MENGENANG RUTE KOMPRESOR CESARE MAESTRI DI MENARA PATAGONIA

Untuk Mengenang pendaki gunung Cesare Maestri yang meninggal dunia pada tanggal 19 Januari 2021 kemarin, berikut ulasan kenangan pengingat apa yang telah ia lakukan dalam catatan paling monumental first ascent di Patagonia.

Ulasan ini bersumber dari buku; Dunia Batas Langit karya Anton Sujarwo yang terbit pada tahun 2019 silam dan disponsori penuh oleh http://www.akasakaoutdoor.co.id. Untuk buku-buku dan tulisan update lainnya tentang mountaineering dari Anton Sujarwo, dapat Anda baca dengan mengklik tautan di bawah ini

Profil Cerro Torre dan Beberapa Kontroversi Dalam Sejarah Pendakiannya

Cerro Torre – MobieHD

Kisah selanjutnya yang akan kita bahas dalam dunia mountaineering bukan legenda seperti tiga cerita sebelumnya. Tidak ada cerita heroik atau perjuangan penuh penderitaan dalam kisah yang satu ini. Kita hanya akan melihat beberapa sudut pandang dan kontroversi yang tiada henti dalam sejarah pendakian sebuah gunung batu yang disebut paling sulit untuk ditaklukkan di Patagonia Range Amerika Selatan bernama Cerro Torre.

Cerro Torre adalah sebuah gunung runcing setinggi 3.128 meter yang terletak di bagian selatan padang es Patagonia, Amerika Selatan. Posisi Cerro Torre sebenarnya berdiri dalam region wilayah yang seringkali diperdebatkan antara Argentina dan Peru.

Di bagian barat Cerro Torre berdiri gunung lain yang juga cukup dikenal yakni Cerro Chaltén, atau yang lebih akrab dengan sebutan Fitzroy atau Fitz Roy. Di antara puncak-puncak sekitarnya (Torre Egger, Punta Herron, dan Cerro Standhart), Cerro Torre merupakan puncak yang paling tinggi dan paling sulit untuk dicapai. Tiupan angin yang konstan seringkali membuat bagian tertinggi dari Cerro Torre tertutup oleh jamur es raksasa, yang tentunya semakin mempersulit upaya pendakian menuju puncaknya.

Sebenarnya banyak hal yang menjadi kemelut kontroversi di Cerro Torre ini, bukan hanya kisah first ascent-nya saja yang penuh dengan dilema. Pendakian yang dilakukan oleh Hayden Kennedy dan Jason Kruk pada tahun 2012 juga memiliki buntut yang cukup ruwet. Sementara itu pendakian David Lama dari tim Red Bull juga menuai banyak kritik pada tahun 2010.

Kontroversi ini jika kita ikuti lebih jauh akan semakin terasa lebih ruwet dan membingungkan, apalagi dengan beragamnya perbedaan standar dan cara pandang dalam meletakkan model pendakian yang ideal dalam khazanah mountaineering. Akan tetapi untuk sementara kita akan berfokus membahas kontroversi first ascent-nya saja, kontroversi mengenai hal yang terjadi kemudian akan kita singgung pula sedikit dalam pembahasan ini.

Kontroversi First Ascent di Cerro Torre

Cesare Maestri – Corrierre de la Sera

Kontroversi first ascent ini bermula pada tahun 1959 ketika seorang alpinis sekaligus penulis dari Italia bernama Cesare Maestri mengklaim dirinya telah berhasil mencapai Puncak Cerro Terro bersama seorang pendaki Austria bernama Toni Egger.

Pada awalnya, perjalanan ke salah satu puncak Amerika Selatan itu terdiri dari tiga orang. Yang pertama Maestri sendiri, lalu Toni Egger yang merupakan guide Swiss yang direkrut oleh Maestri, dan orang ketiganya adalah Cesarino Fava, seorang pendaki Italia yang sama seperti Maestri. Ketiga orang itu datang ke Patagonia untuk mencoba mendaki puncak Cerro Torre melalui punggungan timur laut yang hingga saat itu belum pernah tercapai, meski telah beberapa orang mencoba menaklukkannya.

Skenario yang disampaikan Maestri ke publik mengenai klaim keberhasilannya di Cerro Torre adalah sebagai berikut:

Mereka bertiga mendaki sebuah sudut curam di bawah Col of Conquest (Walter Bonatti menyebut ini dengan Col of Hope), yang terletak antara kaki Cerro Torre dan Torre Egger. Pada titik ini menurut keterangan Maestri, Cesarino Fava berbalik mundur, meninggalkan dirinya dan Toni Egger yang tetap yakin untuk melanjutkan pendakian menuju puncak.

Enam hari kemudian, Fava menemukan Maestri nyaris terkubur dalam tumpukan salju di kaki Cerro Torre dalam posisi tertelungkup. Keduanya kembali ke base camp. Maestri mengklaim bahwa ia dan Toni Egger telah mencapai puncak tertinggi Cerro Torre, namun malangnya Egger tersapu longsoran salju saat turun dan mayatnya menghilang (jenazah Egger ditemukan pada tahun 1974 kemudian, lima belas tahun setelah pristiwa kematiannya)

Jika kita perhatikan dengan seksama, ditemukan sedikit kesamaan klaim Maestri ini dengan klaim serupa yang dilakukan oleh Frederick Cook untuk puncak Gunung Denali di Alaska. Perbedaannya adalah; Cook mengatakan bahwa patner mendakinya mundur saat itu dengan bermacam pertimbangan, sedangkan Toni Egger yang menjadi mitra Maestri, oleh Maestri dikatakan meninggal karena dihantam avalanche. Kehilangan partner mendaki yang dapat menjadi saksi kunci seperti ini memang memunculkan keraguan publik terhadap klaim Maestri pada saat itu. Apalagi tanpa didukung oleh teknologi peralatan pendakian seperti sekarang ini, klaim Maestri memang terasa begitu berlebihan.

Keraguan Besar atas Klaim First Ascent Cesare Maestri

Source: Pareti Verticali

Pencapaian puncak yang tidak dilengkapi dengan data-data meyakinkan, baik berupa foto, deskripsi jalur yang detail, kesaksian partner pendakian baik guide mau pun rekan sesama pendaki, memang menimbulkan kesangsian.

Zaman sekarang, ketika teknologi sudah semakin maju, perangkat pendukung bukti pencapaian ini bertambah komplit dengan adanya GPS Track yang dilengkapi pula dengan altimeter recorder yang umumnya dibawa oleh para pendaki. Dan semakin mudah dan efisien lagi ketika benda pendukung seperti camera, altimeter recorder, dan GPS ini dapat ditanam pada perangkat kecil seperti jam tangan yang begitu mudah untuk dibawa oleh para alpinis ke puncak gunung. Kelengkapan bukti semacam ini membuat klaim pendakian, baik berupa pencapaian puncak, penggunaan rute, serta waktu tempuh menjadi lebih valid dan meyakinkan.

Karena klaim Maestri saat itu hanya didukung oleh pernyataannya sendiri dan juga Fava, serta beberapa lembar foto (di kemudian hari foto yang diambil Maestri digunakan balik oleh Rolando Garibotti sebagai sanggahan atas klaim Maestri sendiri), maka mau tidak mau, klaim Maestri meskipun dipercaya oleh beberapa orang, tetap tak dapat menepis keraguan yang lainnya. Yang mungkin berpikir jauh lebih kritis dan skeptis.

Keraguan ini sama sekali bukan didasarkan pada sosok Cesare Maestri, ia dikenal sebagai salah satu pemanjat tebing besar dari Italia. Maestri bahkan mengulangi banyak rute terkenal di Dolomites secara solo. Bahkan julukan ‘spider of Dolomites’ yang disematkan untuknya adalah karena kemampuannya mebuat jalur-jalur sulit di pegunungan tersebut. Sejak tahun 1952, Maestri juga menjadi seorang guide pendakian, membawa kliennya mendaki Civetta, Marmolada, dan juga punggungan Matterhorn pada musim dingin.

Akan tetapi, seperti yang disampaikan oleh Garibotti, meskipun sosok Maestri adalah salah satu pendaki fenomenal dan pemikir bebas yang berkelas, hendaknya hal tersebut tidak menghalangi kita (maksud Garibotti adalah publik mountaineering) untuk meneliti kembali klaim Maestri terhadap first ascent Cerro Torre berdasarkan data-data dan fakta yang lebih akurat dan meyakinkan.

Keraguan dan rasa skeptis terhadap klaim Maestri yang mengaku berhasil mencapai Puncak Cerro Torre tahun 1959 ini semakin meningkat ketika melihat betapa sulitnya rute pendakian yang ia klaim tersebut, meskipun dilakukan dengan dukungan alat pendakian gunung modern setelahnya. Keberhasilan Maestri menaklukkan lintasan-lintasan berat Cerro Torre pada saat itu dengan alat pendakian yang jadul, semakin lama dianggap hanya sebagai sebuah pengakuan (jika tidak ingin menggunakan kata bualan) yang nampaknya terlampau berlebihan.

Beberapa Pendaki Gunung Yang Meragukan Klaim First Ascent Cesare Maestri di Cerro Torre

Carlo Mauri – Amazon.com

Di antara orang-orang yang meragukan klaim Maestri tersebut, termasuk pula di antaranya adalah alpinis-alpinis ternama seperti Carlo Mauri (yang pernah mencoba memanjat Cerro Torre pada tahun 1958 dan 1970 namun berakhir dengan kegagalan, Mauri juga adalah orang yang bersama dengan Walter Bonatti menjadi first ascent Puncak Gasherbrum IV). Kemudian Reinhold Messner, Ermanno Salvaterra (yang sebelumnya membela klaim Maestri namun mengubah pendapatnya setelah mencoba sendiri jalur yang kira-kira mirip dengan itu pada tahun 2005 bersama Rolando Garibotti dan Alessandro Beltrami).

Dari Inggris kritik untuk klaim Maestri ini datang pula dari Ken Wilson, pendaki, penulis, sekaligus editor Mountain Magazine.

Pada umumnya beberapa hal yang menjadi point utama dari kritik tentang klaim keberhasilan Maestri pada first ascent  Cerro Torre yang pertama adalah tentang kapabilitas perlengkapan pendakian yang digunakan. Peralatan ice climbing dan rock climbing pada tahun 1959, tahun dimana Maestri mengklaim keberhasilan first ascent nya di Cerro Torre, dilihat dari berbagai macam standar dan ukuran, tetap dinilai tidak akan memadai (bahkan lebih jauh disebut imposible) untuk dapat menaklukkan kesulitan tebing Cerro Terro. Para alpinis papan atas yang mengkritik klaim Maestri dapat menilai dengan jelas bahwa kemampuan panjat tebing Maestri dan Toni Egger, sehebat apa pun mereka saat itu, diyakini tetap tidak akan mampu melewati berbagai kesulitan medan vertikal atau overhang yang ada di Cerro Torre saat itu, ketika peralatan yang mereka gunakan tidak mendukung mereka untuk melakukannya.

Hal kedua yang mengundang kritik bagi Maestri adalah deskripsinya tentang detail rute pemanjatan yang ia lakukan hingga menjelang Puncak Cerro Torre yang ternyata jika diteliti lebih lanjut, berada pada tempat yang lebih rendah daripada tempat dimana Cesarino Fava memutuskan untuk mundur. Sehingga menimbulkan bukti yang terlihat kontradiktif. Namun hal itu tidak mungkin dibuktikan secara jelas dan dilacak jejaknya setelah pendakian dilakukan.

Selanjutnya poin ketiga yang menjadi objek kritik untuk Maestri adalah mengenai jejak pendakian yang ia lakukan. Dengan melakukan pemanjatan di gunung Cerro Torre yang rencananya telah dipersiapkan jauh-jauh hari, tentunya Maestri, Fava, dan Egger akan membawa dan memasang perlengkapan berupa fixed rope, bolt, pitons, dan lainnya. Menjadi sesuatu yang sangat mengherankan kemudian, ketika tidak ditemukan jejak-jejak bekas adanya peralatan tersebut pada jalur yang disampaikan Maestri. Lebih tidak mungkin lagi untuk memperkirakan bahwa Maestri dan Egger mencabut piton, bolt, dan fixed rope sambil melakukan perjalanan turun saat itu.

Compressor Route Cesare Maestri

Source: Unfinishedtyep

Ketika rasa sangsi dan keraguan atas pendakiannya tahun 1959 belum menguap, Cesare Maestri kembali lagi ke Patagonia tahun 1970 bersama dengan sebuah tim baru yang beranggotakan Ezio Alimonta, Daniele Angeli, Claudio Baldessari, Carlo Claus, dan Pietro Vidi. Dalam pendakiannya yang kedua di Cerro Torre ini, Maestri dan timnya memilih rute tenggara untuk melakukan pemanjatan.

Dan mereka berhasil.

Akan tetapi yang menjadi objek kontroversial terbesar dalam ekspedisi kedua Maestri ini adalah ‘persenjataan’ yang ia gunakan, Maestri membekali timnya dengan sebuah bor compressor bertenaga bensin dengan bobot sekitar 135kg, ratusan bolt, ribuan meter fixe roped, dan perlengkapan lainnya.

Tidak tangung-tanggung, sepanjang jalur pendakian dari bawah sampai menjelang mushroom (bagian di mana jamur es yang seringkali menyelimuti Puncak Cerro Torre berada), Maestri dan timnya menanam sekitar 400 buah bolt ke permukaan tebing Cerro Torre.

Pada pendakiannya kali ini, Maestri juga tidak mencapai puncak tertinggi Cerro Torre yang ditutupi es, ia beralasan bahwa mushroom bukanlah bagian dari puncak gunung. Dan karena itu ia memutuskan untuk menghentikan pendakian tepat di bawah puncak di mana tepian jamur es berada. Sementara untuk compressor yang dibawanya, digantung pada bolt tertinggi jalur tersebut, dan kemudian ditinggalkan begitu saja. Dan atas alasan itu pulalah jalur pemanjatan ini kemudian lebih dikenal dengan nama Rute Kompresor atu Compressor Route.

Rute Compressor Maestri segera menjadi kontroversial dan menuai lebih banyak lagi kritik daripada keraguan first ascent  yang diklaim Maestri pada tahun 1959. Penggunaan bor tangan untuk memasang baut di permukaan tebing yang tidak memiliki tempat perlindungan (tidak memiliki, lubang, crack atau celah, atau apa pun yang memungkinkan untuk dipasangi anchor berupa pitons, camp, nut dan yang lainnya sebagai pengaman sementara yang dapat dilepas kembali dengan mudah tanpa merusak permukaan tebing), memang secara umum telah diterima dalam praktik mountaineering. Namun ini menjadi masalah serius dan tampaknya keluar dari logika akal sehat jika menggunakan compressor  seberat 135kg, jumlah baut yang berlebihan, dan penempatan baut yang ditanam di areal tebing yang sembarangan. Dalam artian dekat dengan tempat untuk memasang alat proteksi sementara (piton, camp, nut, dan lain-lain).

Hujan Kritik untuk Rute Kompresor

Source: Scarpa

Menyikapi kejadian ini, Mountain Magazine menerbitkan sebuah artikel yang khusus membahas rute compressor Maestri dengan judul Cerro Torre: A Mountain Desecrated (Cerro Torre: Gunung Yang Ternoda).

Reinhold Messner juga terdorong untuk menulis sebuah esai serupa yang kemudian ia beri judul, The Murder of the Imposible. Werner Herzog juga mengemukakan ekspresi kritiknya dengan membuat sebuah film dramatisasi yang berjudul Scream of Stone yang diterbitkan pada tahun 1991.

Hujan kritik yang melanda Cesare Maestri ini benar-benar menjungkir balikkan reputasinya sebagai salah satu alpinis besar Italia. Sikap ‘unfair’ yang ia tunjukkan di Cerro Torre telah mencoreng nama baiknya sepanjang masa. Bagi asumsi beberapa orang, apa yang dilakukan oleh Maestri dengan mengebor sepanjang jalur tenggara ini adalah bentuk dari ‘obsesi butanya’ akan penaklukan Cerro Torre. Yang secara tidak langsung memberi kesimpulan lain bahwa klaimnya pada tahun 1959 dengan jelas dapat dilihat bahwa puncak itu belum dapat ia capai. Dengan kata lain, fisrt ascent yang ia klaim tahun 1959 tak lebih dari sekedar bualan.

Tahun 2015, Rolando Garibotti (pendaki Argentina Amerika yang tahun 2005 bersama Ermanno Salvatera dan Alessandro Beltrami memanjat Cerro Torre melalui jalur yang diklaim first ascent  oleh Maestri) bersama Kelly Cordes (editor senior dari American Alpine Journal) menulis sebuah artikel yang menunjukkan bukti yang cukup konkret bahwa foto yang diambil oleh Maestri tahun 1959, bukanlah di tebing Cerro Torre, namun di sebuah tempat yang bernama Perfil de Indio. Dalam artikel tersebut, Garibotti dan Cordes mendeskripsikan dengan sangat jelas perbandingan antara foto yang diambil Maestri dan foto yang mereka ambil di Perfil di Indio. Kedua fotonya memang nampak identik.

Selain itu artikel tersebut dilengkapi pula dengan penandaan spot khusus yang memberi mereka kesimpulan bahwa klaim Maestri adalah sebuah kebohongan. Dan lebih jauh Garibotti menulis, bahwa kematian Toni Egger yang tubuhnya ditemukan tahun 1974, adalah ‘hutang’ Maestri untuk menjelaskan detail pristiwanya secara lebih jujur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: