PROFIL GERLINDE KALTENBRUNNER SI PENDAKI WANITA TERBAIK DI DUNIA

“Di atas gunung, bagaimana mungkin kebahagiaan, kegembiraan dan kematian bertaut demikian erat”

Gerlinde Kaltenbrunner

Profil Gerlinde Kaltenbrunner dan Sosok Anti Kompetisi

Kompetisi sama sekali bukan hal yang disukai oleh Gerlinde Kaltenbrunner. Namun ketika kita menyebut namanya dan pencapaiannya dalam dunia mountaineering, kata kompetisi juga tidak dapat dihapus sepenuhnya.

Bersamaan dengan nama Gerlinde, kita akan ‘dipaksa’ untuk kembali melakukan flashback ke nama-nama yang lain seperti Nives Meroi, Edurne Pasaban, Oh Eun Sun, dan juga Go Mi Young. Mereka berada dalam sebuah fase dan atmosfer yang sama pada upaya mencapai 14 puncak tertinggi di dunia. Meskipun pada akhirnya Gerlinde tidak keluar dari fase ini sebagai yang pertama, namun dapat dikatakan bahwa rekor yang ia capai adalah yang paling sempurna.

Source: Sport Aktiv
ARTIKEL INI DIKUTIP DARI BUKU DEWI GUNUNG KARYA ANTON SUJARWO. ANDA BISA MENDAPATKAN BUKU-BUKU MOUNTAINEERING KARYA ANTON SUJARWO DENGAN MENGKLIK TAUTAN INI

Seperti halnya Edurne Pasaban dan Oh Eun Sun yang berhasil mendaki 14 puncak delapan ribu meter di Himalaya dan Karakoram, Gerlinde pun melakukan hal serupa. Bedanya ia kemudian tampil menjadi wanita pertama di dunia yang berhasil melakukannya tanpa tabung oksigen. Prestasi ini sebenarnya sempat ingin dikejar oleh Pasaban ketika tahun 2011 ia mencoba mendaki Everest kembali tanpa menggunakan tabung oksigen. Namun berbagai permasalahan teknis membuat Pasaban tidak bisa mencapai keinginannya itu.

Gerlinde Kaltenbrunner adalah seorang pendaki gunung asal Austria yang lahir pada tanggal 13 Desember 1970 di Spital am Pyhrn, sebuah desa pegununungan di bagian tengah Austria dengan penduduk sekitar 2.200 orang. Gerlinde merupakan anak kelima dari enam bersaudara, ayahnya yang bernama Manfred adalah seorang pekerja di perusahaan pertambangan lokal, sementara ibu Gerlinde adalah Rosamaria, berprofesi sebagai seorang koki atau juru masak di salah satu hostel di Spital am Phyrn.

Sebagai seorang anak yang dibesarkan dalam lingkungan kristen katolik Roma yang taat, Gerlinde menghabiskan sekolahnya sambil juga aktif  dalam kegiatan gereja. Dan di gereja-lah kemudian Gerlinde berjumpa dengan Romo Erich Tischler, seorang pastur yang memberikan kotbah minggu pagi dan misa, sambil berpofesi juga sebagai pendaki gunung.

Dan pada saat cuaca sedang mendukung, Tischler biasanya membuat kotbahnya lebih singkat supaya jemaatnya yang tertarik mendaki gunung bisa melakukan aktivitas mereka. Gerlinde yang saat itu baru berusia 7 tahun untuk pertama kalinya mendaki gunung di bawah panduan sang romo Tischler. Bahkan si pendeta ini juga yang kemudian memimpin pendakian Gerlinde pertamakalinya ke gunung Sturzhahn dengan menggunakan perlengkapan seperti tali dan sebagainya.

Di negara Austria atau pun Swiss, bahkan mungkin juga di Inggris, Perancis, Italia dan Jerman, mendaki gunung dan mountaineering adalah bagian dari sebuah kebudayaan dan kearifan lokal. Banyak gunung (terutama di Austria) yang puncaknya dipasangi tanda salib sebagai simbol keagamaan dan penegasan kekuasaan gereja. Hal ini menjadikan aktivitas mountaineering sebagai sesuatu yang lumrah dan umum untuk dilakukan oleh siapa saja, termasuk juga para pemuka agama mereka.

Salah satu sosok yang diidolakan oleh Gerlinde kecil saat itu adalah kakaknya sendiri yang bernama Brigitte, yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Gerlinde. Terinspirasi oleh sosok Brigitte, Gerlinde kemudian mengikuti sekolah olahraga pula di mana ia mempelajari teknik bermain ski dari para pengajar profesional.

Gerlinde belajar dengan baik, dan meskipun tidak begitu istimewa dengan permainan skinya, Gerlinde cukup kompeten meluncur di atas papan salju itu. Namun ketika kemampuannya dalam bermain ski membuat ia mampu mengalahkan orang-orang yang selama ini ia anggap teman dekat, sesuatu tiba-tiba terjadi.

Teman-teman yang dianggap dekat oleh Gerlinde itu mulai menunjukkan rasa ketidaksukaan mereka pada Gerlinde, mereka mulai menjauhi Gerlinde. Dan itu adalah awal di mana seorang gadis muda bernama Gerlinde Kaltenbrunner tidak menyukai sebuah kompetisi. Bukan karena ia tidak mampu bersaing, namun karena banyak orang yang mengubah rasa simpatik menjadi kebencian karena pengaruh kompetisi.

Menjadi Pendaki Gunung Profesional dan Perlakukan Diskriminasi yang Dialami Gerlinde Kaltenbrunner

Description: courtesy-of-gerlinde-kaltenbrunnerat.jpg
Gerlinde Kaltenbrunner dalam salah satu ekspedisinya di Himalaya, punggunggan Everest nampak menjulang  jauh di belakangnya – Skyinfo.com

Tahun 1985, pernikahan Manfred dan Rosamaria kandas, membuat Gerlinde memutuskan untuk pindah dan tinggal pada kakaknya, Brigitte. Gerlinde melalui waktu yang panjang bersama Brigitte, sejak pindah umur 14 tahun, hingga ia kemudian menyelesaikan sekolah dan berprofesi sebagai seorang perawat di sebuah rumah sakit di Rottenmann yang jauhnya sekitar  24 kilometer dari Spital am Phyrn.

Sepulang dari bekerja sebagai perawat, pada akhir-akhir pekan, Gerlinde akan menghabiskan waktunya dengan mendaki gunung-gunung di sekitar Spital Am Phyrn dan Rottenmann.

Bahkan pada tahun 1994, semangat bertualangnya di atas gunung telah membawa Gerlinde Kaltenbrunner mendaki hingga mencapai dasar dari puncak utama Broad Peak815.1. Keberhasilan itu membuat Gerlinde senang. Namun saat ia menemukan jasad seorang pendaki gunung lain yang tewas di Broad Peak, ia sekaligus menjadi gulana. Bagaimana mungkin kegembiraan dan kematian dapat bertaut demikian erat di atas gunung? pikirnya.

Bagaimana pun juga sepulang dari Broad Peak, Gerlinde tetap menabung dan memgumpulkan uang guna mempersiapkan perjalanan selanjutnya ke Nepal, Pakistan, Peru dan juga China. Keinginan bertualang dan mendaki gunung dari Gerlinde ini kemudian mendapat penentangan dari sang ayah. Manfred meminta puterinya untuk menghentikan pendakiannya dan berfokus untuk berumah tangga dan berkeluarga.

Sebagai seorang ayah, Manfred menginginkan puterinya jauh dari bahaya. Dan gunung tentu saja adalah tempat yang penuh dengan maut, kematian dapat datang dengan cepat di tempat mengerikan seperti itu.

Namun Gerlinde kemudian menjelaskan kepada ayahnya betapa ia sangat berbahagia di atas gunung, betapa gunung telah memberikan ia ketenangan yang tak dapat ia peroleh dari tempat lain. Selain itu, Gerlinde juga mengatakan kepada ayahnya bahwa sejak menginjak usia 20-an tahun, diagnosa medis menunjukkan kepada Gerlinde bahwa ia nampaknya memang tidak ditakdirkan untuk memiliki seorang anak.

Meskipun dilahirkan pada zaman di mana pria dan wanita sudah memiliki kedudukan yang setara, namun perlakuan diskriminasi juga pernah dialami oleh Gerlinde Kaltenbrunner. Tahun 2003, tahun ketika ia mengikuti pendakian di Nanga Parbat setelah percobaan di Kangchenjunga yang gagal, di atas Camp II Gerlinde bergabung bersama enam pendaki Kazakhstan dan satu orang pendaki Spanyol, semuanya adalah laki-laki.

Sisi yang diambil oleh Gerlinde dan tim barunya saat itu adalah Diamir Face, salah satu sisi gunung Nanga Parbat yang luar biasa, tempat yang menjadi lokasi terbunuhnya Gunthér Messner pada tahun 1970. Dari Camp II menuju Camp III, rute yang dihadapi saat itulah adalah salju tebal dan dalam yang tidak mudah dilalui, sehingga setiap pendaki masing-masing bergantian berada di depan dan membuka jalur.

Description: 1471530662.0351-tips-zeitreise-kw-34-2011-am-gipfel-ihrer-traeume.jpg
Gerlinde berdiri di puncak gunung K2 pada ekspedisinya tahun 2011. Gunung K2 adalah gunung tersulit bagi Gerlinde, puncaknya baru berhasil ia capai setelah upaya yang ketiga. Ekspedisi itu sendiri mengambil rute sisi utara yang populer dengan istilah K2 North Pillar – Sumber foto: National Geographic

Pada saat giliran Gerlinde di depan untuk membuka jalur, pendaki di belakangnya tiba-tiba mengambil bagian dan menyisihkan Gerlinde di belakang. Gerlinde yang mendapat perlakuan seperti itu hanya tersenyum untuk kemudian dengan sopan kembali ke belakang mengikuti barisan.

Akan tetapi saat ia kembali mendapat giliran di depan untuk membuka jalur dan seseorang di belakangnya kembali mencoba menunjukkan kejantanannya dengan mengambil pekerjaan itu, Gerlinde sudah tahan lagi.

Ia kemudian bekerja dengan penuh semangat dan tanpa henti, berjibaku membuka jalur salju yang dalam sampai Camp III. Para pendaki yang ada di di belakangnya melongo melihat apa yang Gerlinde lakukan; pendaki dari jenis kelamin yang berbeda dari mereka, yang sebelumnya mereka anggap lemah dan tak memiliki kekuatan, sekarang seolah mesin grader membuka rute hingga tuntas sampai di Camp III.

Diskriminasi yang diterima oleh Gerlinde saat itu bukan hanya pada saat membuka jalur itu saja. Bahkan pada saat ketua tim pendakian melaporkan ke base camp utama, nama Gerlinde Kaltenbrunner tidak disebutkan. Ketika semua nama pendaki mendapat sebutan dari gelombang radio yang digenggam sang pemimpin pendakian, namun karena Gerlinde perempuan, ia kemudian dilewatkan.

Mengapa bisa demikian? Mengapa orang-orang membedakan hanya berdasarkan jenis kelamin? Mengapa di gunung juga bisa demikian?

Pencapaian Outstanding Gerlinde Kaltenbrunner di Nanga Parbat

Source: Arcopodo Journal

Namun di gunung Nanga Parbat di mana ia mendapat perlakukan meremehkan itu, di sanalah kemudian Gerlinde mendapatkan momentumnya. Pada saat ekspedisi itu ia tidak hanya berhasil mencapai puncak dan membuat para pendaki Kazakhstan dan Spanyol terkesima, namun ia juga mampu memberi hadiah yang indah untuk negaranya sendiri.

Bagi Austria, Nanga Parbat bukan hanya gunung. Bagi negara di mana Gerlinde Kaltenbrunner dilahirkan ini, Nanga Parbat bukan hanya sebuah gunung dengan puncak setinggi delapan ribu meter yang perkasa. Lebih jauh untuk Austria, Nanga Parbat adalah simbol sejarah kekuatan mereka di atas gunung, Nanga Parbat adalah simbol kejayaan, kematian, dan ketangguhan mereka di atas gunung dan tahta mountaineering Himalaya.

Hal ini tak dapat lepas dari sebuah pristiwa sejarah yang terjadi pada tahun 1953, tahun ketika pendaki terbesar dan legendaris dari Austria bernama Hermann Buhl berhasil mencapai puncak Nanga Parbat sebagai first ascent, tanpa tabung oksigen, alpine style, dan juga secara solo!

Setelah rentetan kematian berkepanjangan yang menjadi tumbal gunung pembunuh itu, akhirnya Nanga Parbat berhasil ditaklukkan oleh ksatria gunung Austria. Hermann Buhl dengan tekad yang nekat memutuskan untuk mendaki gunung itu secara solo sebagai upaya summit push yang terakhir.

Buhl berhasil, namun ia menghabiskan malam dengan tidur berdiri karena kemalaman, berpegangan dengan kapak es sambil menunggu pagi dan bisa melanjutkan perjalanan turun kembali.815.2

Aksi heroik Hermann Buhl ini kemudian membuat tidak saja namanya yang populer, namun juga Austria di mana ia dilahirkan. Sebelum kedatangan Buhl di Nanga Parbat, gunung itu setidaknya telah memakan 32 nyawa manusia yang sebagian besar di antaranya adalah para pendaki gunung dari ekspedisi Austria dan Jerman.

Hermann Buhl – SummitPost

Tahun 2003, ketika Gerlinde Kaltenbrunner berhasil pula mencapai puncak Nanga Parbat dengan cara yang mengesankan, ia menjadi perempuan pertama Austria yang berhasil melakukannya.

Hal ini kemudian tentu saja menarik perhatian, nama Gerlinde menggema dan membuat beberapa sponsor meliriknya. Dan moment itulah kemudian yang membuat hoby mendaki gunungnya menjadi sebuah profesi, Gerlinde menjadi salah satu pendaki gunung profesional yang membanggakan Austria.

Semangat dan pioneering yang ditunjukkan 50 tahun lalu oleh Hermann Buhl di Nanga Parbat, diulangi kembali oleh Gerlinde di tempat yang sama, meskipun tentu saja dengan cara dan kapasitas yang tidak benar-benar serupa.

Gerlinde Kaltenbrunner Sebagai Ratu Pendaki di 14 Puncak 8.000 Meter

Source: Berstiger Magazine

Prestasi puncak seorang Gerlinde Kaltenbrunner tentu saja adalah pendakian empat belas puncak delapan ribu meter yang ia lakukan tanpa tabung oksigen. Akan tetapi di luar itu, Gerlinde juga cukup aktif melakukan ekspedisi yang lain. Ia misalnya pernah mendaki Denali, Nuptse dan juga Alpamayo. Namun secara garis besar dunia memang mengenal seorang Gelinde Kaltenbrunner sebagai perempuan pendaki gunung Austria yang namanya melekat dalam deretan nama-nama puncak gunung dengan ketinggian di atas 8.000 meter yang ada di Karakoram dan juga Himalaya.

Dalam daftar gunung delapan ribu meter yang umumnya dijadikan sirkuit tertinggi mountaineering, Cho Oyu adalah gunung pertama yang berhasil dipuncaki oleh Gerlinde. Gunung ini berhasil dicapainya pada ekspedisi tahun 1998.

Setelah Cho Oyu, Gerlinde membutuhkan beberapa tahun untuk memudian berhasil menambah koleksinya dengan puncak Makalu, Manaslu dan juga Kangchenjunga. Selanjutnya puncak-puncak lain juga berhasil ia selesaikan hingga tahun 2011. Puncak tersulit dan paling terakhir yang didaki oleh Gerlinde dalam perjalanan fourteen eight thousanders-nya adalah K2. Bagi Gerlinde, K2 adalah gunung yang menguras emosi dan juga nyaris membuatnya putus asa.

Hal menarik juga saat berbicara tentang Gerlinde adalah profilnya yang istimewa, terutama di atas gunung. Alih-alih mengambil jalur mudah dengan support porter dan sherpa, dalam pendakiannya Gerlinde lebih banyak menggunakan jalur-jalur sulit dan penuh tantangan teknis.

Pada tahap ini kita mungkin dapat melihat semangat mountaineering yang dimiliki oleh seorang Gerlinde Kaltenbrunner memang mengungguli banyak pendaki gunung lainnya, bahkan para pria sekali pun. Ketika para pendaki gunung lain mengantri di rute-rute utama dengan dukungan ketinggian yang lengkap, Gerlinde memilih bersama pendaki lain yang lebih lebih kecil jumlahnya, mendaki dengan alpine style dan mencapai puncak melalui rute-rute yang tidak biasa.

Dalam pendakiannya, Gerlinde juga tak jarang hampir saja berakhir dengan bencana, misalnya saat di Dhaulagiri tahun 2007 di mana ia dan tendanya disapu avalanche yang nyaris saja menguburnya hidup-hidup. Atau pada saat ekspedisinya tahun 2009 bersama dengan pemain ski ekstrim Austria bernama Fredrik Ericsson di K2 yang tergelincir ke dasar jurang saat memaku ice screw di dekat Bottle Neck.

Description: d115_1920265.jpg
Ralf Dujmovits bersama Edurne Pasaban (tengah) dan Gerlinde Kaltenbrunner, dua pendaki gunung perempuan yang seringkali diberitakan sebagai rival, namun pada kenyataannya, Gerlinde dan Edurne adalah dua sahabat yang cukup dekat. – Sumber foto: Desnivel

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kompetisi sama sekali bukan hal yang disukai oleh Gerlinde. Bahkan Edurne Pasaban yang dalam banyak narasi media digambarkan sebagai sosok rival bagi Gerlinde sama sekali bukan saingan baginya, mereka seringkali mendaki bersama, mereka bersahabat, dan sama sekali tidak memusingkan siapa yang lebih dulu mengumpulkan empat belas puncak tersebut.

Gerlinde memiliki kepribadian yang menarik dan sangat rendah hati. Jika anda sempat membaca buku Andrew Lock yang berjudul Di Puncak 8.000, anda akan menemukan gambaran istimewa seorang Gerlinde Kaltenbrunner yang penuh kharismatik, pesona, sekaligus ketangguhan seorang petualang.

Description: 901fee1e-0001-0004-0000-000000123051_w1528_r1.7777777777777777_fpx31.45_fpy49.96.jpg
Gerlinde Kaltenbrunner dan suaminya, Ralf Dujmovits, di Everest. Pasangan pendaki gunung profesional dengan prestasi yang sama-sama tinggi, tidak serta merta membuat Gerlinde dan Ralf mudah menjalani ekspedisi mereka. – Sumber foto: Der Spiegel

Pencapaian Gerlinde Kaltenbrunner dalam mountaineering profesional dapat dibilang adalah yang tertinggi. Mendaki empat belas puncak delapan ribu meter secara lengkap tanpa tabung oksigen adalah salah satu prestasi paling prestisius yang ada di bumi ini.

Sejauh ini hanya ada 43 orang di dunia yang beruntung bisa mendaki keseluruhan puncak ini secara lengkap dan tanpa terbunuh. Sementara lebih banyak lagi pendaki yang tak seberuntung itu, mereka ada yang terbunuh dengan beragam cara sebelum berhasil menyelesaikan sirkuit empat belas puncak delapan ribu meter yang menjadi tahta tertinggi dunia mountaineering tersebut.

Keistimewaan lain dari Gerlinde Kaltenbrunner adalah ia juga merupakan seorang isteri, yang artinya ia juga memiliki komitmen untuk membangun keluarga (meskipun ia tak bisa memiliki anak). Suami Gerlinde adalah Ralf Dujmovits, pendaki Jerman yang juga adalah seorang pemilik mahkota fourteen eight thousanders. Saya bahkan pernah saling berkomentar di postingan instagram dengan Ralf, ia adalah salah satu pendaki besar dunia yang ramah dan rendah hati.

Pencapaian dan Warisan

1994 : mencapai puncak Broad Peak False Summit

1995 : Mencapai puncak Muztagh Ata

1997 : Ama Dablam melalui rute barat daya.

1998 : Cho Oyu

1999 : Gunung Alpamayo melalui Ferrari Route.

2000 : Mencapai Puncak Tengah Shishapangma (Central Summit)815.3

2001 : Mencapai puncak Makalu

2002 : Puncak Manaslu

2003 :

  • Kangchenjunga, mundur pada ketinggian 7.200 meter, melalui punggungan utara, bulan April/Mei.
  • Bulan Juni, mencapai puncak Nanga Parbat melalui rute Diamir Face.

2004 :

  • Bulan April, Xifeng Peak di Tibet.
  • Bulan Mei, Annapurna I melalui French Route.
  • Bulan Juli, Gasherbrum I melalui rute Japanese Couloir.

2005 :

  • Shishapangma, True Summit, via South Face.
  • Everest, pemuncakan dibatalkan dikarenakan ada upaya penyelamatan untuk pendaki lain.
  • Gasherbrum II, mencapai puncak melalui rute barat daya.

2006 :

  • Kangchejunga, mencapai puncak melalui rute barat daya.
  • Lhotse, gagal mencapai puncak, terhenti pada ketinggian 8.400 meter.

2007 :

  • Dhaulagiri I, terhenti pada ketinggian 7.400 meter.
  • Broad Peak, mencapai puncak.
  • K2, terhenti pada ketinggian 8.100 meter melalui Cesen Route.

2008 : Mencapai puncak Dhaulagiri I

2009 :

  • Lhotse, mencapai puncak.
  • K2, via Cesen Route, terhenti pada ketinggian 8.300 meter ketiga Fredrik Ericsson terjatuh.

2010 : Everest, mencapai puncak melalui punggungan timur laut, tanpa tabung oksigen.

2011 : K2, mencapai puncak melalui rute North Pillar.

2012 : Nuptse, melalui rute Pillar Utara, mencapai puncak.

2013 : Denali, mencapai puncak.

2014 : Monte Sarmiento di Tiera del Fuego, Chili, gagal mencapai puncak karena cuaca buruk.

2017 : Kyajo Ri, Nepal, mencapai puncak.

Penghargaan

  • National Geographic Adventure of the Years, tahun 2012.

Buku

  • Mountain in My Heart: A Passion for Climbing, terbit tahun 2014.
Description: 2.jpg
Mountain in My Heart: A Passion for Climbing  yang merupakan buku biografi dan perjalanan pendakian Gerlinde Kaltenbrunner. – Foto: Amazon.com

Footnote

  1. Ketinggian yang dicapai Gerlinde saat itu adalah 8.031 meter, sementara ketinggian puncak utama dari Broad Peak adalah 8.051 meter.
  2. Kisah lengkap tentang Hermann Buhl di Nanga Parbat, di Broad Peak, dan di Chogolisa yang menjadi tempat kematiannya, dapat dibaca pada buku saya yang sudah terbit sebelumnya berjudul Maut di Gunung Terakhir.
  3. Central Summit Shishapangma sama halnya dengan Fake Summit di Broad Peak, meskipun menjulang dengan ketinggian di atas 8.000 meter, kedua puncak itu tidak termasuk dalam list fourteen eight thousanders.

Tulisan terbaru Anton Sujarwo dapat dilihat juga di

www.akasakaoutdoor.co.id

www.penulisgunung.id

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: