KISAH LENGKAP PENCAPAIAN PUNCAK EVEREST UNTUK YANG PERTAMA KALI

“Seseorang mungkin mendaki Everest untuk dirinya sendiri, namun bagaimana pun juga, saat di puncak ia akan mengibarkan bendera negaranya..”

Margaret Thatcher

Mount Everest (Britannica)

Profil Lengkap Gunung Everest dan Asal Usul Namanya

Bagaimana pun juga, Everest adalah gunung yang menduduki peringkat pertama dalam daftar gunung tertinggi di muka bumi. Dan tentu saja Everest juga menempati tempat teratas dalam list fourteen eight thousanders, seven summit, three pole chalengge, adventure grand slam, true explorers, dan sebagainya. Berbicara mengenai Everest, artinya kita sedang membahas sebuah magnet paling besar dalam sejarah mountaineering secara keseluruhan.

Puncak Everest menurut survey yang disetujui memiliki ketinggian 8.848 meter atau 29.029 kaki, tertinggi dari semua gunung yang ada di dunia jika itu diukur dari batas permukaan laut. Namun jika dihitung dari kaki gunung di dasar laut, maka gunung Mauna Kea di Hawaii jauh lebih tinggi dari Everest dengan ketinggian mencapai 10.200 meter.

Ketinggian Everest ini sekaligus menjadikan puncak Everest berada pada list utama dalam empat belas puncak gunung delapan ribu meter dari sisi elevasi, sementara untuk ukuran kesulitan dan pamor menakutkan, Everest harus mengakui keunggulan adik-adiknya seperti K2, Annapurna, Nanga Parbat, Makalu dan juga Kangchenjunga.

Secara geografis gunung Everest terletak dalam wilayah pegunungan Himalaya Mahalangur, di perbatasan internasional antara China (Daerah Otonomi Tibet), dan negara Nepal, di mana titik puncaknya berada.

Nama Everest merupakan nama yang diberikan oleh Andrew Waugh, seorang surveyor Inggris India pada tahun sekitar 1857. Sebelumnya nama ini tidak disetujui oleh si pemilik namanya sendiri, Sir George Everest. Namun seiring dengan perkembangan waktu, nama Everest akhirnya diterima oleh hampir semua kalangan sebagai nama dari gunung tertinggi di Himalaya. Selain Everest yang lebih populer, nama lain gunung ini yang cukup dikenal adalah Sagarmāthā menurut bahasa Nepal, sementara orang-orang Tibet menyebutnya dengan Chomolungma.

Pada dasarnya kebijakan survey yang dilakukan oleh Inggris India mewajibkan penggunaan nama lokal untuk setiap gunung yang didata. Seperti halnya penamaan untuk Dhaulagiri, Kangchenjunga, Garsherbrum, dan yang lainnya. Namun untuk Everest ditemukan beberapa kesulitan untuk menetapkan nama lokal yang tepat dan disepakati oleh semua pihak.

Tak dapat ditepis, Everest adalah puncak tertinggi dunia yang menyedot perhatian hampir semua negara yang menaruh minat pada penaklukan, penjelajahan, dan juga mountaineering. Sebuah nama lokal yang disematkan untuk gunung ini tentu juga secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap negara pemilik nama tersebut.

Everest from Space (Nepal-DIA)

Konflik penamaan itu dapat kita sederhanakan seperti ini;

Jika nama Sagarmāthā (nama dari bahasa Nepal) yang digunakan sebagai nama resmi gunung Everest, tentu hal itu dapat mengundang rasa tidak puas dari penduduk Tibet dan China yang juga merasa memilikinya. Kata-kata Sagarmāthā seolah menggambarkan bahwa Everest adalah milik orang-orang Nepal secara mutlak, walau pun itu hanyalah efek dari kesan yang ditimbulkan oleh nama Sagarmāthā.

Sebaliknya jika nama Chomolungma yang digunakan sebagai nama resmi gunung Everest, maka ketidakpuasan sekarang ada di pihak Nepal. Orang-orang Nepal tak mungkin membiarkan sebuah gunung yang puncak tertingginya berada dalam wilayah mereka, tetapi dinamakan menurut bahasa orang-orang yang pernah berperang dengan mereka.2.1

Jadi untuk nama resmi sendiri, gunung tertinggi di dunia ini tidak dapat memberikan opsi untuk dinamakan dengan nama lokal sesuai dengan salah satu kebijakan dasar dari The Great Trigonometric Survey of India, baik itu Sagarmāthā, mau pun Chomolungma.

Tidak hanya Sagarmāthā dan Chomolungma saja sebutan lokal bagi Everest, nama Deodungga (bahasa Darjeeling yang berarti gunung yang suci), atau Shèngmǔ Fēng (bahasa China yang berarti puncak bunda Maria/Holy Mother Peak), atau juga Qomolangma (sebutan dari dinasti Qing, pernah digunakan oleh pemerintah China tahun 2002 sebagai bentuk deklarasi bahwa gunung tersebut telah ‘dimiliki’ oleh mereka sejak tahun 1719 pada masa kekaisaran dinasti Qing), semuanya tidak dapat digunakan sebagai nama resmi gunung tertinggi di dunia itu. Meski pun beberapa orang tetap menggunakan nama-nama itu pada tulisan atau sebutan mereka, namun secara umum semua nama-nama tersebut tidak dapat dipakai sebagai nama resmi gunung Everest tanpa menimbulkan konflik dan pertentangan.

Dikarenakan kemelut yang cukup pelik ini, kemudian Andrew Waugh mengusulkan nama Everest untuk digunakan, diambil dari nama surveyor pendahulu Waugh yang bernama Sir Welche George Everest. George Everest sendiri mulanya menentang ide Waugh ini dengan menyampaikan alasan bahwa nama ‘Everest’ tidak dapat ditulis dalam bahasa Hindi, atau diucapkan oleh penduduk asli India. Namun, Royal Geographic Society pada tahun 1865 tetap mengadopsi nama Everest sebagai nama resmi gunung tertinggi di dunia tersebut.

Description: George_Everest_-_Maull_&_Polyblank.jpg
Sir Welche George Everest yang namanya digunakan sebagai nama gunung tertinggi di dunia. Sumber foto: Google

Periode Awal Upaya Penaklukan Puncak Everest

Sejak first ascent Everest berhasil dicapai pada tahun 1953, perhatian dan minat terhadap gunung ini meningkat dengan pesat. Terlepas dari berbagai macam ekpedisi dan negara yang berupaya mencapai puncaknya, hingga tahun 1987 hanya ada 200 orang yang berhasil. Everest tetap bertahan sebagai salah satu tujuan pendakian yang sulit selama beberapa dekade. Meskipun untuk ukuran pendaki professional, atau pun sebuah ekspedisi yang besar, hal ini mulai perlahan bergeser sejak tahun 1990-an, ketika kegiatan mountaineering mulai masuk ke era komersial yang meluas secara internasional.

Hingga tahun 2016, telah ada 7.646 pemuncakan Everest dari 4.469 pendaki yang berbeda. Sebanyak 1.105 pendaki, mayoritas dari mereka adalah Sherpa, telah melakukan pemuncakan Everest lebih dari satu kali, atau kadang disebut juga sebagai pemuncakan berulang.      

Untuk tahun 2016 saja, terhitung ada 641 pendaki yang berhasil mencapai puncak.2.2 Ada 442 orang yang mendaki melalui rute selatan (South Col) dan 199 orang yang mendaki melalui rute Utara (North Col), sebanyak 5 pendaki yang diverikasi mendaki tanpa menggunakan tabung oksigen, dan juga ada 5 pendaki yang dikonfirmasi tewas selama tahun 2016 di Everest.

Everest pertama kali dilirik sebagai tujuan mendaki gunung adalah pada tahun 1885, ketika Clinton Thomas Dent, president dari Alpine Club menulis sebuah buku berjudul Above The Snow Line. Dalam buku tersebut, Thomas Dent memberi masukan kepada para pegiat aktivitas mountaineering (khususnya di Inggris) untuk melakukan upaya-upaya mendaki gunung tertinggi di dunia tersebut.2.3

Orang pertama yang kemudian merealisasikan saran Thomas Dent ini adalah George Mallory dan Guy Bullock yang tergabung dalam British Reconnaissance Expedition tahun 1921. Mallory dan Bullock mengambil rute melalui jalur utara dan berhasil mencapai ketinggian 7.005 meter.

Ekspedisi Everest pertama yang dipimpin Mallory ini tak dapat dibilang serius ingin mencapai puncak, karena beberapa upaya, perlengkapan, dan supply perbekalan tampaknya tidak sungguh-sungguh diakomodasi 100%. Meskipun demikian, dari ketinggian 7.005 meter Mallory berupaya untuk meneruskan pendakian lebih tinggi, namun karena dari awal tim tidak siap untuk sebuah pendakian yang lebih keras dan jauh, Mallory akhirnya menarik ekspedisinya mundur dari Everest tidak lama kemudian.

Description: 1921_Mount_Everest_expedition_members_(cropped2).gif
Anggota ekspedisi Everest tahun 1921 yang dipimpin oleh George Mallory (duduk paling kiri). Sumber foto: Wikipedia

Inggris kembali lagi ke Everest pada tahun 1922, kali ini dipimpin oleh Charles Granville Bruce. Pada usaha yang kedua ini Bruce berhasil mengirim George Finch yang menggunakan tabung oksigen untuk pertama kalinya dalam sejarah pendakian gunung hingga ketinggian 8.320 meter. Ini adalah untuk yang pertama kalinya manusia tercatat berhasil mendaki lebih tinggi dari 8.000 meter.

Setelah George Finch tidak mampu mendaki lebih jauh lagi dan kemudian memutuskan turun ke base camp, Bruce mengutus tim kedua untuk mencoba mencapai puncak. Tim ini berisi dua orang pendaki yakni Felix Norton dan George Mallory, pendaki yang tahun sebelumnya telah mencapai ketinggian 7.005 meter di Everest.

Upaya yang kedua dari Mallory dan Norton ini berakhir bencana ketika tujuh porter tewas oleh longsoran salju di North Col. Dalam pristiwa ini beberapa pendapat menyebut Mallory keliru memilih jalur sehingga terjebak oleh longsoran.2.4 Pristiwa mengenaskan ini sekaligus menjadi akhir dari ekspedisi Inggris di Everest tahun 1922.

Ekspedisi Everest Tahun 1924 dan Misteri Hilangnya George Mallory dan Andrew Irvine

Description: 1922_Mount_Everest_expedition,_second_climbing_party_descending.jpg
Felix Norton dan George Mallory pada upaya kedua tahun 1922.  Sumber foto: Wikipedia

Tahun 1924, Granville Bruce kembali dipercaya untuk memimpin ekspedisi Inggris ke Everest, dan beberapa anggota tim tahun 1922 juga ikut kembali dalam ekspedisi ini, termasuk George Mallory. Tugas percobaan pertama menggapai puncak diserahkan kepada Mallory dan Geoffrey Bruce, namun karena cuaca yang tidak memungkinkan, Mallory membatalkan pendakian sebelum mencapai camp VI.

Description: 1922.jpg
Beberapa anggota Everest Expedition tahun 1922. Charles Granville Bruce sang pemimpin ekspedisi duduk paling tengah. Sumber foto: telegraph.uk

Kemudian Felix Norton dan Somervell yang mendapat giliran untuk melakukan percobaan selanjutnya. Dalam cuaca yang sempurna kedua pendaki pionir Inggris di Everest ini melakukannya tanpa dukungan tabung oksigen berhasil melintasi North Face dan juga Great Couloir. Norton pada kesempatan kali ini mampu mendaki hingga ketinggian 8.550 meter, meskipun ia bergerak sangat lambat.2.5 Pencapaian Norton kali ini mengalahkan rekor George Finch dua tahun sebelumnya, namun tetap saja, keduanya masih cukup jauh dari titik tertinggi Everest.

Setelah Somervell dan Norton kembali ke base camp, kali ini Granville Bruce kembali mempercayakan tugas percobaan mencapai puncak kepada Mallory, salah satu pendaki yang dianggap paling berpengalaman dalam ekspedisi tersebut. Pada percobaannya yang kedua di ekspedisi tahun 1924 ini, dan percobaannya yang ke sekian kalinya secara keseluruhan, Mallory memilih salah satu pendaki muda berbakat untuk menemaninya menuju puncak bernama Irvine Andrew, seorang pria muda tangguh namun masih kurang berpengalaman.

Tanggal 8 Juni 1924 Mallory dan Irvine terlihat melakukan upaya terakhir ke puncak, seorang pendaki pendukung yang berada beberapa ratus meter di belakang mereka, Noel Odell, bersaksi bahwa melihat keduanya hampir menyentuh puncak Everest sebelum keduanya menghilang ditelan kabut tebal. Ketika kabut sirna, Odell yang terus mengamati lewat binokular  tak dapat menemukan lagi sosok Irvine dan Mallory, keduanya hilang dan tak pernah kembali lagi.

Pristiwa ini seperti yang telah banyak dikisahkan, telah menjadi awal mula dari salah satu misteri terbesar dalam kisah Everest yang tak pernah terpecahkan hingga detik ini. Apakah Irvine dan Mallory, atau salah satu di antara mereka berhasil mencapai titik puncak sebelum kabut melenyapkan keduanya?

Kisah lengkap hilangnya George Mallory dan Irvine Andrew di Everest dapat dibaca pada postingan sebelumnya melalui tautan ini: Misteri abadi hilangnya George Mallory dan Irvine Andrew di Everest

Description: everest_expedition_1924_by_olgasha_db9it5v-fullview.jpg
Andrew Irvine (berdiri paling kiri) dan George Mallory (di sebelahnya), foto ini diambil beberapa saat sebelum keduanya melakukan pendakian dan tidak pernah kembali. Sumber foto: DevianArt

Dan jika teori ini benar, bahwa Irvine Andrew dan George Mallory (atau salah satu di antara keduanya) telah mencapai puncak Everest pada ekspedisi tahun 1924, maka secara otomatis pencapaian first ascent oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay pada tahun 1953 tak dapat lagi dipertahankan.

Namun memutuskan dengan pasti bahwa Mallory–Irvine berhasil mencapai puncak, atau tidak berhasil mencapai puncak, bukanlah perkara yang gampang. Tidak ada bukti yang benar-benar dapat memberi informasi pasti mengenai hal itu. Satu-satunya barang bukti yang dapat dijadikan sandaran untuk memutuskan kasus ini adalah kamera Kodak yang dibawa Irvine Andrew, namun sayangnya kamera Kodak tersebut pun telah lenyap bersama hilangnya dua pendaki Inggris itu.

Mayat Mallory ditemukan 79 tahun kemudian, atau tepatnya 1 Mei 1999 oleh pendaki Amerika bernama Conrad Anker dalam pendakian Mallory and Irvine Research Expedition. Namun mayat Irvine Andrew tetap menghilang dan tak pernah ditemukan, seperti misteri first ascent Everest yang tak pernah menemukan jawaban pastinya hingga saat ini.

Menjelang First Ascent Everest dan Kemunculan Sosok Tenzing Norgay

Tahun 1933, kisah lain dalam sejarah Everest dicatat oleh Lady Houston, seorang wanita jutawan Inggris yang mendanai penerbangan di atas Everest untuk menebarkan bendera Inggris Union di sekitar puncak. Komandan udara yang diserahi tugas tersebut adalah Marquess of Clydesdale.

Sementara itu beberapa ekspedisi lain yang dilakukan di Everest setelah ekspedisi tahun 1921 pimpinan Mallory, ekspedisi tahun 1922 dan 1924 pimpinan Granville Bruce, adalah ekspedisi pimpinan Hugh Ruttledge tahun 1933 dan 1936 yang mencoba mendaki Everest melalui North Face dari Tibet.

Namun akses ke wilayah utara Everest ditutup untuk ekspedisi orang-orang luar (Eropa) oleh China hingga tahun 1950 setelah mereka menguasai Tibet. Kemudian setelah Ruttledge, adalagi ekspedisi ukuran kecil yang dilakukan Bill Tilman, Charles Houston, Oscar Houston, dan Betsy Cowles pada tahun 1950 yang mencoba mendaki Everest dari sisi Nepal, sisi yang saat ini telah menjadi rute standar pendakian gunung Everest.

Tahun 1952, Swiss memperoleh izin dari pemerintah Nepal untuk mengadakan ekspedisi ke Everest melalui sisi utara. Ini agak miris saat itu, mengingat Inggris yang telah berulang kali mencoba mendaki Everest tidak memperoleh tawaran demikian. Namun ini mungkin bisa difahami karena ekspedisi Swiss pimpinan Edouard Wyss Dunant dari Jenewa ini sama sekali tidak terobsesi untuk mencapai puncak Everest.

Ekspedisi ini, yang sebagian besar diisi oleh akademisi, adalah sebuah tim yang lebih menitikkan beratkan pada kepentingan survey rute ke Khumbu Icefall dan South Col. Akan tetapi dipekerjakannya nama Sherpa Tenzing Norgay dalam tim pimpinan Wyss Dunant ini mungkin memberi nuansa yang berbeda. Pengalaman, kemampuan, dan keterampilan yang dimiliki Norgay mampu membawa salah satu pendaki Swiss bernama Raymond Lambert mencapai titik 8.595 meter, titik tertinggi yang pernah dicapai manusia dalam sejarah mountaineering saat itu.

Description: lambert01.jpg
Raymond Lambert (kedua dari kiri) dan Tenzing Norgay (paling kanan) yang hampir mencapai puncak Everest pada ekspedisi tahun 1952. Sumber foto: Google

Tak dapat ditepis, keberadaan Tenzing Norgay dalam tim Swiss tahun 1952 ini telah ikut berkontribusi menjadikan ekspedisi yang awalnya hanya sekedar bertujuan survey,  menjadi sebuah pendakian yang gemilang (jika tidak dapat dikatakan kesuksesan). Keterampilan dan pengalaman Norgay di Everest terbukti sangat  berguna dan menyumbangkan nilai besar ketika John Hunt, pimpinan ekspedisi Inggris tahun 1953, menyandingkannya dengan Edmund Hillary untuk tugas mencapai puncak Everest.

First Ascent Everest Tahun 1953 Oleh Tenzing Norgay & Edmund Hillary

Inggris kembali mengadakan ekspedisi mereka ke Everest yang ke-sembilan kalinya pada tahun 1953, dipimpin oleh John Hunt, seorang komandan militer dari ketentaraan Inggris. Tidak kurang dari 15 orang pendaki berpengalaman bergabung dalam ekspedisi Inggris tahun 1953 ini, termasuk beberapa di antaranya adalah Charles Evans, Tom Bourdillon, George Band, Alfred Gregory, Michael Westmacott (Inggris), Edmund Hillary, George Lowe (Selandia Baru), serta Sherpa Annullu dan Sherpa Tenzing Norgay dari Nepal.

Seperti pada skema percobaan sebelumnya, John Hunt juga memilih sepasang pendaki pada tiap upaya melakukan pemuncakan. Dalam ekspedisi ini pasangan pertama yang dipilih Hunt adalah Tom Bourdillon dan Charles Evans, dua pendaki yang dianggap sebagai ujung tombak utama ekspedisi.

Tanggal 26 Mei 1953 Charles Evans dan Bourdillon melakukan pendakian hingga mencapai ketinggian 100 meter di bawah puncak Everest, namun permasalahan pada tabung oksigen yang digunakan Evans memaksa keduanya untuk segera menarik diri dan mundur. Dua hari kemudian, John Hunt kembali mengirimkan dua pendakinya sebagai tim kedua untuk melakukan upaya pemuncakan. Dan kali ini yang terpilih adalah Edmund Hillary si pendaki Selandia Baru, dan Tenzing Norgay, seorang Sherpa Nepal yang berasal dari Darjeeling, India.

Pengalaman dan skill Tenzing Norgay yang telah mencapai ketinggian 8.595 meter bersama ekspedisi Swiss tahun sebelumnya terbukti sangat membantu menemukan rute yang lebih tepat pada ekspedisi kali ini. Karena pada tanggal 29 Mei 1953, tepat jam 11:30, Norgay dan Hillary berhasil mencapai puncak tertinggi gunung Everest melalui rute South Col.

Sebelum turun kembali, Norgay dan Hillary sempat berhenti di puncak Everest cukup lama untuk mengambil foto, mengubur beberapa permen dan sebuah bandul salib kecil yang dibawa Hillary ke dalam salju puncak Everest.

Kata-kata pertama yang diucapkan Hillary saat turun dari puncak dan menemui George Lowe adalah;

“Well, George, we knocked the bastard off”

Ucapan Hillary ini juga tercatat dalam buku yang ia tulis berjudul; High Adventure: The True Story of the First Ascent of Everest. Sehingga atas dasar ini beberapa literatur juga mencantumkan kata Bastard sebagai nama lain dari Everest.

Description: Everest.jpg
Tenzing Norgay berdiri di puncak Everest dalam moment first ascent tahun 1953. Sumber foto: Google

Berita tentang keberhasilan Hillary dan Norgay ini segera sampai ke telinga James Morris, seorang koresponden surat kabar The Times di Himalaya. Morris menerima informasi ini pada tanggal 30 Mei 1953, dan segera mengirim pesan berkode melalui seorang pelari pembawa pesan ke Namche Bazaar, di mana pesan berkode tersebut dapat diteruskan ke Kedutaan Besar Inggris di Kathmandu melalui telegram. Kemungkinan besar berita tentang pencapaian Everest adalah berita utama terakhir yang dibawa oleh seorang pelari pembawa pesan untuk dikabarkan kepada dunia.

Dalam makalahnya, James Morris menulis bahwa pesan berkode yang ia kirimkan berbunyi sebagai berikut;

Snow conditions bad stop advanced base abandoned yesterday stop awaiting improvement”

Sebelumnya memang telah disepakati bahwa kalimat Snow Conditions Bad adalah sebuah sandi untuk mengkonfirmasi bahwa puncak Everest telah berhasil dicapai. Sementara kalimat Advance Base Abandoned merujuk kepada pendakinya yaitu Edmund Hillary.2.6

Berita diterima dan diartikan tanpa kendala oleh pemerintah Inggris di London. Dan karena secara kebetulan bertepatan dengan rencana upacara penobatan Ratu Elizabeth II, maka berita yang sangat menggembirakan itu dirilis pemerintah Inggris pada keesokan harinya, tanggal 2 Juni 1953.

Keberhasilan ini memandikan hampir keseluruhan anggota ekspedisi dengan penghargaan, hadiah, dan juga reward lainnya. Ketika tiba di Kathmandu, Edmund Hillary telah mendapati dirinya ditunjuk sebagai Panglima Kstaria Kerajaan Inggris, sementara John Hunt memperoleh kehormatan lain sebagai Bachelor of Knight atas upayanya memimpin ekspedisi.

Tanggal 22 Juni 1953, pemerintah Nepal mengadakan semacam resepsi untuk memberi penghormatan kepada ekspedisi tersebut. Tenzing Norgay dihadiahi sebuah dompet berisi uang sepuluh ribu rupee (bernilai setara 500 euro saat itu) oleh ratu senior Nepal. John Hunt dan Edmund Hillary juga diberi sebilah kukri (pisau tradisional Nepal) yang sarungnya berhiaskan permata. Sementara anggota ekspedisi lainnya, juga diberi semacam peti kecil yang juga bertatahkan perhiasan dan permata.

Pada hari yang sama, pemerintah India juga mengumumkan untuk pembuatan medali emas baru, sebuah medali yang dipersembahkan bagi sebuah pencapaian dan keberanian sipil di mana John Hunt, Edmund Hillary, dan Tenzing Norgay akan menjadi penerima pertama medali tersebut. Tanggal 7 Juni 1953, disiarkan pula bahwa Ratu Elizabeth ingin mengenal dan mengetahui lebih banyak tentang pencapaian Tenzing Norgay, dan kemudian pada tanggal 1 Juli-nya, diumumkan secara resmi bahwa Ratu Elizabeth II telah menganugrahkan George Medal untuk Tenzing.

Beberapa orang menilai pemberian George Medal untuk Tenzing merupakan bentuk kefanatikan kecil dari rasa superioritas pemerintah Inggris. Seperti diketahui, George Medal adalah sebuah penghargaan ‘tingkat rendah’ dari pemerintah Inggris untuk individu yang dinilai telah memberikan sebuah pengabdian yang tidak begitu luar biasa bagi pemerintah Inggris. Hal ini tentu menjadi sangat kontras jika dibandingkan dengan penghargaan yang diberikan kepada John Hunt atau pun Edmund Hillary. Padahal porsi pengabdian yang diberikan oleh Tenzing dan Hillary adalah sama di Everest. Bahkan beberapa komentator menyebutkan lebih lanjut, jika Tenzing telah menyumbangkan lebih banyak peran daripada yang lainnya.

Penghargaan terus berdatangan untuk semua anggota ekspedisi ini pada waktu-waktu berikutnya, seperti Medali Hubbard dari National Geographic Society yang sebelumnya tidak pernah diberikan kepada sebuah tim. Kemudian ada lagi Cullum Geographical Medal dari American Geographical Society, Founder’s Medal dari Royal Geographical Society, serta Lawrence Medal dari Royal Central Asian Society, dan tak ketinggalan juga gelar kehormatan yang dinisbahkan oleh Universitas Aberdeen, Universitas Durham, juga Universitas London. Dapat dikatakan, tak ada sebuah pencapaian puncak gunung yang begitu dielu-elukan di seluruh dunia, kecuali pencapaian pada tahun 1953 di Everest ini.

Description: ev60_team_col.jpg
Keseluruhan anggota ekspedisi Everest tahun 1953. Ada dua sherpa dari Nepal yang ikut serta, tapi hanya Norgay yang dimasukkan dalam list. Sumber foto: Everest60

Kontroversi Siapa Sebenarnya yang Lebih Dulu Tiba di Puncak Everest; Edmund Hillary atau Tenzing Norgay?

Pencapaian first ascent Everest oleh Hillary dan Tenzing pada perkembangannya bukan tak meninggalkan problema. Sebuah perselisihan sedikit menyeruak ketika sebuah spanduk besar yang dipasang di Kathmandu bergambar Tenzing sedang menarik Hillary yang dalam kondisi ‘setengah sadar’ ke puncak Everest dikomentari banyak orang. Secara tidak langsung spanduk ini memberi kesan bahwa Tenzing Norgay lebih dulu sampai puncak Everest, kemudian ia menarik Hillary agar sampai di puncak itu pula.

Secara umum telah disepakati bahwa pencapaian puncak Everest ini merupakan kesuksesan dari upaya sebuah tim yang diwakili oleh sosok Hillary dan Tenzing, bukan pencapaian dari sebuah dominasi upaya individu. Namun hal itu tetap tidak mampu menepis pertanyaan publik yang penasaran; Siapakah di antara kedua pria tersebut (Edmund Hillary dan Tenzing Norgay) yang menginjakkan kakinya di puncak Everest terlebih dahulu?

Beberapa spekulasi yang disandarkan dengan berbagai macam teori bermunculan menambah panas kekisruhan itu. Lebih buruknya lagi perebutan opini mengenai siapa yang lebih dulu mencapai puncak,  juga bercampur dengan kondisi perpolitikan India dan Inggris yang memang sedang tidak kondusif. Beberapa pihak yang menentang imperialisme dan penjajahan di India dan Nepal berupaya menggiring opini masyarakat bahwa Tenzing-lah orang pertama yang meraih puncak, bukan Hillary. Sementara pemerintah Inggris juga berdiri di atas rasa superior mereka dan tak dapat menerima begitu saja jika Edmund Hillary ada di belakang Tenzing Norgay pada pristiwa paling bersejarah dalam kamus mountaineering dunia tersebut.

Description: John-Hunt-Tenzing-Norgay-Edmund-Hillary-Britain-1953.jpg
Tenzing Norgay memegang bendera dan diapit oleh Edmund Hillary (kanan) dan Jonh Hunt (kiri). Sumber foto: Britanica.com

Tenzing akhirnya tampil ke publik dan mengakhiri spekulasi yang bernuansa mengadu domba tersebut. Dengan penuh sikap ksatria Tenzing mengakui bahwa Hillary adalah orang pertama yang mencapai puncak, bukan dirinya.

Sumber lain yang tidak begitu jelas sempat mengisahkan bahwa Tenzing berjalan di depan Hillary pada perjalanan terakhir mereka menuju puncak Everest. Namun beberapa langkah sebelum mencapai puncak tertinggi, Tenzing berhenti dan memberi jalan kepada Hillary seraya berkata kurang lebih seperti ini;

Itu dia impianmu, tempat yang kau cita-citakan, raihlah ia”.

Namun, jika pun kenyataan sebenarnya memang demikian, maka apa yang dilakukan Tenzing sebagai seorang sherpa dan pemandu gunung tinggi ini bukanlah yang pertama. Tanggal 11 Agustus 1858, hampir satu abad sebelum first ascent Everest, sikap luar biasa dalam jagat mountaineering juga ditunjukkan oleh dua guide pendamping Charles Barrington saat ia berhasil mencapai puncak Eiger sebagai yang pertama kalinya.

Saat itu dua guide professional yang menemani Barrington (Christian Almer dan Peter Bohren) hampir saja menyentuh puncak Eiger, namun seperti yang dilakukan Tenzing Norgay di Everest 96 tahun kemudian, Almer dan Bohren juga berhenti beberapa langkah menjelang puncak tertinggi Eiger, dan memberi kesempatan pada Barrington untuk menjadi yang pertama.

Kemenangan Sejati Dalam Mountaineering

(bray.ie)

Apa yang terjadi di Eiger tampak memiliki keabsahan cerita yang lebih valid karena Charles Barrington sendiri yang menuturkan hal itu kepada publik selepas mereka turun dari Eiger, berikut kurang lebih kalimat yang disampaikan Barrington;

“Dua guide ini (Christian Almer dan Peter Bohren) sangat baik kepadaku, menjelang langkah terakhir mereka memberi saya tempat dan kesempatan untuk menjadi yang pertama di puncak gunung Eiger..”

Sikap yang ditunjukkan oleh Christian Almer dan Peter Bohren di Eiger, juga Tenzing Norgay di Everest (sekali lagi jika faktanya memang demikian) tak dapat disanggah lagi adalah sebuah pencapaian sejati yang bahkan lebih besar dari gunung yang mereka daki sendiri.

Merelakan seseorang mengambil podium sebagai yang pertama di puncak gunung yang menjadi magnet utama pendakian dunia,2.7 sementara ia memiliki kesempatan untuk memperolehnya lebih dulu, tentu merupakan sebuah sikap yang tidak mudah. Dibutuhkan banyak kelapangan hati dan jiwa besar untuk dapat melakukannya pada detik-detik terakhir.

Menjadi yang pertama adalah ego terbesar mountaineering yang bertahan sejak lama, bahkan sejak sejarah kegiatan ini dimulai. Mengapa begitu banyak orang berlomba-lomba melakukan ekspedisi, menghabiskan dana sedemikian banyak, belum lagi resiko kehilangan nyawa yang seringkali terjadi. Itu karena semuanya didorong oleh ambisi untuk menjadi yang pertama berdiri di puncak. Setidaknya ini adalah salah satu kesan yang dapat ditangkap dengan mudah pada era pioneering.

Jadi, ketika ada seseorang yang merelakan sebuah pencapaian yang begitu didambakan oleh begitu banyak manusia, disaat ia memiliki kesempatan untuk memperolehnya lebih dulu, maka dapat dipastikan tanpa ragu, ini adalah sebuah jenis pencapaian kesuksesan yang sebenarnya, sebuah kemenangan yang lebih tinggi nilainya daripada keberhasilan first ascent.

Setelah kesuksesan ekspedisi Inggris tahun 1953 di Everest yang mengantarkan Edmund Hillary dan Tenzing Norgay sebagai first ascent yang benar-benar diverifikasi.2.8 Sebuah tim lain datang ke Everest pada tahun 1956 dan menjadi ekspedisi kedua yang berhasil mencapai puncak Everest.

Tim ini adalah sebuah ekspedisi dari Swiss yang berhasil mengirim Jürg Marmet dan Ernst Schmied meraih puncak pada tanggal 23 Mei 1956. Tidak hanya Schmied dan Marmet, tanggal 24 Mei, ekspedisi Swiss ini juga berhasil mengirim dua pendaki lain ke puncak Everest bernama Hans Rudolf von Gunten dan Dölf Reist.

Description: tumblr_mp3c9iMyM81qfyfrno1_500.jpg
Tenzing Norgay dan Edmund Hillary pada saat ekspedisi. Sumber foto: Tumblr

Tahun 1960, tujuh tahun setelah first ascent Everest, tim China juga berhasil menorehkan prestasi lain dengan mencapai puncak Everest melalui rute North Ridge. Para pendaki yang mencapai puncak pada ekspedisi ketiga yang sukses di Everest ini adalah  Wang Fuzhou, Gonpo, dan Qu Yinhua.

Tahun 1963 kemudian menjadi tahun yang menggembirakan bagi Amerika di Everest, Jim Whittaker ditemani oleh Sherpa Nawang Gombu pada tanggal 1 Mei 1963, berhasil mencapai puncak Everest sebagai orang Amerika pertama yang berhasil melakukannya.

Footnote

  • Nepal dan Tibet sempat terlibat peperangan pada masa lampau.
    • jumlah tertinggi kedua sepanjang sejarah pendakian Everest setelah tahun 2013 sebanyak 653 pendaki.
    • survey tentang ketinggian Everest sebagai gunung tertinggi telah keluar sejak tahun 1855.
    • hanya sekiat 30 meter per jam/diduga karena keputusannya untuk tidak menggunakan tabung oksigen.
    • kalimat kode untuk Charles Evans adalah Ridge Camp Untenable“, sementara untuk Michael Westmacott, kalimat sandinya adalah Assault Postponed
    • Everest dan Eiger adalah icon mountaineering dunia dengan kelasnya masing-masing.
    • pencapaian Mallory dan Irvine masih merupakan misteri yang tidak terpecahkan.

Artikel ini dikutip dari buku berjudul 9 PUNCAK SEVEN SUMMIT karya Anton Sujarwo. Buku-buku mountaineering terbaik karya Anton Sujarwo lainnya bisa anda dapat melalui tautan di bawah ini;

Koleksi buku-buku mountaineering terbaik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: