PROFIL LENGKAP SANG PETUALANG SOLO TERBESAR SEPANJANG SEJARAH

Naomi Uemura adalah salah satu pendaki gunung dan petualang solo terbesar sepanjang masa. Ia terkenal karena tekadnya, karena keberaniannya, karena keramahan dan juga kerendahan hatinya. Dengan segala pencapaian serta dedikasinya dalam dunia petualangan dan mountaineering, tidak berlebihan rasanya untuk mengatakan bahwa Uemura adalah legenda pendaki gunung solo terbaik yang pernah dilahirkan.
Description: Naomi Uemura.jpg
Wajah yang lelah dan penuh ‘penderitaan’ selama masa penjelajahan Naomi Uemura di Antartika. “Saya tidak menemukan seorang pria yang begitu pemalu, keras kepala, sekaligus memiliki tekad yang demikian kuat selain Uemura” ujar Kimiko Uemura, isteri dari Naomi Uemura saat mengenang suaminya. Sumber foto: Google

BENARKAH INI KEMENANGAN SEJATI DALAM SEJARAH PENDAKIAN EVEREST?

Prestasi solonya adalah kesopanannya yang tulus dan sifatnya yang sederhana. Bagian lain dari kehebatannya terletak pada kepeduliannya yang dalam pada setiap orang yang ia temui, dan pada setiap perjalanan yang ia lakukan”

Jonathan Waterman

Profil Naomi Uemura dan Ekspedisi Jepang ke Everest Tahun 1970

Source: HipStamp

ARTIKEL INI DIKUTIP DARI BUKU BERJUDUL GUNUNG KUBURAN PARA PEMBERANI YANG DITULIS OLEH ANTON SUJARWO. KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN BUKU-BUKU MOUNTAINEERING POPULER DI INDONESIA KARYA ANTON SUJARWO

Hari itu tanggal 11 Mei 1970, angin bertiup pelan di lembah Kangshung, cuaca bersih dan indah memayungi permadani Himalaya yang sedang cerah-cerahnya, beberapa guratan awan tipis yang berarak di atas Makalu dan Chomo Lonzo tampak laksana kaligrafi yang berpendar di atas cakrawala.

Melangkah dengan pelan dan teratur di atas Hillary Step gunung Everest, nampak dua sosok tubuh bergerak naik menuju puncak tertinggi bumi. Downsuit mereka yang berwarna biru gelap itu tampak seperti noktah-noktah kecil di atas tumpukan tepung raksasa.

Dua sosok itu mulai bergerak dari Camp 6 mereka pada ketinggian 8.513 meter pada jam 04:40 dini hari tadi. Dan melihat cuaca yang demikian cerah pada awal hari yang indah ini, nampaknya kedua pendaki itu akan mencapai puncak Everest ketika matahari masih sangat pagi. Dan tentu saja itu adalah sesuatu yang menyenangkan untuk mereka lakukan.

Dua sosok berpakaian biru itu adalah sepasang pendaki dari ekspedisi Jepang tahun 1970. Sosok pertama adalah pendaki yang lebih tua bernama Teruo Matsuura, sedangkan sosok satunya yang lebih muda bernama Naomi Uemura. Mereka adalah tim pertama yang ditugaskan kepala ekspedisi mereka untuk melakukan upaya summit push ke puncak Everest.

Ekspedisi Jepang tahun 1970 ini membawa cukup banyak kru. Setidaknya ada 39 pendaki gunung Jepang yang ikut serta, 77 orang sherpa, lebih dari 5 ton logistik,  dan berbagai sumberdaya pendukung yang lainnya.

Seperti halnya pada skema pendakian gunung secara umum tahun-tahun pertengahan abad 20, ekspedisi Jepang juga membagi beberapa pendakinya dalam tim kecil untuk melakukan upaya pemuncakan. Setelah Uemura dan Matsuura, akan ada beberapa tim kecil lain yang ditugaskan untuk berusaha mencapai puncak juga. Ini adalah ekspedisi yang besar bagi Jepang, harus ada salah satu dari para pendakinya yang berhasil menginjakkan kakinya di Everest tahun itu.

Source: Pinterest

                “Dadaku serasa akan meledak, Naomi”

Suara Matsuura terdengar memburu di antara napasnya yang terengah-engah. Ia membuka masker tabung oksigennya sebentar, mendongakkan wajahnya ke langit sambil memejamkan mata karena kelelahan.

                “Sedikit lagi kita akan mencapai puncak, Teruo, tidak lama lagi”

Naomi juga melepas masker oksigennya, napasnya juga memburu karena lelah. Ia berhenti sebentar membiarkan nafasnya yang terburu kembali menemukan ritmenya, untuk kemudian memulai melangkah lagi di depan Matsuura.

 “Kita akan melihat ujung gunung ini sekitar seratus langkah di depan”

Sambung Naomi Uemura sebelum melangkahkan kakinya kembali.

Sejak berangkat dari Camp 6 dini hari tadi, Naomi Uemura selalu memimpin pendakian di depan Matsuura. Keputusan untuk memimpin summit push ini adalah sebuah langkah yang diambil Uemura untuk memudahkan kakak seniornya di Japanese Alpine Club itu untuk tetap dapat menjaga ritme langkah dan nafasnya. Selain itu, sebagai seorang adik yang lebih muda dan dibesarkan dalam semangat kstaria seorang bushido, Naomi Uemura ingin memastikan bahwa ia telah memberikan semua kemampuannya untuk kesuksesan ekspedisi ini. Termasuk juga dengan menjadi pembuka jalan bagi Teruo Matsuura yang secara umur lebih tua darinya.

Sekitar jam 08:20 pagi atau kurang lebih seratus langkah dari tempat yang dikatakan Uemura sebelumnya, prediksi Naomi Uemura ternyata benar, kedua pendaki Jepang itu mencapai sebuah langkan yang dari tempat itu mereka mampu melihat ujung dari jalan yang sedang mereka tuju. Ujung jalan itu hanya sebuah punggungan sempit dengan pagar jurang di sekelilingnya, tidak ada lagi yang lebih tinggi dari ujung jalan tersebut, itu adalah puncak Everest!

                “Lihat, Teruo, itu dia!”

Uemura melepas masker oksigennya lagi dan berseru pada Matsuura yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri, tangan kirinya menunjuk lurus ke arah Puncak Everest. Matsuura yang mendengar teriakan Uemura mendongakkan wajahnya, napasnya masih tersengal dan kelelahan, namun ia tahu apa yang dimaksud oleh Uemura dengan teriakannya.

                “Seberapa jauh lagi itu menurutmu?”

Ucap Matsuura ketika kakinya sudah berdiri berdekatan dengan Uemura.

                “Entahlah, yang pasti sudah dekat. Aku pikir kita bisa mencapainya dalam 30 atau 40 menit ke depan. Oya, jam berapa sekarang?”

Matsuura membuka sedikit bagian pangkal sarung tangan yang menutupi pergelangan tangannya. Arloji yang melingkar di tangan Matsuura didekatkannya ke wajahnya, berusaha membaca posisi angka yang sekarang sedang tertera di atas benda berantai warna emas itu.

                “jam 08:20”

                “Kalau begitu kita akan mencapai puncak itu sekitar jam sembilan pagi ini, mari kita terus melangkah”

Uemura mengenakan kembali masker oksigennya dan memulai langkahnya dengan perlahan. Perjalanan dengan tantangan altitude seperti Everest dan gunung-gunung tinggi lainnya adalah sebuah perpaduan yang mengerikan kadang-kadang. Dengan kombinasi udara yang tipis, kadar oksigen yang terbatas, konsentrasi yang lebih cepat untuk menurun, serta medan-medan curam dan vertikal yang membutuhkan ketelitian serta keseimbangan penuh, tak heran mengapa ketinggian seperti ini kadang lebih banyak memakan korban.

Seorang pendaki gunung dapat saja melihat betapa dekat tujuan mereka melalui mata mereka. Akan tetapi ketika jarak yang terasa dekat itu dijalani, langkah yang tersaruk salju, napas yang tersengal kelelahan, oksigen tipis yang serasa akan meledakkan paru-paru membuat jarak yang dikira dekat tadi akan membutuhkan waktu lama untuk menjangkaunya.

Dan ini pulalah yang terjadi dengan dua pendaki Jepang tahun 1970 sebelum mencapai puncak Everest saat itu. Naomi Uemura tahu bahwa jarak mereka dan puncak Everest hanya sedikit lagi, jika itu ada di Jepang dengan kondisi tempat yang sama, namun berada pada ketinggian yang lumrah untuk manusia, Uemura berani bertaruh bahwa ia akan mampu mencapainya dalam waktu sepuluh menit saja, bahkan bisa lima menit jika sambil berlari.

Namun di ketinggian seperti ini, di atas 8.800 meter, itu adalah sesuatu yang berbeda. Untuk menuntaskan jarak sepuluh meter saja, kadang seorang pendaki yang benar-benar kepayahan harus menghabiskan waktu sepuluh menit. Didasari oleh pengetahuan dan pengalaman itu Uemura yang meskipun lebih muda, dapat memprediksi waktu yang diperlukan untuk mencapai puncak Everest meskipun ia dan Matsuura sudah dapat melihat puncak itu dalam radius yang terasa amat dekat.

Berjalan berdua beriringan menuju puncak tertinggi dunia seperti saat itu, membuat pikiran Uemura dan Matsuura melayang pada pendakian ekspedisi Inggris tahun 1953 ketika Tenzing Norgay dan Edmund Hillary berada dalam adegan yang serupa. Meski berbeda tahun, baik Matsuura dan Uemura tahu bahwa tidak terjadi banyak perbedaan tantangan yang mereka hadapi saat itu. hanya saja, Tenzing dan Hillary memikul tugas yang lebih berat karena belum ada satu pun manusia yang mencapai puncak itu sebelumnya. Atau jika ada2.1 maka mereka tidak dapat pulang dengan selamat.

Source: Smithsonian Magazines

Tidak ada yang menggambarkan medan dan situasi puncak pada Hillary dan Norgay, mereka tidak tahu medan seperti apa yang akan mereka hadapi nanti di tempat itu. Keduanya harus mencari tahu sendiri dalam upaya pemuncakan mereka sebagai yang pertama kalinya tersebut. Namun sebaliknya, baik Naomi Uemura mau pun Teruo Matsuura telah mendapatkan deskripsi medan pendakian menuju puncak Everest itu dari ekspedisi Inggris sebelumnya. Jadi walau pun mereka belum pernah ke sana sebelumnya, keduanya sudah cukup mengerti medan seperti apa yang akan mereka temui.

Naomi Uemura berjalan dengan pelan namun dengan ritme yang teratur menuju puncak Everest, ada dorongan yang terasa begitu kuat untuk membuatnya ingin berlari dan menjatuhkan diri di langkan kecil yang telah menjadi dambaan banyak pendaki gunung dari seluruh dunia itu. Sambil terus bergerak menuju puncak Everest yang hanya berjarak sekitar sepuluh langkah lagi dari hadapannya, Uemura mengganggukkan kepalanya sedikit, sepertinya sedang membuat kesepakatan dengan pikirannya sendiri.

Tepat kurang lebih tiga langkah lagi untuk sampai di titik tertinggi Everest, tiba-tiba Naomi Uemura menghentikan langkahnya, ia berdiri di sana menunggu Matsuura yang masih berjarak sekitar lima meter di belakangnya.

                “Silahkan Teruo”

Uemura membuka tangan kirinya dengan kepala yang sedikit menunduk dalam pose mempersilahkan bagi Matsuura yang sudah ada di dekatnya. Matsuura yang sempat kaget dengan adegan itu menatap wajah Uemura dari balik kacamatanya, dan tak menemukan hal lain di sana kecuali anggukan tulus dari seorang adik juniornya di Japanese Alpine Club.

Teruo Matsuura melangkah melewati Uemura. Dan tiga langkah kemudian ia sudah bersujud di atas salju puncak Everest, puncak gunung tertinggi di dunia. Uemura yang melangkah di belakangnya kemudian juga terduduk bersimpuh sambil mengangkat kapas es miliknya tinggi-tinggi. Keduanya telah mencapai puncak Everest sebagai orang Jepang pertama dan kedua yang melakukannya.

Kemenangan Tenzing Norgay dan Naomi Uemura di Everest adalah Kemenangan yang sama?

Description: 1.jpeg
Naomi Uemura dalam salah satu pendakiannya di Himalaya. Sumber foto: Alchetron.com

Seperti perkiraan Uemura sebelumnya, ia dan Matsuura mencapai puncak Everest pada jam 09:10 pagi. Cuaca cerah dan sangat indah, langit biru bersih membentang, puncak Makalu, Lhotse dan Gletser Rongbuk terlihat sangat jelas, sama sekali tanpa penghalang. Ini adalah kesuksesan dan kemenangan bagi ekspedisi Jepang tahun 1970, tujuan perjalanan ini tercapai, puncak Everest telah berhasil diraih.

Ini bukan kemenangan yang sederhana, khususnya bagi Naomi Uemura. Puncak Everest adalah sebuah kemenangan fisik yang berhasil ia raih, namun lebih daripada itu, ia telah memperoleh kemenangan yang lain, kemenangan yang jauh lebih membuat hatinya sangat tenteram dan nyaman.

Sebelumnya Uemura harus bertarung dengan ambisi pribadinya sendiri sepanjang pendakian Everest, khususnya pada saat-saat terakhir setelah berangkat dari Camp 6. Siapa pun pendaki Jepang yang berhasil mencapai puncak Everest pertama kali pada ekspedisi tahun 1970 ini akan menjadi orang Jepang pertama yang melakukannya. Dan itu sudah pasti akan ditulis dalam sejarah mountaineering Jepang, akan dikenang sepanjang masa, akan dibaca oleh anak-anak sekolah yang membaca sejarah pendakian gunung negara Jepang.

Sebagai seorang manusia biasa, Naomi Uemura tentu memiliki ambisi untuk mendapatkan kehormatan itu, dikenang sebagai pahlawan, sebagai orang Jepang pertama yang mencapai puncak Everest.

Peluang untuk memperoleh kesempatan tersebut juga terbuka dengan lebar bagi Uemura, penugasannya dengan Teruo Matsuura sebagai tim pertama yang melakukan upaya summit push sangat mendukung bagi ambisi Uemura untuk menjadi yang pertama. Apalagi selama proses pendakian pada tahap akhir menjelang puncak, ia selalu memimpin pendakian, berjarak hampir sepuluh meter kadang dari Matsuura yang kelelahan.

Pertarungan ini kian berkecamuk dalam dada Uemura. Haruskah ia ‘mengalahkan’ Matsuura dalam perlombaan ini? Haruskah memang namanya yang ditulis oleh sejarah Jepang sebagai orang pertama yang mencapai puncak Everest bagi Negara Matahari Terbit itu?

Pada akhirnya Uemura menggeleng, tidak katanya dalam hati. Bukan itu yang ia cari.

Siapa pun yang mencapai puncak adalah pahlawan bagi Jepang, tidak harus dirinya. Siapa pun dalam ekspedisi ini yang mampu mencapai puncak Everest dan turun kembali dengan selamat adalah kesuksesan bagi seluruh Jepang.

Keinginan untuk menjadi yang pertama di atas puncak adalah ego dasar dari sebuah mountaineering, setiap pendaki gunung dengan naluri tradisional yang kental memiliki keinginan itu dalam jiwa mereka. Ego seperti itu telah ada dan abadi sejak berabad-abad lamanya, dan tidak ada yang memenangkannya kecuali rasa ego itu sendiri.

Jadi dengan segenap perenungan dan pergumulan batin yang ia lalui, Naomi Uemura kemudian memutuskan bahwa ia harus membuat sebuah pilihan yang berbeda. Ego tidak boleh dimenangkan dalam ekspedisi ini, jika pun ia harus mengikuti egonya, maka Uemura memutuskan bahwa Everest bukanlah tempatnya.

Naomi Uemura mengangguk perlahan, ia baru saja memenangkan pertarungan batin dalam hatinya, tepat sepuluh langkah sebelum puncak Everest berhasil ia capai.

                “Silahkan Teruo”

Tidak ada yang lebih menenangkan bagi Uemura setelah mengucapkan kalimat itu. Kalimat itu seolah menjadi mantra pamungkas yang mampu mengalahkan egonya yang sejak ekspedisi bermula telah memenuhi pikiran dan benaknya. Naomi Uemura tahu dengan konsekuensi ucapannya, nama Teruo Matsuura akan dikenang sepanjang masa sebagai orang Jepang pertama yang mencapai puncak Everest, tapi itu tak lagi menjadi masalah baginya.

Description: 2.jpg
Teruo Matsuura, pendaki gunung Jepang yang menjadi partner Naomi Uemura dalam ekspedisi Everest tahun 1970. Sumber foto: Getty Images

Pada akhirnya keinginan Uemura menjadi sederhana, ia hanya ingin menjadi seorang yang memiliki kontribusi untuk mensukseskan ekspedisi ini, dimana pun posisinya. Semangat untuk menjadi seorang penjelajah yang telah ditempa oleh nila-nilai bushido membuat Uemura membuat keputusan yang luar biasa. Dan itu mengantarkan dirinya pada sebuah arti kemenangan yang sesungguhnya.

Uemura mengangkat kapak esnya tinggi-tinggi, matanya menatap berkeliling di cakrawala bersih nan luas Himalaya. Ia telah memenangkan pertarungan yang tidak semua orang mampu melakukannya. Pertarungan yang sama di tempat yang sama dengan 17 tahun yang lalu ketika Tenzing Norgay mempersilahkan Edmund Hillary untuk mencapai puncak Everest lebih dulu.

Uemura dapat dengan sangat mengerti sekarang bagaimana perasaan Tenzing saat mengambil tindakan itu, memberi kesempatan pada Hillary untuk menjadi yang pertama. Uemura dengan cepat menyadari bahwa keputusan tersebut mungkin adalah sebuah hal yang sederhana bagi orang yang melihatnya, bahkan bagi Hillary dan Matsuura sendiri.

Namun bagi Uemura, dan ia yakin Tenzing Norgay juga waktu itu, itu adalah sebuah keputusan yang besar. Keputusan itu telah membawa orang-orang seperti Naomi Uemura dan Tenzing Norgay berdiri dalam kebanggaan dan kebahagiaan. Meskipun mereka bukan yang pertama, namun mereka berdua adalah para pendaki gunung dengan jiwa pemenang yang sebenarnya.

Description: Marty-1-1.jpg
Keberhasilan menjadi orang pertama dalam mountaineering adalah kebahagiaan dan kemenangan yang besar dan sangat membanggakan, karena itulah ada banyak perlombaan first ascent terjadi. Namun ketika seseorang menyerahkan dengan tulus podium first ascent untuk dicapai orang lain sementara ia sendiri sejengkal lagi meraihnya, maka tidak diragukan lagi, itulah kemenangan seorang pendaki gunung yang sesungguhnya. Sumber foto: Wikipedia (Marty Schmid di K2)

Laman: 1 2 3

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: