3 PERISTIWA PALING POPULER DALAM PENDAKIAN GUNUNG EVEREST ERA MODERN

Puncak masih tetap ada di sana, dan kita dapat kembali lagi di lain waktu, namun manusia hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup….

Daniel Mazur

Selain pristiwa first ascent oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay yang mahsyur dikisahkan, juga pristiwa hilangnya George Mallory dan Irvine Andrew yang menjadi awal dari misteri abadi kisah pendakian puncak Everest, masih terdapat beberapa kisah lain yang juga menarik perhatian dunia terjadi di gunung tertinggi Himalaya ini.

3 Kejadian Paling Populer di Gunung Everest Dalam Era Mountaineering Modern

(National Geographic)

Kematian David Sharp, penyelamatan Lincoln Hall, musibah 1996 yang merenggut nyawa dua guide populer Scott Fischer dan Rob Hall, konflik yang terjadi antara Sherpa dan tiga pendaki Eropa (Simone Moro, Ueli Steck, dan Jonathan Griffith), munculnya istilah sindrom anti-Everest berkenaan dengan komersialisasi pendakian, dan juga yang paling baru tentu saja kematian si Swiss Machine Ueli Steck di tebing Nuptse beberapa bulan yang lalu di tahun 2017, adalah sederet pristiwa-pristiwa di Everest yang menyedot begitu banyak perhatian dunia.

Di antara berbagai macam kisah yang terkenal di Everest itu, mungkin akan dibahas tiga saja di sini secara singkat sebagai penambah wawasan kita tentang beberapa kejadian paling fenomenal yang tidak dapat dipisahkan dari catatan sejarah Everest.

Terbunuhnya Rob Hall dan Scott Fischer Dalam Malapetaka 1996

Salah satu potret pendakian Everest dalam reportase National Geographic Society terkait musibah tahun 1996. Sumber foto: National Geographic Society

Musibah yang terjadi pada tahun 1996 ini adalah apa yang disebut banyak orang sebagai musibah buruk paling populer dalam sejarah pendakian gunung Everest. Buntut dari musibah ini tidak hanya menyeret banyak klarifikasi, sanggahan, serangan tertulis, kecaman, namun juga menyentuh ke hal yang lebih serius yakni merusak reputasi beberapa orang yang ikut mengambil peran dalam musibah tersebut.

Ada begitu banyak kisah mengenai kejadian ini yang ditulis dalam berbagai versi dan narasi yang berbeda. Beberapa di antaranya bahkan jelas nampak bertentangan dan saling serang. Dan salah satu bentuk dari upaya saling serang ini adalah tulisan John Krakauer dalam buku paling larisnya, Into Thin Air, yang di dalamnya memuat berbagai kecaman dan pelimpahan kesalahan kepada Anatoli Boukreev atas beberapa tindakannya yang menurut pandangan Krakauer tidak tepat.

Tidak terima dirinya dihujat sedemikian rupa dalam Into Thin Air, Boukreev pun menjawab semua tuduhan dan kecaman Krakauer dalam sebuah buku yang kemudian ia tulis bersama Gary Weston DeWalt berjudul The Climb: Tragic Ambition On Everest. Buku ini terbit pada tahun 1997.

Sementara itu Beck Weathers yang merupakan klien Rob Hall dalam musibah itu, yang sempat dikira tewas namun entah mengapa berhasil selamat, juga menulis sebuah buku yang berjudul Left For Dead: My Journey Home From Everest (terbit tahun 2000).

Di pihak yang lain, Lene Gammalgaard yang merupakan klien dari Scott Fischer, juga menulis sebuah buku yang tak kalah fenomenal, terjual hingga satu juta kopi berjudul Climbing High: A woman’s Account of Surviving the Everest Tragedy (terbit tahun 2000)

(Mark Horrell)

Pada musim pendakian 1996 setidaknya 15 orang kehilangan nyawa mereka pada waktu dan tempat yang beragam di Everest. Namun yang paling menggemparkan adalah apa yang terjadi pada tanggal 10 dan 11 Mei 1996 ketika lima orang pendaki tewas dalam satu hari. Dua di antara mereka adalah pemimpin ekspedisi yang populer, Rob Hall dari Adventure Consultant dan Scott Fischer dari Mountain Madness.

Ada banyak hasil analisa mengenai spekulasi penyebab dari musibah besar tahun 1996 ini. Mulai dari hal yang sifatnya objektif berupa hasil analisis Kent Moore (fisikawan) dan John L. Semple (ahli bedah), keduanya dari Universitas Toronto yang menyimpulkan telah terjadi sebuah cuaca ‘aneh dan tidak umum’ pada tanggl 11 Mei 1996 yang menyebabkan penurunan kadar oksigen yang cukup signifikan terutama pada tempat dengan ketinggian ekstrim seperti Everest.

Sementara beberapa pandangan lain menganggap penyebab musibah tersebut adalah manajemen waktu yang kurang tepat, kemacetan parah yang terjadi di Hillary Step, keputusan para pemimpin ekspedisi untuk mentolerir batas waktu jam 2 siang sebagai batasan terakhir meraih puncak, dan juga yang lebih buruk daripada itu, sebuah aroma persaingan dan gejolak kompetisi dalam komersialisasi Everest yang melibatkan Adventure Consultant dan Mountain Madness. Setidaknya John Krakauer adalah orang yang melontarkan pendapat ini dalam beberapa tulisannya di Into Thin Air.

Lebih jauh Krakauer menyoroti bahwa persaingan bisnis juga yang telah menyebabkan Rob Hall tidak menarik timnya turun ketika batas waktu pemuncakan jam 2 siang telah terlewati. Namun di sisi lain, Krakauer juga tidak menampik bahwa kehadirannya pada waktu itu sebagai salah satu jurnalis media arus utama mountaineering dan penjelajahan2.11 ikut pula memberi tekanan pada Rob Hall untuk membuat pendakian tersebut harus sukses dan mengesankan.

Simpang siur tentang musibah ini bahkan masih diperdebatkan hingga sekarang. Beberapa pendapat yang tampaknya ‘menyerang’ pribadi Fischer sebagai guide diselamatkan oleh banyak narasi Gene Gammelgaard dalam Climbing High.

Tim Mountain Madness pimpinan Scott Fischers (pinterest)
Tim Adventure Consultant pimpinan Rob Hall (LaReplica)

Hal lain yang juga mestinya pantas menjadi pertimbangan lain dalam kejadian ini saat ada upaya membandingkan antara Adventure Consultant dan Mountain Madness adalah komposisi tim mereka.

Tak dapat dipungkiri secara keseluruhan bahwa, tim yang dipimpin oleh Scott Fischer memiliki pengalaman gunung delapan ribu meter yang lebih baik daripada tim yang dibimbing oleh Rob Hall. Ini adalah aspek lain yang menurut beberapa sumber mengapa Mountain Madness meskipun kehilangan Fischer, guide sekaligus pemimpin ekspedisi mereka, namun tidak kehilangan satu klien pun.

Sementara Adventure Consultant, selain kehilangan Rob Hall dan Andy ‘Harold’ Harris yang merupakan pemandu tim, juga harus menderita lebih jauh dengan kehilangan dua klien mereka yang lain, Yasuko Namba dari Jepang, dan Doug Hansen si petugas pos dari Amerika.

Polemik dan Kontroversi Kematian David Sharp Tahun 2006

David Sharp, pendaki Inggris yang membuat heboh dunia mountaineering karena kemataiannya di Everest tahun 2006. Sumber foto: Mystery U

Catatan kedua dalam sejarah pendakian Everest yang cukup populer untuk diikut sertakan dalam buku ini adalah apa yang terjadi dengan seorang pendaki bernama David Sharp pada tahun 2006. David Sharp adalah sebuah nama milik seseorang yang bukan siapa-siapa, sekaligus nama terkenal yang tak dapat dihapus begitu saja dalam sejarah mountaineering Everest dan dunia.

David Sharp adalah seorang karyawan sebuah perusahaan teknik di Inggris. Mendaki gunung adalah salah satu hobi yang digelutinya di sela-sela liburan dan cuti dari pekerjaan. Sharp mendapat gelar dari Universitas Nottingham dan berencana untuk menjadi seorang guru setelah ekspedisi solonya di Everest tahun 2006.

Sebelum peristiwa yang membuat namanya mencuat menjadi salah satu kontoversi besar mountaineering, Sharp pernah mendaki di Cho Oyu, dan dua kali mencoba di Everest namun gagal. David Sharp dikenal sebagai salah satu pendaki yang cukup berbakat dan tampaknya mampu pula menyesuaikan dengan baik terhadap iklim lingkungan pegunungan. Selain itu Sharp juga dikenal karena selera humornya yang cukup bagus bagi orang-orang yang mengenalnya di base camp.

Nama David Sharp menjadi buah bibir media-media mountaineering dunia ketika pada pendakiannya yang ketiga di Everest, ia ditemukan tewas saat dalam perjalanan turun. Yang membuat Sharp terkenal setelah kematiannya adalah kontroversi yang terjadi ketika ia sekarat di punggung Everest dan dilewati oleh hampir 40 orang pendaki. Meski pun ada beberapa pendaki yang berupaya membantunya, namun mayoritas kesan yang ditimbulkan dari kematian Sharp adalah sebuah sikap masa bodoh dan ketidakpedulian massal dari para pendaki Everest. Beberapa anggapan lebih kasar juga mengatakan jika sherpa di Everest saat itu cenderung lebih mementingkan materi daripada tindakan kemanusiaan.2.12

Dalam kasus David Sharp ini, dua pertanyaan umum yang muncul adalah; Apakah para pendaki musim itu (tahun 2006) telah membiarkan seorang pria meninggal dengan sengaja tanpa upaya membantunya? Dan apakah pendaki itu sebenarnya bisa diselamatkan jika memperoleh pertolongan yang tepat dan cepat?

Dua pertanyaan ini memiliki buntut yang panjang dengan kepopuleran yang cukup besar di media, diikuti pula oleh serangkaian kritik, tuduhan, wawancara, dan upaya-upaya menciptakan perdamaian dalam suasana yang menggelegak

Fakta yang ada di lapangan mengenai David Sharp ini bahwa ia adalah seorang pendaki solo dengan budget minim. Hanya ditemukan sebuah kuitansi senilai $7.490 USD di tenda miliknya yang diduga kuat merupakan nilai total yang dikeluarkan Sharp untuk biaya ekspedisinya. Sementara anggaran normal pendakian Everest pada saat itu adalah berada di kisaran $35.000 USD sampai dengan $100.000 USD, dengan tambahan biaya sekitar $20.000 USD untuk kepentingan tak terduga dan juga bonus untuk para sherpa dan porter. Anggaran yang sempit ini berimplikasi juga dengan kondisi Sharp dalam mendaki Everest, ia tidak memiliki guide, sherpa, atau pun tabung oksigen yang dianggap cukup untuk mendaki gunung sekelas Everest.

David Sharp (sebelah kanan, duduk meringkuk) saat dilewati oleh Mark Inglis (downsuit merah). Sepatu hijau di depan adalah milik si Green Boots, pendaki yang tewas di Inggris dan populer sebagai image kematian di Everest. Sumber foto: Amazon.com

Sharp disinyalir telah menggunakan agen jasa pendakian berbiaya murah di Nepal yang hanya mensupport para pendaki hingga base camp, tanpa ada layanan ekstra semacam pendampingan sherpa atau pun guide. Agen-agen perjalanan semacam ini memang menawarkan tingkat independensi yang tinggi kepada pendaki, di samping sebuah konsekuensi risiko yang juga tidak kecil.

Manajer pendukung dimana Sharp memperoleh oksigen juga menjelaskan jika David Sharp tidak mengambil jumlah oksigen yang cukup untuk ke puncak, ia juga tidak ditemani sherpa. Namun ini juga menjadi pertanyaan lain, Apakah mereka memiliki kemampuan untuk membantu Sharp jika mereka tahu jumlah anggaran yang ia miliki?

Beberapa orang yang sempat dikonfirmasi melewati David Sharp yang sedang sekarat adalah dua tim dari Himex (Himalayan Experience) pada hari yang sama namun di waktu yang berbeda, sebuah tim dari Turki,  dan juga sebuah tim yang di dalamnya ada Mark Inglis, pendaki difabel double amputasi dari Selandia Baru.

Mark Inglis adalah pendaki yang cukup banyak terkena getah pahit dalam tragedi David Sharp ini. Ia dikritik pedas oleh berbagai perkumpulan mountaineering dunia atas ucapannya yang mengatakan;

“Bahwa tak ada yang bisa dilakukan lagi, dia (David Sharp) akan segera mati, dia telah berada cukup lama di tempat ia sekarat tanpa tabung oksigen. Musibah di atas 8.500 meter adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dapat mempertahankan diri sendiri tetap hidup, tinggalkan ia sendiri, dan biarkan yang lainnya tetap hidup

Mark Inglis (Mountan Scene)

Pernyataan yang tampak kejam dari Inglis ini mendapat kritik tajam, salah satunya dari Edmund Hillary yang mengatakan bahwa Inglis adalah pendaki yang ‘gila’ dengan membiarkan seseorang sekarat menuju kematian tanpa upaya sedikit pun menolongnya. Hillary juga menambahkan kritikannya dengan mengatakan;

Saya kira seluruh sikap terhadap pendakian gunung Everest telah berubah menjadi agak mengerikan, orang-orang hanya berpikir tentang mencapai puncak. Adalah sebuah kekeliruan jika ada seseorang yang menderita penyakit ketinggian dan meringkuk di bawah batu dalam kondisi sekarat, dan saat pendaki lain menemukannya, mereka hanya perlu mengangkat topi dan mengucapkan selamat pagi kemudian terus mendaki

Hillary menambahkan lagi sindirannya dengan kalimat:

Mereka tidak peduli pada orang lain yang kesulitan atau hampir mati, hal itu sama sekali membuat saya tidak terkesan. Prioritas mereka adalah mencapai puncak, mengenai anggota tim lain apa pun kondisinya, itu adalah urusan belakangan…”

Apa yang sebelumnya dikatakan Inglis memang tampaknya kurang tepat, apalagi di luar pengetahuannya, tim Turki telah mencoba membantu Sharp dengan memberikan oksigen, air minum, dan berupaya membantunya berdiri.

Namun usaha tim Turki ini juga tak bisa lebih jauh lagi, karena mereka juga sedang dalam perjalanan turun yang tidak gampang. Seorang pendaki mereka bernama Burçak Özoğlu Poçan mengalami penyakit ketinggian cukup parah, dan menuntut untuk segera pula dibawa turun.

Selain ekspedisi Turki, tim lain yang juga mencoba memberi bantuan kepada Sharp adalah dua orang Sherpa seperti yang disampaikan oleh Jamie McGuinnes, seorang pendaki Selandia Baru yang pernah mendaki Cho Oyu bersama David Sharp pada tahun 2002. Namun kedua Sherpa itu pun tak dapat melakukan apa-apa, tindakan rescue di ketinggian death zone tanpa berbagai aspek pendukung yang memadai, bukan hanya akan memperkecil kemungkinan penyelamatan si korban, namun juga akan memperbesar peluang celaka bagi para penyelamat itu sendiri.

Jamie McGuinnes (Project Himalaya)

Tidak semua komentar yang timbul dari kematian Sharp ini berbau kritik, Jamie McGuinnes sendiri bahkan menyampaikan sebuah pernyataan yang mengagetkan banyak orang setelah itu;

David telah menyampaikan dengan sangat jelas kepada saya, bahwa dia sepenuhnya mengerti akan risiko dan bahaya dari aktivitas yang ia lakukan. Karena itu jika ia mengalami kesulitan, David mengatakan tak ingin menarik siapa pun juga masuk ke dalam lingkaran karena dia..”

Senada dengan pernyataan McGuinnes, Linda Sharp (ibu dari David Sharp)  juga tidak menyalahkan siapa pun atas kematian puteranya, ia menyampaikan kalimat yang lebih menyentuh kepada portal berita The Sunday Times dengan narasi kurang lebih sebagai berikut;

David diketahui telah ada di sebuah shelter (meringkuk di bawah batu di samping Green Boots; mayat pendaki bersepatu hijau yang sering muncul dalam image musibah Everest). Orang-orang melewatinya dan mengira ia telah meninggal. Salah satu Sherpa bernama Russel (maksudnya Russel Brice dari Selandia Baru, pemilik Himex Expedition) memeriksanya dan menemukan masih ada denyut nadi, Russel mencoba memberi David oksigen tapi ternyata itu sudah terlambat. Tugas dan tanggung jawab anda adalah menjaga diri anda sendiri tetap selamat, bukan untuk mencoba menyelamatkan orang lain

Penyelamatan Lincoln Hall

(amazon)

Lincoln Hall adalah seorang pendaki Australia yang sebenarnya mendaki Everest pada tahun 2006 merupakan hal yang bukan bagian dari rencananya sejak awal. Lincoln pada ekspedisi Australia tahun 2006 ini merupakan pendamping untuk Chritopher Harris, pendaki muda Australia yang dijadwalkan untuk menjadi salah satu pendaki termuda yang meraih puncak Everest.

Di tengah jalannya ekspedisi, Lincoln mendapati bahwa kondisi dan kemampuan Christopher tidak memungkinkannya untuk melakukan pendakian ke puncak. Dan karena akan berbalik ke Australia tanpa hasil, Lincoln memutuskan dirinya sendiri untuk mendaki ke puncak Everest kembali, sesuatu yang pernah ia coba lakukan namun gagal beberapa tahun sebelumnya.

Perjalanan Lincoln ke puncak Everest berjalan tanpa hambatan. Namun ketika turun, Lincoln mulai menampakkan gejala cerebral edema, hypothermia, dan halusinasi yang cukup parah. Sherpa yang mendampinginya terus memaksa Lincoln untuk bergerak, namun semakin lama, Lincoln semakin tidak sadarkan diri dan mulai tidak dapat dipaksa untuk berjalan lebih jauh.

Karena hari sudah kian sore, dan cahaya matahari mulai menghilang dari ketinggian Himalaya, ketiga orang Sherpa yang menemani Lincoln terpaksa harus memilih di antara dua keputusan yang sulit; Terus berupaya membawa Lincoln yang sekarat untuk turun dengan risiko celaka bagi semua orang, atau meninggalkan Lincoln sendiri untuk menghadapi kematiannya di punggungan Rongbuk Timur.

Seperti pada kasus David Sharp, tidak sembarang orang dapat melakukan proses penyelamatan di atas ketinggian 8.000 meter, bahkan Sherpa paling berpengalaman sekali pun tidak dapat gegabah melakukan tindakan penyelamatan di zona kematian setinggi itu.

Jadi seperti yang telah disepakati setiap pendaki gunung tinggi, termasuk juga Lincon sendiri, bahwa dalam keadaan demikian, ia harus menerima keputusan para Sherpa untuk meninggalkannya di sana. Tidak ada alasan lagi bagi Lincoln untuk menahan mereka tetap menemaninya di ketinggian yang dapat saja membunuh tiga Sherpa itu juga.

Sebelum meninggalkan Lincoln, ketiga Sherpa tersebut berniat untuk menutupi tubuh Linconl yang tak sadarkan diri dengan bebatuan, namun di punggungan sempit dengan ketinggian 8.600 meter seperti itu, mereka tak menemukan batuan yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut. Jadi sekali lagi, dengan terpaksa mereka harus meninggalkan Lincoln dalam keadaan apa adanya, terbaring di atas punggungan terbuka Everest dalam balutan cahaya surya yang mulai temaram.

Lincoln Hall, sosok pendaki yang kemudian juga ikut menjadi sorotan dalam mountaineering Everest pasca penyelamatan dirinya yang hampir tewas di atas punggung gunung. Sumber foto: Everest News

Keesokan harinya, 26 Mei 2006, empat orang pendaki (Daniel Mazur, Andrew Brash, Myles Osborne dan Sherpa Jangbu) yang bergerak ke arah puncak Everest dikejutkan dengan sesosok tubuh yang duduk di atas punggungan Everest, tanpa masker oksigen, tanpa sarung tangan, tanpa topi, tanpa sleeping bag, jaket bulu angsa warna kuning yang ia kenakan juga setengah terlepas, melambai-lambai seperti bendera Tibet jika dilihat dari kejauhan.

Saya pikir kalian pasti terkejut melihat saya di sini?

Sapa Lincoln dengan kalimat yang jelas kepada Daniel Mazur dan yang lainnya.

Ini memang cukup aneh, jika tidak dapat dikatakan ajaib. Bagaimana mungkin seorang manusia tanpa shelter, tanpa topi, tanpa sarung tangan, tanpa kantong tidur, dan jaket yang setengah terlepas mampu melewatkan malam yang sengsara di atas punggungan setinggi 8.600 meter dalam keadaan yang dapat dikatakan sehat?

Selanjutnya proses penyelamatan Lincoln pun segera dimulai setelah berita tentang Daniel Mazur yang menemukannya dalam kondisi hidup menyebar hingga base camp. Berita sehari sebelumnya tentang kematian Lincoln Hall yang sudah terlanjur menyebar hingga kampung halamannya di Australia membuat seisi rumahnya berkabung. Namun ketika berita susulan keesokan harinya tiba di Australia tentang Lincoln yang ditemukan dalam kondisi hidup, negeri kangguru itu gempar dalam kegembiraan.

Daniel Mazur dan dua kliennya, serta Sherpa Jangbu yang sebelumnya sedang dalam upaya mendaki ke puncak Everest, secara sukarela membatalkan misi mereka untuk summit, mereka sepakat untuk menemani Lincoln Hall sambil menunggu tim evakuasi yang dikirim Alexander Abramov.2.13

Abramov yang mendapat kabar kondisi Lincoln dari Daniel Mazur langsung mengutus 12 orang Sherpa untuk melakukan proses evakuasi, dua belas Sherpa tersebut di antaranya adalah; Sherpa Nima Wangde, Sherpa Passang, Sherpa Furba Rushakj, Sherpa Dawa Tenzing, Sherpa Dorjee, Sherpa Mingma, Sherpa Mingma Dorjee, Sherpa Pemba, Sherpa Pemba, Sherpa Passang Gaylgen, dan Sherpa Lakcha.

Oleh para Sherpa dan juga dibantu oleh tim Daniel Mazur, Lincoln dibawa turun gunung, berjalan menuju base camp Everest North Col, di mana dia dirawat oleh seorang dokter Rusia. Lincoln tiba di Advanced Base Camp keesokan harinya dengan kesehatan yang cukup baik meski pun menderita radang dingin dan efek cerebral edema yang masih tersisa.

Dan Mazur, salah satu sosok yang paling berjasa dalam upaya penyelamatan Lincoln Hall. Sumber foto: Rockicemountain

Proses penyelamatan Lincoln Hall hanya memiliki selisih sedikit waktu dengan kejadian tragis David Sharp, dan ini semakin memperuncing perdebatan, mengingat kedua orang tersebut menerima perlakuan yang bertolak belakang. Lincoln langsung memperoleh pertolongan begitu ditemukan oleh tim Daniel Mazur. Sementara David Sharp nyaris tidak memperoleh pertolongan yang signifikan meski pun dilewati oleh 40 orang pendaki.

Spekulasi yang kurang bijaksana juga sempat muncul karena pristiwa ini, bahwa perbedaan yang diterima Sharp dan Lincoln pada dasarnya ditentukan oleh buget mereka. Sharp adalah pendaki dengan anggaran pas-pasan bahkan minus, sedangkan Lincoln adalah anggota sebuah ekspedisi besar dengan anggaran biaya yang melimpah ruah.

Namun pendapat yang menilai perbedaan perlakuan yang diterima oleh Sharp dan Lincoln hanya berdasarkan materi semata, tentu saja tidak mutlak tepat, meski pun mungkin saja ada benarnya. Kondisi Lincoln yang sadar dan masih mampu berjalan sendiri adalah dua faktor paling menentukan mengapa penyelamatan yang dilakukan untuknya, memungkinkan dan dapat berjalan dengan lancar.

Dua faktor ini, sadar dan mampu berjalan, adalah yang tidak dimiliki lagi oleh David Sharp ketika tim Turki, sepasang Sherpa, juga tim Russel Brice mencoba memberinya pertolongan.

Sementara Daniel Mazur yang sempat ditanya mengapa mereka rela mengesampingkan upaya mencapai puncak dan lebih memilih membantu Lincoln Hall menjawab dengan sederhana;

Puncak masih tetap ada di sana, dan kita dapat kembali lagi di lain waktu, namun Lincoln hanya memiliki satu kesempatan untuk hidup

***

Artikel ini dikutip dari buku berjudul 9 PUNCAK SEVEN SUMMIT karya Anton Sujarwo.

Koleksi lengkap buku-buku mountaineering karya Anton Sujarwo dapat diperoleh melalui tautan di bawah ini.

Koleksi Buku mountaineering dan pendakian gunung di Indonesia

Footnote

  • Krakauer adalah jurnalis dari Outside Magazine
  • ini ada pula kaitannya dengan kasus evakuasi Lincoln Hall yang juga nyaris tewas di Everest pada tahun yang sama.
  • pemimpin ekspedisi dimana Lincoln Hall menjadi anggotanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: