KISAH PIONIR PENDAKI PEREMPUAN SEKALIGUS PENJELAJAH SEPEDA PERTAMA DI DUNIA

Tanpa persetujuan dirimu sendiri, tidak ada yang dapat membuatmu merasa rendah diri.

Eleanor Roosevelt

Profil dan Latar Belakang Fanny Bullock Workman

Source: Getty Images

Mungkin memang tidak tepat untuk mengatakan bahwa mudah bagi para pendaki gunung perempuan, para pemanjat tebing, dan petualang perempuan jika yang mereka hadapi hanyalah medan dan tantangan teknis semata. Tantangan teknis bagaimana pun bentuknya, tentu memiliki sebuah skala kesulitan yang juga tidak dapat dipandang remeh.

Namun pernyataan ini mungkin dapat diakui kebenarannya ketika kita melakukan flasback pada profil para pendaki gunung perempuan masa lalu, dimana yang mereka hadapi jauh lebih kompleks dan rumit. Selain tantangan teknis yang memang tidak mudah (apalagi diukur dengan tingkat kemajuan teknologi perlengkapan bertualang saat itu) para pionir itu juga harus menghadapi stigma kebudayaan dan kebiasaan, dimana para perempuan umumnya tidak dipandang lumrah berada dalam dunia petualangan.

Dan itu pula yang kemudian dialami oleh para pionir perempuan pada masa-masa awal mountaineering. Selain bertarung dengan medan-medan sulit dan liar di alam bebas, mereka juga harus bertarung melawan paradigma dan stigmasisasi bahwa kaum perempuan adalah makhluk lemah yang tidak dipandang pantas berkeliaran di atas gunung dan tebing-tebing.

Fanny Bullock Workman ada pada masa itu saat ia dilahirkan. Sebagai salah satu perempuan pionir petualangan dalam sejarah dunia mountaineering Amerika, Fanny Bullock memiliki porsi yang besar untuk mendapat perhatian kita secara serius. Apa yang ia hadapi, apa yang ia lakukan, dan apa pula yang kemudian ia raih dalam dunia eksplorasi dan mountaineering, menjadi catatan fundamental yang sangat layak untuk dikenang setiap pejuang emansipasi kaum perempuan.

Fanny Bullock Workman dilahirkan pada tanggal 8 Januari 1859 di Kota Worchester, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara pasangan dari Elvira Hazard dan Alexander Hamilton Bullock. Fanny tumbuh dan besar dalam lingkungan keluarga yang terpandang, kaya, dan juga berpendidikan tinggi. Ayahnya sendiri, Alexander Hamilton, adalah seorang pengusaha sukses sekaligus juga gubernur kota Massachusetts saat itu.

Dikarenakan tumbuh dalam lingkungan elit semacam itu, Fanny juga mendapatkan banyak keistimeaan terkait status sosialnya yang tinggi. Setelah menghabiskan beberapa waktunya di Paris dan Dresden, Fanny mendapatkan pendidikan secara intensif  dari governesses8.1 di rumah kedinasan ayahnya di Massachusetts. Setelah selesai pendidikan rumahnya, Fanny kemudian melanjutkan juga studinya di Miss Graham’s Finishing School di kota New York.

Sejak masih kecil nampaknya Fanny Bullock Workman memang sudah memiliki ketertarikan yang tinggi pada dunia penjelajahan dan petualangan. Ia digambarkan sebagai seorang anak yang gemar  bertualang, dan mungkin sedikit keluar dari kebiasaan para gadis muda kalangan elit masa itu.

Obsesi Fanny untuk menjadi seorang pendaki gunung pernah dituturkannya dalam tulisan cerpen yang ia buat semasa kecil. Dalam cerpennya Fanny melukiskan ada seorang gadis cantik aristokrat yang pemikirannya bertentangan dengan budaya masyarakat. Gadis cantik itu kemudian melarikan diri ke Gridelwald, menikahi pria Amerika, dan menjadi seorang alpinis yang handal.

Dari cerita sederhana milik Fanny ini, dan kemudian membandingkannya dengan apa yang dilakukan Fanny setelah masa dewasanya, kita mungkin dapat menarik kesimpulan, bahwa bisa jadi gadis cantik yang ia maksud dalam tulisannya, adalah obsesi dalam pemikiran dirinya sendiri.

Source: Adobe stocks

Pada bulan Juni, tanggal 16, tahun 1882, Fanny kemdian menikah dengan seorang pria Amerika bernama William Hunter Workman. William sendiri juga berasal dari keluarga kaya raya dan berpendidikan tinggi. Dua tahun setelah menikah keduanya kemudian dikaruniai seorang anak bernama Rachel.8.2

Gunung pertama yang didaki oleh Fanny adalah White Mountains di New Hampshire, di sana ia mendaki Puncak Mount Washington bersama dengan William. Fanny juga banyak belajar kehidupan bertualang dari suaminya itu. Usia William yang 12 tahun lebih tua dari Fanny nampaknya ikut pula memberi keuntungan pada William untuk banyak mengajari Fanny sesuatu yang mungkin belum diketahuinya.

Setelah ayah Fanny Workman dan William Hunter meninggal, keduanya mewarisi kekayaan yang melimpah. Namun keduanya memiliki sifat yang sama-sama tidak begitu menyukai kehidupan ekslusif dan privellege mereka. Tak lama kemudin mereka memutuskan untuk pindah ke Kota Dresden di Eropa. Dan dari sini, Fanny mulai melakukan ekspedisinya ke Skandinavia dan juga Jerman.

Jiwa Penentang dan Penuh Kontroversi Sang First Lady Mountaineering

Source: Amazon.ae

Tidak lama setelah mereka tiba di Eropa, anak kedua pasangan Workman lahir. Mereka kemudian memberinya nama Siegfried karena dia seorang laki-laki. Namun Fanny sama sekali tidak sama seperti para perempuan lain yang mengutamakan tugas mereka sebagai seorang ibu. Kepengurusan Siegfried ia serahkan kepada pengasuh, sementara Fanny dan suaminya sendiri memilih untuk betualang, menjelajah, dan juga mengayuh sepeda.

Jiwa menentang kebiasaan ini adalah sesuatu yang mendapatkan banyak perhatian kita. Fanny menganggap bahwa dirinya tidak memiliki kewajiban untuk mengurus anak-anaknya, meskipun ia seorang ibu yang melahirkannya. Peran tradisional wanita hanya sebagai seorang ibu dan seorang isteri tidak bisa diterima oleh Fanny saat itu, ia dengan bersikeras menentukan pilihannya sendiri, dengan menjadi penulis dan bertualang.

Fanny Bullock menjalani kehidupan yang penuh semangat  yang menyimpang dari feminitas ideal tahun 1800-an. Sebagai seorang feminis, Fanny menganggap dirinya sebagai contoh dari gagasan bahwa seorang perempuan dapat menyamai bahkan mengungguli para laki-laki dalam lingkungan yang keras dan sulit8.3.

Fanny telah menunjukkan cara pandang baru dari seorang perempuan terhadap  takdir dan peran mereka. Fanny juga telah menembus batasan-batasan yang selama ini dianggap sebagai pakem bagi dunia perempuan. Ia dengan segala semangat perjuangan hak perempuan yang diembannya telah melampaui apa yang selama ini nampaknya menjadi sesuatu kodrat kebanggaan sebagai wanita, yakni sebagai seorang ibu dari anak-anak mereka.

Description: 618px-fanny_bullock_workman_d_1922.jpg
Fanny Bullock Workman dalam satu penjejalahannya di Himalaya. Meskipun memiliki pemikiran dan komitmen yang kuat untuk memperjuangkan hak-hak perempuan untuk setara dengan laki-laki, dalam berpakaian, Fanny tetap mempertahankan rok lebarnya untuk mendaki dan mengayuh sepeda. Sumber foto: Google

Pilihan ini nampaknya harus dibayar mahal oleh Fanny Bullok dan suaminya, tahun 1893, di usianya yang keempat tahun, Siegfried meninggal dunia karena virus influenza dan pneumonia. Ini menjadi miris kemudian karena William Hunter sendiri adalah seorang yang memiliki pengetahuan medis cukup baik. Pengetahuan medis itu semestinya sangat diperlukan untuk membantu perkembangan anak-anak mereka di Eropa. Karena walaupun dibesarkan oleh pengasuh dalam lingkungan yang berkecukupan, seorang anak tetap membutuhkan perhatian kedua orang tua untuk kesehatan dan pertumbuhan mereka.

Kematian anak bungsunya tidak menjadikan Fanny berhenti dari bertualang, bahkan ia bertambah semangat dan ambisius. Ia bersama suaminya mulai melakukan tur sepeda panjang mereka berkeliling dunia, melihat dunia yang selama ini hanya ada dalam cerita dan peta saja.

Pilihan ini benar-benar mengokohkan Fanny Bullock sebagai seorang yang dianggap lebih memprioritaskan ambisi pribadinya dibandingkan kodratnya sebagai seorang ibu. Bahkan pada saat Rachel menikah dengan Sir Alexander MacRobert pada tahun 1911, Fanny dan suaminya sedang menjalani petualangan mereka di Karakoram. Mereka tak tertarik untuk pulang dan menghadiri pernikahan Rachel.

Petualangan Fanny di Eropa, Pulau Jawa, Sri Lanka dan Himalaya

Source: Adventure Travel Magazine

Pada tahun 1891 Fanny menjadi salah salah satu perempuan pertama yang mencapai Puncak Mont Blanc. Pada waktu yang sama ia juga menjadi salah satu perempuan pertama yang mendaki Jungfrau dan Matterhorn. Bahkan di Matterhorn Fanny melakukan pendakiannya dengan dipandu oleh Peter Taugwalder, orang yang mencapai Puncak Matterhorn bersama Edward Whymper pada pristiwa first ascent. Sebelumnya berkisar dari 1888 hingga 1893. Fanny dan suaminya sudah melakukan tur bersepeda mengelilingi Swiss, Perancis, dan juga Italia.

Dalam tulisan-tulisan yang mengulas perjalanannya, Fanny tidak pernah ketinggalan untuk menggambarkan pandangannya tentang kaum perempuan. Ia melukiskan bagaimana kehidupan kaum perempuan di suatu daerah atau negara, apa yang mereka alami, dan apa bentuk diskriminasi yang dilakukan oleh sosial masyarakat terhadap gender seorang wanita di tempat itu. Data-data dan ketertarikan Fanny pada dunia feminisme ini semakin mengokohkan namanya sebagai salah satu pejuang persamaan hak-hak perempuan dalam dunia petualangan dan eksplorasi.

Menjelang akhir abad tahun 1800-an, Fanny dan suaminya menjelajah ke wilayah India dan juga Himalaya. Mereka melakukan tur sepeda menempuh jarak sekitar 6.400 kilometer dari wilayah selatan India menuju bagian utara Himalaya. Pada kisaran waktu yang sama, pasangan Workman ini juga pernah menjelajahi Pulau Jawa di Indonesia dalam sebuah tur panjang mereka yang juga melintasi Burma serta Sri Lanka.

Perjalanan pasangan Workman dalam menjelajahi Pulau Jawa, Burma, dan Sri Lanka ini setidaknya menghabiskan waktu dua setengah tahun. Sementara dalam perjalanannya di India yang juga jauh dan panjang, Fanny dan Wiliam biasanya bersepeda tidak jauh dari rel kereta api untuk membantu ketersediaan suply logistik mereka. Meskipun demikian, petualangan Fanny Bullock Workman seringkali hanya dibekali dengan sedikit makanan dan persediaan air. Mereka juga sering berjibaku dengan nyamuk, tidur di antara sarang tikus, dan kehidupan liar yang keras lainnya.

Source: Sheila Hanlon

Sementara pada kisaran tahun 1898, petualangan Fanny dan William memasuki wilayah Sikkim dan Kangchenjunga, mereka merambah ke areal perbatasan dengan negara Bhutan. Pada saat penjejalahan di wilayah ini pasangan Workman sempat bermasalah dengan para kuli panggul atau porter yang mereka bayar untuk penjelajahan di atas gunung.

Dikarenakan cuaca yang ekstrim dan beban yang berat, umumnya para porter menolak berjalan melebihi 8 kilometer setiap harinya. Dan pada akhirnya para porter ini kemudian benar-benar berontak dan menolak untuk membawa barang-barang Fanny dan suaminya dan memilih pulang ke tempat asal mereka di Darjeeling. Dan hal ini terjadi hanya tiga hari sejak ekspedisi itu dimulai.

Kenyataan ini membuat pasangan Workman serba sulit dan terpaksa menyewa porter lokal. Namun masalahnya porter lokal tidak terbiasa mendaki gunung tinggi, dan juga tidak biasa menerima perintah dari seorang perempuan. Dan pada akhirnya situasi ini kian memperpelik masalah yang dihadapi oleh Fanny dan suaminya.

Selain kegagalan dalam ekspedisi pendakian gunung mereka, chapter ini juga menjadi sebuah argumentasi yang kuat bagi banyak penulis sejarah untuk mengatakan bahwa Fanny Bullock Workman dan suaminya, kurang memiliki rasa empati dan kesabaran saat berhadapan dengan para porter yang mereka sewa. Dan pada akhirnya, mereka gagal dengan hambatan yang terbentuk karena kesalahan mereka sendiri.

Pencapaian Fanny Bullock Workman Dalam Dunia Mountaineering

Meskipun berakhir dengan kegagalan, namun pengalaman dengan gunung-gunung di Himalaya telah membuat pasangan Workman terpesona dengan mountaineering dan alpinisme. Dan dalam rentang waktu kisaran empat belas tahun kemudian, mereka setidaknya delapan kali mengunjungi dan menjelajahi Himalaya.

Belajar dari ekspedisi mereka yang pertama di Himalaya yang berakhir dengan masalah kepada para pekerja. Dalam ekspedisi mereka yang kedua tahun 1899, Fanny dan suaminya menyewa Mathias Zurbriggen, guide gunung dari Swiss terbaik pada masa itu. Kemudian bersama dengan Zurbriggen dan juga sekitar 50 orang porter, mereka berangkat menuju Biafo Gletser di Karakoram. Namun petualangan di Biafo terpaksa dihentikan karena potensi bahaya yang ditimbulkan oleh ceruk esnya yang demikian banyak. Dari Biafo tim Workman kemudian bergerak menuju Gletser Skoro La, di mana kemudian mereka membuat beberapa pemuncakan.

Puncak pertama yang cukup penting dalam catatan pendakian Fanny Bullock Workman ini adalah Siegfriedhorn8.4 yang berdiri dengan ketinggian elevasi 5.700 meter. Ketinggian yang dicapai Fanny pada saat itu adalah rekor baru dari ketinggian yang berhasil dicapai oleh seorang perempuan. Kemudian tim Workman yang dipandu oleh Mathias Zurbriggen membuat camp mereka yang kedua dan mencapai satu puncak lagi yang diberi nama Mount Bullock Workman.

Description: 73130_3.jpg
Fanny bersama suami dan para pemandunya dalam salah satu pendakiannya di Mount Buspar, Karakoram. Sumber foto: Google

Mount Bullock Workman menjadi gunung kedua di mana Fanny membuat rekor ketinggian lagi untuk seorang perempuan. Gunung ini memiliki elevasi 5.930 meter, 230 meter lebih tinggi dari Puncak Siegfriedhorn. Dari puncak kedua yang diberi nama atas dirinya, Fanny kemudian bergerak lagi menuju salah satu puncak yang cukup monumental dalam catatan pendakiannya kemudian. Puncak itu adalah Koser Gunge, sebuah gunung dengan medan pendakian yang cukup teknis dan berdiri pada ketinggian 6.400 meter.

Berturut-turut mencapai puncak Siegfriedhorn, Mount Bullock Workman dan Koser Gunge, membuat Fanny menjadi wanita pertama di dunia yang membukukan rekor tiga kali berturut-turut mencapai ketinggian. Hal lain  yang perlu menjadi catatan dalam pendakian Fanny di Koser Gunge ini adalah karena ini merupakan sebuah medan pendakian yang cukup teknis dan sulit. Untuk mencapai puncak ini ia harus memanjat sebuah tebing setinggi 370 meter dalam tekanan cuaca yang membeku.

Koser Gunge juga menjadi salah satu medan pembuktian determinasi mountaineering dan semangat yang dibawa Fanny dalam dirinya. Ia benar-benar membuktikan bahwa seorang wanita dapat lebih unggul dari pria di atas gunung. Pada saat beberapa porter memilih untuk menyerah, Fanny terus berjibaku, menarik tubuhnya yang berat untuk terus mencapai tempat yang lebih tinggi.

Sebenarnya Fanny adalah sosok pendaki yang lambat, namun ia juga pemberani dan tak kenal menyerah. Dengan segala keterbatasan perlengkapan pada saat itu8.5 apa yang Fanny lakukan memang sangat luar biasa. Ia menurut penuturan Thomas Pauly8.6 dalam tulisannya, kunci utama dari keberhasilan Fanny adalah kegigihan dan juga kekebalannya terhadap penyakit ketinggian.

“Seperti beruang, dia dengan kuat menahan satu kakinya, dan kemudian meraba-raba untuk mendapatkan pegangan yang aman lainnya…”

Puncak Prestasi Fanny Bullock Workman di Pinnacle Peak

Rekor ketinggian selanjutnya dibuat Fanny terjadi pada tahun 1903, saat ia dan suaminya kembali lagi ke Himalaya dan mendaki sebuah gunung yang berada dalam wilayah Pegunungan Spantik. Gunung yang dicapai Fanny itu memiliki ketinggian 6.878 meter, hampir 500 meter lebih tinggi daripada Koser Gunge yang ia capai pada tahun 1899. Sayangnya tidak ditemukan info yang akurat mengenai nama puncak yang dicapai oleh Fanny saat itu.

Prestasi terbesar Fanny Bullock Workman dalam mountaineering dicapainya pada tahun 1906, saat ia mencapai Puncak Pinnacle dalam ekspedisi dan eksplorasi di Nun Kun Massif. Usia Fanny ketika mencapai Pinnacle Peak adalah 47 tahun, dan ia juga membuat sebuah klaim dengan mengatakan bahwa Pinnacle Peak yang ia capai memiliki ketinggian 7.091 meter. Padahal ketinggian sebenarnya dari Puncak Pinnacle adalah 6.930 meter. Namun bagaimana pun, Fanny telah mencapai rekor ketinggian perempuan untuk kelima kalinya dalam ekspedisi di Pinnacle Peak ini. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menunjukkan determinasi dan kegigihannya yang luar biasa.

Prestasi lain yang juga patut untuk dicatat tentang Fanny Bullock Workman ini adalah saat ia melakukan ekspedisi di Hispar Gletser pada tahun 1908. Saat itu Fanny melintasi jarak sejauh 61 kilometer di permukaan gletser yang memiliki elevasi 5.300 meter.

Ia juga kemudian menambah wilayah jelajahnya dengan menyeberangi Biafo Gletser menuju Askole dengan jarak tempuh sejauh 60 kilometer. Dengan dua penyeberangan gletser dengan total jarak sekitar 121 kilometer ini, Fanny Bullock Workman kembali mencatatkan rekor sebagai perempuan pertama di dunia yang melakukan penyeberangan gletser dengan ukuran seluas itu.

Description: 5481689936_5c4772cb5f_b.jpg
Beberapa puncak dalam jajaran Pegunungan Nun Kun yang pernah dijelajahi oleh Fanny Bullock Workman. Sumber foto: Flickr

Pencapaian terpenting dalam penjelajahan gletser yang dilakukan oleh pasangan Workman terjadi pada kisaran tahun 1911-1912 dimana mereka mengeksplorasi Rose Gletser seluas 72 kilometer di Baltistan. Ini dianggap pencapaian tertinggi keduanya setelah Pinnacle Peak, karena pada saat itu Gletser Rose adalah gletser non-kutub terluas dan terpanjang yang pernah dijelajahi manusia.

Fanny dan suaminya menghabiskan setidaknya dua bulan untuk menyelesaikan ekspedisi di tempat ini. Bahkan dalam penjelajahan ini, salah satu porter Italia yang sengaja disewa oleh pasangan Workman terjatuh ke crevasse dan tewas, yang kemudian membuat anggota ekspedisi lain sempat gentar dan seolah mati langkah. Fanny menunjukkan konsitensi tekadnya di sini, ia memimpin salah satu  fase sulit tim saat melewati Sia La Pass yang berada pada ketinggian 5.700 meter.

Perjuangan, Warisan dan Pencapaian Fanny Bullock Workman Untuk Emansipasi

Source: Rock and Ice Magazines

Fanny Bullock Workman adalah pejuang yang konsisten dan sangat gigih dalam mengkampanyekan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang sama bahkan dapat mengungguli laki-laki di medan sulit. Dan ia juga bekerja keras untuk membuktikan hal tersebut.

Bersama dengan Annie Smith Peck, Fanny Bullock Workman adalah pendaki gunung perempuan yang populer dan menonjol pada masa menjelang awal abad 20. Meskipun pada dasarnya Annie dan Fanny adalah rival dalam mountaineering terkait pioneering mereka dalam memecahkan rekor-rekor ketinggian untuk perempuan, namun keduanya menjadi cerminan sempurna kemampuan wanita di atas gunung.

Memang pada dasarnya perempuan mulai hadir di pegunungan Alpen Eropa pada kurun waktu tahun 1850-an, namun di Himalaya, tidak ada petualang perempuan di sana. Himalaya pada awal abad 208.7 didominasi oleh para petualang Inggris yang umumnya berasal dari keluarga kaya raya. Hadirnya nama Fanny Bullock Workman memang  menjadi warna baru saat itu, apalagi dengan beberapa pendakiannya yang cukup signifikan.

Meskipun demikian, dalam hal perjuangan untuk mendapatkan pengakuan akan pencapaiannya, Fanny Workman dapat dibilang cukup berlebihan. Ia menggambarkan dirinya sebagai role model bagi penentangan kepada budaya tradisional seorang wanita masa itu.

Dan lebih jauh Fanny juga menganggap bahwa ia adalah wanita terkemuka dan contoh paling signifikan untuk pendaki gunung dan petualang perempuan. Dan ia juga kerapkali mengatakan bahwa dirinya di atas gunung bisa menyamai bahkan mengungguli para lelaki. Sebuah amunisi yang kemudian menjadi teorama yang senantiasa ia dengungkan untuk memperjuangkan eksistensi kaum perempuan dalam mountaineering.

Walaupun beberapa orang menilai bahwa Fanny Bullock Workman dan suaminya, dalam tulisan mereka seringkali membesar-besarkan pencapaian dan petualangan yang telah mereka lakukan8.8, namun tidak dapat ditepis juga bahwa keduanya telah melakukan sebuah  perjalanan yang penuh kisah dalam sejarah. Dan salah satu yang kemudian menjadi catatan penting para pengamat untuk memberi nilai untuk pasangan Workman, adalah bahwa kehadiran mereka berdua di Himalaya khususnya, telah mematahkan hegemoni dan monopoli para pria Inggris di sana. 

Karena sebelumnya, Himalaya, Karakoram dan gunung-gunung besar kawasan Asia Tengah, telah menjadi tempat eksklusif yang hanya bisa dijangkau oleh para petualang pria dari Eropa, khususnya Inggris. Fanny Bullock Workman kemudian hadir dan mengubah persepsi tersebut. Ia bukan saja telah mematahkan anggapan tradisional akan peran seorang wanita, namun Fanny juga telah maju begitu jauh dan menunjukkan pada dunia bahwa dalam bidang penjelajahan dan pendakian gunung, seorang wanita juga mampu berprestasi secara signifikan.

Pencapaian dan Warisan

Dan berikut beberapa penghargaan dan pengakuan penting yang kemudian diperoleh Fanny Bullock Workman terkait dengan penjelajahan dan petualangan yang ia lakukan;

  • Fanny Bullock Workman menjadi wanita Amerika pertama yang memberi kuliah umum dan ceramah di Sorbonne, Paris.
  • Fanny adalah salah satu wanita pertama yang diakui sebagai anggota dari Royal Geographical Society terkait dengan berbagai catatan ilmiahnya tentang fenomena gletser dan lain sebagainya.
  • Mendapatkan medali penghargaan dan kehormatan setidaknya sepuluh dari berbagai komunitas ilmiah dan geographical Eropa.
  • Fanny juga adalah anggota terpilih beberapa klub pendakian gunung dunia seperti; American Alpine Club, Royal Asiatic Society, Club Alpino Italiano, Deutscher und Ӧsterreichischer Alpenverein, dan juga Club Alpin Franḉis.

Buku-buku yang ditulis oleh Fanny Bullock Workman dan suaminya

  • Algerian Memories: a bicycle tour over the Atlas to the Sahara. Terbit di London, tahun 1895
  • Sketches Awheel in Modern Iberia. Terbit di London, tahun 1897.
  • In the ice world of Himalaya, among the peaks and passes of Ladakh, Nubra, Suru, and Baltistan. Terbit di New York, tahun 1900.
  • Ice-Bound Height of the Mustagh: An Account of Two season of Pioner Exploration and High Climbing in the Baltistan Himalaya. Terbit di London, tahun 1908.
  • Peaks and Glaciers of Nun Kun; A Record of Pioneer-Exploration and Mountaineering in Punjab Himalaya. Terbit di London, tahun 1909.
  • The Call of the Snowy Hispar: A Narrative of Exploration and Mountaineering in the Northern Frontier of India.  Terbit di New York, tahun 1911.
  • Two Summers in the Ice-Wilds of Eastern Karakoram: The Exploration of the Nineteen Hundred Square Miles of Mountain and Glaciers. Terbit di New York, tahun 1916.

Selain buku-buku di atas, Fanny dan William juga menerbitkan cukup banyak artikel dan essay yang dipublikasikan di National Geographic, Independent, Scientic American, dan lain sebagainya.

Fanny sendiri kemudian meninggal pada tahun 1925 di Cennes, Perancis, dan abunya kemudian dimakamkan di Massachusetts.

Sebagai salah satu cerminan minat dan konsistensinya memperjuangkan hak-hak perempuan untuk setara dengan laki-laki, dalam surat wasiatnya Fanny menghibahkan dana setidaknya $125.000 ke empat perguruan tinggi yang konsisten dengan pendidikan perempuan, yakni Radcliffe College di Cambridge, Wellesley College di Wellesley, Massachusetts, Smith College di Northampton, dan Bryn Mawr College di Pensylvania.

Footnote:

  • Governesses adalah wanita yang dipekerjakan secara khusus untuk mengajari anak-anak dan melatih mereka di rumah-rumah para pejabat negara semacm gubenrnur dan sebagainya. Governesses tidak sama dengan pengasuh, mereka secara spesifik bertindak sebagai guru.
  • Kelak, Rachel juga tumbuh menjadi tokoh berpengaruh dengan nama lengkapnya, Lady Rachel Workman MacRobert, ia adalah ahli geologi sekaligus juga pejuang hak perempuan yang cukup signifikan di Amerika.
  • Wikipedia ;Fanny Bullock Workman
  • Dinamakan seperti nama anak bungsu Fanny
  • Belum ada carabiner atau pun piton sebagai pengaman seumpama jatuh.
  • Penulis biografi singkat Fanny Bullock Workman.
  • Kisaran tahun 1880-1940
  • Beberapa penulis menilai karena motivasi untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan

Artikel ini dikutip dari buku berjudul DEWI GUNUNG karya Anton Sujarwo. Klik tautan di bawah ini untuk mendapatkan buku-buku mountaineering populer di Indonesia karya Anton Sujarwo


Tulisan Anton Sujarwo lainnya dapat dibaca di:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: