PROFIL PENDAKI PEREMPUAN PERTAMA DI PUNCAK GUNUNG TERSULIT DI DUNIA

Beban yang lebih berat dalam ransel yang saya bawa adalah sebuah harga dari kemerdekaan.

Wanda Rutkiewicz
Wanda Rutkiewicz (spolzs.iq.pl)

Jika Junko Tabei menjadi salah satu pendaki gunung perempuan paling berpengaruh dan visioner di dunia karena terinspirasi dari perlakuan para pendaki pria kepadanya sewaktu bergabung dengan klub alpine di kampus universitas, maka Wanda Rutkiewicz juga mengalami masalah yang sama. Hanya saja Wanda memiliki sejarah perlakuan yang berbeda, yakni ketika ia mendaki bersama para pendaki pria di Pegunungan Tatras, dan juga saat pendakiannya di Annapurna yang dianggap tidak mencapai puncak lantaran ia wanita. Perlakuan inilah kemudian yang ikut memotivasi seorang Wanda Rutkiewicz untuk terjun secara lebih independen dalam gaya mountaineeringnya.

Profil Wanda Rutkiewicz dan Perkenalannya Dengan Mountaineering

Wanda Rutkiewicz lahir di Kota Plungé, Lithuania, pada tanggal 02 atau 04 Februari 1943.86.1 Plungé sendiri adalah sebuah kota di Lithuania yang merupakan salah satu penghasil makanan dari kepiting yang wilayah ekspornya ke seluruh Eropa. Keluarga Wanda memilih untuk pindah ke Polandia pasca perang dunia ke-2. Di Polandia mereka pindah ke Wroclaw yang merupakan salah satu kota besar Polandia yang terletak di bagian barat.

Di kota ini juga kemudian Wanda menamatkan sekolahnya sebagai insinsyur listrik pada tahun 1965 di Wroclaw University of Technology.  Selepas sekolah Wanda segera bekerja sesuai dengan studinya di Instytut Automatyki Systemów Energetycznych. Akan tetapi tak lama kemudian, ia memutuskan untuk pindah ke Warsawa dan memilih bekerja di  Instytut Maszyn Matematycznych.

Perkenalan Wanda dengan mountaineering mungkin sudah sejak lama. Namun kisah paling populer perkenalannya dengan dunia pendakian gunung terjadi ketika ia berjumpa dengan Bogdan Jankowski pada tahun 1961. Saat itu wanda sedang mengendarai Junak86.2, di mana benda itu kehabisan bensin dan membuatnya terdampar di pinggir jalan.

Wanda segera mencari bantuan dengan melambaikan tangan kepada para pengendara lain yang lewat. Hingga kemudian berhentilah Bogdan Jankowski yang juga sedang mengendarai sepeda motor. Bogdan yang sudah mulai mendaki sejak dua tahun sebelumnya kemudian mengajak Wanda untuk mencoba mendaki di Falcon Mountains tak jauh dari sebuah desa bernama Janowice Wielkie. Dalam bahasa Polandia sendiri, Falcon Mountains disebut Gory Sokole. Dalam bahasa terjemahan yang lebih gampang, istilah ini lebih sering disebut sebagai Sokoliki.

Gory Sokole atau Sokoliki (winterclimb.com)

Pada masa-masa ini, selain mulai tertarik kepada mountaineering, Wanda juga menekuni  berbagai jenis olahraga yang lain. Ia bermain bola voli, berlari (atletik), menembak, lompat tinggi, lempar cakram, lempar lembing, dan juga balap mobil. Dilihat dari deretan olahraga pilihannya ini, sudah terlihat jiwa dan semangat Wanda nampaknya memang penuh dengan petualangan.

Pada tahun 1962 beberapa waktu setelah mencoba mendaki di Sokoliki, Wanda mulai serius menggeluti mountaineering dengan mengikuti kursus pendakian gunung di Pegunungan Tatras. Selama dalam kursus ini Wanda menunjukkan talentanya yang luar biasa. Bahkan saat itu berhasil menyelesaikan beberapa rute signifikan di Pegunungan Tatras seperti rute Wariant R, sebuah rute direttissima dari gunung Maly Kiezmarski Szczyt sisi bagian utara.

Dari Tatras, Wanda kemudian mulai melanjutkan perjalanan mountaineeringnya dengan merambah ke Pegunungan Alpen Eropa. Di Alpen, Wanda membuat banyak kemajuan dengan berhasil me-repeat rute-rute legendaris yang pernah diciptakan. Misalnya ia sukses menyelesaikan pendakian di Sisi Timur Aiguille du Grépon pada tahun 1967. Sementara pada tahun 1973, Wanda juga berhasil merepeat rute North Pillar Eiger. Pilar Utara Eiger sendiri dibuat pertamakali rutenya oleh Reinhold Messner.

Kemudian petualangannya di Alpen berlanjut lagi dengan berhasil memuncaki Matterhorn pada musim dingin tahun 1978. Bahkan pada saat itu, Wanda adalah satu-satunya pendaki gunung perempuan yang pertama kali berhasil mendaki Matterhorn pada musim dingin.

Matterhorn di musim dingin (Kevin&Amanda)

Ini kemudian menjadi semacam pengingat akan prestasi sepuluh tahun sebelumnya ketika ia berhasil mencapai puncak Trollryggen di Norwegia pada tahun 1968. Sisi yang dipanjat oleh Wanda di Trollryggen pada saat itu adalah East Pillar atau Pilar Timur, sebuah rute pendakian yang dianggap sebagai salah satu yang tersulit di Trollryggen.

Yang menjadikan pendakian Trollryggen dan Matterhorn menarik adalah karena Wanda Rutkiewicz berpartisipasi dalam tim yang keseluruhan pendakinya adalah wanita. Dan inilah kemudian yang menjadikan mengapa East Pillar Trollryggen pada tahun 1968 dan Matterhorn winter ascent tahun 1978 memberi predikat istimewa bagi Wanda Rutkiewicz sebagai momentum pendakian para perempuan.

Kekecewaan Wanda Rutkiewicz atas Diskriminasi dan Tekadnya Untuk Menjadi Pendaki Gunung Merdeka

Seperti halnya yang terjadi pada Junko Tabei, Wanda Rutkiewicz pun mengalami nasib yang sama. Memang sebelumnya karena talentanya yang sempurna dalam mountaineering, telah menarik banyak mata untuk memperhatikannya. Wanda didekati banyak orang yang terpikat dengan skill mountaineering yang dimilikinya. Agen intelijen komunis juga berusaha mendekati Wanda dan memanfaatkan keterampilan mendakinya sebagai media untuk menarik perhatian dunia.

Salah satu sosok populer yang juga kemudian nampak tertarik dengan Wanda adalah Andrzej Zawada, seorang pemimpin besar era emas dalam sejarah mountaineering Polandia. Zawada sendiri dapat dikatakan sebagai kunci dari pendakian musim dingin oleh para ksatria es Polandia di berbagai belahan dunia, terutama di Himalaya.

Melihat talenta Wanda yang memukau di atas gunung, Zawada kemudian mengundang Wanda untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah ekspedisi yang dipimpinnya di Pegunungan Pamir. Dan Wanda yang saat itu masih demikian antusias dengan penerimaan kehadirannya dalam mountaineering kemudian menerima undangan Zawada.

Di Pegunungan Pamir inilah kemudian ekspedisi besar seorang Wanda Rutkiewicz bermula. Namun pada sisi yang lain, di Pegunungan Pamir ini pula ia merasakan sebuah  kekecewaan mendalam yang selanjutnya mengubah prinsip hidup Wanda selamanya. Terutama dalam sepak terjangnya sebagai pendaki gunung wanita terbesar dari Polandia.

Selama menjalani ekspedisi sebagai pendaki gunung dalam kepemimpinan Andrzej Zawada di Pegunungan Pamir, Wanda menerima berbagai perlakuan diskriminasi yang membuat ia sakit hati. Statusnya sebagai seorang wanita seringkali membuat ia dinomorduakan dalam ekspedisi. Dan itu nampaknya benar-benar membuat Wanda terluka, sekaligus pada sudut hatinya yang terdalam telah memercikkan pula bara dendam untuk membalas semua perlakuan tersebut.

Andrzej Zawada (XXV Festival Gorski)

Wanda merasa tidak diperlakukan setara selama ekspedisi. Hak dan kewajibannya sebagai anggota ekspedisi seringkali mendapat batasan lantaran statusnya sebagai seorang wanita.

Namun demikian, sebelum kita lebih jauh menjatuhkan penilaian yang tendensius kepada ekspedisi yang dipimpin Zawada karena sudut pandang dari seorang Wanda Rutkiewicz, maka kita juga perlu melihat lebih jauh tentang kepribadian Wanda sendiri.  Bahwa sesungguhnya dalam banyak sumber dan penilaian, Wanda seringkali dianggap sebagai pribadi yang konfrontatif, rumit, membingungkan, sekaligus juga sangat berkompetisi.

Pendaki Gunung Tangguh Dengan Pribadi yang Rumit

Kepribadian Wanda Rutkiewicz seringkali digambarkan sebagai sosok yang rumit. Ia bukan tipe orang yang pandai menjaga hubungan dengan berbasa basi. Wanda adalah sebuah pribadi yang seringkali membuat orang-orang di sekelilingnya seolah merasa serba salah. Meskipun seorang perempuan, Wanda memiliki sifat yang keras dan sangat kuat. Bahkan pada beberapa sumber, Wanda Rutkiewicz juga digambarkan sebagai seseorang yang seringkali berusaha mendominasi dan otoriter.

Wanda dalam salah satu pendakiannya di Alpen. Kekecewaan dan rasa sakit selalu berhasil mengubah seseorang yang sebelumnya lembut menjadi bahkan dapat lebih keras dari baja. Wanda dalam hal ini, dapat kita asumsikan berubah dengan sangat drastis lantaran trauma kecewa dan luka pada masa lalunya. Sumber foto: https://wiadomosci.dziennik.pl

Pada dasarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan mengapa Wanda memiliki sifat yang untuk sebagian orang, tentu saja tidak menyenangkan. Selain perlakuan para pria selama ekspedisi pendakian gunung yang seakan memandangnya sebagai mahluk lemah tak berdaya, Wanda juga memiliki trauma masa lalu yang suram. Ayah Wanda tewas dalam sebuah pristiwa pembunuhan biadab yang membuatnya kemudian kehilangan kepercayaan pada banyak orang, termasuk pula pada orang-orang di sekelilingnya sendiri.

Wanda Rutkiwicz juga pernah mengalami dua kali kegagalan dalam berumah tangga. Para pria yang menjadi suaminya tidak dapat menyesuaikan diri dengan passion Wanda yang tinggi terhadap gunung. Selain itu sikap Wanda yang rumit mungkin juga menjadi bagian lain dari berbagai hal yang ikut andil menghancurkan rumah tangganya.

Namun demikian, kita juga tidak dapat tahu dengan pasti apa yang menjadi problem sesungguhnya dari dua kali perceraian dalam rumah tangga Wanda. Dari sudut pandang Wanda sendiri, apa yang sebenarnya ia keluhkan sehingga menjadi akar permasalahan awal perceraiannya juga tidak diketahui dengan pasti. Pengamat dan penulis beberapa kisahnya hanya memprediksi kemelut rumah tangga itu berdasarkan pengamatan mereka dari luar. Akan tetapi yang pasti dari semua ini adalah, bahwa kepercayaan Wanda terhadap mahkluk bernama pria atau laki-laki semakin menghilang bahkan habis, lantaran dua perceraian yang ia alami ini.

Dengan berbagai kejadian dan perlakuan yang mengecewakan hatinya, Wanda Rutkiewicz kemudian justru bangkit dengan tekad yang berkobar untuk membuat sejarah dengan gayanya sendiri. Ekspedisi pendakian gunung seperti yang ia ikuti di Pamir Mountains dibawah kepemimpinan Andrzej Zawada tak lebih dari sebuah cara sistematis pemerintah komunis Polandia untuk memberangus kemerdekaannya. Dan Wanda tak bisa menerimanya.

Pendakian gunung adalah sebuah kemerdekaan sejati dari jiwa manusia. Tidak ada yang dapat merampas hal itu dari dirinya. Dan ketika Wanda menemukan bahwa ekspedisi yang dijalankan oleh banyak pendaki gunung Polandia ditunggangi pula oleh kepentingan komunis yang tidak ia suka, maka Wanda kemudian berontak.

Ia mungkin tidak memiliki power untuk melawan semua kediktatoran itu, namun setidaknya ia bisa menentukan sikapnya sendiri dengan tidak mengikuti keinginan komunisme negaranya. Dan untuk itu, Wanda kemudian memilih gayanya sendiri dalam mountaineering. Ia memilih sebuah gaya yang mereflesikan betapa merdeka, bebas dan independen dirinya di atas gunung-gunung dunia.

Wanda Rutkiewicz dan 3 Rekor Prestisiusnya Setelah Memuncaki Everest

Wanda Rutkiewicz di Puncak Everest (Drytooling.com)

Wanda Rutkiewicz mulai tampil ke panggung mountaineering dunia ketika ia mulai masuk dalam pendakian di Himalaya. Namun sebelum benar-benar terjun dalam medan pendakian di Himalaya, pada tahun 1970 Wanda sudah mencapai pula Puncak Lenin di Rusia. Dua tahun setelah berdiri dengan bangga di Lenin Peak, Wanda juga berhasil mencapai Puncak Noshaq.

Namun di Himalaya, catatan pendakian signifikan yang dilakukan oleh Wanda belum terlihat sampai tahun 1975 ketika ia mendaki Gasherbrum III dan mencatatkan rekor sebagai pendaki perempuan pertama Polandia yang mencapai puncaknya. Gasherbrum III sendiri adalah sebuah gunung setinggi 7.952 meter yang terletak di wilayah Baltoro Muztagh Pegunungan Karakoram. Sebelum disebut Gasherbrum III, gunung ini dalam survey disebut sebagai Puncak K3a.

Namun bagaimana pun juga, Everest seringkali menjadi puncak popularitas seorang pendaki gunung yang menarik perhatian dunia. Dan bagi Wanda Rutkiewicz hal ini pun berlaku sama. Pada tahun 1978 perhatian dunia mountaineering global tertuju padanya ketika ia berhasil mencapai puncak tertinggi Himalaya itu sebagai perempuan ketiga yang berhasil melakukannya. Bahkan Paus John Paul II secara khusus memberi selamat dan ucapan keberkatan kepada Wanda dengan mengatakan “Good God’s will that same day we went so high”.

Lalu apa saja legitimasi yang berhasil ditorehkan oleh seorang Wanda Rutkiewicz dengan mencapai Puncak Everest saat itu? Setidaknya ada tiga hal utama yang membuat nama Wanda menjadi perbincangan dunia mountaineering setelah keberhasilannya ini. Tiga hal tersebut adalah;

  • Wanda Rutkiewicz menjadi wanita ketiga di dunia yang berhasil mencapai Puncak Everest

Sebelum Wanda sudah ada nama Junko Tabei dari Jepang yang mencapai Puncak Chomolungma sebagai wanita yang pertamakali berhasil melakukannya pada 16 Mei 1975. Junko pada saat itu berhasil mencapai puncak melalui sisi selatan dengan ditemani oleh seorang sherpa bernama Ang Tsering.

Setelah Junko, dari sisi utara tampil nama Phanthog atau Pan Duo dari China yang berhasil mencapai Puncak Everest pada tanggal 27 Mei 1975. Terpaut 12 hari dari Junko Tabei.

  • Wanda Rutkiewicz menjadi wanita Eropa pertama yang mencapai Puncak Everest.

Saat Wanda tampil sebagai pendaki gunung tinggi dunia, saat itu bisa dibilang sangat sedikit pendaki gunung Eropa yang mungkin mampu mensejajari langkahnya. Hanya ada beberapa nama yang cukup signifikan dalam era emas kehadiran Wanda, beberana nama tersebut antara lain adalah Alison Jane Hargreaves, Julie Tullis, Liliane Barrard, Ginette Harrison dan lain-lain.

  • Wanda Rutkiewicz menjadi wanita Polandia pertama yang mencapai Puncak Everest.

Pencapaian Wanda di Everest dari sisi popularitas sudah lebih dari cukup untuk membungkam orang-orang yang sebelumnya meremehkan dirinya. Para pendaki pria yang mungkin pada saat ekspedisi di Pegunungan Pamir dibawah kepemimpinan Andrzej Zawada memandang lemah Wanda hanya karena ia seorang wanita, sudah tidak dapat berkata apa-apa lagi melihat sepak terjang Wanda. Di Polandia, bahkan dunia, Wanda Rutkiewicz adalah salah satu pendaki wanita terbaik. Bahkan saat ini di Polandia sendiri, belum ada yang bisa menyamai prestasinya.

Caravans of the Dreams di Himalaya

Wanda Rutkiewicz di base camp K2 (pinterest)

Tahun 1985, Wanda memulai sebuah project untuk apa yang kemudian ia sebut sebagai Caravans of the Dreams, sebuah obsesi mendaki empat belas puncak gunung delapn ribu meter di Himalaya. Dengan Everest yang sudah ia kantongi, maka Wanda membutuhkan tiga belas puncak gunung tertinggi Himalaya lainnya untuk memenuhi obsesinya.

Setelah Everest, Wanda Rutkiewicz kemudian mencapai Puncak Nanga Parbat melalui sisi Diamir’s Face pada tahun 1985. Keistimewaan lain dari pencapaian Wanda di Killer Mountain86.3 ini adalah karena keseluruhan timnya adalah wanita.

Dari Nangat Parbat kemudian Caravans of the Dreams Wanda Rutkiewicz berlanjut ke K2, Shishapangma, Gasherbrum I (Hidden Peak), Gasherbrum II, Cho Oyu, Annapurna dan Kangchenjunga.

Dalam pencapaiannya yang signifikan ini, banyak catatan yang harus kita berikan dalam pendakian Wanda. Di K2 sendiri ia menjadi wanita pertama yang berhasil mencapai puncaknya dan kemudian turun dengan selamat. Dari sudut pandang popularitas, K2 memang kalah jauh dari Everest, namun jika dilihat dari faktor-faktor yang lebih substansial pembentuk semangat alpinisme dan mountaineering, maka K2 jauh lebih menantang daripada Everest.

K2 secara umum dianggap lebih sulit, lebih menantang, lebih mematikan dan lebih tidak ramah dibandingkan Everest. Bahkan pada tahun 1986 ketika Wanda Rutkiewicz mencapai Puncak K2 saat itu, setidaknya ada tiga belas pendaki lain yang kehilangan nyawa mereka. Dan para pendaki ini bukanlah pendaki amatiran, mereka semua adalah pendaki gunung terbaik dunia dengan tingkat pengalaman yang sangat signifikan. 13 nama yang tewas pada musim pendakian tahun 1986 tersebut adalah sebagai berikut:

  • John Smolich dan Alan Pennington dari American Expedition yang tewas pada 21 Juni 1986 karena dihantam longsoran.
  • Maurice Barrard dan Liliane Barrard dari Perancis yang menghilang setelah mencapai Puncak K2 pada tanggal 24 Juni 1986. Wanda Rutkiewicz sendiri ikut dalam ekspedisi yang diketuai oleh Maurice-Liliane Barrard ini di K2.
  • Tadeusz Piotrowski dari Polandia yang jatuh menuju kematiannya pada tanggal 10 Juli 1986 setelah sukses membuat pendakian first ascent bersama Jerzy Kukuczka melalui rute Polish Line.
  • Renato Casarotto dari Italia tewas masuk dalam ceruk es atau crevasse pada tanggal 16 Juli 1986. Sebelumnya Renato sudah tiga kali melakukan upaya pendakian solo menuju Puncak K2 melalui sebuah rute sangat teknis yang berada di bagian Punggungan Barat Daya.
  • Wojciech Wröz dari Polandia yang jatuh menuju kematiannya pada tanggal 3 atau 4 Agustus 1986. Wröz dan beberapa pendaki terkenal Polandia yang lain saat itu baru saja berhasil mencapai puncak melalui sisi barat daya yang sebelumnya telah membunuh Renato Casarotto.
  • Mohammed Ali dari Pakistan yang terbunuh pada tanggal 4 Agustus 1986 karena rockfall. Mohammed Ali adalah sirdar86.4 sekaligus porter gunung tinggi untuk ekspedisi Korea.
  • Julie Tullis dari Inggris tewas saat tidur di Camp 4 pada tanggal 7 Agustus 1986 setelah terjebak badai selama beberapa hari di sana. Tullis sendiri saat itu mendaki bersama dengan Kurt Diemberger dari Austria. Diemberger selamat dalam peristiwa ini.
  • Tanggal 10 Agustus 1986, dua pendaki dari Austria; Alfred Imitzer dan Hannes Wiezer tewas saat berusaha turun dari Camp 4 dalam suasana badai yang mengamuk. Al Rouse dari Inggris meninggal pada hari yang sama ketika ia terpaksa ditinggalkan dalam tendanya di Camp 4. Sementara itu Dobroslawa Mrufka Wolf dari Polandia hilang saat berupaya turun menuju Camp 3.
Wanda Rutkiewicz dengan latar belakang Gunung K2 (Gripped MagWanda Rutkiewicz duduk di base camp Gunung K2 pada ekspedisinya tahun 1986. Adalah sebuah keberuntungan yang sangat besar bagi Wanda bisa mencapai puncak dan turun dengan selamat di gunung kejam ini di saat 13 pendaki terbaik dunia lainnya meregang nyawa pada waktu yang sama. Sumber gambar: twitter.com

Selain mendapat gambaran lebih jelas tentang ketangguhan dan keberuntungan Wanda ketika mencapai puncak K2 dan kemudian berhasil turun dengan selamat. Pendakiannya di Savage Mountains ini juga perlu mendapat catatan kecil mengenai kepribadiannya yang sangat kompetitif dan jiwa merdekanya tak bisa ditawar.

Sebagian besar sumber penulisan saya untuk catatan tentang Wanda Rutkiewicz di K2 ini adalah tulisan Wanda sendiri yang sudah diterjemahkan oleh Jim Curran dalam bukunya; K2, Triump and Tragedy.

 Wanda setidaknya sudah tiga kali mencoba gunung K2 hingga tahun 1986 dimana ia kemudian berhasil mencapai puncak sebagai perempuan pertama di dunia yang berhasil melakukannya. Percobaan pertama dilakukan Wanda pada tahun 1982 ketika ia menjadi kepala ekspedisi untuk team  pendaki wanita gabungan Polandia-Perancis. Selanjutnya percobaan kedua dilakukan Wanda lagi pada tahun 1984 yang juga kesemua anggotanya adalah perempuan. Ekspedisi Wanda pada kali pertama dan kedua semuanya berbuah kegagalan.

Pada ekspedisinya yang ketiga ini, Wanda bergabung bersama sebuah tim kecil yang dipimpin oleh Maurice Barrard dari Perancis. Bersama dengan Maurice dan Wanda, ikut pula Liliane Barrard yang merupakan isteri Maurice sendiri, dan satu pendaki Perancis lainnya yang bernama Michel Parmentier.

Wanda seperti banyak pendaki gunung penganut gaya alpine style lainnya, lebih menyukai pendakian bersama sebuah tim kecil yang efektif dibandingkan sebuah ekspedisi besar yang lebih rumit dan kompleks. Karena Maurice dan Liliane adalah suami isteri, sudah barang tentu mereka kemudian berada dalam satu tenda.

Wanda pada situasi ini harus merelakan dirinya untuk berbagi tenda pula dengan Michel selama ekspedisi khususnya para hari-hari menuju puncak. Namun pada hari ketiga pendakian, Wanda mengalami masalah hubungan yang memburuk dengan Michel, dan oleh karenanya ia kemudian memutuskan untuk meminjam sebuah tenda kapasitas 2 person dari tim Inggris yang juga ada di K2 saat itu.

Yang paling menarik bagi saya dalam dalam melihat konflik hubungan Michel Parmentier dan Wanda Rutkiewicz ini adalah ketika Wanda menjelaskan alasannya dalam sebuah kalimat yang sangat berkesan terkait dengan tindakannya meminjam tenda kepada tim Inggris untuk menghindari tidur satu tenda dengan Michel Parmentier.

“Tiga tenda untuk empat orang sebenarnya terdengar terlalu berlebihan, namun beban yang lebih berat dalam ransel yang saya bawa adalah sebuah harga dari kemerdekaan..”

Ucapan Wanda ini jelas menunjukkan bahwa ia adalah seorang pendaki perempuan yang berbeda. Ia memiliki prinsip, dan akan teguh mempertahankan prinsipnya itu. Jika kemudian partnernya baik laki-laki mau pun perempuan tidak sejalan dengan prinsipnya tersebut, maka Wanda tidak segan-segan untuk mengambil sebuah opsi yang justru nampak mempartajam ketegangan hubungan yang ada.

Apa yang terjadi pada dirinya dan Michel Parementier, kemudian keputusannya untuk menanggung beban yang lebih berat berupa satu buah tenda tambahan dari tim Inggris merupakan cerminan betapa ia menjunjung kemerdekaan dan independensinya sendiri.

Wanda Rutkiewicz berdiri kedua dari kiri bersama para pendaki wanita Polandia lainnya pada ekspedisi K2 tahun 1982. Sumber foto:https://wspinanie.pl

 Wanda tidak mau didikte, dan ia juga tidak ingin terganggu dengan Michel. Jadi dari kejadian kecil di K2 ini saja pada dasarnya kita sudah dapat melihat betapa kuat dan kukuhnya prinsip independensi seorang Wanda Rutkiewicz. Kemerdekaan adalah sebuah nilai utama manusia dalam hidup, dan Wanda sangat memprioritaskannya.

Sekarang mungkin kita dapat lebih mengerti mengapa ia menolak bergabung dengan ekspedisi Polandia lain yang ia anggap sebagai upaya dari kediktatoran kemunisme untuk membelenggu kemerdekaan seorang pendaki gunung di atas tempat mereka bertualang. Bagi Wanda Rutkiewicz sekali lagi, kemerdekaan dalam mountaineering adalah sesuatu yang mutlak.

Selain K2, pendakian penting Wanda lainnya di gunung delapan ribu meter adalah di Gasherbrum I dan Gasherbrum II. Di dua gunung ini Wanda mencatatkan rekor sebagai all womens team. Sementara untuk pendakiannya di Cho Oyu dan juga Annapurna, Wanda melakukannya dari sisi selatan atau south face yang terkenal karena kesulitannya.

Terkait dengan obsesi mountaineering yang dikemas Wanda dalam tajuk Caravans of the Dreams ini juga merupakan sebuah pilihan yang menunjukkan determinasinya. Tahun 1986 ketika Wanda merumuskan Caravans of the Dreams, hanya ada satu pendaki gunung di dunia yang sudah berhasil menyelesaikan sirkuit pendakian fourteen eight thousanders. Dan pendaki gunung itu adalah Reinhold Messner. Setahun kemudian setelah Wanda memproklamirkan obsesinya untuk mengoleksi Mahkota Himalaya86.5, Jerzy Kukuczka menyusul prestasi Messner dengan menjadi runner up fourteen eight thousanders.

Kisah lengkap tentang Jerzy Kukuczka dan pendakiannya yang luar biasa dapat dibaca pada postingan sebelumnya: Kisah Terbunuhnya Pendaki Gunung Terbaik Dunia di Lhotse South Face

Selain menjadi wanita pertama di dunia yang menargetkan mendaki empat belas puncak gunung tertinggi di dunia, Wanda juga pendaki gunung awal bersama dengan nama-nama tenar seperti Kukuczka, Messner, Enhard Loretan, Carlos Carsolio dan lainnya yang mejadikan Mahkota Himalaya sebagai obsesi mereka.

Meski pun pada akhirnya langkah Wanda Rutkiewicz terhenti di Kangchenjunga dan ia gagal berada dalam barisan elit para pendaki puncak delapan ribu. Namun hal ini sama sekali tidak dapat menepis determinasi Wanda Rutkiewicz sebagai salah satu alpinis dan mountaineer wanita terbesar sepanjang sejarah.

Hilangnya Wanda Rutkiewicz di Kangchenjunga

Wanda di Kangchenjunga (Pinterest)

Tahun 1992 Wanda bergabung dalam sebuah ekspedisi kecil ke Kangchenjunga yang dipimpin oleh pendaki terbesar Meksiko bernama Carlos Carsolio. Ada dua kali percobaan mencapai puncak dalam ekspedisi ini namun upaya pertama gagal dan membuat kebanyakan para pendaki memilih mundur. Dan pada upaya yang kedua, tersisa dua pendaki paling kuat saja yang bertahan untuk tetap melakukan pemuncakan. Dan dua pendaki terkuat ini tak lain adalah Wanda Rutkiewicz dan Carlos Carsolio sendiri.

Karena sifatnya yang terkenal merdeka, Wanda dalam versi Carlos menolak untuk mendaki bersama karena merasa membebani Carlos. Carlos kemudian mendaki dan mencapai puncak seorang diri. Dalam perjalanan turun Carlos berjumpa kembali dengan Wanda yang dalam pengamatannya berada pada kondisi yang memprihatinkan. Wanda saat itu tidak memiliki tenda, sleeping bag, kompor, makanan atau bahkan air minum.

Carlos berusaha membujuk Wanda untuk turun dan membatalkan summit push-nya. Namun Wanda menolak ajakan Carlos dan memutuskan untuk terus mendaki dan berusaha mencapai puncak.

Menemukan Wanda yang sama sekali tidak bisa dibujuk turun, Carlos kemudian turun sendiri dan memutuskan untuk menunggu Wanda di Camp II. Dua hari tinggal di Camp II Wanda tak kunjung muncul yang kemudian membuat Carlos terpaksa melanjutkan turun ke base camp. Di Base Camp Kangchenjunga Carlos menunggu Wanda lagi namun Wanda tetap tak pernah muncul hingga saat ini.

Jejak pendakian Wanda Rutkiewicz bersama Carlos Carsolio dan detik-detik ia menghilang di Kangchenjunga ini saya tulis dengan panjang lebar dan sangat lengkap dalam sebuah bab khusus berjudul Badai Gunung Kesembilan dalam buku kelima saya; Maut di Gunung Tearakhir,  yang terbit bulan September 2019. Anda bisa membaca buku itu untuk mendapatkan kisah yang komprehensif mengenai sosok Wanda dan hilangnya ia di Kangchenjunga.

Pencapaian dan Warisan Wanda Rutkiewicz

Gunung delapan ribu meter:

  • Everest, 16 Oktober 1978
  • Nanga Parbat, 15 Agustus 1985.
  • K2, 23 Juni 1986.
  • Shisha Pangma, 18 September 1987.
  • Gasherbrum II, 12 Juli 1989.
  • Gasherbrum I, 16 Juli 1989.
  • Cho Oyu, 26 September 1991.
  • Annapurna, 22 Oktober 1991.

Gunung lainnya;

  • Route Variant R dari Dinding Timur Gunung Mnich di Tatras Mountain tahun 1964.
  • Sisi Utara Small Kiezmarkse Peak di Tatras Mountain, tahun 1964.
  • Dinding Barat Laut Hochfernerspitze di Zillertal pada 14 September 1964 bersama dengan Helmut Scharfeter.
  • Tanggul Barat Laut Olpherer di Zillertal tahun 1965 bersama dengan Scharfeter, dan dua lainnya.
  • North Face of Maly Kiezmarski Szczyt tahun 1973 rute direttissima.
  • Droga Ferenskiego di Mnich bersama Jan Franczuk pada musim dingin.
  • Mont Blanc pada tahun 1966.
  • Sisi Timur Aiguille du Grépon pada tahun 1967 bersama dengan Halina Kruger Syrokomska, first female ascent.
  • Bavarian Route, Dinding Utara Triglav, tahun 1971.
  • North Pillar of Eiger, first repeat, pada 19-22 Agustus 1973 bersama dengan Danuta Gellner-Wach dan Stefania Egierszdorff
  • North Face of Matterhorn pada tahun 1978, first female team ascent bersama dengan Anna Czerwinska, Krystyna Palmowska, dan Irena Kesa.
  • Bonatti Route di Sisi Timur Grand Capucin pada tanggal 15-16 Juli tahun 1979 bersama dengan Irena Kesowsna.
  • Pillar Timur Trollryggen tahun 1968 bersama dengan Halin Kruger Syrokomska, fisrt female ascent.
  • Lenin Peak tahun 1970.
  • Nozhaq Peak tahun 1972
  • Sisi Selatan Aconcagua tahun 1985 bersama dengan Stephane Schaffter, alpine style.
  • Upaya pendakian di Cerro Torre tahun 1988.

Buku yang Ditulis Wanda Rutkiewicz

  • Capture of Gasherbrum yang terbit pada tahun 1979
  • Na Jednej Linie yang terbit pada tahun 1986 dengan co author-nya Ewa Matuszewska.

Artikel ini dikutip dari buku berjudul DEWI GUNUNG karya Anton Sujawo.

Anda juga bisa memperoleh buku-buku mountaineering terbaik karya Anton Sujarwo melalui tautan yang ada di bawah ini.

Klik disini untuk koleksi buku-buku mountaineering dan petualangan terbaik

Footnote

  •   Wanda Rutkiewicz pada tanggal 02 Februari berdasarkan data dari Winterclimb. Sementara Wikipedia menyebutkan tangga 04 Februari 1943.
  •  Junak adalah merek motor buatan Polandia yang diproduksi oleh Szczecińska Fabryka Motocykli. Secara harfiah motor ini berarti ‘anak muda yang pemberani’. Junak adalah salah satu motor terberat Polandia, ia diproduksi pada kisaran antara Perang Dunia Ke 2 dan Revolusi Polandia pada tahun 1989.
  • Killer Mountain adalah sebutan lain dari Nanga Parbat.
  • Sirdar adalah kepala atau ketua tim porter atau di Himalaya lebih umum dikenal sebagai sherpa.
  •  Mahkota Himalaya atau Crown of Himalaya adalah istilah yang digunakan untuk menyebut empat belas puncak gunung tertinggi di dunia yang terletak di Karakoram dan Himalaya. Penulis membahas tema ini sangat lengkap dalam buku yang berjudul: Mahkota Himalaya, terbit bulan Desember 2018.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: