KISAH LENGKAP TEWASNYA GÜNTER MESSNER DI NANGA PARBAT

“Nilai pasar saya meningkat setiap kali ada kritik dari luar yang menyerang saya. Oleh karena itu, hujatan dan pertikaian yang sering ditujukan kepada saya, bahwa saya adalah pendaki gunung yang paling sering dikecam sama sekali tidak mengganggu saya sedikit pun”

Reinhold Messner

BAGIAN SATU: HEI, APA YANG KAU LAKUKAN, MENGAPA KAU MENYUSUL?

Description: reinhold-messner-by-mike-meyer.jpg
Reinhold Messner secara umum dianggap sebagai pendaki gunung terbesar abad modern, berbagai prestasi dan kemampuan di atas gunung telah menyematkan gelar sebagai Dewa Gunung untuknya. Akan tetapi pada pristiwa kematian Günther di Nanga Parbat di mana Reinhold menjadi tokoh sentralnya, kita akan melihat sisi lain dari seorang superhuman Reinhold Messner. Sumber foto: pinterest

Artikel ini dikutip dari buku berjudul GUNUNG KUBURAN PARA PEMBERANI karya Anton Sujarwo

Matahari sudah tergelincir dari titik tertingginya pada siang itu, tengah hari baru saja lewat sekitar satu atau dua jam yang lalu. Di tempat dengan lapisan es dan salju yang bertumpuk-tumpuk, juga bebatuan hitam yang menyembul di antaranya, perbedaan waktu itu tak begitu terasa. Angin beku masih bertiup dengan konstan, selubung kabut putih dengan temperatur di bawah nol derajat celcius juga tak menunjukkan gerakan yang berbeda.

Reinhold Messner duduk di atas lereng sebuah tebing salju padat yang licin, bersandar pada kapak esnya ia menikmati rasa lelah dengan mata berbinar. Sesekali ia menoleh ke belakang, ke arah tebing menjulang yang menanti gerakan kaki Messner untuk mendakinya kembali. Sedangkan di bawah tapak sepasang crampon yang dikenakan oleh Messner, terbentang sebuah sisi gunung yang panjang dan menukik dengan vertical gain sejauh lebih dari 4,5 kilometer.

Itu adalah Rupal Face, dinding gunung yang memiliki lonjakan vertikal tertinggi di bumi, bagian selatan dan tenggara dari raksasa pembunuh yang bernama Nanga Parbat. Messner sudah mencapai ketinggian sekitar 7900-an meter gunung ini, masih tersisa sekitar 300 meteran lagi sebelum ia bisa tampil di puncak tertinggi dan mungkin melakukan sedikit selebrasi.

Ketika Messner sedang menikmati istirahatnya yang tenang, tiba-tiba sudut matanya menangkap sebuah titik kecil yang bergerak mendekat ke arahnya dari couloir Rupal Face yang menjadi rute pendakian yang ia gunakan sebelumnya. Lama-kelamaan titik itu kian mendekat dan membesar, itu adalah sesosok manusia yang bergerak perlahan mengikuti jejak-jejak kaki Reinhold yang masih teringgal di atas salju Nanga Parbat. Semakin dekat sosok itu ke posisi Messner, semakin jelaslah siapa orang itu sebenarnya. Dia adalah Günter Messner, adik kandung Reinhold Messner sendiri.

Rupal Face Nanga Parbat – Source: Vertical Expedition Treks

Reinhold mengerenyitkan keningnya setelah mengenali sosok yang semakin mendekat ke arahnya.

 “Apa yang dilakukan anak ini, mengapa ia menyusul” batin Messner gelisah.

Jelas kehadiran Günter di tempat itu bukanlah bagian yang disangka-sangka oleh Reinhold, sama sekali tidak ia perhitungkan jika sang adik yang tadi saat ia tinggal masih bergelung dalam sleeping bag bersama Gerhard Bauer di Camp 5 kemudian akan menyusulnya hingga ke tempat itu. 

Beberapa saat kemudian ketika tubuh Günter semakin mendekat ke arah di mana Reinhold sedang bersandar pada kapak esnya, Reinhold segera mengajukan pertanyaan dengan nada agak kesal.

“Hei apa yang kau lakukan, mengapa kau menyusul?”

Günter yang masih ngos-ngosan karena kelelahan tidak segera menjawab pertanyaan kakaknya itu, ia malah langsung duduk di samping Messner, meringis menahan lelah lalu merebahkan diri sambil berpegangan pada gagang kapak es yang menempel di sebelah tubuhnya. Sepuluh detik kemudian, ketika napasnya mulai bisa dikendalikan, baru kemudian suara Günter keluar menjawab pertanyaan Reinhold.

“Aku juga ingin mencapai puncak gunung ini, sama sepertimu”

“Tapi kau telah memporsir tenagamu secara berlebihan saat mendaki, dan itu tidak akan bagus buatmu sendiri”

Günter membuka sebelah matanya yang tadi terpejam menikmati rasa lelah, raut kesal kakaknya itu sudah dapat ia duga sebelumnya.

“Jangan khawatir untuk hal itu, semua akan baik-baik saja”

Reinhold masih merasa belum puas dengan jawaban dari Günter, ingin ia mengulang lagi pertanyaannya mengapa Günter harus menyusul, namun setelah dipikirkannya lagi, Reinhold urung mengajukan pertanyaan, ia takut akan menyinggung perasaan adiknya.

Keputusan Günter untuk menyusulnya dari Camp 5 hingga ke tempat itu tidak hanya nekat dan berani, tetapi juga sangat berbahaya. Jika ia menginterupsi Günter dengan segala pertanyaan dan amarah, itu tentu saja akan membuat Günter tersinggung dan mungkin tidak bagus bagi mereka berdua nantinya. Jadi setelah berpikir sejenak, sambil menunggu Günter mengatur napasnya sampai benar-benar tenang, Reinhold kemudian mengubah pertanyaannya.

“Bagaimana kau bisa mengikutiku sampai ke tempat ini, rutenya kan tidak mudah dan sama sekali tidak ada tali yang terpasang sebagai petunjuk?”

“Mudah saja, aku mengikuti jejak kakimu”

Sahut Günter cepat, tersenyum sambil bangun dan duduk di samping Reinhold.

Rute pendakian Reinhold Messner dan Gunther Messner di Rupal Face tahun 1970 (Pinterest)

Ekspedisi Nanga Parbat Tahun 1970 dan Kontroversi Pendakian Reinhold Messner

Tahun 1970, tahun dimana Reinhold Messner dan Günter Messner mendaki Nanga Parbat bersama, adalah tahun dimana puncak tertingginya baru berumur 17 tahun sejak pertama kali dicapai sebagai first ascent oleh Hermann Buhl pada bulan Juli tahun 1953. Ekspedisi pendakian Nanga Parbat tahun 1970 ini dipimpin oleh seorang pria konservatif bernama Karl Herrligkoffer, seorang pria yang telah enam kali memimpin ekspedisi ke gunung tersebut dan masih tetap penasaran karenanya.

Karl Herrligkoffler pertama kali ke Nanga Parbat pada tahun 1953 ketika Hermann Buhl memutuskan melakukan percobaan solonya untuk mencapai puncak. Kemudian Herrligkoffler mendatangi gunung itu kembali terus menerus, dalam upaya ‘menaklukkan’ gunung pembunuh itu dari berbagai sisi yang mungkin dapat ia lakukan.

Banyak pendapat yang berkembang bahwa obsesi berlebihan dari Herrligkoffler ini merupakan dendam yang ia pendam lantaran Willy Merkl, saudara sepupu dari Herrligkoffer, terbunuh di gunung itu pada 7 Juli tahun 1934. Kematian Merkl inilah kemudian yang menghantui Herrligkoffer dan membuatnya demikian terobsesi untuk mengalahkan Nanga Parbat.

Jika kita membaca lagi ekspedisi pimpinan Karl Herrligkoffler tahun 1953 dan tahun 1970 ini, maka ada sebuah benang merah yang dapat ditarik tentang sebuah kejadian yang kemudian akan membuat marah sang pemimpin ekspedisi. Tahun 1953, keputusan Hermann Buhl untuk melakukan upaya pemuncakan secara solo adalah sesuatu yang sangat dimurkai oleh Herrligkoffler. Tindakan Buhl dianggap sebuah pembangkangan terhadap hierarki kepemimpinan ekspedisi, meskipun Buhl akhirnya bisa mencapai puncak dan kembali dengan selamat,4.1 itu sama sekali tidak menyenangkan hati Herrligkoffler.

Sebuah ekspedisi yang berhasil mencapai puncak adalah keberhasilan yang melambungkan nama para anggotanya, terutama sang peraih puncak dan pemimpin ekspedisi. Ekspedisi seperti ini umumnya dilakukan dalam sebuah upaya kerjasama tim yang solid dan taat dalam arahan sang pemimpin ekspedisi, sehingga ketika upaya mencapai puncak menuai kesuksesan, maka peran sang pemimpin ekspedisi tidak akan kehilangan eksistensi signifikannya. Contoh kasus mengenai hal ini paling mudah kita lihat pada ekspedisi Everest yang mengantarkan nama Edmund Hillary dan Tenzing Norgay sebagai bintangnya.

Saat itu sang pemimpin ekspedisi, John Hunt, mendapatkan penghargaan (secara materi dan juga moral) yang hampir sama besarnya dengan Hillary dan Norgay. Hunt dianggap mampu me-manage sebuah tim yang kemudian atas kepemimpinannya, tim tersebut mampu mencapai puncak Everest.

John Hunt (tengah) di antara Tenzing Norgay dan Edmund Hillary pada ekspedisi first ascent Everest tahun 1953 – The42

Kenyataan ini berbanding terbalik dengan sebuah ekspedisi seperti di Nanga Parbat yang membuat nama Hermann Buhl bersinar bak bintang terang. Masyarakat yang umumnya mendapati kisah pencapaian puncak dari sebuah perjuangan solo seorang Hermann Buhl, akan memberikan penghormatan yang jauh lebih besar pada sang pendaki dari pada pemimpin ekspedisinya sendiri, dalam hal ini Herrligkoffler. Upaya solo yang dilakukan oleh Buhl mendapat apreasiasi yang jauh lebih tinggi dari publik, yang pada perkembangangnya juga menenggelamkan peran serta dari sang pemimpin ekspedisi.

Jadi selain karena pembangkangan tehadap kepemimpinan, alasan ini menjadi pertimbangan pula bagi Herrligkoffler mengapa ia meskipun berhasil mengepalai ekspedisi Nanga Parbat tahun 1953, tetapi tidak begitu menyukai hasil akhirnya.

Maka tidak mengherankan kemudian, sekembalinya dari Nanga Parbat, Herrligkoffler melayangkan berbagai serangan dan tuntutan kepada Buhl atas pembangkangan yang dilakukannya saat ekspedisi. Namun pada titik ini, Herrligkoffler juga harus menyadari bahwa kepopuleran Hermann Buhl sudah jauh melampaui dirinya, dan karena itu serangan dan tuntutan hukum dari Herrligkoffler tak terlalu banyak mempengaruhinya.

Hermann Buhl – Nordkette

Pada ekspedisi Nanga Parbat yang keenam bagi Herrligkoffler (tahun 1970), dimana Reinhold Messner dan Günter Messner ikut serta, kita akan meihat ending yang tidak jauh berbeda dengan ekspedisi tahun 1953 nantinya. Keputusan mendaki solo yang dilakukan oleh Reinhold Messner pada dasarnya bukanlah keputusan yang disukai oleh Herrligkoffler.

Dan karena itu adalah sesuatu yang tidak akan mendapat izin dari Herrligkoffler, maka Reinhold Messner juga tak pernah meminta izin untuk melakukannya, meskipun secara etika dan hierarki kepemimpinan ekspedisi, memang sepatutnya Reinhold meminta izin terlebih dahulu kepada Herrligkoffler. Dan menariknya, rangkaian dari semua miss-undertstanding yang berlarut-larut ini pada awalnya bermula dari sebuah kesalahan kecil yang bisa dibilang tidak seharusnya terjadi.

Pada saat Reinhold Messner, Gerhard Bauer dan Günter Messner mencapai Camp 5 untuk melakukan summit push, mereka menunggu instruksi dari base camp sebagai trigger. Karena radio saat itu tidak dapat difungsikan, maka alat komunikasi antara base camp dan Camp 5 menggunakan roket suar.

Disepakati sebelumnya bahwa roket suar berwarna biru menandakan cuaca bagus. Sedangkan roket suar yang berwarna merah menunjukkan sebaliknya. Semua informasi ini didasarkan pada siaran radio yang diperoleh base camp dari Peshawar di Pakistan.

Roket Suar yang Salah Warna?

Ekspedisi Nanga Parbat tahun 1953 – OMNIA

Sekitar jam 7 atau 8 malam, radio peshawar memberitakan bahwa cuaca bagus di sekitar Nanga Parbat dan kondisi cukup bagus untuk melakukan pemuncakan. Merespon hal ini, Herrligkoffler segera mengambil pistol roketnya dan menembakkannya ke udara.

Peluru roket meluncur ke atas dengan kencang dan kemudian meledak, tapi ternyata apinya berwarna merah, bukan biru seperti yang direncanakan. Dan entah mengapa, atau mungkin karena takut akan membingungkan para pendaki di Camp 5, tembakan roket suar itu tidak direvisi lagi oleh Herrligkoffler.

Reinhold Messner dan dua pendaki lain di Camp 5 yang melihat api suar rocket base camp berwarna merah segera mengambil kesimpulan bahwa besok cuaca tidak akan begitu bersahabat. Dan untuk hal itu mereka harus melakukan sesuatu.

Reinhold Messner sebagai salah satu anggota tim terkuat membuat perencanaan untuk melakukan summit push secara solo yang ringan dan cepat. Keputusan untuk melakukan upaya pemuncakan solo ini sama sekali bukan keputusan yang kemudian mendapat restu penuh dari Karl Herrligkoffler. Herrligkoffler adalah pria konservatif yang masih memegang kuat aturan kaku dan baku, bahwa semua tindakan harus seizin dia.

Namun ada juga beberapa pendapat yang berkembang dalam kasus ini mengatakan bahwa jika tembakan suar roket berwarna merah (yang menginsyaratkan cuaca buruk) maka Reinhold Messner sebagai pendaki utama di Camp 5 diberi sedikit ruang untuk menentukan pilihan; apakah membatalkan pendakian, ataukah melakukan sedikit improvisasi dalam upaya untuk menaklukkan puncak Nanga Parbat?

Akan tetapi secara umum pendapat yang berkembang adalah bahwa keputusan Reinhold Messner untuk melakukan upaya solo tidak sepenuhnya mendapat restu dari Karl Herrligkoffler.

Description: Rupal Face.JPG
Dengan lonjakan vertikal yang demikian signifikan (hampir 4,5 kilometer) Rupal Face menjadi salah satu tebing dengan lonjakan elevasi paling antraktif di bumi. Tebing inilah yang menjadi rute pendakian Reinhold Messner dan eskpedisinya di Nangat Parbat tahun 1970 – Sumber foto: Summitpost

Reinhold meninggalkan Camp 5 kurang lebih jam tiga dini hari, gelap pekat langit Karakoram masih memenuhi udara. Dengan bantuan headlamp di kepalanya, Reinhold bergerak mencari rute menuju puncak, meninggalkan Gerhard Bauer dan Günter Messner yang masih menikmati kehangatan sleeping bag di dalam tenda mereka.

Di Merkl Couloir4.2, Reinhold sempat kesulitan menemukan tali yang sebelumnya telah mereka pasang. Namun menjelang pagi, dengan bantuan cahaya headlamp di kepalanya, Reinhold akhirnya menemukan rute pendakian dan kemudian bergerak menuju puncak Nanga Parbat. Saat matahari pagi mulai meninggi, Reinhold sudah berhasil melewati bagian-bagian paling sulit dari rute Rupal Face. Tersisa sekarang  beberapa ratus meter lagi yang harus dilalui, dan menurut kalkulasi Reinhold Messner kala itu, semuanya tidak akan begitu sulit untuk dilakukan.

Pagi harinya di Camp 5, Günter dan Bauer bergerak mendaki pula ke arah Merkl Couloir, bukan untuk menyusul Reinhold, tetapi untuk memperbaiki posisi tali pada rute pendakian untuk memudahkan perjalanan turun Reinhold nantinya. Akan tetapi ketika sedang memperbaiki tali tersebut, menurut keterangan Gerhard Bauer kemudian, tiba-tiba Günter Messner berlari ke arah Merkl Couloir dan memanjat dengan cepat mengikuti jejak Reinhold yang masih terlihat di atas permukaan salju.

Gerhard Bauer sama sekali tidak dapat melarang tindakan Günter, entah apakah Günter telah merencanakan hal itu atau tidak sejak di dalam tenda, namun menurut Bauer, ia telah melakukan sebuah tindakan impulsif menyusul Reinhold di Merkl Couloir.

Entah apa yang mendasari Günter untuk menyusul Reinhold menuju puncak, yang jelas beberapa orang tidak begitu setuju dengan apa yang dilakukannya ini, bahkan Reinhold Messner sendiri. Reinhold yang sebelumnya telah mempertimbangkan untuk melakukan segala sesuatunya secara solo, nampaknya merasa cukup gusar dengan kehadiran Günter yang tiba-tiba menyusulnya belakangan. Segala risiko, tantangan dan, peluang yang sebelumnya telah diperhitungkan Reinhold Messner untuk ia ambil berdasarkan kalkulasi dari kemampuan dan kekuatannya sendiri, sekarang harus pula memperhitungkan kehadiran Günter yang ada bersamanya.

Pada sebuah situasi yang sulit, Reinhold Messner dengan semangat penaklukannya yang membara mungkin bisa saja mengambil sebuah langkah nekat yang super berani. Namun ketika ada Günter ada bersamanya, Reinhold Messner tentu tidak akan melakukan sebuah keputusan ceroboh yang mungkin saja akan membahayakan nyawa Günter.

Dan sedikit banyak kenyataan itu telah membuat gambaran bahwa pada saat Günter menyusulnya di atas dinding Rupal Face, ekspresi Reinhold Messner yang pertama kali adalah kaget bercampur sedikit rasa ‘kesal’. Karena itulah kemudian ia menyambut Günter dengan kalimat; “Apa yang kau lakukan, mengapa kau menyusul?”.

Merkl Couloir – Korra Alpinism

Obsesi Reinhold Messner Membuat Rekor?

Ada banyak pula asumsi yang berkembang mengenai kejadian ini di belakang hari. Di antara banyak asumsi tersebut adalah sebuah dugaan yang mengatakan bahwa ‘rasa kesal’ Reinhold atas tindakan Günter dilandasi pula oleh obsesi pribadi Messner yang ingin menciptakan sesuatu yang ‘gempar’ dan populer di atas gunung delapan ribu meter atas namanya sendiri.

Selain didorong oleh semangat megalomaniak dalam mountaineering, Reinhold juga sangat mengagumi Hermann Buhl, pahlawan Austria sang penakluk Nanga Parbat tahun 1953. Pada beberapa sisi ia ingin sama seperti idolanya tersebut. Jadi tidak mengherankan kemudian ketika tembakan roket suar yang keliru menyemburkan warna merah, sama sekali tidak terlintas dalam benak Reinhold Messner untuk membatalkan agenda pemuncakannya. Bahkan suar keliru itu telah ikut andil membukakan jalan bagi Messner untuk melakukan pendakian yang cepat, ringan, efisien dan, pastinya solo, persis seperti yang dilakukan Hermann Buhl tujuh belas tahun sebelumnya di gunung yang sama.

Tujuh tahun sebelum kehadiran Reinhold Messner di Nanga Parbat dalam ekspedisi yang dipimpin Karl Herrligkoffler, terjadi sebuah pristiwa cukup penting dalam percaturan mountaineering Himalaya, yang imbasnya secara tidak langsung ikut pula mempengaruhi obsesi dan tindakan Reinhold di pegunungan.

Tahun 19634.3 dua pendaki Amerika tiba-tiba muncul bak bintang besar setelah melakukan pendakian first ascent North Ridge Everest, salah satu sisi sulit dalam pendakian Everest. Nama Willi Unsoeld dan Tom Hornbein tiba-tiba saja menjadi sangat ramai diperbincangkan dalam dunia mountaineering setelah aksi keduanya melakukan traversing dari North Ridge lalu turun melalui South Col.

Sebagai pendaki gunung muda yang kuat dan punya  inovasi besar, muncul dalam hati Reinhold Messner untuk melakukan sebuah pendakian yang ‘kelasnya’ mampu mengalahkan atau paling tidak menyamai pendakian Willi Unsoeld dan Tom Hornbein. Dan Nanga Parbat, sebagai salah satu puncak maut lain dalam barisan raksasa 8.000 meter nampaknya dapat memberikan apa yang Reinhold inginkan. Melakukan pendakian secara solo4.4, akan menjadi sebuah aksi yang luar biasa, yang akan menenggelamkan pamor pendakian traversing Unsoeld dan Hornbein di Everest tujuh tahun sebelumnya.

Mempertimbangkan berbagai macam asumsi dan pandangan ini, maka memang tidak mengherankan kemudian mengapa Reinhold Messner nampaknya cukup kesal ketika mengetahui bahwa Günter Messner menyusul dirinya ke puncak. Semua asa untuk melakukan pemuncakan solo, obsesi untuk menyamai rekor sang legenda Hermann Buhl, aksi untuk mengalahkan prestasi Unsoeld dan Hornbein di Everest, semuanya menguap seiring langkah kaki Günter yang kian mendekat ke posisi Messner yang sedang bersandar di kapak es miliknya.

Description: tom-hornbein-willi-unsoeld-west-shoulde.jpg
Willi Unsoeld dan Tom Hornbein di Punggungan Barat Everest dalam perjalanan traversing pertamakalinya di puncak dunia. Beberapa pendapat mengatakan pencapaian ini menyulut Messner untuk melakukan hal serupa di Nanga Parbat. – Sumber foto: Climbing Magazine

Konsekuensi paling besar yang diterima oleh Reinhold Messner dengan kehadiran Günter adalah bahwa ia tidak dapat mengambil risiko yang sama seperti jika ia melakukan pendakian secara solo. Reinhold bisa saja melakukan sebuah pendakian yang ambisius dan berani, bahkan menantang maut jika ia sendiri, tidak ada masalah dengan hal itu.

Namun ketika ia bersama Günter, rasa tanggung jawab dan kasih sayang kepada adiknya tidak akan membiarkan Reinhold mengambil risiko yang berpotensi untuk membuat sang adik tertimpa celaka. Yang itu artinya; Reinhold tidak dapat lagi bertindak ‘semaunya’. Ada sebuah tanggung jawab mengenai keselamatan hidup Günter juga yang sekarang menggelayut di pundaknya.

Bersambung ke halaman selanjutnya…

Footnote:

  • 4.1: juga membawa cerita first ascent yang sangat epik.
  • 4.2: Dinamakan demikian karena pernah dilalui juga oleh tim Willy Merkl sebelum mereka terbunuh tahun 1934.
  • 4.3: Sepuluh tahun setelah first ascent Everest oleh Edmund Hillary dan Tenzing Norgay.
  • 4.4: Dan kemudian mungkin saja turun melalui dinding gunung yang lain.

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: