SEJARAH LENGKAP HADIRNYA SOSOK PEREMPUAN DALAM AKTIVITAS MOUNTAINEERING

Saya tidak mengharapkan perempuan memiliki kekuasaan melebihi laki-laki; tetapi yang saya harapkan adalah mereka memiliki kekuasaan atas diri mereka sendiri.

Mary Wollstonecraft
(Country Living Magazines)

Setelah tahun 1808 Marie Paradis membuka pintu gerbang kehadiran sosok perempuan dalam dunia mountaineering dengan menjadi orang pertama yang mencapai Puncak Mont Blanc, dilanjutkan pula kemudian oleh kehadiran Henriette d’Angelville di tempat yang sama pada tahun 1838, atau tepat tiga puluh setelahnya, kemudian dilanjutkan lagi dengan kehadiran Lucy Walker di Matterhorn pada tahun 1871 atau enam puluh tiga tahun sejak prestasi monumental yang ditorehkan Paradis. Roda sejarah dan catatan mengenai perempuan dan langkah signifikan mereka dalam mountaineering kian berlanjut.

Di sini kita akan menguraikan beberapa momentum yang cukup penting tentang perkembangan masuknya seorang perempuan dalam dunia pendakian gunung secara profesional. Momen-momen ini beserta profil pendaki perempuan di dalamnya akan membuat kita semakin faham bahwa butuh proses dan waktu yang cukup lama hingga seorang wanita dapat benar-benar bisa bersanding dengan pria dalam urusan pencapaian mountaineering.

Timeline Sejarah Hadir dan Eksisnya Sosok Perempuan Dalam Aktivitas Mountaineering

1890 – Fay Fuller di Puncak Mount Rainer

Fay Fuller (Wikipedia)

Tanggal 10 Agustus 18902.1, Fay Fuller, seorang guru sekolah sekaligus wartawan di Amerika berhasil mencapai Puncak Gunung Rainer (4.392 mdpl) yang merupakan puncak tertinggi di negara bagian Washington. Seperti halnya Lucy Walker di Matterhorn dan Marie Paradis di Mont Blanc, Fay Fuller saat itu juga menjadi sosok kali pertamanya seorang perempuan berhasil mencapai Gunung Rainer.

Sebelumnya pada tahun 1887, Fay pernah mencoba keberuntungan pertamanya di Rainer, namun gagal karena berbagai kendala dan terpaksa berhenti pada ketinggian 2.600 meter. Saat itu Fay Fuller bertekad untuk kembali lagi ke Gunung Rainer suatu saat dan mencapai puncak tertingginya.

Tekad Fay ini terbayar kemudian ketika tahun 1890 ia diundang oleh salah seorang pendaki Amerika bernama Van Trump untuk kembali mendaki Mount Rainer. Sore hari tanggal 10 Agustus, ia dan timnya mencapai Columbia Crest yang merupakan bagian tertinggi dari Gunung Rainer.

Untuk menegaskan pencapaian seorang perempuan di Puncak Mount Rainer saat itu, pada rute pendakian Fay Fuller meninggalkan jepit rambutnya2.2. Jepit rambut Fay ini kemudian ditemukan oleh tim berikutnya yang melakukan summit push. Pristiwa ini kemudian memunculkan candaan sekaligus penegasan bahwa Puncak Rainer ‘benar-benar’ telah ditaklukkan oleh seorang wanita.

1908 – Annie Smith Peck di Puncak Utara Huascaran

Annie Smith Peck (Manchester University Press)

Bersama dengan Fay Fuller, Annie Smith Peck juga adalah anggota dari American Alpine Club. Dan dalam sejarah mountaineering Amerika dan dunia, keduanya juga memiliki kontribusi cukup besar sebagai bagian dari proses semakin intensnya seorang perempuan masuk dalam aktivitas pendakian gunung secara profesional.

Sebelum berhasil mencapai North Peak Huascaran di Peru yang memiliki ketinggian 6.768 meter, Annie Peck sudah banyak membukukan pendakian lain yang cukup monumental sejak tahun 1895-an.

Annie Peck misalnya telah berhasil mencapai puncak Gunung Pico de Orizaba di Meksiko (5.610 mdpl) pada tahun 1897 yang membuatnya menjadi pendaki wanita pertama yang berhasil mencapai ketinggian tersebut. Selanjutnya Annie Peck kembali membuat banyak pendakian lain, misalnya di Monte Cristallo, Italia, Jungfrau di Swiss, dan Fünfingerspitze di Austria.

Hal menarik mengenai pendakian Annie Peck yang erat kaitannya dengan jati dirinya sebagai seorang wanita adalah ketika ia mencoba mengikuti jejak Lucy Walker mencapai Puncak Matterhorn pada tahun 1895. Annie Peck gagal mencapai Matterhorn, bahkan kehadirannya juga ikut menyulut perdebatan tentang seberapa penting dan untuk tujuan apa sebenarnya seorang perempuan mendaki gunung.

Perdebatan itu dipicu oleh busana yang dikenakan Annie Peck saat melakukan pendakian. Peck menggunakan baju tunik sepanjang pinggul, sepatu boot tinggi, celana rajut, dan juga topi tinggi dengan kerudung. Busana pendakian Anni Peck menarik perhatian media kemudian memunculkan debat publik yang cukup pelik.

Kasus Annie Peck adalah salah satu contoh perjuangan kaum perempuan untuk bisa ikut berpartisipasi dalam sebuah bidang yang didominasi oleh kaum laki-laki. Sosok perempuan dengan segala dandanannya yang terkesan ribet, telah memunculkan sebuah pertanyaan dalam masyarakat luas; Untuk apa seorang perempuan, mau jadi apa mereka, dan apa yang mereka cari, dengan melakukan aktivitas pendakian gunung.

1906 – Fanny Bullock Workman di Pinnacle Peak

Fanny Bullock Workman (Amazon.com)

Dengan determinasi dan jejaknya yang luar biasa dalam bidang mountaineering dan explorasi, Fanny Bullock Workman adalah sosok penting terkait pioneering seorang wanita dalam mountaineering. Ia adalah salah satu pendaki wanita awal dalam sejarah yang mencapai cukup banyak gunung-gunung populer, terutama di Himalaya.

Akan tetapi di antara sekian banyak puncak gunung yang berhasil dijelajahi oleh Fanny, Pinnacle Peak yang memiliki ketinggian 6.930 meter adalah pencapaian tertingginya. Pinnacle Peak berhasil dicapai oleh Fanny pada tahun 1906, saat ia sudah berusia 47 tahun. Pada masa itu, pencapaian Fanny di Pinnacle Peak adalah rekor baru ketinggian yang berhasil dicapai oleh seorang wanita.

Dua tahun kemudian, ketika Annie Smith Peck mencapai Puncak Utara Huascaran di Peru, Annie mengklaim bahwa ia telah mencapai ketinggian 7.000 meter, yang artinya rekor Fanny Bullock Workman telah dipatahkan.

Akan tetapi, Fanny Workman yang meyakini bahwa Huascaran tidaklah memiliki ketinggian seperti yang diklaim Annie Peck, kemudian menantang Annie untuk mengukur ulang ketinggian Huascaran dengan membayar jasa insinyur. Dengan kekayaannya yang melimpah, Fanny Workman kemudian membayar $13.000 beberapa insinyur dari Perancis untuk berangkat ke Peru dan mengukur ketinggian North Peak Huascaran secara lebih detail dan teliti.

Pegunungan Nun Kun, tempat Fanny banyak melakukan pendakian (caingram)

Hasilnya? Berdasarkan data yang diperoleh tim Service Géographique de l’Armée, ketinggian Huascaran North Peak terverifikasi pada angka 6.768 meter. Angka ini kemudian mengeliminir klaim Annie Peck, sekaligus juga memperkokoh rekor dan klaim yang dipegang oleh Fanny Workman. Akan tetapi, bagaimana pun juga keduanya telah membuktikan satu hal pada publik, bahwa seorang wanita juga pada dasarnya memiliki kemampuan dan potensi yang sama dengan para pria di atas ketinggian gunung.

Dua hal lain yang perlu juga kita sampaikan mengenai Fanny Bullock Workman terkait dengan profil mountaineeringnya adalah;

  • Semangat dan tekadnya untuk mengalahkan (atau menyamai) para pria di atas gunung. Meskipun pada banyak segi ini dianggap terlalu ambisius dan naif2.3 namun paling tidak Fanny Workman telah meletakkan dasar emansipasi dunia mountaineering. Atau yang paling signifikan adalah bahwa Fanny Workman telah menuntut dan memperjuangkan pencatatan yang adil dan detail untuk pencapaian bagi seorang wanita.
  • Dengan reputasinya sebagai pendaki gunung, pe-sepeda jarak jauh, penulis, Fanny entah mengapa tetap konsisten dan konsekuen mempertahankan rok lebar dan tebalnya. Dengan rok lebar itu Fanny mecapai Puncak Pinnacle, bersepeda dan berkeliling dunia. Fanny Workman juga pernah berpose di atas Silver Throne Plateau sambil memegang sebuah koran bertuliskan ‘Votes for Woman’. Sebuah bukti sejarah lain yang menegaskan perjuangan Fanny Workman untuk mencapai kesetaraan antara wanita dan pria dalam dunia, khususnya dalam dunia  mountaineering dan penjelajahan.

1928-1932 – Mirriam O’Brien Underhill dan Alice Damesme di Matterhorn dan juga Aiguille du Grépon.

Mirriam O’Brien Underhill (National Geographic)

Upaya kaum hawa yang diwakili sosok Mirriam O’Brien untuk menancapkan ‘kemandirian’ mereka dalam dunia mountaineering atau pendakian gunung semakin menemui kemajuannya dengan populernya istilah Manless Climbing  yang diprakarsai oleh Mirriam. Manless Climbing atau pendakian tanpa laki-laki yang dipelopori oleh Mirriam adalah sebuah panggung yang berusaha ditunjukkannya kepada dunia bahwa para pendaki gunung wanita, juga mampu membuat pendakian signifikan di atas gunung tanpa harus dibantu oleh kaum pria.

Kata ‘tanpa laki-laki’ dalam istilah manless climbing adalah sebuah slogan yang menunjukkan bahwa semangat mereka2.4 dalam memanjat gunung dan tebing-tebing sama sekali tidak terikat dengan perasaan lemah dan gemulai mereka sebagai seorang wanita seperti yang umumnya dikenal pada masa itu. Dan secara spesifik ini sekaligus juga menunjukkan bahwa para perempuan pun bisa mencapai puncak gunung tanpa harus ditemani oleh laki-laki.

Mirriam O’Brien cukup banyak melakukan pendakian yang momumental sepanjang hidupnya. Tahun 1926 bulan Mei ia membuat rute first ascent di Torre Grande di Pegunungan Dolomites, Italia. Mirriam juga pernah melakukan pendakian traversing dari Aiguilles du Diable sampai Mont Blanc du Tacul bersama dengan beberapa pendaki pria, yang salah satunya adalah Robert. L. Underhill yang di kemudian menjadi suaminya sendiri.

Gunung lain yang pernah didaki oleh Mirriam misalnya adalah Jungfrau, Fisteraarhorn, Matterhorn dan Aiguille du Grépon. Namun terkait dengan misi sucinya untuk mendukung kemampuan para wanita di atas puncak gunung, pendakian Mirriam di Matterhorn dan di Aiguille di Grépon adalah yang paling populer.

Tahun 1929, bersama dengan pendaki perempuan dari Perancis bernama Alice Damesme, Mirriam O’Brien menyelesaikan pendakian gunung Aiguille du Grépon. Sementara pada tahun 1932 Mirriam kembali bermitra dengan Alice Damesme dan menyelesasikan pendakian Gunung Matterhorn. Baik di Matterhorn maupun Aiguille du Grépon, Mirriam-Alice benar-benar menerapkan istilah manless climbing. Semua proses pendakian dilakukan oleh wanita, sama sekali tidak ada campur tangan dari pendaki pria lainnya.

Alice Damesme & Mirriam O’Brien Underhill (Twitter)

Untuk mempertegas semangat emansipasi Mirriam O’Brien di atas tebing, ia kemudian juga menulis sebuah essai yang populer hingga sekarang. Essai itu diberi judul oleh Mirriam dengan; Manless Alpine Climbing: The First Woman to Scale the Grépon, the Matterhorn and Other Famous Peaks Without Masculine Support.

Dari judulnya saja kita sudah dapat menarik kesimpulan tentang semangat dan tekad Mirriam untuk melepaskan diri dari bayang-bayang maskulinitas para pendaki pria di atas pegunungan.

1947 – Barbara Washburn di Puncak Gunung Denali

Barbara Washburn (The Boston Globe)

Berbeda halnya dengan Mirriam O’Brien atau Fanny Bullock Workman, Barbara sama sekali tidak berambisi untuk menjadi seorang pendaki perempuan perintis di Alaska. Meskipun demikian sejarah kemudian mencatat, Barbara Washburn menjadi pendaki gunung perempuan pertama di dunia yang menjelajahi pegunungan Alaska dan mencapai puncak tertinggi benua Amerika Utara. Namanya abadi sebagai salah satu lompatan keberhasilan seorang wanita di atas puncak sebuah gunung.

Tanggal 6 Juni 1947, Barbara Washburn berhasil mencapai Puncak Gunung Denali atau Mc Kinley di Alaska (6.190 meter). Dalam pencapaiannya ini, Barbara dapat kita katakan memiliki keterkaitan yang erat dengan anggota tim yang lain, yang kesemuanya adalah pria.

Selain itu, terjunnya Barbara Washburn dalam dunia mountaineering populer tak dapat pula dilepaskan dari pengaruh pernikahannya dengan Bradford Washburn, pendaki gunung populer Amerika pada masa itu. Selain mencapai Puncak Denali, Barbara juga pernah mencapai puncak Gunung Bertha dan Gunung Hayes yang semuanya ada di Alaska.

Secara pengaruh akan eksistensi kaum perempuan dalam mountaineering, harus kita akui nama Barbara Washburn tidak menyumbang terlalu banyak. Ia tidak seperti Mirriam O’Brien yang memang kukuh ingin mandiri dari pengaruh para pendaki pria. Atau tidak pula seperti Fanny Bullock Workman yang ingin mengalahkan pria di atas ketinggian gunung.

Barbara Washburn bersama suaminya di Puncak Denali (Boston.com)

Namun yang paling menarik dari Barbara justru adalah orisinalitasnya yang mempertahankan legitimasi kaum perempuan yang merupakan ‘makhluk yang secara fisik lebih lemah dari pria’. Pokok bahasan ini akan semakin menarik saat kita mengetahui bahwa pada saat mendaki Mount Bertha, Barbara sedang hamil tiga bulan. Sementara saat ia mencapai Puncak Denali pada tahun 1947, ketika itu ia adalah seorang ibu dari tiga orang anak kecil yang lucu.

Jadi pada profil Barbara Washburn ini kita menemukan sebuah kompleksitas eksistensi seorang wanita dalam tiga perannya sekaligus, yakni sebagai seorang isteri, sebagai seorang ibu, dan juga sebagai seorang pendaki gunung.

1952 – Jan Conn & Jane Showacre di Devils Tower

Devils Tower (National Park Service)

Pada kasus Jan Conn ini kita akan melihat bahwa ada sebuah pandangan menarik masyarakat awam tentang kehadiran seorang wanita dalam mountaineering dan rock climbing, yang pada perkembangannya menjadi api penyulut untuk membakar semangat Jan Conn melakukan suatu hal yang membuktikan bahwa para pendaki perempuan juga sama bagusnya dengan para pendaki laki-laki.

Para pendaki gunung perempuan satu abad yang lalu, masih bertarung dengan persepsi publik tentang sosok mereka yang lemah dan memiliki ketergantungan kepada para pendaki gunung pria di atas ketinggian gunung dan tebing. Para pendaki perempuan dan pemanjat tebingnya juga seringkali diidentikkan dengan mahluk lemah yang lebih sering menjadi beban para pendaki pria dalam proses pendakian mereka. Anggapan dan kultur ini bagaimana pun juga harus kita akui, belum sepenuhnya hilang dalam masyarakat luas hingga sekarang. Kita dapat melihat eksistensi persepsi ini dari  tingkat yang paling sederhana sampai kepada hal yang lebih serius dan signifikan.

Kondisi seperti ini pula yang menjadi latar belakang mengapa Jan Conn berusaha untuk mematahkan persepsi publik terkait dengan pendakiannya di Devils Tower pada kisaran tahun 1950-an.

Sebelum memutuskan untuk memanjat Menara Iblis itu bersama dengan Jane Showacre, Jan Conn sudah pernah memuncaki Devils Tower bersama dengan suaminya sendiri, Herb Conn. Sebuah pertanyaan dari masyarakat pada suaminya yang muncul kemudian membuat tekad Jan Conn untuk mengulangi pendakiannya tanpa kehadiran seorang pendaki pria (manless).

Apakah kau menarik (haul up) perempuan itu hingga sampai di atas sana?”

Kata-kata haul up yang berarti menarik, menyeret, mengangkat ini jelas menunjukkan sebuah pandangan awam bahwa Jan Conn tidak memiliki kemampuan mandiri untuk memanjat Devils Tower. Dan untuk mencapai puncak tebing seperti itu, ia membutuhkan pendaki gunung pria2.5 dengan otot besar mereka untuk menyeret, mengangkat, dan menarik dirinya.

Jan Conn dan Jane Showacre sesaat sebelum mereka menaklukkan Devils Tower pada tahun 1952. Sumber foto: National Park Service

Berbekal semangat untuk membuktikan bahwa ia tak membutuhkan pendaki pria (manless) untuk mencapai Puncak Devils Tower, maka pada tanggal 16 Juli 1952, Jan Conn bersama dengan Jane Showacre memanjat gunung karang setinggi 386 meter itu selama enam jam tanpa bantuan seorang pendaki pria mana pun. Dan itu adalah jawaban yang ingin ditunjukkan oleh Jan Conn untuk pertanyaan yang merasa sangsi dengan kemampuan para pemanjat tebing wanita.

Namun beberapa saat setelah turun dari Devils Tower, sebuah komentar lain dari masyarakat membuat Jan Conn dan Jane Showacre hanya bisa tersenyum getir.

“Mendaki gunung itupastinya tidak begitu sulit, sehingga merekabisa melakukannya..”

Bagaimana pun juga, upaya pembuktian bahwa pendaki gunung pria dan pendaki gunung wanita harus dipandang setara, adalah perjuangan yang panjang dan tidak mudah. Karena akan tetap ada masyarakat yang memandang lemah wanita, walaupun mereka telah membuktikan kapabilitas dan kemampuan mereka yang luar biasa.

1953 – Gwen Marry Moffat, pemandu gunung wanita pertama yang bersertifikasi

Gwen Moffat (The Crow Diaries)

Gwen Marry Moffat atau kadang disebut juga dengan Gwen Goddard Moffat adalah seorang petualang, pendaki gunung, sekaligus seorang novelis populer dari Inggris. Pada masanya, Gwen banyak menghabiskan hari-hari petualanganya dengan mengadopsi gaya Bohemian lifestyle.

Gwen Moffat mengenal dunia pendakian gunung dari seseorang yang mengajarinya memanjat tebing setelah ia keluar dari pekerjaannya sebagai sopir di Angkatan Darat Auxiliary Territorial Service dan ditempatkan di Wales Utara.

Kemampuan memanjat tebing dan mendaki gunung Gwen Moffat kemudian diakui dengan diterbitkannya sebuah sertifikasi untuknya sebagai seorang pemandu resmi pendakian gunung atau mountaineering di Inggris. Dan ini adalah kali pertama di dunia, dimana seorang pendaki gunung perempuan diakui secara resmi kemampuan dan kapasitasnya sebagai pemandu pendakian gunung.

1964 – Daisy Voog menaklukkan Eiger North Face

Daisy Voog (kanan) saat memanjat Eiger North Face (Pinterest)

Pada tanggal 4 September 1964, Daisy Voog memperoleh ketenaran internasional setelah berhasil mencapai puncak Gunung Eiger melalui sisi utara yang sangat dramatis dan populer. Pendakian itu dilakukan Voog bersama dengan seorang pendaki pria bernama Werner Bittner.

Sebelum  kehadiran Daisy Voog, sudah ada beberapa pendaki gunung perempuan yang mencoba mendaki Eiger North Face, namun semuanya masih berakhir dengan kegagalan.

Selain di Eiger North Face, Daisy Voog juga diketahui pernah memanjat Marmolada, Monte Civetta, Piz Lasties, dan lain sebagainya. Namun untuk prestasi alpinenya, Eiger North Face adalah yang tertinggi. Bahkan dengan kesuksesannya itu, Daisy Voog pernah dijuluki sebagai Eiger Queen.

1965 – Yvette Vaucher menaklukkan Sisi Utara Matterhorn

Yvette Vaucher (One Hundred Mountains Blog)

Nama Yvette Vaucher mendapat cukup banyak porsi terkait dengan pioneeringnya dalam dunia petualangan ekstrim. Selain sebagai pendaki gunung perempuan pertama yang berhasil mencapai Puncak Matterhorn melalui sisi utara2.6, Yvette Vaucher juga adalah seorang perempuan Swiss pertama yang melakukan terjun payung dan base jumping. Sepanjang hidupnya tak kurang dari 100 kali lebih Yvette turun dari puncak gunung menggunakan parasut atau base jumping.

Pada tanggal 14 Juli 1965, Yvette Vaucher bersama dengan suaminya, Michel Vaucher, berhasil mencapai Puncak Matterhorn melalui sisi The North Face. Ini adalah pencapaian yang cukup outstanding, mengingat belum ada satu pun pendaki gunung perempuan sebelum Yvetter yang melakukannya.

Selain di Matterhorn, Yvette dan suaminya juga banyak melakukan pendakian penting, terutama di wilayah Pegunungan Alpen Eropa. Yvette pernah memanjat Piz Badile, Aiguille de Troillet, Aiguille du Dru, Eiger, Drei Zinnen, Grandes Jorasses dan juga Dent Blanche. Bahkan di Dent Blanche saat itu, pasangan Vaucher berhasil membuat first ascent.

1970 – Grace Hoeman memimpin tim perempuan di Gunung Denali

Grace Hoeman (kanan) dalam salah satu ekspedisinya (University of Alaska Anchorage)

Setelah kehadiran Barbara Washburn pada tahun 1947, Puncak Denali atau Mc Kinley kembali dikunjungi secara khusus oleh pendaki wanita yang tergabung dalam sebuah tim yang juga manless. Ikut dalam tim ini adalah Grace Hoeman sebagai kepala ekspedisi, kemudian Margaret Clark, Margaret Young, Faye Kerr, Dana Smith Isherwood, dan Arlene Blum. Keenam pendaki perempuan ini semuanya berhasil mencapai puncak dan turun dengan selamat.

Ekspedisi Denali yang dipimpin oleh Grace Hoeman ini adalah ekspedisi pertama yang dilakukan oleh para pendaki yang semua anggota timnya adalah wanita. Hal ini dapat kita katakan juga menjadi langkah estafet maju dari hal serupa yang pernah dilakukan oleh Jan Conn dan Jane Showacre di Devils Tower. Ekspedisi pendaki wanita ke Denali adalah sebuah upaya penegasan kemampuan dan emansipasi kaum perempuan di atas gunung.

Nama Arlene Blum yang ikut tergabung dalam tim  ini, akan semakin memperkuat pesan kepada dunia tentang kemampuan pendaki wanita di atas gunung-gunung, ketika pada tahun 1978 ia memimpin pendakian ekspedisi wanita menuju Puncak Annapurna di Himalaya.

1973: Sybille Hetchel dan Anne Marie Rizzi di Washington Column dan El Cap

Sybille Hetchel & Anne Marie Rizzi (Rei Co.op)

Setelah duet Jan Conn dan Jane Showacre, pemanjatan signifikan yang dilakukan oleh murni pendaki gunung wanita adalah yang dilakukan oleh Sybille Hetchel dan Anne Marie Rizzi di tebing raksasa Amerika Utara Washington Column, Yosemite. Keduanya memanjat tebing besar melalui rute yang biasa disebut sebagai South Face. Dan pada tahun yang sama, Sybille juga membukukan pendakian lain dengan memanjat rute Triple Direct di El Capitan bersama dengan Bev Johnson.

Baik di Washington Column, mau pun di El Capitan, semuanya adalah first all women ascent2.7. Yang semuanya tentu saja kian mempertegas kemampuan perempuan di atas tebing yang sama baiknya dengan kemampuan para pemanjat tebing laki-laki.

1974 – Vera Watson solo ascent di Aconcagua

Vera Watson (berdiri paling kiri)

Sebelum ikut berpartisipasi dalam ekspedisi yang dipimpin Arlene Blum ke Annapurna tahun 1978, empat tahun sebelumnya Vera Watson telah mencatatkan namanya dalam rekor sejarah mountaineering dunia sebagai pendaki perempuan pertama yang mencapai puncak Aconcagua di Amerika Selatan secara solo.

Vera Watson memiliki passion yang besar dalam mountaineering. Dan dia ingin sekali melihat perempuan memiliki prestasi besar dalam dunia yang mayoritas digeluti oleh kaum pria tersebut.

Untuk semangat dan tujuannya itu, Vera bekerja dan berjuang untuk mensukseskan ekspedisi Annapurna yang dipimpin oleh Arlene Blum pada tahun 1978. Ia menulis berbagai surat permohonan sponsor dan bantuan dana, karena ia memang seorang penulis yang memiliki perpustakaan labirin kata-kata yang indah. Ia juga mendesain poster dan brosur untuk dibagikan kepada masyarakat. Ia menulis berbagai artikel majalah, ia juga memasak, karena ia juga memiliki kemampuan mengagumkan untuk memasak bagi teman-teman, tim pendukung, dan lain sebagainya.

Keberhasilan solo ascent Vera Watson di Aconcagua adalah pencapaian monumental yang berhasil dibukukan oleh para pendaki wanita. Hal ini semakin memperkokoh kesan bahwa wanita juga mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya hanya mampu dikerjakan oleh para pria, khususnya dalam mountaineering.

Pendakian solo yang notabene dipenuhi dengan tekanan mental, kemandirian, dan juga determinasi mencapai puncak, berhasil dilewati oleh seorang pendaki wanita yang saat itu diwakili oleh nama Vera Watson.

1978 – Arlene Blum memimpin ekspedisi ke Annapurna

Arlene Blum (Los Angeles Time)

Untuk bisa mewujudkan cita-cita mereka ke Annapurna, Blum dan timnya bahkan harus menjual kaos yang bertuliskan “A Woman’s Place is on top”. Buku yang ditulis Blum pasca ekspedisinya ke Annapurna ini juga diberi judul  yang tak kalah menarik terkait konsistensinya memperjuangkan emansipasi perempuan dalam mountaineering, Blum memberi judul bukunya dengan; Annapurna: A Woman’s Place.

Ada sebelas anggota dalam ekspedisi Annapurna yang dipimpin oleh Blum ini. Dua pendaki yang berhasil mencapai puncak adalah Vera Komarkova dan Irene Miller. Sedangkan tim pemuncakan kedua yang beranggotakan Alison Chadwick Onyszkiewicz dan Vera Watson, hilang dan kemungkinan besar tewas selama usaha mereka mencapai puncak.

Meskipun kesebelas anggotanya adalah semuanya perempuan, namun pemuncakan yang dibukukan oleh Vera Komarkova dan Irene Miller tidak dapat dilepaskan dari peran serta dua orang pendaki gunung pria yang bertindak sebagai sherpa. Kedua orang sherpa ini adalah Mingma Tsering dan Chewang Ringjing.

Akan tetapi bagaimana pun juga, keberhasilan Arlene Blum dan timnya mengorganisasi pendakian menuju Puncak Annapurna I yang merupakan gunung ke-10 tertinggi dan gunung gunung nomor satu paling mematikan di dunia2.8, adalah sebuah pencapaian besar yang menjadi buah determinasi para pendaki gunung wanita.

Sebelum kedatangan tim Arlene Blum di Annapurna yang memiliki ketinggian 8.091 meter, belum ada satu pun pendaki wanita yang telah mengunjunginya, alih-alih berusaha untuk mencapai puncaknya.

1975 – Junko Tabei mencapai Puncak Everest

Selain tampil menjadi pendaki perempuan pertama di dunia yang berhasil mencapai puncak tertinggi bumi (Everest), Junko Tabei juga menjadi wanita pertama di dunia yang berhasil mencapai tujuh puncak tertinggi di tujuh benua (Sirkuit Seven Summit). Prestasinya ini telah menginspirasi banyak perempuan lain untuk melakukan hal serupa, atau bahkan meraih prestasi yang lebih tinggi lagi.

Jika Jan Conn ‘diperlakukan’ oleh pandangan awam yang menyatakan bahwa ia mungkin ditarik naik oleh pendaki pria hingga mencapai puncak Devils Tower, maka Junko Tabei pun pernah mendapat perlakuan yang sama dari para pendaki pria semasa ia belum membuat banyak prestasi. Beberapa pendaki pria bahkan menolak untuk mendaki bersama Tabei lantaran ia seorang perempuan yang dianggap lemah dan tak layak. Sementara yang lainnya malah menuduh keikutsertaan Tabei pada aktivitas pendakian hanyalah kedoknya untuk mencari seorang suami yang tangguh.

Description: Junko.jpg
Junko Tabei berdiri di Puncak Everest sebagai pendaki gunung wanita pertama yang mencapai tempat itu pada tahun 1975. Selain menjadi wanita pertama yang mencapai Puncak Everest, Junko juga tampil sebagai pendaki wanita pertama yang menyelesaikan sirkuit seven summit.Sumber foto: The New York Times

Diperlakukan seperti ini Junko Tabei pun bertekad untuk ‘menyingkirkan’ pemikiran rasis para pria itu. Ia membentuk Ladies Climbing Club (LCC). Dan salah satu motto LCC yang populer pada masa itu adalah Let’s go on an overseas expedition by ourselves, yang jelas-jelas menegaskan dan berusaha menginspirasi para pendaki gunung wanita untuk lepas dari bayang-bayang dominasi para pendaki gunung pria2.9.

Pada tahun yang sama ketika Junko berhasil mencapai Puncak Everest, legenda pendaki gunung wanita dari Polandia, Wanda Rutkiewicz, juga berhasil memimpin pendakian ke puncak Gasherbrum II dalam Polish Women’s Gasherbrum Expedition

Sementara itu di Amerika serikat, tiga pemanjat tebing perempuan yang terdiri dari Molly Higgin Bruce, Stephani Atwood, dan Laurie Wood berhasil membukukan pendakian di Diamons Long Peak, Colorado. Pendakian Molly dan kawan-kawan ini adalah fisrt all women’s ascent di gunung tersebut.

1986 – Wanda Rutkiewicz di Puncak K2

Wanda Rutkiemicz (NaTemat)

Sebenarnya ada empat wanita tahun 1986 yang berdiri di punggung K2 yang merupakan gunung delapan ribu meter paling sulit ditaklukkan di dunia. Selain nama Wanda Rutkiewicz dan Julie Tullis, juga ada nama Liliane Barrard dan Dobroslawa Miodowicz Wolf.

Sayangnya di antara empat nama yang populer ini, hanya Wanda Rutkiewicz yang berhasil  turun dengan selamat. Sementara yang lainnya, baik Julie Tullis, Liliane, dan juga Dobroslawa tewas dalam perjalanan turun dari Gunung K2 dengan berbagai cara.

Baik Julie Tullis, Wanda Rutkiewicz, maupun Liliane Barrard, mereka semua mencapai Puncak K2. Sedangkan Dobroslawa Miodowicz Wolf disebutkan tidak berhasil mencapai puncak lantaran kelelahan dan drop yang berlebihan. Selain nama Jullie Tullis, Liliane Barrard, dan Dobroslawa Miodowic, ada banyak pendaki gunung yang tewas di K2 pada tahun 1986 tersebut.

Tahun itu memang menjadi salah satu tahun dengan sejarah terkelam dan cuaca terganas di K2. Nama-nama populer semacam Renato Casarotto (pendaki besar Italia), Alan Rouse (Inggris), Wojciech Wróż, Tadeusz Piotrowski (Polandia) juga meregang nyawa di K2 dengan berbagai sebab dan cara. Setidaknya total ada 13 orang pendaki gunung yang tewas hanya dalam waktu sekitar dua bulan.

Meskipun demikian kehadiran empat pendaki wanita yang berhasil mencapai puncak di K2 semakin memperkokoh persepsi bahwa pendaki wanita sudah sama hebatnya dengan para pendaki gunung pria. Wanda, Tullis, Wolf dan juga Liliane telah menyampaikan pesan lantang kepada publik mountaineering dunia bahwa pendaki gunung wanita memiliki strata kemampuan yang sama dengan para pendaki gunung pria. Bahkan di gunung delapan ribu meter dengan reputasi paling sulit ditaklukkan sekali pun, mereka tetap bisa mencapai puncaknya.

Wanda Rutkiewicz (youtube)

Wanda mejadi pendaki gunung wanita pertama di dunia yang mencapai Puncak K2 kemudian turun dengan selamat. Wanda juga dengan segala ciri fisik yang ia miliki, telah melambangkan bahwa ia sama kuatnya dengan para pendaki pria. Bahkan jauh mengungguli pendaki pria rata-rata dalam beberapa bidang mungkin saja.

Dengan segala pencapaian dan dedikasi mountaineeringnya, tidak ada yang meragukan Wanda Rutkiewicz di atas gunung. Ia bersanding bersama nama-nama besar legenda Polandia seperti Jerzy Kukuczka dan Kryzstof Wielicki. Menurut penilaian Jim Curran2.10, Wanda Rutkiewicz adalah manifestasi sempurna dari gambaran umum para petualang dengan kontribusi signifikan dalam sejarah seperti yang dilukiskan oleh Chris Bonington dalam bukunya, Quest for Adventure.

“Mereka adalah para petualang yang memiliki sepasang mata yang menatap tajam dan jauh ke depan, ini mungkin saja terdengar klise, namun itu benar. Semua petualang yang saya temui dan saya wawancara memiliki sorot mata tajam yang menusuk, hampir bisa dibilang wajib memiliki sorot mata seperti itu sebagai gambaran dan kualitas. Hal lain mereka biasanya memiliki kesamaan tangan yang kuat secara alami, tangan yang kuat dan seringkali sebanding dengan ukuran tubuh mereka”2.11

Kita akan mengulas profil Wanda Rutkiewicz ini secara khusus pada bagian utama buku ini, karena selain terkenal dengan segala pencapaian mountaineeringnya, sosok Wanda juga gigih bertarung memperjuangkan eksistensi pendaki perempuan dalam dunia alpinisme dan mountaineering.

1990 – Kitty Calhoun di West Pillar Makalu, Lynn Hill mencapai grade 5.14a di Masse Critique, Cimaí, Perancis.

Kity Calhoun (Chicks climbing skies)

Sebelum mengukir sejarah dengan sukses mencapai Puncak Makalu melalui Pilar Barat (West Pillar), Kitty Calhoun sudah banyak membuat pendakian penting lainnya. Ia pernah mendaki Pirâmide, Alpamayo, dan Qitarahu di Peru. Calhoun juga adalah pendaki perempuan Amerika pertama yang mencapai Puncak Dhaulagiri di Nepal. Namun pretasi mountaineering tertingginya memang di West Pillar Makalu, salah satu rute teknis dengan kesulitan yang signifikan di gunung kelima tertinggi di dunia.

Pencapaian Calhoun ini semakin mengokohkan pesan bahwa pendaki gunung wanita memang memiliki kemampuan yang sama baiknya dengan para pendaki gunung pria. Rute Pilar Barat Makalu adalah rute teknis yang sangat tidak mudah. Calhoun selain bisa melewati rute itu dengan sukses, juga tampil menjadi wanita pertama yang mencapai Puncak Makalu.

Bulan Januari di tahun yang sama, Lynn Hill, legenda besar rock climbing asal Amerika berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Jean Babtiste Tribout2.12 untuk mendaki Masse Critique (5.14a) di Cimai, Perancis. Sebelumnya Tribout mengatakan bahwa rock climber wanita tidak akan pernah mampu menyelesaikan rute  Masse Cimai.

1993-1995 – Alison Jane Hargreaves mendaki solo, tanpa tabung oksigen, di Everest.

Alison Jane Hargreaves (Pinterest)

Nama Alison Jane Hargreaves adalah legenda dalam dunia pendakian gunung atau mountaineering. Tidak hanya karena pencapaiannya yang signifikan dan outstanding, namun juga karena Hargreaves yang juga sukses memainkan perannya sebagai seorang isteri dan ibu sekaligus.

Ini tentu saja menjadi sangat menarik untuk diperbincangkan, karena tentu saja tidak mudah dan tidak banyak yang mampu melakukannya. Salah satu bab buku ini ke depan akan membahas profil para pendaki gunung perempuan yang signifikan, Alison Hargreaves akan ada di antaranya.

Secara umum pencapaian terbesar Hargreaves adalah tahun 1995, tahun ketika ia berhasil mencapai Puncak Everest secara solo, tanpa sherpa, tanpa bantuan fix line dan juga tanpa tabung oksigen. Padahal saat itu, satu-satunya orang yang pernah melakukan hal serupa hanyalah Reinhold Messner, pendaki besar yang seringkali dianggap sebagai Dewa Gunung dari Italia.

Akan tetapi sebelum Hargreaves mengukir nama besarnya secara abadi dalam mahakarya di Everest, sebelumnya pada tahun 1993, ia telah berhasil menaklukkan enam tebing sisi utara paling mematikan dan populer di Eropa, atau yang lebih dikenal dengan Great North Face of the Alps. Selain berhasil menyapu semua tebing maut itu, Hargreaves juga melakukannya hanya dalam satu musim. Dan prestasi ini menempatkannya sebagai pendaki pertama di dunia yang berhasil melakukan hal tersebut.

Bahkan saat memanjat Eiger North Face, Alison Hargreaves saat itu sedang mengandung anak pertamanya dengan usia kandungan enam bulan. Kelak anak yang dikandungnya ini diberi nama Tom Ballard, dan ia mengikuti jejak ibunya dengan berhasil mendaki enam tebing utara Eropa secara solo dan dalam satu musim dingin. Menjadi orang pertama yang berhasil melakukan hal tersebut. Namun sayangnya ia hilang di Nanga Parbat pada bulan Maret 2019 lalu, saat ia dan pendaki gunung Italia, Daniele Nardi, diterjang avalanche yang kemudian menewaskan mereka berdua.

Description: 2.jpg
Tom Ballard (kiri), Alison Jane Hargreaves, Kate Ballard, dan sang ayah, Jim Ballard. Kemampuan Alison memerankan dirinya sebagai seorang isteri, sebagai seorang ibu, sekaligus juga sebagai seorang pendaki gunung, telah memantapkan sebuah sudut pandang baru tentang para petualang perempuan. Mereka adalah superwoman, peran yang mereka mainkan tidak akan pernah mampu dilakukan oleh pendaki pria mana pun.Sumber foto: dailymail.co.uk

Profil pencapaian Alison Hargreaves yang mengesankan, tidak hanya telah mengangkat namanya sendiri sebagai seorang legenda mountaineering, namun juga telah mendongkrak pamor para pendaki gunung wanita secara umum.

Dua prestasinya yang signifikan2.13 adalah prestasi orisinil yang belum ada satu pendaki lain yang mencapainya sebelum dia. Sementara di sisi yang lain, peran sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya, sebagai seorang isteri bagi suaminya, juga bisa dijalani Hargreaves dengan harmonis. Ia dalam hal ini, telah mewakili tokoh superwoman yang sebenarnya.

1994 – Lynn Hill di The Nose2.14, El Capitan.

Lynn Hill (Pinterest)

Nama Lynn Hill kembali menjadi bukti bahwa pendaki gunung wanita benar-benar bisa menyamai pria, bahkan melebihi mereka pada beberapa bidang. Tahun 1993 Lynn Hill memanjat The Nose dengan teknik free climbing2.15 dalam waktu empat hari secara solo. Prestasi ini membuat Lynn Hill menjadi rock climber pertama di dunia yang berhasil melakukan hal itu di The Nose.

Tidak cukup sampai di situ, setahun kemudian Lynn kembali membuat shock dunia rock climbing profesional dengan mengulangi pemanjatan free climbing di The Nose dalam waktu hanya 23 jam. Ini adalah sebuah rekor baru dimana The Nose diselesaikan dalam waktu kurang dari sehari. Dan hingga saat itu, catatan waktu yang dibuat Lynn Hill menjadi standar pendakian di The Nose, El Capitan.

Keberhasilan Lynn Hill ini adalah sebuah bukti signifikan lain yang memangkas persepsi publik bahwa rock climbing dan pendakian gunung adalah milik laki-laki. Dengan dua tahun berturut-turut menyelesaikan The Nose dan selalu membuat rekor, Lynn Hill memposisikan dirinya bahwa ia bahkan ‘lebih tangguh’ daripada pemanjat tebing pria pada umumnya.

2004 – Monica Kambic Mali & Tanja Grmovsek di Cerro Torre, Karen McNeil & Sue Nott di Cassin Ridge, Denali, Steph Davis di Free Rider

Monica Kambic Mali & Tanja Grmovsek (Injudje)

Pertengahan Januari tahun 2004, sebuah tim kecil dari Slovenia berangkat ke Patagonia untuk membuat pendakian-pendakian mengesankan di tempat itu. Empat anggota utama tim itu adalah Silvo Karo, Andrej Grmovsek, Monica Kambic Mali dan Tanja Grmovsek. Selain itu ada juga pendaki populer Austria bernama Thomas Huber yang ikut bergabung.

Di antara pendakian penting yang dibuat oleh tim pimpinan Silvo Karo itu,  yang patut menjadi catatan penting terkait dengan pendakian perempuan adalah rekor first all female ascent yang dibuat oleh Monica Kambic Mali dan Tanja Grmovsek di Cerro Torre.

Meskipun tiga tulang rusuk Monica patah dihantam sebuah longsoran es selama masa pendakian, namun mereka berhasil. Dan keberhasilan ini mencatatkan rekor bahwa untuk pertama kalinya Cerro Torre dipanjat oleh tim yang keseluruhan anggotanya perempuan.

Sementara itu pada penghujung tahun 2004, Susan Nott atau Sue Nott, bersama dengan salah satu pendaki lain asal Kanada bernama Karen McNeil berhasil mencapai Puncak Denali dengan menggunakan rute Cassin Ridge. Ini adalah first all women ascent untuk Cassin Ridge. Rute yang terkenal dengan tingkat kesulitannya itu dibuat oleh tim pimpinan maestro alpinis Italia, Ricardo Cassin, pada bulan Juli tahun 1961.

Sue Nott & Karen McNeil (UKC)

Setelah nama Lynn Hill yang berhasil membuat rekor di El Capitan dengan memanjat The Nose hanya dalam waktu 23 jam (kurang dari sehari). Maka pada tahun 2004, bulan Mei, giliran Steph Davis yang mengukir namanya di El Capitan dengan memanjat rute Free Rider hanya dalam waktu satu hari. Dengan bantuan seorang pendaki gunung Austria bernama Heinz Zak sebagai belayer, Steph Davis menyelesaikan rute sulit yang memiliki 38 pitches itu dengan  lancar.

Steph Davis (Daily Record)

Pada titik ini, kehadiran para pendaki gunung perempuan dalam mountaineering dan rock climbing sudah sangat intens, dan mungkin dapat disetarakan dengan laki-laki. Rute-rute sulit yang sebelumnya hanya dimonopoli oleh para alpinis pria, satu persatu mulai berhasil diselesaikan dengan baik oleh para pendaki gunung wanita.

Cerro Torre dengan Compressor Route, Gunung Denali atau McKinley dengan Cassin Ridge, dan El Capitan dengan Free Rider Route adalah ‘jalur-jalur maskulin’ yang sebelumnya hanya didominasi oleh laki-laki. Namun dengan kehadiran nama-nama seperti Monica Kambic Mali, Tanja Grmovsek, Karen McNeil, Sue Nott, dan juga Steph Davis, jalur itu tidak lagi menjadi milik eksklusif para pria. Sejarah pada akhirnya membuktikan, para pendaki gunung wanita dengan semangat dan determinasi yang persisten, juga mampu menyelesaikannya dengan gemilang.

2005 – Josune Bereziartu di Bimbaluna

Josune Bereziartu (Wikipedia)

Kemampuan rock climbing dan memanjat dinding gunung kaum perempuan semakin meningkat dan semakin baik. Pada satu kesempatan bahkan mereka mampu mengungguli para pria. Dan tahun 2005, giliran nama Josune Bereziartu dari Spanyol yang mewakili entitas kaum pendaki perempuan dengan berhasil menjadi orang pertama yang memanjat Bimbaluna, di Saint Loup, Swiss.

Bimbaluna sendiri adalah sebuah rute panjat tebing yang memiliki grade kesulitan pada angka 9a/9a+ atau 5.14d/5.15a. Saat rekor itu diciptakan oleh Josune, ini adalah ambang batas kemampuan kemampuan rock climber wanita.

Ia jatuh berkali-kali untuk mencoba, dan akhirnya ia berhasil mencatatkan sejarah. Josune telah menambah lagi bukti konkret kemampuan kaum perempuan dengan prestasi yang dicapainya.

2006 – Kit DesLauries turun dari puncak Seven Summit2.16 dengan ski

Kit Deslauriers sesaat sebelum meluncur dari puncak Everest (Pinterest)

Tahun 2015, National Geographic memilih petualang favoritnya (National Geographic Adventurer of the Year) untuk nama Kit DesLauries, seorang pendaki gunung dan atlit ski mountaineering yang berasal dari Amerika. Prestasi utama dari nama Kit DesLauries bahwa dia merupakan orang pertama di dunia yang turun dari tujuh puncak gunung tertinggi di tujuh benua (sirkuit seven summit) menggunakan papan luncur atau ski.

DesLauries memulai debut fenomenalnya ini pada tahun 2004 di McKinley, kemudian berlanjut di Elbrus, Kosciuszko, Vinson Massif dan Aconcagua pada tahun 2005. Kemudian tahun 2006 ia meneruskan ekspedisinya di Kilimanjaro. Dan selanjutnya pada bulan Oktober 2006, ia mendaki Everest, mencapai puncaknya, dan kemudian turun dari gunung tertinggi di muka bumi itu dengan papan ski kesayangannya.

Dengan menjadi orang pertama yang melakukan hal ini, DesLauries selain menempatkan namanya sendiri sebagai salah satu pendaki gunung revolusioner dan inovatif, juga telah mengangkat lebih tinggi pamor para pendaki perempuan dalam kancah dunia petualangan dan olahraga ekstrim profesional.

2011 – Gerlinde Kaltenbrunner di 14 puncak 8.000 meter tanpa tabung oksigen.

Description: e_393d259b58.jpeg
Gerlinde Kaltenbrunner dengan segala pesona dan kemampuannya telah membuat banyak pria jatuh cinta, Andrew Locke bukan satu-satu pendaki pria yang menyimpan kekaguman pada Gerlinde. Sumber foto: Yacht

“Juga, di base camp kami adalah Gerlinde Kaltenbrunner, seorang perempuan Austria yang berbagi izin mendaki dan infrstuktrur base camp. Dia tiba dengan seorang teman pendaki Italia. Mereka akan mendaki puncak beberapa minggu kemudian, dan Gerlinde akan melanjutkan menjadi salah satu pendaki gunung 8.000 meter terkemuka di dunia. Kini, dia telah mendaki ke-semua 14 puncak gunung setinggi 8.000 meter, wanita kedua di dunia yang melakukannya, tapi ia melakukannya dengan gaya yang lebih baik daripada pendaki yang pertama. Dia mungkin adalah pendaki puncak ketinggian wanita paling kuat di dunia, bersedia mendaki rute yang sangat teknis, membawa muatannya sendiri, dan juga membuka jalan. Dia juga sangat cantik dan mempunyai kepribadian yang mengagumkan, jadi tentu saja aku jatuh cinta kepadanya…”2.17

Itu adalah kalimat pujian sekaligus pengakuan yang disampaikan oleh Andrew Lock dalam bukunya Di Puncak 8.000. Andrew Lock sendiri adalah pendaki terbesar dari Austria yang berhasil menjadi salah satu dari sangat sedikit orang di dunia yang mencapai empat belas puncak delapan ribu meter dan turun dengan selamat. Dalam catatan sejarah mountaineering Australia, dapat dikatakan bahwa Andrew adalah pendaki gunung terbesar mereka. Prestasi dan konsistensinya dalam pendakian gunung bergaya tradisional sangat mengagumkan.

Saya akan menutup fase timeline sejarah kehadiran dan eksistensi pendaki gunung perempuan ini pada nama Gerlinde Kaltenbrunner, karena menurut penilaian saya, apa yang ia capai dalam dunia pendakian gunung adalah prestasi puncak mountaineering, tidak ada lagi pencapaian lebih tinggi dalam jagad pendakian gunung dunia selain apa yang telah dicapai oleh Gerlinde Kaltenbrunner tersebut.

Gerlinde Kaltenbrunner seperti yang disampaikan oleh Andrew Locke sebelumnya, adalah seorang pendaki gunung Austria yang menjadi pendaki gunung perempuan kedua yang berhasil mendaki empat belas puncak gunung di atas delapan ribu meter.

Wanita pertama yang mencapai prestasi ini adalah Edurne Pasaban, seorang pendaki gunung dari Spanyol yang juga sangat berprestasi. Hanya saja yang membedakan antara Edurne Pasaban dan Gerlinde Kaltenbrunner adalah pilihan cara mendaki mereka.

Ketika Pasaban memilih untuk menggunakan tabung oksigen dalam pendakiannya di Everest, Gerlinde Kaltenbrunner justru tidak pernah menyentuh tabung oksigen dalam setiap ekspedisinya. Dan ketika Pasaban lebih sering menggunakan jalur reguler yang normal untuk mencapai puncak gunung dalam daftar pendakiannya, maka Gerlinde lebih prioritas menggunakan jalur yang lebih sulit secara teknis dan penuh tantangan.

Karena itu pulalah kemudian, jika Edurne Pasaban menjadi perempuan pertama di dunia yang mencapai empat belas puncak di atas delapan ribu meter2.18, maka Gerlinde Kaltenbrunner menjadi wanita pertama yang mencapai prestasi itu tanpa menggunakan support tabung oksigen. Dan itu dalam dunia mountaineering profesional dan tradisional, umumnya dianggap lebih baik.

Description: 01_IMG_0918M.jpg
Gerlinde Kaltenbrunner berdiri di Puncak Gunung K2 pada tahun 2011, tahun itu ia secara resmi masuk sebagai anggota klub elit Fourteen Eight Thousanders. Gunung K2 adalah gunung delapan ribu meter yang paling sulit bagi Gerlinde, enam kali percobaannya gagal di gunung ini. Gerlinde berhasil pada upaya keempat melaui rute Pilar Utara, sisi China. Sumber foto: National Geographic

Keberhasilan Gerlinde ini telah memantapkan sebuah persepsi umum di mata publik mountaineering secara umum, bahwa pada tingkatan profesional, tidak ada lagi perbedaan antara pendaki gunung perempuan dengan pendaki gunung laki-laki. Bahwa pendaki gunung perempuan memiliki determinasi dan kemampuan fisik yang sama kuatnya dengan pendaki gunung laki-laki. Dan mereka pun mampu mencapai prestasi tertinggi dalam mountaineering yang selama ini hanya dimiliki laki-laki.

Setelah nama Gerlinde Kaltenbrunner tentu jika dilanjutkan masih akan panjang daftar lanjutan tentang pencapaian prestasi mountaineering kaum perempuan ini. Nama-nama seperti Melisha Arnot, Kinga Baranowska, Hilaree O-Neil, dan lain sebagainya. Bahkan dari dunia sport climbing dan rock climbing, nama seperti Sasha Digiulian, Ashima Shiraishi, Alex Puccio, Margo Hayes, dan yang lainnya selalu mengukir prestasi dan pencapaian baru yang monumental.

Jadi sekali lagi, pada titik ini dan pada masa sekarang ini, kita dapat melihat kesetaraan yang kentara antara kesempatan dan prestasi yang ditorehkan oleh para pendaki gunung pria, dengan prestasi dan kesempatan yang kemudian diukir oleh para pendaki gunung wanita.

Artikel dikutip dari buku mountaineering populer karya Anton Sujrwo yang berjudul DEWI GUNUNG. Anda juga bisa mendapatkan buku-buku Anton Sujarwo lainnya melalui tautan di bawah ini:

Dapatkan buku mountaineering terbaik disini

Footnote:

  1. Sembilan belas tahun setelah Lucy Walker di Puncak Matterhorn.
  2. Entah apa ini sengaja atau tidak.
  3. Fanny banyak dikomentari sebagai pendaki gunung yang lamban.
  4. Para pendaki wanita yang diwakili Mirriam O’Brien.
  5. Herb Conn, suaminya sendiri.
  6. Sisi Utara Matterhorn secara teknis jauh lebih sulit dan menantang daripada sisi normal yang sebelumnya pernah digunakan oleh Lucy Walker. Jadi pencapaian Yvette Vaucher adalah lompatan tingkatan selanjutnya dari kemampuan pendaki gunung perempuan di Matterhorn.
  7. Pendakian pertama yang dilakukan oleh seorang wanita, atau semua anggota ekspedisinya wanita.
  8. Annapurna 1 adalah gunung dengan tingkat kematian tertinggi di dunia, angka risiko kematian di gunung ini mencapai 34%. Artinya ada 34 orang yang mati dari 100 orang yang berhasil mencapai puncak. Di belakang Annapurna 1, ada K2 dan Nanga Parbat yang juga sama mematikannya.
  9. Penulis buku K2, Triump and Tragedy, filmmaker dan fotografer mountaineering.
  10. Jim Curran: K2, Triump and Tragedy. Bab I, Halaman 35
  11. Jean Babtiste Tribout atau J.B. Tribout adalah pemanjat tebing asal Perancis yang membuat banyak rekor kejuaraan dalam kompetisi rock climbing. Rute Masse Critique adalah salah satu mahakarya first ascent yang dibuat Tribout.
  12. Menyelesaikan enam tebing sisi utara Eropa secara solo dalam satu musim, dan mendaki Puncak Everest secara solo tanpa sherpa dan tanpa tabung oksigen.The Nose adalah sebuah rute teknis orisinil yang dianggap sebagai salah satu yang tersulit untuk dipanjat, terletak di Lembah Yosemite, California. First ascent tebing ini pada tahun 1958 oleh Warren Harding, Wayne Merry, dan George Whitmore, mereka menyelesaikan dalam waktu 47 hari.
  13. Free climbing adalah sebuah teknik panjat tebing dimana pemanjat hanya menggunakan peralatan sebagai perlindungan jatuh, bukan alat bantu naik.
  14. Sirkuit Seven Summits versi Dick Bass atau Richard Bass dengan memilih Gunung Kosciuszko di Australia sebagai perwakilan benua Austranesia.
  15. Andrew Locke: Di Puncak 8.000, Bab: Tujuan Yang Lebih Tinggi
  16. Selain nama Edurne Pasaban perlu juga untuk disinggung nama Oh Eun Sun, pendaki gunung wanita asal Korea Selatan yang sama tangguhnya dengan Pasaban. Eun Sun dan Pasaban populer dengan kontroversi mereka tentang siapa wanita pertama yang berhasil mencapai empat belas puncak delapan ribu meter. Setelah berbagai polemik, Pasaban memenangkan kontroversi ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: