih menantang dan berbahaya.

“Ini adalah tentang kebahagiaan dan prinsip bagi saya, untuk mencapai puncak sebuah gunung melalui rute yang paling indah dan gaya yang paling independen serta mandiri”

Ujar Lafaille suatu saat, ketika ditanya mengapa ia memilih melakukan pendakian delapan ribu meternya dengan cara yang jauh lebih sulit.

Apa yang dilakukan oleh Jean Lafaille ini pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan oleh alpinis-alpinis dan pendaki gunung terbaik dunia lainnya. Para pendaki yang jiwa mereka masih diisi dengan semangat alpinis dan mountaineering murni akan selalu mengeksplorasi kemampuan mereka sendiri dalam setiap pendakiannya.

Pioneering, selalu menguji batas kemampuan diri yang bisa dilakukan, menyukai keterasingan, mandiri dan haus akan pencapaian, adalah beberapa ciri utama dari para pendaki gunung tradisional yang masih tersisa di dunia ini. Nama-nama seperti Hermann Buhl, Walter Bonatti, Reinhold Messner, Paul Preuss, Jerzy Kukuczka, Tomaz Humar, atau Ueli Steck dalam kurun waktu yang lebih modern, adalah sosok-sosok pendaki gunung yang mampu mewakili dengan sempurna ciri para alpinis tradisional yang telah disebutkan sebelumnya.

Khusus obsesi untuk mendaki empat belas puncak gunung diatas 8.000 meter, rumusan yang disampaikan oleh Jean Christophe Lafaille pada dasarnya bukanlah yang pertama. Hampir satu dekade sebelum kehadiran Lafaille di jajaran para pendaki gunung elit Himalaya, sudah ada nama Jurek atau Jerzy Kukuczka yang bertengger pada urutan kedua peraih tropi grand slam fourteen eight thousanders dengan catatan pendakian yang juga sangat mengagumkan. Seperti halnya Lafaille, Kukuczka juga bertekad untuk mencapai semua puncak 8.000 meternya melalui jalur baru, tanpa tabung oksigen, atau pada musim dingin. Dan ia hampir berhasil secara keseluruhan.

Kisah lengkap tentang pendakian dan pencapaian sang pendekar es Polandia, Jerzy Kukuczka, dapat dibaca pada link berikut: Profil lengkap dan kematian pendaki gunung terbaik di dunia

Dari empat belas puncak gunung delapan ribu meter yang dicapai Kukuczka, sebelas di antaranya dicapai melalui rute baru, empat dicapai pada musim dingin, dan tiga menjadi first winter ascent. Meskipun tidak diumumkan secara jelas pada publik, namun keinginan Kukuczka untuk mendaki semua puncak delapan ribu meter melalui rute baru adalah sesuatu yang sangat jelas terbaca.

Hal ini diperkuat pula kemudian dengan keinginan Kukuczka untuk mengulang kembali pendakiannya di gunung delapan ribu meter yang sebelumnya dicapai melalui rute yang umum. Seperti gunung Broad Peak yang tahun 1982 telah berhasil dipuncaki oleh Kukuczka melalui rute normal, namun diulanginya kembali pada tahun 1984 melalui sebuah rute baru yang lebih teknis. Kemudian gunung Annapurna yang telah berhasil dicapai puncaknya oleh Kukuczka pada tahun 1987, kemudian direpeatnya kembali pada tahun 1988 melalui rute baru yang berbeda.

Setelah Annapurna ada tiga gunung lagi yang harus diselesaikan oleh Kukuczka untuk membuat sempurna rekor yang dicapainya, yaitu Lhotse, Dhaulagiri dan Kangchenjunga. Sebenarnya Kukuczka hanya perlu membuat rute baru atau pendakian musim dingin di Lhotse untuk memyempurnakan rekornya, karena Dhaulagiri dan Kangchenjunga telah ia capai dengan catatan sebagi first winter ascent walaupun melalui jalur pendakian normal.

Description: Lafaille.jpg
Foto di atas diambil di areal base camp Broad Peak, beberapa waktu setelah Ed Viesturs dan Denis Urubko membantu Lafaille yang sempat terserang pulmonary edema saat perjalanan turun dari puncak. “Kecil, berani, kuat, dan tak kenal takut” komentar banyak para pendaki gunung dunia saat diminta kesannya mengenai nama  Jean Christophe Lafaille. Sumber foto: Greatoutdoors.com

Dengan determinasi dan menyimak pencapaian yang dilakukan oleh orang seperti Jerzy Kukuczka ini, Jean Christophe Lafaille merumuskan sebuah keinginan dan obsesi yang sama, dari sisi skill, keberanian, dan ketangguhan Jean Lafaille jelas memenuhi syarat untuk itu.

Tahun 2003, beberapa minggu setelah Lafaille mengatakan untuk mencapai puncak dengan gaya dan cara yang lebih baik, ia telah berhasil mencapai puncak Nanga Parbat dan Dhaulagiri secara solo.

Akan tetapi pada pendakiannya di Broad Peak bersama dengan ekspedisi internasional di Pakistan yang dipimpin oleh Denis Urubko dari Kazakhstan, Jean Lafaille hampir saja kembali tewas ketika terserang pulmonary edema8.15 yang cukup parah. Selain Urubko dan Lafaille, International Pakistan Expedition ini diikuti pula oleh beberapa nama populer lainnya seperti Ed Viesturs dari Amerika, Simone Moro dari Italia, dan Inaki Ochoa dari Spanyol, serta beberapa pendaki muda Kazakhstan yang juga ikut serta dalam ekspedisi.

Mulanya Ochoa dan Simone berhasil mencapai puncak, kemudian disusul oleh Ed, Urubko dan juga Lafaille. Namun dalam perjalanan turun, Lafaille tiba-tiba mengalami kesulitan bernafas.

Dengan bantuan sigap yang diberikan oleh Denis Urubko, Ed Viestur dan beberapa pendaki muda Kazakhstan lain, Lafaille akhirnya berhasil dibantu turun sampai base camp dengan selamat8.16. Meskipun hampir saja celaka di Broad Peak, namun tahun 2003 ini Lafaille telah menorehkan sebuah prestasi yang lain, ia telah mendaki Nanga Parbat, Broad Peak dan Dhaulagiri hanya dalam waktu kurang dari dua bulan saja.

Bulan Desember tahun 2004 kemudian, Lafaille kembali ke Shishapangma untuk melakukan pendakian musim dingin secara solo di gunung itu. Namun ia mencapai puncak pada tanggal 11 Desember yang mana menurut pendapat banyak orang adalah waktu yang terlalu dini untuk disebut sebagai pendakian musim dingin.

Meskipun demikian, setelah pendakian solo Shishapangma yang kedua bagi Lafaille ini, ia setidaknya telah mengantogi sebelas puncak gunung delapan ribu meter, yang sebagian besar ia capai melalui pendakian solo, rute baru, atau pun dalam musim dingin. Jean Lafaille membutuhkan tiga puncak gunung lagi untuk menyempurnakan pencapaiannya, yaitu Kangchenjunga, Everest, dan juga Makalu.

Hilang dan Tewasnya Jean Christophe Lafaille di Gunung Makalu

Empat minggu sudah berlalu sejak pertama kalinya Jean Christophe Lafaille menginjakkan kakinya di Gunung Makalu, gunung dengan predikat tertinggi kelima di dunia dengan elevasi 8.462 meter. Dan satu-satunya gunung delapan ribu meter di wilayah Himalaya Timur yang belum pernah didaki pada musim dingin8.17.

Pendakian musim dingin pada gunung delapan ribu meter adalah sebuah prestasi yang spektakuler dan sangat berkelas. Pada umumnya pendakian musim dingin dilakukan dengan dukungan yang begitu lengkap, mulai dari jumlah sherpa, keberadaan fixline, tim pendakian yang banyak, ekspedisi yang besar, tabung oksigen yang berlimpah dan hal lain semacamnya.

Ada banyak gunung delapan ribu meter Himalaya yang telah berhasil didaki pada musim dingin. Dan para pendaki musim dingin yang paling terkenal dengan keberhasilan mereka di Himalaya tentu saja adalah orang-orang Polandia. Nama-nama seperti Jerzy Kukuczka, Krzysztof Wielicki, Andrej Zawada  dan Wojciech Kurtyka adalah para pendaki elit yang menjadi anggota kehormatan bagi sebuah perkumpulan yang bergelar ‘Para Pendekar Es’, sebutan untuk para pendaki gunung musim dingin yang tangguh dari Polandia.

Para pendaki Polandia ini berhasil memuncaki sepuluh dari tiga belas gunung delapan ribu meter yang sudah berhasil didaki pada musim dingin. Sementara K2 yang sampai saat buku ini ditulis musim dinginnya belum tertaklukkan, masih merupakan medan buruan para pendaki elit dari seluruh dunia di era modern sekarang ini.

Pencapaian pendakian musim di gunung 8.000 meter yang didominasi Polandia (South China Morning Post)

Dalam catatan pendakian musim dingin yang dilakukan para pendaki Polandia sejak tahun 1980 di Everest hingga tahun 1988 di Lhotse, semuanya dilakukan dalam sebuah ekspedisi besar yang didukung oleh banyak orang dan peralatan.

Akan tetapi di Makalu, Jean Lafaille memutuskan untuk melakukan tindakan yang jauh lebih berani daripada itu. Determinasi untuk melakukan pendakian musim dingin di Makalu telah jauh melampaui apa yang selama ini menjadi salah satu yang dianggap batasan dalam kancah mountaineering secara global.

Di musim dingin Makalu tahun 2005, Lafaille dengan penuh komitmen dan konsekuensi yang tak terbantahkan memilih untuk melakukan pendakiannya secara solo, tanpa tabung oksigen, tanpa fix line dan juga tanpa dukungan sherpa. Keputusan Lafaille untuk melakukan ini adalah sebuah tindakan yang sangat berani, sangat revolusioner, dan belum ada satu pun pendaki elit dunia yang pernah mencobanya, termasuk nama besar seperti Reinhold Messner atau Jurek Kukuczka sendiri.

Sejak awal Januari 2005, Lafaille telah bolak balik naik turun di dinding Makalu untuk mengangkut peralatannya. Selain dia sendiri, ada tiga orang lain yang menemaninya di base camp. Ketiga orang itu adalah para pemuda Nepal yang bukan sherpa atau pun pendaki. Mereka adalah kitchen boys bertugas memasak dan mengurus dapur base camp Jean Christophe Lafaille selama proses pendakian.

Meskipun bersama tiga orang pemuda Nepal, Lafaille tetap merasa dirinya sendirian di gunung besar itu. Keterbatasan bahasa membuat ia dan para pemuda Nepal seolah terpisah oleh jurang jarak yang susah untuk dilewati. Setiap hari setelah tugas mereka selesai, para pemuda Nepal itu sibuk bermain kartu, berkumpul, dan bercengkrama di tenda mereka. Sementara Lafaille pun hanya di tendanya seorang diri, menghabiskan waktu dengan membaca buku atau mendengarkan musik dari walkman yang ia bawa.

Jean Lafaille di base camp Makalu (Montagnes Magazine)

Sudah beberapa kali Lafaille mencoba untuk melihat kemungkinan yang ia miliki untuk dapat mencapai puncak Makalu, akan tetapi cuaca yang buruk dan tidak dapat diprediksi membuat upayanya selalu gagal.

Lafaille dan tiga orang juru masaknya mendirikan base camp pada ketinggian 17.400 kaki. Dari base camp, Jean Lafaille telah melakukan empat kali pendakian menuju Makalu yang bertujuan untuk mengangkut perlengkapan sekaligus sebagai bagian dari proses aklimatisasi yang ia lakukan.

Sepanjang pertengahan bulan Desember 2004 hingga Januari 2005 Lafaille berjalan sendirian melewati ceruk-ceruk es mengangkut perlengkapannya menuju tempat yang lebih tinggi. Tanggal 27 Desember Lafaille membuat Camp Satu-nya pada ketinggian 22.600 kaki. Kemudian ia juga mencapai Makalu La8.18 pada hari selanjutnya. Pendakian Lafaille untuk sementara tertahan hanya sampai Makalu La. Badai musim dingin dan angin kencang yang tak kunjung berhenti bertiup membuat upayanya untuk mendaki dan membuat camp yang lebih tinggi belum dapat dilakukan.

Kesendirian dan Kesepian Jean Christophe Lafaille Menjelang Hari-Hari Terakhirnya

Hari demi hari, Jean Lafaille berupaya untuk naik lebih tingggi, namun badai berkecepatan 55 hingga 110 mil per jam menghalaunya dengan bengis sepanjang punggungan Makalu. Sudah dua kali tubuh kecil Lafaille hampir saja terbang digulung oleh badai yang mengamuk. Andai ia tak berbaring sama rata dengan permukaan salju atau mengikat harnessnya dengan kapak es dan pasak es yang ditanam dalam permukaan es yang keras, mungkin saja pendakiannya sudah berakhir pada jurang dingin yang membeku di bawah sana.

Bahkan pada tanggal 11 Januari 2005, Jean Lafaille dalam usaha solonya berupaya untuk mendirikan sebuah tenda di Makalu La. Namun sebuah hembusan angin yang demikian kencang tiba-tiba menghempaskan tendanya, merobek benda yang direncanakan menjadi tempat perlindungan bagi Lafaille itu sehingga menjadi rusak parah. Dengan melihat kenyataan yang sungguh keras dan sukar untuk dilewati ini, masih pada hari yang sama Lafaille memutuskan turun kembali ke Camp I.

Dalam bagaimana pun kondisi yang ia hadapi, Jean Lafaille dan ekspedisi solonya di Makalu tak pernah melupakan untuk mengabari Katia, isterinya yang ada di Vallorcine, sebuah kota kecil tak jauh dari Chamonix di Perancis. Dalam satu hari, Lafaille setidaknya menelpon Katia tiga kali, pagi hari, siang hari dan malam hari. Setelah lebih sebulan ia menghabiskan waktu di Makalu, tak ada satu pun hari yang dilewatkan oleh Lafaille tanpa menghubungi Katia melalui telepon satelitnya.

“Cuacanya demikian buruk, Sayang, angin berkecepatan hampir seratus mil per jam membuat rencanaku gagal dilakukan”

Suara Lafaille hampir berteriak di depan mikropon telepon satelitnya di Camp I. Ia harus berbicara dengan keras supaya Katia yang berada di ujung telepon bisa mendengar. Karena walaupun berada dalam tenda, deru angin badai yang mengamuk dari luar kadang terasa lebih dekat daripada suara nafasnya sendiri yang berhembus dengan berat.

“Mungkin kau harus menunggu cuaca membaik, Chris”

Bujuk Katia dengan suaranya yang merdu di telinga Lafaille. Bagi Jean Lafaille tak ada hal yang paling dapat membuatnya tenang kecuali mendengar suara Katia selama perjalanan di Makalu yang kesepian itu.

“Iya, hanya itu yang bisa kulakukan  lagi, oh ya bagaimana kabar anak-anak?”

“Mereka baik-baik saja, jangan khawatir untuk itu”

“Sampaikan salamku untuk mereka Sayang, ya, jika cuaca tak berubah dalam satu minggu ke depan, aku mulai mempertimbangkan untuk pulang ke Perancis.”

“Kau yang memutuskan, Chris, kau tahu apa yang terbaik bagimu

Tanggal 12 Januari badai masih mengamuk dengan hebat di Makalu. Dengan mempertimbangkan banyak hal akhirnya Jean Christophe Lafaille memutuskan untuk turun ke base camp utama, beristirahat sambil menunggu cuaca membaik jika memang ada kemungkinan untuk itu.

Description: Lafaill Katia.jpg
Jean Christophe Lafaille dan Katia Lafaille. Jean adalah tipe suami yang sangat setia, selama ekspedisinya di Makalu ia selalu menelpon Katia tiga kali setiap harinya. Sumber foto: Desnivel

Di base camp Jean Lafaille memantau kondisi cuaca Makalu melalui berita yang disampaikan oleh Yan Giezendanner dari Chamonix melalui telepon satelitnya. Giezendanner sendiri adalah seorang pengamat cuaca yang sangat ulung, perhitungannya akurat, prediksinya presisi, dan kemampuannya membaca arah pergerakan cuaca adalah yang terbaik di Eropa, dan juga mungkin di dunia saat itu.

Hasil analisa yang disampaikan oleh Giezendanner selalu lebih akurat terbukti dari prakiraan yang disampaikan dari Nepal. Kemampuan Giezendanner ini telah membuatnya dipercaya sebagai salah seorang ahli penentuan rute, spesialis pembimbing para pilot glider, pemandu pemain ski lintas negara, dan juga peramal cuaca para pendaki gunung seperti Jean Lafaille. Lafaille menempatkan rasa percayanya yang demikian besar pada analisa Giezendanner, termasuk pula dalam pendakiannya di Makalu kali ini.

“Badai akan terus menerjang areal puncak Makalu, Chris, kecepatannya bisa mencapai hingga 100 mil per jam. Terlalu berbahaya bagimu untuk mendaki…”

Hampir dua minggu Jean Christophe Lafaille menerima berita yang kurang lebih sama dari Giezendanner, hanya saja narasi dan kombinasinya yang berbeda. Kadang Giezendanner menambahkan bahwa akan terjadi badai salju hebat, kadang ia mengatakan angin berkecepatan jet, atau kadang mengatakan sesuatu yang lebih menggigit;

“Cuaca sangat tidak ramah untuk mendaki, angin akan menghempaskan tubuh kecilmu dari puncak Makalu, jangan mendaki besok atau lusa..”

Pada intinya apa pun bahasa yang digunakan oleh Giezendanner kepada Lafaille selama dua minggu penuh sejak tanggal 12 Januari, artinya adalah sama; bahwa pendakian ke puncak Makalu tidak dapat dilakukan.

Sementara kondisi base camp juga jauh dari kenyamanan, tiga pemuda Nepal yang ikut sebagai juru masak dan petugas dapur Jean Lafaille hanya menginginkan pulang, kembali dalam balutan selimut hangat mereka di rumah. Dan tentunya setelah menerima upah dari Lafaille.

Keterbatasan bahasa membuat suasana base camp itu sama dinginnya dengan kondisi musim dingin di Makalu. Jean Lafaille menghabiskan hari-harinya dalam tenda dengan membaca buku, mendengarkan musik dari walkman dan juga mengamati cuaca. Sedangkan ketiga pemuda Nepal itu pun sibuk dengan kartu mereka sepanjang hari di tenda mereka sendiri.

Pada kondisi keterbatasan bahasa seperti ini, siapa sebenarnya yang harus melakukan upaya lebih keras untuk bersosialisasi? Apakah Jean Lafaille sebagai tamu yang hidupnya memiliki ketergantungan pada puncak-puncak Himalaya harus mempelajari bahasa Nepal? Ataukah para pemuda Nepal yang mencari nafkah dengan menjadi juru masak dan kitchen boys yang harus mempelajari bahasa Inggris atau Perancis?

Situasi di base camp Jean Lafaille kembali diperburuk dengan badai pasir yang juga ikut mengamuk, membuat base camp yang dingin menjadi berlumpur. Pasir-pasir itu entah bagaimana caranya, juga mampu memasuki tenda Jean Lafaille dan para pemuda Nepal yang telah ditutup dengan rapat.

Kondisi seperti ini, baik bagi Lafaille mau pun bagi para pemuda Nepal adalah sama, yaitu sama-sama tidak menyenangkan. Akan tetapi perbedaannya adalah, ketika Lafaille berharap badai segera reda dan cuaca membaik sehingga ia bisa melakukan pemuncakan. Sementara tiga orang pemuda Nepal berharap mereka bisa segera pulang dari neraka yang tidak mengenakkan itu.

Ekspedisi pendakian musim dingin di Himalaya, menurut pengalaman dari para pendaki Polandia yang mau tidak mau harus diakui sebagai yang tak tertandingi, adalah maksimal dilakukan dalam waktu 30 hari. Para pendekar es Polandia berpendapat bahwa hanya tiga puluh hari8.19 ekspedisi musim dingin di Himalaya dapat dilakukan dengan baik. Jika sebuah winter expedition di Himalaya dilakukan lebih dari 30 hari, ada banyak hal yang akan berubah, mulai dari semangat, kekuatan, optimisme, hingga kepada peluang untuk mencapai puncak dan turun dengan selamat.

Analisa dan hipotesa dari tim Polandia ini telah mereka buktikan validitasnya dengan memuncaki tujuh puncak 8.000 meter Himalaya hingga tahun 2005, tahun dimana Lafaille sedang berjibaku di musim dingin Makalu.

Ada pun Jean Christophe Lafaille telah menghabiskan hampir 50 hari di gunung tertinggi kelima itu, sudah hampir dua kali lipat dari penetapan waktu yang biasa digunakan oleh para pendaki Polandia dalam ekspedisi musim dingin mereka. Keputusan Lafaille untuk melakukan upaya solo juga menjadi hal lain yang mesti diperhitungkan. Kelelahan, kebosanan, jenuh dan antusiasme yang mungkin tergerus dapat menjadi faktor-faktor yang tidak begitu baik bagi Lafaille untuk melanjutkan ekspedisinya.

Description: mt-makalu-8463-m-expedition1.jpeg
Selarik awan tipis memayungi puncak Makalu yang megah. Jika kemudian Jean Christophe Lafaille berhasil memuncaki Makalu dan turun dengan selamat saat itu, tak diragukan lagi ia akan menjadi salah satu legenda terbesar mountaineering modern. Sumber foto: Everest Six Summits Adventure

Keputusan Terakhir Lafaille Dalam Tindakan Beraninya

Tanggal 24 Januari 2005, Giezendanner memberitahu Lafaille bahwa cuaca pada 27 Januari nampaknya menjanjikan untuk dijadikan sebagai waktu summit push. Berita itu segera membangunkan Lafaille, ia segera bersiap untuk kembali melakukan sebuah upaya untuk mencapai puncak 8.000 meter kesebelas dalam tour grand slam fourteen eight thousanders-nya.

Akan tetapi sebelum memulai perjalanan menuju Camp I, hubungan antara Jean Lafaille dan ketiga orang juru masaknya telah terlalu jauh merenggang. Kepercayaan adalah hal yang sudah tidak dapat bertahan lagi di antara mereka. Ketiga orang pemuda Nepal itu sudah tidak begitu menaruh rasa hormat dan percaya kepada Christophe Lafaille. Yang mereka inginkan hanya mendapat upah dan pulang. Sesuatu yang belum dipenuhi Lafaille setelah 50 hari di kaki Makalu.

Di sisi yang lain, Jean Lafaille juga tidak menaruh rasa percaya lagi kepada tiga orang juru masaknya. Dan karena ketidakpercayaan ini pula, saat ia berangkat meninggalkan base camp pada tanggal 24 Januari 2005, ia tidak mengajari para pemuda Nepal itu untuk menggunakan telepon satelit. Meskipun benda yang penting tersebut ada tiga jumlahnya di base camp mereka.

Lafaille mencapai Camp I pada 24 Januari sore harinya, ia menghabiskan satu malam di tempat itu untuk kemudian melanjutkan pendakian menuju Camp II Makalu La pada keesokan harinya. Di atas Makalu La Lafaille mempersiapkan diri untuk melakukan pemuncakan pada tanggal 27 Januari, tanggal yang dalam prediksi sang pakar cuaca dari Chamonix adalah paling tepat bagi Lafaille untuk melakukan summit push.

Sekitar jam setengah lima pagi tanggal 27 Januari telepon di rumah Jean Christophe Lafaille berdering, Katia yang tidak pernah jauh dari benda itu segera menyambarnya dengan cepat.

“Chris..”

“Ya ini saya, Bébé, bagaimana kabarmu?”

Jawab Lafaille, bébé adalah kata sayang dalam bahasa Perancis yang seringkali digunakan Jean Lafaille untuk memanggil isterinya.

Everything Ok, apakah kau akan mencapai puncak pagi ini?”

“Ya, cuaca bagus, semuanya bagus, saya akan memuncaki Makalu hari ini bébé..”

“Ok aku berharap yang terbaik bagimu, tapi ini jam setengah lima pagi di Nepal kan?” tanya Katia lagi.

“Iya, ini hampir jam lima di sini”

“Tidakkah ini terlambat bagimu, Chris, biasanya kau melakukan pemuncakan lebih dini daripada ini di gunung-gunung sebelumnya?” tanya Katia lagi.

 “Yah itu yang membuatku jengkel, gelang alarm di tanganku tidak berbunyi. Aku menjadi tertidur terlalu lama sehingga terlambat dari jadwal. Tapi tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Sayang..”

“Baiklah kalau begitu berhati-hatilah di sana..”

“Aku akan menelponmu sekitar tiga jam lagi dari Frenc Couloir, sampai jumpa sayang ya, doakan aku berhasil hari ini..”

 “Aku selalu mendoakanmu, Sayang, selamat mencapai puncak…”

Suara Katia berhenti, Lafaille memutuskan sambungan teleponnya.

Putera Jean Christophe Lafaille beberapa waktu setelah ayahnya tak kunjung pulang dari Makalu (Everest News)

Kepastian Hilangnya Sang Pemberani di Gunung Makalu

Tepat jam lima pagi waktu Nepal, Jean Christophe Lafaille meninggalkan Camp terakhirnya pada ketinggian 24.900 kaki atau 7.600-an meter. Tujuannya adalah menuju French Couloir atau Couloir Perancis, sebuah celah curam yang jauhnya sekitar tiga jam dari lokasi Camp terakhir Lafaille. Dari French Couloir ia kemungkinan akan membutuhkan waktu sembilan sampai sepuluh jam untuk mencapai puncak Makalu.

Di rumah Katia menunggu telepon kembali dari suaminya. Namun ketika beberapa jam sudah berlalu, dan teleponnya masih saja membisu, rasa khawatir mulai merasuki pikiran Katia. Tiga jam, lima jam, kemudian sembilan jam Katia masih menunggu teleponnya berbunyi, tapi benda itu tetap tak bersuara.

Menjelang pukul 2 malam di Perancis, matahari di Nepal mulai tenggelam. Dan pada saat yang sama, harapan Katia mulai memudar menjadi sebuah keputus-asaan.

Lafaille adalah seorang suami yang romantis, seperti banyak lelaki Perancis yang lain. Selama ekspedisi di Makalu tidak ada satu hari pun ia absen menelpon Katia. Jadi ketika Lafaille berjanji untuk menelponnya tiga jam lagi, namun sudah lebih sembilan jam dan belum juga ada telepon, maka sudah sepatutnya Katia menyimpan rasa kekhawatiran.

“Selalu ada harapan, jangan terlalu khawatir. Tolong beri ia waktu untuk turun..”

Tulis Ed Viesturs membalas email yang dikirim Katia pada 27 Januari 2005 malam harinya.

Viesturs adalah salah satu teman dekat Lafaille, mereka sama-sama pendaki gunung profesional dengan segudang prestasi mountaineering. 12 Mei 2005, Paula isteri Ed Viesturs juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Katia. Saat itu telepon satelit yang dibawa Viesturs tak berfungsi di Annapurna, sehingga isterinya juga sempat menduga bahwa Ed sudah tewas dan menghabiskan malam mengerikan dalam rasa khawatir dan kedukaan. Barulah sekitar jam 10 malam, ketika Viesturs berhasil kembali ke base camp dan memperoleh telepon satelit yang berfungsi normal, suara yang didengar Paula berhasil mengusir semua dugaannya yang sempat melambung terlalu jauh.

 Akan tetapi apa yang terjadi dengan Viesturs di Annapurna, dan yang terjadi dengan Jean Lafaille di Makalu, tidak berjalan searah. Tanggal 27 Januari 2005 sudah berlalu dan Katia masih belum menerima kabar apa pun dari Lafaille, tanggal 28 Januari datang dan juga berakhir dengan cara yang sama, 29 Januari muncul dan tetap saja tidak ada kabar dari Lafaille. Dan kemudian hingga bulan Januari pun berakhir, Katia tetap tak mendapat kabar apa pun dari suaminya.

Ketika seorang pendaki gunung terbaik di dunia sekali pun mengalami musibah di atas gunung, siapakah yang paling menderita karena kepergiannya? (gettyimages)

Tidak ada yang dapat dilakukan untuk mencari Lafaille saat itu, musim dingin di Makalu bukanlan tempat yang ramah untuk banyak orang, termasuk para pendaki terbaik sekali pun. Tak ada pendaki yang telah beraklimatisasi pada musim itu yang dapat naik ke Makalu dan mencari keberadaan Lafaille.

Para sherpa hebat dengan ketangguhan luar biasa pun lebih memilih berdiam di rumah pada musim dingin seperti itu. Jadi jika memang Jean Christophe Lafaille mengalami kesulitan di Makalu, maka tidak ada yang dapat membantunya ke atas sana. Seperti keinginannya untuk benar-benar mendaki solo di Makalu, maka ia memang tidak akan mendapatkan teman di gunung itu, walaupun bantuan itu mungkin sedang sangat ia butuhkan.

Pada akhirnya Makalu menjadi bagian terakhir dari petualangan besar seorang Jean Christophe Lafaille, kisah mengagumkannya berakhir di gunung ini. Harapan yang sempat muncul bahwa Lafaille mungkin akan turun kembali dengan cerita penuh perjuangan dan kemampuan survival seperti yang dilakukannya di Annapurna South Face, pada akhirnya tak pernah terjadi. Dan dering telepon dari Makalu untuk Katia, ternyata sudah ditakdirkan untuk tidak akan pernah berbunyi selamanya…

***

Description: JEan Lafaille.jpeg
(Outside)

Jean Christophe Lafaille popular climb:

  • Enchaintment sepuluh puncak Alpen the north face hanya dalam waktu 15 hari.
  • Pendakian rute baru disisi utara, secara solo gunung Shishapangma pada tahun 1994.
  • Pendakian solo Gasherbrum 1 dan Gasherbrum 2 dalam jangka 4 hari pada tahun 1996.
  • Pendakian Nanga Parbat dan Dhaulagiri secara solo tahun 2003 .
  • Pendakian Annapurna South Face sekaligus penyelamatan mandiri tahun 1992 yang ia lakukan setelah kematian Pierre Beghin.

Tribute and legacy:

  • Buku The Prisoners of Annapurna yang merupakan biografi Jean Christophe Lafaille, ditulis oleh Jean Lafaille dan Benoit Hemmermann.

Footnote:

  1. Jean Christophe Lafaille
  2. 1990-an
  3. Termasuk para pendaki yang datang ke tempat itu setelah mereka.
  4. Walaupun Ian Clough kehilangannya nyawanya pada saat itu
  5. Fix rope hanya dipasang oleh keduanya disebuah tebing paling curam dari rute yang mereka lewati.
  6. Khususnya untuk technical climbing.
  7. Jangkar tebing berbentuk pipih seperti piring setengah yang disisipkan pada celah yang ada dipermukaan tebing.
  8. Tali itu memang ditinggalkan oleh Pierre Beghin dan Lafaille sebelum terus mendaki meninggalkan bivak, namun kondisi Lafaille yang shock membuatnya lupa jika ia memiliki seutas tali kecil tersebut.
  9. Pada teknik alpine style, pemasangan tali tetap pada beberapa bagian yang dianggap paling berbahaya dari sebuah medan pendakian, biasanya dimaklumi. Fixed rope yang mengurangi makna alpine style hanya diartikan bila dipasang sepanjang jalur pendakian, atau pada sebagian besar lintasan pendakian.
  10. Ia tidak begitu tinggi layaknya para pendaki barat umumnya.
  11. Eiger North Face, Matterhorn North Face dan Grandes Jorasses North Face.
  12. Pegunungan Dru dimana Grand Dru dan Petit Dru berada.
  13. Dalam kasus ini pendakian Hermann Buhl di Nanga Parbat pada pristiwa first ascent tahun 1953 tidak dapat dikatakan sebagai pendakian solo murni karena sebelum memutuskan melakukan upaya secara solo, Hermann Buhl ditemani oleh Otto Kempter. Dan juga pendakian Hermann Buhl saat itu merupakan bagian dari ekpedisi Austria dengan anggota tim yang cukup banyak.
  14. Sebelumnya Alberto Iñurrategi selalu mendaki bersama Felix Iñurrategi, namun ketika Felix tewas saat turun dari Gasherbrum II tahun 2000, Alberto terpaksa melakukan pendakiannya bersama orang lain.
  15. Simone Moro dan Inaki Ochoa tidak dapat ikut membantu karena mereka telah turun lebih dulu.
  16. Dengan waktu toleransi 3 atau 5 hari tambahan.
  17. Belum berhasil didaki pada musim dingin saat itu. First winter ascent Makalu tercapai tiga tahun setelah kedatangan Lafaille nantinya.
  18. Makalu La adalah sebuah pelana yang terdapat pada elevasi 24.300 kaki sebelum puncak Makalu.

Artikel ini bersumber dari buku berjudul MAUT DI GUNUNG TERAKHIR karya Anton Sujarwo. Anda bisa mendapatkan buku ini dan juga buku-buku mountaineering populer lainnya melalui link berikut ini: Buku-buku mountaineering populer sebagai bahan bacaan berkualitas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: